NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : Ancaman Pembunuhan

Langit pagi di atas kompleks Istana Kekaisaran Roma perlahan-lahan berubah menjadi kelabu, seolah turut meratapi kepergian karavan budak yang membawa Callista keluar dari gerbang utama. Di dalam sayap timur istana, jauh dari hiruk-pikuk pelataran luar, suasana di ruang kerja pribadi Putra Mahkota Marcus terasa bagaikan neraka yang membeku.

Marcus berdiri mematung di depan jendela kaca patri yang besar. Tangannya yang terkepal erat meninju dinding batu marmer hingga buku-buku jarinya berdarah, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya rongga dada di dalam sana. Keputusan Callista untuk mengorbankan diri semalam masih berputar-putar di kepalanya seperti rekaman kutukan yang tak berujung. Gadis itu memilih pergi agar ia tetap hidup. Namun, apa arti kehidupan bagi seorang putra mahkota jika dunia di sekelilingnya telah kehilangan warna dan jiwanya?

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka lebar tanpa ada aba-aba sopan santun.

Panglima Decimus melangkah masuk dengan postur kaku dan angkuh. Di belakangnya, dua orang perwira pengawal membawa setumpuk gulungan dokumen resmi berstempel lilin merah—lambang kebesaran Dewan Senat. Decimus menatap punggung sang pangeran dengan senyuman kemenangan yang tertahan di sudut bibirnya.

"Selamat pagi, Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Decimus dengan nada suara yang sengaja dibuat tenang, namun sarat akan provokasi. "Tampaknya pagi ini istana kita terasa jauh lebih bersih dan tertib. Tahanan dari kasta rendahan itu sudah diberangkatkan menuju tambang selatan sesuai dengan titah mutlak dewan."

Marcus perlahan membalikkan badannya. Manik mata hazelnya yang biasanya memancarkan kehangatan kini berubah menjadi tatapan maut yang dingin, tajam, dan siap mencabik-cabik siapa pun. Suhunya di dalam ruangan itu anjlok seketika, membuat dua perwira di belakang Decimus refleks meneguk ludah ketakutan.

"Kau kira dengan menyingkirkannya, kau bisa mengendalikanku, Decimus?" suara Marcus bergemuruh rendah, menggetarkan udara di ruangan tersebut.

Decimus tidak gentar. Ia melangkah maju, melempar sebuah gulungan perkamen tebal tepat ke atas meja kerja sang pangeran. Suara perkamen berbenturan dengan kayu ek tua terdengar begitu nyaring.

"Bukan sekadar menyingkirkannya, Yang Mulia," balas Decimus dengan seringai tipis. "Dewan Senat tidak hanya peduli pada siapa yang tidur di ranjang pelayan. Yang lebih dikhawatirkan oleh para senator adalah integritas moral Anda sebagai calon penguasa kekaisaran. Jika berita tentang skandal asmara antara pewaris takhta dan seorang budak kotor ini bocor ke telinga rakyat Roma dan aliansi militer utara, maka karakter Anda akan hancur seketika."

Marcus menyipitkan matanya. "Sebuah ancaman?"

"Bukan ancaman, melainkan peringatan rasional," jawab Decimus tanpa rasa takut. "Dewan Senat memegang seluruh kendali atas publikasi sejarah, legitimasi tahta, dan dukungan para panglima perang. Jika Anda terus menunjukkan pembangkangan atau mencoba mengirim pasukan rahasia untuk menyelamatkan gadis itu, maka dewan tidak akan segan-segan menyatakan Anda mengalami gangguan jiwa, melengserkan status putra mahkota Anda, dan mengangkat keponakan Jenderal Maximus sebagai pewaris baru."

Pernyataan itu adalah sebuah pembunuhan karakter yang terstruktur dan sistematis. Dewan Senat tidak hanya ingin memisahkan Marcus dan Callista secara fisik, tetapi juga ingin menghancurkan reputasi sang pangeran secara total agar ia tidak memiliki kekuatan politik untuk melawan. Mereka ingin mengubah pahlawan perang kebanggaan Roma menjadi sosok yang dianggap tidak layak memimpin hanya karena sebuah cinta terlarang.

Marcus menatap tajam ke arah Decimus dalam keheningan yang panjang. Di dalam dadanya, api kemarahan membakar hebat, namun kecerdasan strategis yang mendarah daging dalam dirinya membuatnya menahan diri. Ia menyadari bahwa bertindak gegabah saat ini hanya akan menghancurkan satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk menyusul Callista di kemudian hari.

"Keluar dari ruanganku, Decimus," ucap Marcus dengan suara berat yang mengandung wibawa mutlak seorang penguasa masa depan. "Sampaikan pada para senator tua itu... bahwa aku akan menghadiri pertunangan politik minggu depan sesuai keinginan mereka."

Decimus tertegun sejenak. Ia tidak menyangka sang pangeran akan menyerah secepat itu. Namun, melihat sorot mata Marcus yang menyimpan bara api tersembunyi, Decimus hanya bisa tersenyum miring, membungkuk sekadarnya, lalu berbalik meninggalkan ruangan bersama para perwiranya.

Begitu pintu tertutup rapat kembali, Marcus jatuh bersandar di tepi meja kerjanya. Napasnya memburu, sementara tangannya meraba saku jubahnya, menggenggam erat cincin perunggu kecil milik Callista. Di balik kepatuhan semu yang ia tunjukkan kepada Dewan Senat, sebuah rencana besar dan gelap mulai terpatri di dalam hati sang pangeran—sebuah perlawanan diam-diam yang akan melampaui batas waktu, era, dan maut itu sendiri.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!