NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##8

Dua bulan telah berlalu sejak badai kesalahpahaman medis dan pernikahan rahasia yang mengikat Lux Victoria serta Braxton Valerio Desmon.

Delapan minggu di California University berjalan bagaikan kehidupan ganda yang teratur dengan sangat rapi.

Di area kampus yang megah dan luas itu, tidak ada satu orang pun—mulai dari jajaran dosen, staf, hingga ribuan mahasiswa—yang mengetahui rahasia besar yang tersembunyi di balik dua nama tersebut.

Bagi publik California University, Braxton Valerio Desmon adalah sosok pangeran kampus dari Fakultas Bisnis.

Pria berusia dua puluh tahun dengan ketampanan yang tak terbantahkan, gaya berpakaian high-street fashion yang selalu menjadi sorotan, serta status sebagai penerus dinasti properti Valerio-Desmon.

Setiap harinya, ke mana pun Braxton melangkah, ia selalu dikelilingi oleh barisan wanita-wanita cantik, mahasiswi dari berbagai fakultas yang berlomba-lomba menarik perhatiannya.

Braxton menikmati popularitas itu dengan senyum narsisnya yang khas, membiarkan rumor-rumor Asmara berhembus liar tanpa pernah mengonfirmasi satu pun di antaranya.

Sementara itu, Lux Victoria menjelma menjadi mahasiswi baru Fakultas Seni yang paling menonjol.

Gaya berpakaiannya yang edgy, jaket-jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya, tato artistik yang mengintip dari balik kulit mulusnya, serta mata abu-abunya yang dingin membuat Lux dijuluki sebagai “The Dark Beauty of Fine Arts”.

Ia bukan tipe mahasiswi yang mudah didekati; sifatnya yang dingin, cuek, dan tegas membuat banyak pria yang mencoba mendekatinya mundur teratur karena aura intimidasi yang dipancarkannya.

Namun, di balik sekat-sekat kehidupan kampus yang tampak bertolak belakang itu, ada satu rutinitas rahasia yang terus berulang setiap sore tanpa terendus oleh siapa pun.

Di setiap akhir jam perkuliahan, ketika matahari Los Angeles mulai memancarkan warna jingga keemasan di balik gedung-gedung tinggi, pasangan suami istri rahasia itu akan selalu pulang bersama.

...****************...

Sore itu, suasana di sekitar area parkir Fakultas Seni terlihat sedikit lebih ramai dari biasanya.

Sebuah mobil sport konvertibel berwarna hitam berkilau dengan raungan mesin V8 berkapasitas besar terparkir mulus di bawah naungan pohon-pohon palem, tepat di depan pelataran gedung seni. Keberadaan mobil mewah tersebut tentu saja menyedot perhatian puluhan mahasiswa yang lalu lalang.

Selama satu bulan terakhir, rumor liar telah beredar luas di seluruh penjuru kampus.

Banyak mahasiswi berbisik-bisik bahwa sang pangeran bisnis, Braxton Desmon, kemungkinan besar sedang dalam proses pendekatan—PDKT—dengan salah satu anak Seni.

Mobil sport ikonik milik Braxton menjadi pemandangan yang amat sering terlihat terparkir di depan Fakultas Seni setiap sore, memicu berbagai spekulasi dan rasa cemburu dari barisan penggemarnya.

Dari balik jendela kaca lantai dua gedung seni, Lux melipat kedua tangannya di depan dada, menatap mobil sport tersebut dengan raut wajah amat jengkel.

"Kau lihat mobil di bawah itu, Lux?" bisik kawan sekelas Lux yang berdiri di sebelahnya.

"Itu mobil Braxton Desmon dari Fakultas Bisnis! Katanya dia sedang mengincar salah satu mahasiswi di fakultas kita. Gila, ya... bayangkan betapa beruntungnya cewek yang bisa mendapatkan pria seperti dia."

Lux hanya menyunggingkan senyum hambar yang terkesan dingin dari sudut bibirnya. "Beruntung? Lebih tepatnya kasihan."

"Hah? Kasihan?" kawan sekelasnya menatap Lux dengan bingung.

"Tidak ada," sahut Lux singkat seraya mencangklong tas lukisnya ke bahu. "Aku pulang duluan."

Lux berjalan menunuri tangga dengan langkah santai, menyusuri koridor utama hingga keluar menuju pelataran parkir. Ia tidak langsung melangkah mendekati mobil sport Braxton yang menjadi pusat perhatian.

Dengan kecerdikan yang sudah mereka latih selama dua bulan, Lux berjalan memutar melewati lorong samping gedung yang lebih sepi dan tidak terjangkau oleh kerumunan mahasiswa.

Mobil sport hitam itu perlahan meluncur pelan mengikuti pergerakan Lux, lalu berhenti tepat di balik bayangan sudut lorong sepi tersebut.

SRET.

Dengan gerakan cepat dan terlatih, Lux menarik pintu mobil, meluncur masuk ke kursi penumpang depan, dan membanting pintunya hingga tertutup rapat.

Brak!

Braxton, yang duduk di kursi kemudi dengan kemeja putih yang gulungan lengannya dinaikkan hingga siku serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, melirik Lux dari balik lensa gelapnya.

"Bisa tidak kau menutup pintu mobilku ini dengan sedikit lebih lembut, Nyonya Desmon?" tegur Braxton santai seraya menancap gas, membawa mobil itu melaju membelah jalanan keluar dari area kampus California University.

Lux melempar tas lukisnya ke kursi belakang secara acuh tak acuh. Ia melepas kacamata hitamnya sendiri dan mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.

"Pintu mobilmu tidak akan hancur hanya karena dihempas pelan," ketus Lux, menyandarkan kepalanya ke kursi berpemanas tersebut. "Lagipula, bisakah kau tidak memarkirkan mobil norakmu itu tepat di depan pelataran utama fakultasku? Seluruh kampus sekarang sibuk bergosip tentangmu!"

Braxton terkekeh renyah, melepaskan kacamata hitamnya dan meletakkannya di dekat dasbor. Senyum miring narsisnya kembali terpancar penuh percaya diri.

"Kenapa? Kau cemburu karena semua mahasiswi di fakultasmu membicarakanku?" goda Braxton, memutar kemudi dengan satu tangan melintasi jalanan kota Los Angeles yang mulai padat.

Lux memutar matanya dengan malas, mendengus keras. "Cemburu? Dalam mimpimu yang paling liar, Braxton. Aku cuma risih karena mereka terus membicarakan pria menyebalkan yang terpaksa harus kutemui setiap hari di Penthouse."

Braxton hanya tertawa kecil, menikmati kekesalan yang selalu berhasil dipancingnya dari wanita di sebelahnya.

Dua bulan hidup bersama di Penthouse mewah kawasan Downtown LA telah membentuk dinamika yang aneh di antara mereka.

Meski mereka terus berdebat tentang segala hal—mulai dari batasan wilayah, pakaian Lux yang sering kali membuat Braxton harus mengelus dada, hingga makanan—ada kenyamanan rahasia yang perlahan mulai mengikis permusuhan murni di antara mereka, meski tak satu pun dari mereka mau mengakuinya.

"Makan dulu atau langsung pulang?" tanya Braxton santai saat mobil mereka berhenti di lampu merah Sunset Boulevard.

Lux memiringkan kepalanya sedikit, menatap deretan pertokoan bergaya Eropa di pinggir jalan yang melintas cepat di luar jendela.

Perutnya memang sudah menyuarakan rasa lapar sejak jam kuliah terakhir tadi.

Lux menoleh pada Braxton. "Boleh kita ke toko kue dulu?"

Braxton menaikkan sebelah alisnya, memandang Lux dari atas ke bawah secara singkat. "Ngemil lagi? Kau mau badanmu menggendut?"

Sentilan khas Braxton itu langsung memicu reaksi tajam dari Lux. Gadis itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap Braxton dengan mata abu-abu yang berkilat penuh tantangan.

"Kalau aku gendut, kau bisa menceraikanku," jawab Lux cepat, santai, dan tanpa beban sedikit pun.

Deg.

Kata "menceraikan" yang terlontar mulus dari bibir Lux membuat pegangan tangan Braxton pada roda kemudi mendadak mengencang.

Senyum miring di wajah pria itu perlahan memudar, berganti dengan helaan napas berat yang sarat akan rasa jengkel yang teramat sangat.

Lampu hijau menyala. Braxton menekan pedal gas sedikit lebih dalam, membuat mesin V8 itu meraung halus sebelum melaju kembali.

"Bisakah kau mendoakan pernikahan kita?" tanya Braxton, suaranya kini beruba menjadi lebih rendah, penuh penekanan yang dalam. "Kenapa selalu perceraian yang kau minta setiap hari?"

Lux menaikkan alisnya, tidak menyangka respons Braxton akan secetus itu. "Karena pernikahan ini adalah kesalahan, Braxton! Kau lupa? Kita menikah karena diagnosis medis bodoh dan tekanan dari orang tua kita. Begitu masa kuliah ini selesai, atau begitu waktunya tepat, perceraian adalah satu-satunya jalan keluar yang rasional."

Braxton tidak langsung menjawab. Ia menepi ke pinggir jalan, memarkirkan mobil sport-nya tepat di depan sebuah toko roti dan kue bernuansa klasik modern bernama L'Étoile Bakery.

Braxton mematikan mesin mobil. Keheningan mendadak menyelimuti kabin mobil yang sempit itu. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Lux, menatap langsung ke dalam mata gadis tersebut.

"Rasional menurutmu, tapi tidak menurutku," tegas Braxton dengan nada suara yang amat mantap. "Aku sudah katakan padamu dua bulan lalu, Lux: aku tidak peduli bagaimana awal dari pernikahan ini. Kau adalah istriku sekarang, secara hukum dan di mata kedua keluarga kita. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk mengurus surat perceraian denganmu."

Lux menatap Braxton dengan pandangan tak percaya, campuran antara kemarahan dan kebingungan yang merayapi otaknya.

"Kau benar-benar tidak masuk akal, Braxton! Kau adalah pria paling populer di kampus, kau dikelilingi oleh puluhan wanita cantik setiap hari yang bersedia bertekuk lutut padamu! Kenapa kau bersikeras mempertahankan pernikahan rahasia dengan wanita yang membencimu dan terus memakimu setiap hari?!"

Braxton menyunggingkan senyum tipis—senyum yang kali ini tidak mengandung ejekan, melainkan kehangatan misterius yang selalu berhasil membuat dada Lux berdesir aneh.

"Karena dari puluhan wanita cantik di kampus itu..." bisik Braxton, menundukkan kepalanya sedikit mendekati wajah Lux, "...tidak ada satu pun yang sanggup melayangkan pukulan ke ulu hatiku, mengacak-acak lemariku untuk mencari celana dalam, atau menatapku dengan mata galak seperti yang kau lakukan setiap hari."

Wajah Lux mendadak terasa hangat. Ia terpaku di tempatnya, matanya membelalak kecil mendengar ucapan gila yang meluncur dari mulut suaminya itu.

"Kau... kau benar-benar pria yang tidak waras," bisik Lux, berusaha keras menyembunyikan getaran di suaranya dengan memalingkan wajah ke luar jendela.

Braxton terkekeh pelan, menikmati perubahan wujud pada rona wajah Lux yang jarang sekali terlihat. Ia menyambar dompetnya dari dasbor.

"Turunlah," ujar Braxton seraya membuka pintu mobilnya. "Ayo kita beli kue manis yang bisa membuat mulut galakmu itu diam sebentar."

Aroma manis dari mentega, vanila, dan gula karamel menyambut mereka saat melangkah masuk ke dalam L'Étoile Bakery. Suasana di dalam toko kue itu cukup tenang, hanya diisi oleh beberapa pelanggan yang sedang menikmati teh sore.

Lux melangkah menghampiri etalase kaca yang memajang puluhan jenis kue tart, croissant, dan macaron dengan dekorasi yang amat cantik.

Matanya yang biasanya memancarkan kilat dingin kini berbinar hangat—satu-satunya momen di mana Lux terlihat seperti gadis berusia sembilan belas tahun pada umumnya.

Braxton berdiri di sampingnya, melipat kedua tangannya di dada. Dari sudut matanya, ia memperhatikan wajah Lux yang terpantul di kaca etalase. Ada rasa kepuasan tersendiri di dada Braxton setiap kali ia melihat sudut bibir istrinya terangkat membentuk senyuman tipis yang jujur.

"Aku mau Red Velvet Slice yang itu," menunjuk Lux pada sebuah kue dengan lapisan krim keju tebal. "Dan Strawberry Shortcake untuk dibawa pulang."

"Ambil saja apa yang kau mau," sahut Braxton santai, menyodorkan kartu kredit hitamnya pada kasir di konter. "Tambahkan dua cangkir Cappuccino panas."

Saat kasir sedang memproses pesanan mereka dan membungkus kue-kue pilihan Lux, lonceng di atas pintu toko kue berdentang halus, menandakan kedatangan pelanggan baru.

"Braxton? Ooh, Demi Tuhan... Braxton Desmon?!"

Sebuah suara wanita berintonasi manja melengking memecah ketenangan toko kue tersebut.

Braxton dan Lux secara refleks menoleh ke arah pintu masuk.

Dua orang mahasiswi berpenampilan amat modis dengan pakaian bermerek—yang amat Lux kenali sebagai anak-anak dari Fakultas Bisnis dan Hukum di kampus mereka—melangkah mendekat dengan senyum merekah lebar di wajah mereka.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di toko kue ini!" ujar salah satu mahasiswi berambut pirang dengan gaya yang amat flirty, melangkah mendekat tanpa ragu dan menyentuh lengan kemeja Braxton secara akrab.

"Kau sedang apa di sini, Braxton? Membeli kue untuk acara organisasimu?"

Braxton menggeser lengannya secara halus namun sopan, melepaskan sentuhan mahasiswi tersebut. Senyum profesional pangeran kampusnya terpasang di wajahnya.

"Hanya membeli beberapa camilan sore," jawab Braxton dengan nada ramah yang terkontrol.

Mahasiswi kedua yang mengenakan gaun pendek berwarna merah muda melirik ke arah Lux yang berdiri kaku di sebelah konter.

Pandangan mata mahasiswi itu memindai Lux dari atas ke bawah—meneliti jaket kulit hitamnya, celana jeansnya, tatonya, dan kotak kue di tangannya—dengan tatapan menilai yang sedikit meremehkan.

"Oh... kau bersama anak Seni?" tanya mahasiswi bergaun pink itu dengan nada suara yang sedikit diubah. "Apakah dia mahasiswi Seni yang sering digosipkan bersama mobilmu di kampus belakangan ini, Braxton?"

Lux mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku jaketnya. Darahnya mendadak mendidih mendengar intonasi meremehkan yang dilayangkan padanya. Sifat dasarnya yang berani dan tak mau kalah siap untuk meledak dan membalas ucapan wanita tersebut.

Namun, sebelum Lux sempat membuka mulutnya untuk melayangkan makian tajam, Braxton sudah melangkah lebih dulu.

Braxton memangkas jarak di antara dirinya dan Lux, berdiri tepat di samping istrinya.

Dengan gerakan yang begitu alami dan penuh kepemilikan, lengan kekar Braxton melingkar di pinggang Lux, menarik tubuh gadis itu merapat ke sisinya.

Deg!

Lux membeku di tempat. Matanya membelalak lebar saat merasakan sentuhan hangat telapak tangan Braxton yang mengunci pinggangnya dengan erat.

Dua mahasiswi di hadapan mereka membelalakkan mata, tidak percaya dengan pemandangan yang tersaji di depan mata mereka.

Braxton Desmon—pria yang terkenal tidak pernah menyentuh atau memamerkan kemesraan dengan wanita mana pun secara publik di kampus—kini secara terbuka merangkul pinggang mahasiswi Seni bertato itu di depan umum.

"Gosip di kampus memang selalu berlebihan," ucap Braxton dengan nada suara dingin yang datar, menatap kedua mahasiswi itu tanpa sedikit pun raut keramahan yang biasa ia tunjukkan. "Tapi satu hal yang pasti: dia bukan sekadar 'anak Seni' yang bisa kalian komentari sesuka hati."

Kedua mahasiswi itu mendadak gagap, raut wajah mereka berubah pucat pasi akibat rasa malu dan intimidasi murni yang dipancarkan oleh Braxton.

"a-Ah... maafkan kami, Braxton. Kami... kami hanya bercanda," bisik mahasiswi berambut pirang itu terbata-bata, mundur dua langkah dengan canggung. "Kami... kami permisi dulu."

Kedua mahasiswi itu berbalik cepat dan bergegas keluar dari toko kue dengan langkah terburu-buru, meninggalkan lonceng pintu yang berdentang kembali dalam keheningan.

Di dalam toko kue, Lux langsung menepis tangan Braxton dari pinggangnya dengan gerakan kasar. Matanya menyipit penuh amarah saat berbalik menatap Braxton.

"Kau gila, Hah?!" desis Lux dengan suara tertahan agar tidak terdengar oleh petugas kasir. "Apa yang baru saja kau lakukan?! Mereka anak kampus kita, Braxton! Jika mereka menyebarkan cerita bahwa kau merangkulku di toko kue ini, seluruh rahasia kita di universitas akan terbongkar!"

Braxton menyambar kantong kertas berisi pesanan kue mereka yang diserahkan oleh kasir, lalu menatap Lux dengan raut wajah yang amat tenang tanpa ada sedikit pun rasa menyesal.

"Biarkan saja mereka menyebarkannya," sahut Braxton santai, melangkah mendahului Lux menuju pintu keluar.

"Braxton!" amuk Lux, menyusul langkah cepat Braxton menuju mobil sport mereka.

Begitu mereka berdua kembali ke dalam kabin mobil, Lux membanting pintunya lagi dan berbalik menatap Braxton dengan amarah yang memuncak.

"Kau sengaja melakukannya, kan?!" tuduh Lux, menunjuk dada Braxton. "Kau sengaja ingin memancing rumor agar orang-orang curiga tentang hubungan kita! Kau benar-benar tidak menghargai perjanjian rahasia kita!"

Braxton meletakkan kantong kue di kursi belakang, lalu memutar tubuhnya untuk menghadapi amukan Lux. Wajahnya yang tampan mendadak berubah amat serius, menyisakan ketegasan murni yang mengunci pandangan mata abu-abu Lux.

"Aku menghargai perjanjian rahasia itu, Lux," ujar Braxton dengan suara berat yang dalam. "Tapi aku tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun—siapa pun mereka di kampus itu—menatap atau bicaramu seolah-olah kau lebih rendah dari mereka."

Lux membeku. Amarah yang tadinya siap meledak di tenggorokannya mendadak tersumbat.

"Kau adalah milikku," lanjut Braxton tanpa keraguan sedikit pun, tatapan matanya menembus langsung ke dalam jiwa Lux. "Di dalam Penthouse kita, atau di luar sana di bawah bayang-bayang rahasia kampus... kau adalah istri dari seorang Braxton Desmon. Tidak ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu di depanku."

Suasana di dalam mobil sport itu mendadak menjadi begitu pekat oleh ketegangan emosional yang tak biasa.

Kalimat Braxton menghantam dinding pertahanan Lux dengan kekuatan yang amat dahsyat. Hati Lux bergetar hebat, memicu rasa hangat yang asing di dadanya—sebuah sensasi yang membuat dadanya terasa sesak namun sekaligus terlindungi.

Lux menelan ludah yang terasa pahit, berusaha keras menguasai dirinya yang mendadak goyah. Ia memalingkan pandangannya ke arah dasbor, mengepalkan jemarinya di atas paha.

"Kau... kau hanya pria narsis yang sok pahlawan," bisik Lux, suaranya kini terdengar jauh lebih pelan, kehilangan taji amarahnya.

Braxton menyunggingkan senyum miringnya yang tipis, merasa menang saat melihat pertahanan wanita galak di sebelahnya perlahan retak. Ia menghidupkan kembali mesin mobil, membawa sedan mewah itu melaju membelah jalanan Los Angeles menuju Penthouse mereka di pusat kota.

"Terserah apa katamu, Istriku," sahut Braxton santai. "Sekarang makan kuemu sebelum dingin. Aku tidak mau mendengar perutmu berbunyi lagi sepanjang perjalanan pulang."

Lux mendengus pelan, menyambar kotak kuenya dari belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Namun saat ia menyuapkan potongan Red Velvet yang manis ke dalam mulutnya, mata abu-abunya melirik samar ke arah Braxton yang sedang mengemudi dengan tenang di sisinya.

Untuk pertama kalinya dalam dua bulan pernikahan rahasia yang penuh perdebatan ini, Lux Victoria mulai menyadari satu kenyataan yang menakutkan: benteng kebencian yang dibangunnya dengan begitu kokoh di sekeliling hatinya perlahan-lahan mulai runtuh di tangan pria asing yang kini menjadi suaminya.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!