NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang tak terlihat (13)

Dua minggu sebelum Festival Seni. Suasana sekolah berubah jauh lebih sibuk dari biasanya. Hampir setiap sudut dipenuhi siswa yang berlatih, mengecat dekorasi, atau membawa perlengkapan untuk acara.

Ruang OSIS bahkan tak pernah benar-benar kosong setiap harinya.

"Nay, daftar konsumsi udah selesai?" Suara Arga terdengar dari balik tumpukan kardus membuat Naya menoleh kepadanya.

"Udah, Kak." jawab Naya

"Ini tinggal dicetak." lanjutnya

"Oke, Kalau gitu sekalian kirim ke Bu Rina, ya."

"Siap." Arga mengangguk puas.

Belakangan ini ia hampir tidak pernah mengecek ulang pekerjaan Naya. Bukan karena malas.

Tetapi karena ia percaya..Apa pun yang dikerjakan Naya hampir selalu selesai dengan baik dan sempurna.

Siang itu, aula sekolah dipenuhi panitia. Mereka sedang mencoba susunan panggung baru ketika salah satu guru datang menghampiri.

"Arga." panggilan guru itu membuat Arga menolehkan kepalanya

"Iya, Bu?" tanya arga

"Vendor sound system minta perubahan ukuran panggung." ucap guru itu membuat Arga mengernyit.

"Lagi?" tanya arga

"Iya."

"Kalau ukurannya tetap seperti sekarang, alatnya nggak muat." ucapnya membuat ruangan mendadak riuh.

"Kalau diubah, dekorasinya juga harus diulang."

"Banner belakang juga."

"Anggarannya gimana?" Semua saling berbicara tanpa diminta, Arga memijat pelipisnya. Ia menarik napas panjang sebelum berkata,

"Oke."

"Kita cari jalan keluarnya." Di tengah kepanikan itu, Naya berdiri di sampingnya. Ia membuka map berisi denah panggung.

"Kak." panggilnya

"Hm?"

"Kalau panggung dimajuin setengah meter..."

"...alat sound masih muat."

"Terus dekorasinya nggak perlu dibongkar semua." Arga memperhatikan gambar itu beberapa saat.

Lalu tersenyum.

"Bagus."

"Kita pakai itu." Keputusan langsung diambil. Kepanikan perlahan mereda. Steven menepuk bahu Arga.

"Untung ada sekretaris andalan." Arga terkekeh kecil mendengarnya.

"Iya." ucapnya, Kalimat itu sederhana.

Namun cukup membuat pipi Naya menghangat.

Menjelang sore. Setelah pekerjaan selesai, sebagian panitia mulai membereskan aula. Talia menghampiri Arga yang sedang menggulung kabel.

"Ar." panggilannya

"iya?"

"Ingat nggak?"

"Apa?"

"Dulu kita pernah begini juga." Talia menjeda beberapa saat perkataan nya sambil melihat lihat isi gedung.

"Malam-malam beresin aula." lanjutnya, Arga tersenyum tipis dan mengangguk.

"Iya."

"Waktu pensi kelas sepuluh."

"Kamu masih ingat."

"Masih." Talia ikut tersenyum.

"Capek ya dulu."

"Capek."

"Tapi seru." Percakapan itu terdengar ringan.

Tak jauh dari mereka, Naya sedang membantu Tasya menyusun kursi. Ia tidak berniat mendengar apalagi sampai menguping. Namun suara mereka cukup jelas di ruangan yang mulai sepi ini

"Nay." Tasya memanggil pelan membuat Naya menoleh.

"Hm?" tanyanya sambil mengangkat alisnya

"Kamu nggak apa-apa?" Tasya memastikan sahabatnya baik baik saja ketika mendengar dua orang itu saling berbincang membahas masa lalunua, Naya hanya tersenyum lalu menjawab.

"Iya."

"Kok senyumnya dipaksa?" Naya tidak menjawab. Ia kembali menyusun kursi satu per satu, ada rasa yang susah dijelaskan dalam hatinya ketika melihat orang yang dia suka bersama dengan masa lalunya namun ia memilih diam saja.

Sore berubah menjadi petang. Langit mulai berwarna jingga. Saat semua pekerjaan selesai, Arga melihat jam di tangannya.

"Teman-teman." panggil Arga membuat mereka menoleh

"Hari ini cukup."

"Besok lanjut lagi." Semua mengangguk lega.

Tubuh mereka benar-benar lelah rasanya ingin tidur seharian saja setelah hari yang panjang ini. Saat Arga hendak keluar aula, Talia tiba-tiba berkata,

"Ar." panggilnya

"Aku lapar."

"Mau makan dulu?" Arga berhenti melangkah. Belum sempat menjawab, Steven yang berdiri di dekat pintu langsung berseru,

"Wah, sekalian aja semuanya!"

"Biar nggak ada yang iri."

"Setuju!" teriak beberapa panitia. Arga tertawa kecil.

"Yaudah." ucapnya

"Kalau gitu makan bareng." Talia hanya tersenyum.

Sebenarnya...

Ia berharap bisa berbicara berdua dengan Arga. Namun rencananya berubah seketika.

Warung bakso di depan sekolah malam itu dipenuhi tawa para panitia. Mereka duduk memanjang di dua meja besar. Naya duduk di ujung bersama tasya.

Sementara Arga berada di tengah, dikelilingi Steven dan beberapa anggota lain. Talia datang sedikit terlambat karena menerima telepon.

Saat melihat kursi di sebelah Arga sudah ditempati Steven, ia hanya tersenyum tipis lalu duduk di kursi yang masih kosong. Di seberang Arga. Selama makan, suasana begitu hangat. Steven tak berhenti melontarkan candaan dan mereka sudah terbiasa dengan candaan Steven ini, bagi mereka sangat seru sekali ketika ada orang yang suka bercanda dan menghangatkan suasana.

Bahkan Bu Rina yang kebetulan lewat sempat ikut tertawa melihat tingkah mereka. Di tengah obrolan, tanpa sadar Arga berkata,

"Nay." panggilannya membuat Naya menoleh ke arah arga

"Iya?" tanya naya

"Besok jangan lupa bawa flashdisk."

"Soalnya file desainnya ada di kamu." ucapnya membuat Naya menganggukkan kepalanya dan berkata,

"Oke."

"Nanti aku bawa." Talia yang mendengar itu menunduk sejenak.

Lagi-lagi...

Arga mengingat hal-hal kecil tentang Naya. Bahkan di luar rapat. Ia menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya, muncul pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.

Apakah selama ini...

Ia terlambat menyadari bahwa Arga sudah mulai membuka hatinya untuk orang lain?

Malam itu, sebelum tidur, Naya membuka buku hariannya. Ia menatap halaman kosong cukup lama sebelum akhirnya mulai menulis.

"Hari ini aku sadar..."

"Mungkin rasa takut bukan datang karena Kak Arga berubah."

"Tapi karena aku mulai sadar..."

"Aku tidak pernah benar-benar memiliki tempat di sampingnya."

"Aku hanya seseorang yang kebetulan selalu ada di dekatnya."

"cukup menyukainya saja dalam diam sudah lebih dari cukup"

"namun apakah ada perempuan yang tidak punya harapan bersama orang yang dia cinta? Setiap perempuan pasti punya harapan, begitu juga aku.

"cinta memang tidak bisa dihindari dan tidak akan pernah bisa di alihkan kepada siapapun."

"semoga di kehidupan selanjutnya, kita jadi pasangan yang tanpa aku harus berharap terlebih dahulu, semoga kita selalu jadi pasangan yang membuat orang bahagia melihat kita 'ada'"

"aku selalu mau kamu, tapi takdir mungkin gak mau ada kita"

Naya menutup buku itu perlahan. Dia menatap ke luar jendela, angin malam berembus pelan menerpa wajahnya, Naya sangat menikmatinya.

Ia tidak tahu bahwa di rumah yang berbeda, Arga juga sedang memikirkan satu hal.

Bukan tentang Talia.

Bukan tentang Festival Seni juga.

Melainkan kalimat Steven yang terus terngiang di kepalanya.

"Kalau Naya nggak ada, kamu pasti bingung."

Arga tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Dasar Steven..."

Namun entah mengapa...

Malam itu, sebelum memejamkan mata, wajah terakhir yang terlintas di pikirannya adalah senyum Naya.

......................

Soon to bee

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!