Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster Kristal
Di markas Miracle Harvest, suasana siang itu dipenuhi keriuhan khas mereka. Cheryl dengan gaya tengilnya sedang gencar-gencarnya ngeledekin Davi yang cuma bisa mengelus dada berusaha sabar. Alya dan Fadhil duduk santai di sofa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua, sementara Jessica dan Nailu heboh sendiri merekam gerakan dance terbaru buat konten TikTok. Di sudut ruangan lain, Rahman tampak fokus melatih dan memain-mainkan Api Jiwa miliknya yang menari-nari hangat di atas telapak tangan.
Kringgg... Kringgg...!
Dering telepon nyaring dari ponsel Davi mendadak memecah keramaian di ruang tengah. Cheryl menghentikan ledekannya, dan Jessica-Nailu refleks menekan tombol pause di ponsel mereka.
Davi merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Ghan? Ada ap—"
"Davi! Lu sama yang lain buruan ke sini! ke area pertambangan sekarang!" potong suara Ghani dari seberang telepon dengan nada terburu-buru dan terengah-engah. "Gue sama Rava dapet kabar langsung dari warga, ada monster berbadan kristal raksasa yang nyerang kedalaman tambang! Kita berdua lagi jalan ke bawah duluan!"
Raut wajah Davi seketika berubah menjadi sangat serius. Sikap santainya menguap dalam hitungan detik.
"Oke, Ghan! Tahan posisi lu sama Rava, jangan nekat sendirian! Gue sama anak-anak Harvest langsung meluncur ke sana sekarang!" tegas Davi sebelum mematikan sambungan telepon.
Davi menoleh ke arah seluruh anggota Harvest yang kini sudah berdiri siap. "Guys, bercandanya ditahan dulu. Ada serangan monster kristal di tambang. Rava sama Ghani udah di lokasi. Ayo jalan!"
Tanpa membuang waktu semenit pun, Cheryl, Alya, Fadhil, Jessica, Nailu, Rahman, dan Davi langsung mengambil senjata masing-masing dan bergerak cepat menuju area pertambangan.
"Davi! Akhirnya kalian datang!" seru Ghani lega saat melihat rombongan tim Miracle Harvest berjalan cepat mendekat.
Davi melangkah paling depan dengan raut wajah tegas, disusul oleh Cheryl, Alya, Fadhil, Jessica, Nailu, dan Rahman. Senjata dan kekuatan mereka masing-masing sudah bersiap di tangan.
"Gimana situasi di dalam, Rava?" tanya Davi menepuk bahu Rava yang tampak penuh debu tanah tambang.
"Parah, Dav," jawab Rava serius. "Para penambang sudah berhasil dievakuasi semua ke luar, tapi struktur terowongan bawah tanah mulai retak. Monsternya gak cuma besar, tapi seluruh badannya terbuat dari kristal keras yang tebal. Setiap kali dia bergerak atau menghentakkan kaki, dinding gua langsung runtuh."
Cheryl melangkah ke samping Davi, gaya tengilnya yang tadi menghiasi markas kini tergantikan oleh tatapan fokus, meski sudut bibirnya tetap mengukir senyum tipis. "Raja Kristal, huh? Keren juga. Berarti makin puas dong kalau kita hancurkan sampai jadi serpihan?"
"Jangan sepelekin dulu, Ryl," sahut Fadhil yang merapatkan genggaman tangannya. Ia menoleh ke arah Alya. "Gua tambang itu ruang tertutup. Kita gak bisa asal melepaskan serangan skala besar kalau gak mau seluruh area ini runtuh menimbun kita semua."
Alya mengangguk setuju, jemarinya mengelus kain lembut bercahaya tujuh warna di pinggangnya. Matanya memancarkan ketenangan. "Fadhil benar. Serangan kita harus terukur dan fokus pada titik lemahnya."
"Yaudah, tunggu apa lagi? Kita masuk sekarang dan amanin area ini!" seru Rahman sambil menyalakan dorongan kecil Api Jiwa di kedua telapak tangannya, memberikan penerangan hangat di tengah gulitanya pintu masuk gua.
"Ingat semuanya," tegas Davi memberi komando. "Formasi bertahan di depan, pengintai di samping, dan penyerang jarak jauh di belakang. Bergerak masuk!"
Mereka semua melangkah masuk menyusuri lorong tambang yang temaram. Bau belerang dan gesekan batu tajam memenuhi udara. Di sepanjang dinding terowongan, urat-urat kristal yang biasanya ditambang warga tampak retak dan kehilangan kilaunya—seolah-olah seluruh energinya telah disedot habis oleh entitas asing di dalam sana.
DUUUUMM! DUUUUMM!
Getaran makin terasa kuat. Semakin dalam mereka melangkah ke area aula bawah tanah—ruang luas tempat alat-alat berat tambang dikumpulkan—cahaya kemerahan redup mulai membayangi pandangan mereka.
Di tengah aula raksasa itu, berdiri sebuah makhluk mengerikan setinggi sepuluh meter. Tubuhnya terbentuk dari susunan kristal hitam bergerigi yang sangat tebal. Inti energinya berada di tengah dada, memancarkan pendar merah pekat yang berdenyut selaras dengan getaran tanah. Monster Kristal itu memutar kepalanya yang bersudut tajam, mengunci keberadaan para Miracle Harvest dengan raungan nyaring yang membingarkan telinga.
ROAAAAARRRRRR!
"Beneran raksasa!" seru Jessica sambil menutupi telinganya dari gema suara yang memantul di dinding batu.
"Nailu, Jessica, amati gerakannya!" perintah Davi sambil memasang posisi siap tempur. "Rahman, Rava, Ghani, kalian ikut gue nahan pergerakannya!"
Nailu yang berada di barisan belakang segera membuka saluran perpesanan cepat di perangkatnya. Di sela-sela ketegangan itu, jari-jarinya menari lincah mengetik pesan singkat untuk seseorang di Kota Kosmik.
Nailu: "Ghofar, kita udah sampai di dalam gua. Monsternya gede banget, terbuat dari kristal. Aku bertarung dulu ya, kamu jangan lupa makan!"
Tak butuh waktu lima detik, ponsel Nailu bergetar.
Ghofar: "Jangan nekat, Lu! Tetep di belakang Davi dan Fadhil. Beres bertarung langsung VC aku, paham?"
Nailu tersenyum manis membaca balasan singkat namun penuh perhatian itu. Ia mengantongi ponselnya kembali, lalu menatap monster itu dengan semangat baru. "Siap, capten!" gumamnya pelan.
CRASHHH!
Monster Kristal itu mengayunkan lengan kanannya yang berbentuk gada kristal raksasa. Ayunan itu menghempaskan angin keras dan menghantam tanah tempat Davi berdiri.
"Batu Pelindung!" seru Davi sigap melompat mundur sambil menciptakan perisai energi tanah yang kokoh. Hantaman monster itu menciptakan ledakan serpihan batu, namun perisai Davi berhasil menahan gelombang kejutnya.
"Sial, keras banget!" ringis Ghani yang mencoba menebas bagian kaki monster itu dengan belatinya. Tebasan Ghani hanya menimbulkan percikan api tanpa memberi goresan berarti pada lapisan kristal tebal itu.
"Kulit luar monster ini dilapisin armor kristal penyerap energi," panggil Cheryl yang melayang tipis menggunakan manipulasi angkanya. "Kalau cuma diserang dari luar pakai serangan biasa, gaya gesekannya cuma bakal diserap!"
"Terus gimana cara nembusnya?" tanya Rava terengah-engah setelah berhasil menghindari sabetan ekor kristal monster tersebut.
Fadhil memajukan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah rotasi inti merah di dada monster itu. "Kita harus hancurkin titik tumpu kristalnya dulu. Alya, lu bisa bantu gue kunci pergerakan kakinya?"
Alya menoleh ke arah Fadhil, tersenyum tipis dengan penuh kepercayaan. Ia menarik selendang bercahaya pelangi yang melilit anggun di bahunya. "Bisa. Lu yang arahin, gua yang eksekusi."
Melihat kekompakan dan tatapan penuh keyakinan antara Fadhil dan Alya, Fadhil merasa dadanya hangat. Rasa tanggung jawab untuk melindungi Alya membuat fokusnya meningkat dua kali lipat.
"Alya, pake selendang pelangi lu buat ngikat dan kaki kirinya pas dia mau maju! Cheryl, alihkan perhatian kepalanya!" perintah Fadhil lincah.
"Asyiaaaap!" sahut Cheryl dengan nada jenaka. Cheryl langsung melesat berputar di udara, melepaskan tembakan-tembakan energi kecil yang menghantam mata sang monster.
ROAAARRR! Monster itu terdistraksi dan mengangkat kaki kirinya yang berat untuk menghantam Cheryl.
"Sekarang, Alya!" teriak Fadhil.
Alya melemparkan selendang pelanginya ke udara. Selendang itu memanjang mendadak, memancarkan spektrum warna-warni yang indah namun mematikan. "Sihir Pelangi: Ikatan Selendang Spektrum!"
SWOOSHH! CRASH!
Selendang pelangi itu melilit cepat seluruh bagian kaki kiri monster kristal tersebut. Ujung-ujung selendang yang tajam bak tombak kristal warna-warni langsung menancap tembus ke sela-sela sendi kaki sang monster, menguncinya rapat-rapat ke tanah. Monster itu kehilangan keseimbangan dan tubuh raksasanya oleng ke kanan.
"Davi! Sekarang!" seru Fadhil lagi.
Davi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melompat dari atas reruntuhan alat berat, mengumpulkan seluruh konsentrasi kekuatannya pada pukulan utama. "Hantaman Bumi Harvest!"
BOOOOOOMMMM!
Tinju Davi menghantam lutut kanan monster itu dengan presisi sempurna. Retakan panjang berwarna putih seketika menjalar di sepanjang kaki sang monster. Monster kristal itu meraung kesakitan dan terhempas berlutut di atas tanah gua.
"Keren banget, Dav!" puji Cheryl spontan dari udara, melemparkan senyuman jahilnya. "Ternyata kalau lagi serius gaya lu lumayan juga ya."
Davi yang baru mendarat hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyapu keringat di dahinya, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya akibat pujian mendadak dari Cheryl. "Fokus, Cheryl! Ini belum selesai!"
"Inti energinya terbuka!" panggil Jessica mengarahkan pandangan semua orang ke bagian dada monster yang kini terekspos akibat goncangan retakan tadi.
"Rahman, Fadhil, gabungkan serangan jarak jauh kalian ke intinya!" perintah Davi.
Rahman melangkah maju, melepaskan kobaran Api Jiwa berwarna merah keemasan yang membara terang di tengah gua yang gelap. Di sampingnya, Fadhil menghimpun energi elemen tajam berkecepatan tinggi.
"Fadhil, barengan!" seru Rahman.
"Ayo!" balas Fadhil.
Keduanya melepaskan teknik pamungkas secara bersamaan. Kobaran api purba Rahman melilit tebasan energi tajam Fadhil, menciptakan pusaran meriam api berbatu yang melesat lurus menghantam inti merah di dada monster kristal itu.
SREEEEEEECHHH... BOOOOOOOOOOMMMMM!
Ledakan dahsyat membahana di dalam aula pertambangan. Cahaya silau membakar kegelapan, disusul oleh suara retakan hebat seperti ribuan kaca yang pecah bersamaan. Tubuh raksasa Monster Kristal itu mulai hancur berkeping-keping, berubah menjadi jutaan serpihan kristal kecil yang tak berdaya sebelum akhirnya menguap menjadi debu hitam.
Hening.
Suara gemuruh di dalam gua perlahan mereda. Yang tersisa hanyalah kepulan asap tipis dan suara napas lega dari para Miracle Harvest.
"Berhasil..." gumam Ghani terduduk di atas batu besar.
Alya menarik kembali selendang pelanginya yang menyerap kembali pendar cahayanya, lalu berjalan mendekati Fadhil yang tampak sedikit kelelahan. Tanpa ragu, Alya menyodorkan botol air minum yang dibawanya. "Kamu hebat tadi, Fadhil. Serangan kombinasinya pas banget."
Fadhil menerima botol itu dengan wajah yang mendadak agak merona merah. "Makasih, Sya. Tapi ini berkat tancapan dan ikatan selendang pelangi kamu juga kok. Kalau kakinya gak dikunci rapat, seranganku gak bakal kena."
Di sisi lain, Davi sedang memeriksa reruntuhan dinding gua untuk memastikan tidak ada bahaya susulan. Cheryl berjalan perlahan mendekatinya dari belakang, melipat kedua tangannya di dada.
"Gak luka kan, Ketua?" tanya Cheryl pelan, nada bicaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
Davi menoleh, sedikit terkejut dengan perubahan nada suara Cheryl. Ia tersenyum tipis. "Gak ada, Cheryl. Cuma lecet dikit di tangan. Makasih ya udah ngalihkan perhatian monsternya tadi."
Cheryl memalingkan wajahnya sedikit, membuang muka agar pendar merah di pipinya tidak terlihat jelas oleh Davi. "Y-ya lagian siapa juga yang mau ngeliat ketua Harvest tumbang duluan," gumam Cheryl gengsi.
Sementara itu, Nailu sudah merogoh ponselnya kembali dari saku. Panggilan Video Call langsung terhubung dalam sekali tekan.
Layar ponsel memunculkan wajah Ghofar yang tampak duduk tegang di kursi markas Kosmik.
"Nailu! Gimana? Kamu baik-baik aja kan? Ada yang luka gak?!" cecar Ghofar bertubi-tubi di layar.
Nailu tertawa kecil, memamerkan senyum manisnya yang membuat Ghofar di seberang sana menghela napas lega. "Aku aman kok, Ghofar! Monsternya udah berhasil kita kalahkan. Anak-anak Harvest hebat-hebat banget!"
"Baguslah kalau gitu..." gumam Ghofar memindahkan ponselnya lebih dekat, matanya menatap lembut ke arah layar. "Aku cemas dari tadi nunggu kabar kamu."
"Hihi, maaf ya buat kamu cemas. Nanti kalau aku udah sampai markas, kita sambung lagi ya ceritanya," bisik Nailu halus.
Davi yang melihat pemandangan itu menepuk tangannya dua kali untuk mengumpulkan perhatian timnya kembali. "Oke semuanya! Pertambangan sudah aman, warga bisa kembali bekerja esok hari. Ayo kita kembali ke markas dan laporkan hasil pertarungan ini ke tim Cyber dan Kosmik!"
"SIAP!" sahut seluruh anggota Miracle Harvest serempak.
Mereka pun berjalan keluar dari terowongan gua bersama-sama. Meski ancaman besar dari kegelapan dan sosok misterius berjubah masih mengintai di luar sana, kebersamaan, kerja sama, dan benih-benih kehangatan yang tumbuh di antara mereka menjadi fondasi paling kuat untuk menghadapi pertarungan yang jauh lebih besar di masa depan.