Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reno & Belva
Dunia putih dan steril itu mendadak runtuh dalam kepalanya. Belva baru saja membuka mata, menyerap kenyataan bahwa ia masih hidup setelah insiden yang ia rancang sendiri untuk mencari simpati. Namun, kabar yang dibawa perawat tadi justru menghunjam jantungnya lebih kejam dari maut. Reno, suaminya, tidak berada di sisi tempat tidurnya. Pria itu justru pergi ke ruang medis lain, mendonorkan darahnya sendiri demi menyelamatkan nyawa anak kandungnya itu—Aera.
Kemarahan yang membuncah di dada Belva menjelma menjadi gelombang amuk yang tak terbendung. Napasnya memburu, matanya melotot merah penuh kebencian. Tanpa memedulikan jarum infus yang masih menancap di punggung tangan kanannya dan membuat darah segar merembes keluar, ia langsung bangkit meronta.
"Arghhhh! Sialan! Sialan semuanya!" teriak Belva melengking, mencengkeram helai rambutnya sendiri sebelum mulai melampiaskan amarah pada benda-benda di sekitarnya.
Prang!
Sebuah vas bunga kaca di atas nakas ia sambar dan lemparkan dengan sekuat tenaga ke dinding putih hingga berkeping-keping. Pecahannya berserakan di lantai keramik yang dingin. Belva sama sekali tak peduli saat serpihan kecil melukai telanjang kakinya. Ia meraih teko air plastik dan melemparkannya ke arah pintu hingga menimbulkan bunyi dentuman keras yang memekakkan telinga.
"Keluar! Pergi kalian semua!" Belva menjerit histeris, menyapu bersih obat-obatan, mangkuk bubur, dan selang monitor dari meja di samping ranjang. Semuanya jatuh berantakan.
Dua orang perawat yang tadinya berjaga di luar langsung menerobos masuk dengan wajah pucat, berniat menenangkan pasien yang mengamuk itu. Namun, tatapan mata Belva yang bagaikan singa kelaparan membuat mereka mundur ketakutan.
"Jangan mendekat! Panggil suami saya sekarang juga! Suruh Reno kemari!" Belva mendesis tajam, napasnya memburu naik turun. Dadanya terasa sesak bukan karena sisa-sisa efek obat rumah sakit, melainkan karena kobaran api cemburu, benci, dan ketakutan yang luar biasa membakar kewarasannya.
Para perawat itu akhirnya berlari keluar untuk memanggil dokter dan sekuriti, meninggalkan Belva seorang diri di tengah ruangan yang kini tampak seperti kapal pecah.
Belva merosot terduduk di tepi ranjang, meremas seprai putih hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata frustrasi mengalir deras di pipinya, bukan karena rasa sakit di tubuhnya, melainkan karena teror psikologis yang menghantui pikirannya. Aera. Nama itu adalah racun paling mematikan bagi masa depannya.
Selama bertahun-tahun, Belva telah bekerja keras membangun posisinya sebagai nyonya besar di keluarga Reno. Ia menggunakan kecantikan, kelicikan, dan manipulasi tingkat tinggi untuk mengikis pengaruh masa lalu Reno. Belva tahu betul bahwa Reno masih menyimpan rasa bersalah pada mendiang istri pertamanya. Karena itulah keberadaan Aera, anak kandung Reno dari pernikahan sebelumnya, selalu menjadi duri dalam daging yang siap merontokkan singgasananya kapan saja.
Aera adalah ancaman hidup-hidup. Gadis itu mewarisi mata tajam dan watak keras mendiang ibunya—hal yang paling ditakuti Belva. Jika Aera tetap ada di dekat Reno, kedok Belva lambat laun pasti akan terbongkar.
Itulah sebabnya, seminggu yang lalu, Belva merancang sebuah drama kelas kakap. Ia menyewa preman jalanan untuk mencegat Aera, lalu memelintir cerita sedemikian rupa seolah-olah Aera adalah gadis pembangkang yang membawa pengaruh buruk, melawan orang tua, bahkan berniat mencelakai dirinya yang sedang hamil muda—sebuah kebohongan besar yang sengaja ia buat demi memancing emosi Reno.
Drama itu berhasil. Reno yang tersulut amarah dan termakan tipu daya Belva akhirnya hilang kendali. Dengan tangan gemetar, Reno mengusir Aera keluar dari rumah besar mereka, tanpa membawa sepeser uang atau tempat bernaung. Belva bersorak dalam hati saat melihat punggung Aera menghilang di balik gerbang besi. Ia mengira kemenangan sudah berada di dalam genggamannya. Namun, semesta rupanya punya cara lain untuk mempermainkannya.
"Tidak... Tidak boleh terjadi..." bisik Belva penuh teror, menggelengkan kepalanya dengan liar. Kuku-kukunya mencengkeram erat seprai rumah sakit.
“Aku tidak boleh membiarkan anak sial itu menginjakkan kaki lagi di rumahku. Aku sudah bersusah payah menyingkirkannya, aku tidak akan membiarkan Reno membawanya pulang!"
Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Reno berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah, kemeja kusut, dan bekas plester putih menempel di lipatan siku lengannya—bukti nyata bahwa ia baru saja mendonorkan darahnya. Pria itu menatap nanar ke arah ruangan yang porak-poranda, lalu beralih menatap Belva yang duduk dengan rambut berantakan dan mata menyala penuh amarah.
"Belva? Apa-apaan semua ini? Kamu mengamuk seperti orang kesurupan!" suara Reno meninggi, menyiratkan kelelahan sekaligus kekecewaan melihat kelakuan istrinya.
Alih-alih merasa bersalah karena telah merusak kamar rumah sakit, Belva justru mendengus sinis. Kemarahannya yang tertahan kini meledak tepat di hadapan suaminya. Ia berdiri dengan cepat, mengabaikan infus yang tercabut dan meninggalkan noda darah di tangannya.
"Kamu tanya kenapa aku mengamuk?!" Belva melangkah mendekati Reno dengan langkah menghentak, menunjuk tepat di dada suaminya. Suaranya melengking tinggi, penuh racun dan kebencian.
“Kamu pikir aku tidak tahu dari mana saja kamu?! Kamu mendonorkan darahmu untuk anak pembangkang itu! Untuk Aera!"
Reno tertegun sejenak, alisnya bertaut tajam. "Dia anak kandungku, Belva! Dia hampir mati di jalan kemarin gara-gara... gara-gara kejadian itu! Sebagai seorang ayah, apa aku harus diam saja melihatnya sekarat?"
"Oh, jadi sekarang kamu menyalahkan aku?!" Belva tertawa histeris, air matanya tumpah bukan karena sedih, melainkan karena frustrasi yang teramat sangat.
“Kamu membela dia! Kamu mulai peduli lagi padanya! Kamu sengaja meninggalkan aku yang sedang sakit di sini demi berlari menemui anak haram itu, iya kan?!"
"Jaga bicaramu, Belva!" bentak Reno, suaminya mulai kehilangan kesabaran. Nada suara Reno bergetar menahan amarah.
“Aera bukan anak haram! Dia darah dagingku! Kesalahan apa sebenarnya yang membuatmu begitu membenci Aera sampai-sampai kamu begitu histeris setiap kali aku menyebut namanya?"
Pertanyaan Reno itu justru membuat Belva semakin tersudut. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak boleh ketahuan. Ia harus memutarbalikkan fakta sekali lagi, menggunakan senjata air mata dan manipulasi andalannya agar Reno kembali berada di bawah telapak kakinya.
Dengan napas tersengal-sengal, Belva tiba-tiba mengubah strateginya. Ia mundur perlahan, memegang kepalanya yang pusing, lalu merosot jatuh ke lantai seolah-olah tenaganya benar-benar habis terkuras. Ia mulai menangis sesenggukan dengan dramatis, bahunya bergetar hebat.
"Reno... kamu jahat..." cicit Belva dengan suara parau yang dibuat-buat menyedihkan. Ia mendongak, menampilkan wajahnya yang basah oleh air mata dan sisa-sisa kemarahan tadi. "Kamu lebih memilih anak itu daripada aku... Istri kamu sendiri."
Melihat Belva jatuh lemas di lantai, pertahanan Reno mendadak runtuh. Sifat iba dan rasa bersalah yang memang melekat pada diri Reno langsung mengambil alih.
Pria itu menghela napas panjang, meredam emosinya, lalu berjongkok untuk merangkul tubuh istrinya.
"Belva... bukan begitu maksudku," bujuk Reno dengan suara melembut, mencoba mengusap punggung istrinya.
"Jangan terlalu stres. Kamu tahu kondisi kesehatanmu sedang tidak baik. Aku hanya... aku hanya merasa bersalah pada Aera, tapi bukan berarti aku mengabaikanmu."
Di balik dekapan Reno, sudut bibir Belva terangkat sedikit membentuk sebuah senyuman kemenangan yang dingin dan penuh kelicikan. Namun, tatapan matanya tetap menyiratkan ancaman yang mematikan.
Bagus, batin Belva penuh tipu daya.
Reno kembali luluh. Namun, kemenangan semu itu tidak serta-merta melenyapkan rasa takut di hati Belva. Pelukan hangat Reno tidak mampu menenangkan badai kecemasan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Belva tahu betul, selama Aera masih bernapas di dunia ini, posisinya tidak akan pernah benar-benar aman.
Reno mungkin berhasil ditenangkan untuk saat ini, tetapi sifat pemaaf suaminya itu adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan segalanya.
Belva menatap kosong ke dinding kamar rumah sakit yang putih bersih, sementara pikirannya sudah mulai merancang rencana busuk berikutnya.
Jika Aera tidak bisa diusir dengan cara biasa, maka ia harus memastikan bahwa gadis itu benar-benar tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk kembali ke rumah ini selamanya. Apapun caranya.