Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ayah?
Namaku Angela Syambega. Orang-orang sering menoleh saat berpapasan denganku—kulitku kuning langsat, mataku sipit khas ayahku, tapi raut wajah dan senyumku mewarisi kelembutan ibuku. Darah Tionghoa mengalir dari ayah, dan darah Jawa yang tulus mengalir dari ibu. Kami bertiga tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Surabaya, rumah yang tak luas tapi selalu terasa hangat selama ayah masih ada di sana.
Dulu, nama Ayah—Bapak Wijaya—pernah terdengar gagah di kalangan pengusaha. Ia memiliki kantor sendiri, mobil mewah, dan kehidupan yang serba berkecukupan. Namun takdir berkata lain. Lima tahun lalu, ia terkena tuduhan kelalaian yang tak ia lakukan, dipecat dari jabatannya sebagai direktur utama, dan harta kekayaannya perlahan habis untuk melunasi hutang serta biaya perkara yang tak berujung. Sejak saat itu, Ayah rela merendah diri menjadi buruh pabrik pengepakan barang, bekerja dari pagi buta hingga malam menyingsing dengan upah yang tak seberapa. Ibu, yang dulunya hanya ibu rumah tangga, kini harus berkelana dari rumah ke rumah membantu mencuci pakaian, memasak untuk hajatan tetangga, hingga merawat orang sakit—apa saja yang halal demi menambah sisa uang belanja.
Aku sendiri, yang baru menginjak usia 20 tahun, tak sempat melanjutkan kuliah. Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe kecil di pusat kota. Setiap hari aku berdiri berjam-jam, menyapa pelanggan dengan senyum, menuangkan kopi, dan membersihkan meja. Keringatku sering menetes, kakiku terasa pegal, tapi setiap kali aku pulang dan melihat senyum Ayah serta Ibu, rasa lelah itu seolah terhapus.
"Angel, nanti berangkat kerja hati-hati ya," ujar Ayah setiap pagi sambil merapikan rambutku. Wajahnya mulai keriput, tangan kasarnya penuh bekas luka kerja, namun tatapannya tetap tegas dan penuh kasih. "Jangan malu dengan pekerjaan apa pun, yang penting halal dan jujur."
"Aku tahu, Yah," jawabku sambil mencium punggung tangannya. "Ayah juga jangan terlalu lelah ya."
Kehidupan kami memang sederhana, bahkan sering kali pas-pasan. Kadang kami hanya makan tempe dan sayur bening, kadang harus menunda membeli obat jika salah satu dari kami sakit. Namun kami saling menguatkan. Ayah selalu berkata, "Rezeki itu ada yang mengatur, Nak. Yang penting kita tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa."
Hari itu cuaca mendung gelap. Hujan turun rintik-rintik sejak pagi, membuat jalanan licin. Ayah pulang lebih sore dari biasanya karena ada tugas tambahan di pabrik. Sebelum berangkat, ia sempat berpesan pada Ibu, "Nanti malam aku mungkin pulang agak telat, ada pengiriman mendadak."
Siapa sangka, itu adalah pesan terakhir yang terdengar jelas dari mulutnya.
Pukul delapan malam, telepon rumah berdering nyaring. Ibu yang mengangkatnya, dan wajahnya seketika berubah pucat pasi. Tubuhnya terhuyung, telepon genggam hampir terlepas dari tangannya.
"Angela... Ayah..." suaranya tercekat. "Ayah kecelakaan. Dia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah."
Dunia seolah runtuh saat itu juga. Aku langsung berlari memakai jaket, kami berdua bergegas menuju rumah sakit dengan naik angkutan umum yang penuh sesak. Di sana, dokter menjelaskan bahwa Ayah tertabrak kendaraan yang melaju kencang saat ia berjalan memotong jalan pulang—karena jalan setapak biasanya ia lewati sedang diperbaiki. Kepalanya terbentur keras, patah tulang rusuk, dan... ia belum sadarkan diri.
"Kondisinya kritis," kata dokter dengan nada serius. "Pasien mengalami koma. Kami harus merawatnya intensif. Biayanya tidak sedikit, Bu, Nona."
Ibu terduduk lemas, air matanya mengalir deras. Aku memeluknya erat, berusaha menahan isak tangisku sendiri meski hatiku terasa dicabik-cabik. "Bu, kita pasti bisa. Kita akan berusaha sekuat tenaga."
Hari-hari berubah menjadi perjuangan berat. Ayah terbaring lemah di ruang rawat inap, alat bantu medis menempel di tubuhnya. Tagihan rumah sakit datang silih berganti, menumpuk seperti gunung. Tabungan kami yang sedikit itu habis dalam hitungan hari.
Maka dimulailah perjuangan kami. Aku dan Ibu membagi waktu: pagi hingga sore aku bekerja di kafe, setelah itu aku langsung ke rumah sakit menggantikan Ibu yang pulang untuk bekerja membantu tetangga hingga larut malam. Kadang Ibu tak pulang sama sekali, ia tidur sebentar di ruang tunggu rumah sakit agar bisa menjaga Ayah sekaligus menunggu panggilan kerja dari kenalan.
Keringat kami tak henti menetes. Aku bekerja lebih giat, menawarkan diri untuk lembur jika ada permintaan, membawa pulang sisa makanan yang layak makan dari kafe agar kami tak perlu membeli makanan di rumah sakit yang harganya mahal. Ibu yang dulunya anggun kini tampak berantakan, pakaiannya lusuh, matanya cekung karena kurang tidur. Namun tak pernah sekalipun kami mengeluh di depan Ayah. Kami selalu berbicara lembut padanya, bercerita hal-hal baik, berharap suara kami bisa menembus kesadarannya.
"Yah, Angela dapat tambahan uang dari bos karena rajin," ceritaku sambil menggenggam tangan kasarnya yang kini terpasang infus. "Nanti kalau Ayah sudah sembuh, kita beli bubur ayam kesukaan Ayah ya."
Ibu menambahkan sambil menyeka keringat di dahi Ayah, "Suamiku, bangunlah. Kami merindukanmu. Rumah terasa sepi tanpamu."
Tetangga dan kerabat ada yang membantu, namun tak banyak. Kebanyakan hanya datang menjenguk sekali lalu menghilang saat tahu biaya pengobatan begitu besar. Namun kami tak menyerah. Setiap rupiah yang kami dapatkan, setiap tetes keringat yang keluar, kami tujukan untuk Ayah.
Aku sering teringat masa lalu. Saat Ayah masih kaya, ia tak pernah sombong. Ia selalu berbagi dengan yang kurang mampu. Kini saat ia jatuh, aku sadar bahwa kebaikan yang ia tanam dulu mungkin tak terbalas dengan materi, tapi telah menanamkan kekuatan pada kami—anak dan istrinya—untuk tak pernah menyerah pada keadaan.
Hari berganti minggu. Ayah masih belum sadar, tapi dokter bilang tanda-tanda kehidupannya mulai lebih stabil. Biaya tetap menjadi bayang-bayang yang menakutkan, tapi kami belajar bertahan dengan lebih hemat, lebih cermat.
Suatu sore saat aku sedang merapikan meja di kafe, seorang pelanggan tetap menyadari wajahku yang lesu. Setelah aku menceritakan sekilas keadaanku, ia dengan tulus memberikan bantuan tanpa mengharap balasan. "Semangat ya, Nak. Doa dan usaha kalian pasti didengar."
Bantuan itu sungguh menjadi berkah. Dan yang lebih membuat kami bersyukur—pagi itu, saat aku sedang menyeka wajah Ayah, jari tangannya bergerak perlahan. Dokter memeriksanya dan tersenyum, "Ada kemajuan. Kesadarannya mulai kembali."
Air mata kami tumpah bukan karena sedih, tapi karena harapan yang mulai tumbuh kembali. Kami tahu perjalanan ini belum selesai, biaya masih ada, pemulihan masih panjang. Namun kami berjanji: tak peduli seberapa lelahnya, seberapa sulitnya, kami akan tetap berdiri bersama.
Tujuh hari telah berlalu sejak hari kelam itu. Tujuh hari yang terasa lebih panjang dari seabad bagiku dan Ibu. Setiap pagi saat matahari mulai menyelinap lewat celah jendela ruang rawat, kami selalu bangun dengan harapan yang sama: semoga hari ini Ayah membuka matanya. Namun harapan itu selalu kembali pudar saat melihat sosoknya yang masih terbaring diam, terhubung erat dengan berbagai alat medis yang menemaninya bernapas.
Rumah sakit itu kini terasa seperti rumah kedua kami. Lantai keramik yang dingin, bau obat yang menyengat, bunyi detak jantung yang berirama monoton—semuanya telah menjadi bagian dari keseharian kami yang penuh cemas. Aku dan Ibu telah menyusun jadwal yang tak pernah putus: pagi pukul enam aku menggantikan Ibu pulang untuk beristirahat sejenak dan mengambil pesanan mencuci pakaian atau memasak dari tetangga. Siangnya aku bergegas pergi bekerja ke kafe, lalu kembali lagi ke rumah sakit saat sore hari menggantikan Ibu yang bekerja hingga larut malam. Kadang kami hanya bertukar pesan singkat lewat ponsel jadul milik Ibu: "Jangan lupa makan, Nak", "Hati-hati di jalan, Bu". Tak ada kata lelah, tak ada kata menyerah. Kami berjuang demi satu orang yang paling kami cintai.
Tabungan yang tersisa semakin menipis. Uang hasil kerjaku di kafe dan pendapatan serabutan Ibu seolah tak cukup mengejar angka tagihan yang terus bertambah setiap harinya. Beberapa kali kami harus berdiskusi dengan petugas administrasi, memohon keringanan pembayaran dengan mata berkaca-kaca. Dokter selalu berkata hal yang sama: kondisinya stabil namun belum ada tanda kesadaran yang nyata. Kami harus bersabar. Sabar... kata yang begitu mudah diucapkan, namun begitu berat untuk dijalani saat nyawa orang terkasih sedang di ujung benang.
Setiap kali duduk di samping tempat tidur Ayah, aku selalu menggenggam tangannya yang mulai terasa lebih kurus. Aku bercerita tentang apa saja—tentang pelanggan kafe yang ramah, tentang tetangga yang menyayangkan nasib kami, tentang kenangan masa lalu saat rumah kami masih penuh tawa dan kemewahan.
"Yah, ingat nggak dulu Ayah pernah janji akan ajak aku keliling Jawa?" bisikku pelan, menahan getaran di tenggorokan. "Bangun ya, Yah. Kita nggak butuh mobil mewah lagi. Cukup naik angkutan umum saja, asal Ayah ada di sini."
Ibu yang baru datang membawa bekal makanan sisa dari rumah hanya bisa mengusap kepalaku dan menatap suaminya dengan tatapan yang tak pernah lelah penuh doa. Di matanya tergambar betapa besar rasa rindu dan sakit hati, namun ia tak pernah membiarkan dirinya hancur sepenuhnya di hadapanku. Ia adalah tiang penyanggaku saat ini.
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan Surabaya saat aku berjalan menuju rumah sakit setelah selesai menyiapkan sarapan sederhana untuk Ibu. Hati kecilku terasa gelisah, seolah ada sesuatu yang tak beres. Aku mempercepat langkah, menyusuri lorong rumah sakit yang masih sepi dengan detak jantung yang berpacu kencang.
Saat aku tiba di depan ruangan rawat Ayah, aku melihat Ibu sudah berdiri di sana bersama dokter dan beberapa perawat. Tatapan mereka membuat kakiku lemas seketika. Dokter menoleh ke arahku dengan wajah penuh rasa iba.
"Nona Angela..." suaranya terdengar berat dan lembut. "Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Namun pagi ini, sekitar pukul empat lewat lima belas menit... tanda-tanda kehidupan Bapak Wijaya telah berhenti. Belum sadarkan diri kembali."
Dunia seolah berputar terbalik. Bunyi di sekitarku hilang seketika, digantikan oleh keheningan yang menyakitkan. Kaki yang tadi berjalan cepat kini tak sanggup menopang tubuhku. Aku merosot jatuh ke lantai dingin itu, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya meledak tak terbendung.
"Yah... Ayah..." isakku pecah, meremas dada yang terasa sesak tak bernapas.
Ibu yang sedari tadi berdiri kaku seketika ambruk berlutut, menangis terjerit memanggil nama suaminya. Tak ada lagi jawaban. Tak akan ada lagi tangan kasar yang mengusap kepalaku, tak akan ada lagi suara bijaknya yang menenangkan, tak akan ada lagi senyumnya yang sederhana namun penuh makna. Sosok pelindung kami telah pergi, meninggalkan kami berdua di dunia yang terasa begitu asing dan sunyi.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Kami harus mengurus segala hal yang menyedihkan: mengurus jenazah, membereskan segala administrasi, hingga melepas Ayah ke peristirahatan terakhirnya. Kerabat dan tetangga datang berduka, memberikan belasungkawa dan sedikit bantuan, namun tak ada yang bisa mengembalikan senyum Ayah. Di tengah upacara pemakaman itu, saat tanah merah mulai menutup peti kayu tempatnya berbaring, aku berjanji dalam hati: Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjadi kuat seperti yang selalu Ayah ajarkan.
Kembali ke rumah kecil itu terasa jauh lebih menyakitkan. Dulu di sini selalu ada suara langkah kaki Ayah, suara tawanya saat bercerita, aroma rokok atau kopi yang biasa ia nikmati. Kini rumah itu terasa begitu luas, begitu kosong, dan begitu sunyi. Setiap sudutnya menyimpan kenangan yang menohok hati.
Namun hidup tak berhenti begitu saja. Matahari tetap terbit setiap paginya, perut tetap harus terisi, kebutuhan hidup tetap menanti. Aku dan Ibu duduk bersama di ruang tamu yang sederhana itu, menatap satu sama lain dengan mata yang sembab namun perlahan menguat kembali.
"Angela..." Ibu menggenggam tanganku, suaranya parau namun tegas. "Ayah sudah pergi. Kita harus ikhlas. Tapi kita masih harus hidup. Kita harus saling menjaga, saling menguatkan. Kita berdua sekarang."
Aku mengangguk di sela isak tangis yang masih tersisa. "Iya, Bu. Aku janji. Aku akan bekerja lebih giat lagi. Ibu jangan terlalu capek ya, biar aku yang bantu semampuku."
Sejak hari itu, kami membangun semangat baru dengan sisa kekuatan yang ada. Rutinitas kami berubah menjadi perjuangan yang lebih erat lagi. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, membantu Ibu menyelesaikan pekerjaan rumah dan pesanan mencuci pakaian sebelum berangkat ke kafe. Siang hingga sore aku melayani pelanggan dengan senyum yang tak lagi secerah dulu, namun tetap tulus dan ramah. Pulang kerja, aku tak langsung beristirahat. Aku membantu Ibu yang kadang harus menyetrika pakaian tetangga atau mengupas bawang untuk keperluan warung makan.
Kami belajar hidup dengan sangat hemat. Nasi dan sayur lodeh atau tumis kangkung menjadi makanan sehari-hari kami. Daging ayam hanya akan ada jika ada sisa dari hajatan atau jika aku mendapat bonus lembur dari kafe. Tak ada lagi belanja barang yang tak perlu, tak ada lagi hiasan baru di rumah. Setiap rupiah kami hitung dengan teliti, dibagi untuk kebutuhan makan, listrik, air, dan sedikit tabungan berjaga-jaga jika ada keperluan mendadak.
Meskipun beban di pundak terasa berat, kebersamaan kami membuatnya lebih ringan. Di malam hari sebelum tidur, kami sering duduk berdua di teras rumah menatap langit malam. Ibu akan bercerita tentang masa mudanya, tentang bagaimana Ayah yang dulu kaya raya justru melamarnya dengan tulus tanpa memandang latar belakang. Aku bercerita tentang impianku, tentang harapan agar suatu hari nanti kami bisa hidup lebih tenang lagi.
"Angela," kata Ibu suatu malam sambil menepuk tanganku. "Kamu punya darah Ayah yang pantang menyerah, dan darah Ibu yang sabar. Kamu cantik, pintar, dan pekerja keras. Percayalah, jalan Tuhan itu indah. Ayah pasti sedang melihat kita dengan bangga dari sana."
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Ibu. Di tengah kesederhanaan dan kesedihan ini, aku menyadari satu hal: Harta bisa hilang, orang tersayang bisa pergi, namun kasih sayang dan semangat yang kami warisi takkan pernah pudar. Rumah ini mungkin tak lagi lengkap dengan kehadiran Ayah, namun cinta dan kebersamaan kami berdua cukup untuk menjaganya tetap hangat. Kami akan terus berjalan beriringan, saling menguatkan, menapaki hari demi hari dengan doa dan harapan yang tak pernah padam.