Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 A NEW DAWN
Di tengah kepulan debu dan deru napas yang memburu di pelataran pabrik tua Cijalu, arena pertempuran mendadak terasa makin tegang.
DUAAGH!!
Benturan keras terjadi antara pukulan tajam Friza dan tangkisan siku Zela. Stamina Zela yang mulai terkuras habis membuat tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah. Zela bertekuk lutut, memegangi dadanya yang sesak. Terlihat jelas bahwa Zela sudah berada di ambang batas kemampuannya menghadapi pimpinan Cikampek Boys Celebrity (CBC) tersebut.
Di sisi lain, pertempuran antara Irsyad dan Dimby berlangsung tak kalah sengit. Dimby, dengan segala kekuatannya sebagai pilar TOP, sudah melayangkan kombinasi serangan terbaiknya. Namun, keberadaan Irsyad sebagai salah satu dari lima Lone Wolf terkuat yang legendaris benar-benar terbukti. Sebuah tebasan kaki memutar dari Irsyad berhasil mendarat telak, membuat Dimby terhempas menabrak dinding beton hingga terbatuk darah. Irsyad berdiri tegap, mendominasi penuh jalannya pertarungan.
Zela hampir kalah di tangan Friza, sementara Dimby berhasil ditumbangkan oleh Irsyad. Secara keseluruhan, hasil akhir pertempuran antar-pilar itu menjadi seimbang—tidak ada yang benar-benar menang mutlak, dan tidak ada yang kalah total.
"Cukup!" suara Friza memecah ketegangan seraya menurunkan kepalan tangannya. Dia menatap Irsyad dan Zela dengan pandangan dingin. "Pertarungan ini gak bakal ada habisnya kalau cuma saling bunuh kayak gini."
Tepat pada saat itu, jemari Gilang yang terbaring di atas tanah mulai bergerak. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pendar lampu jalanan yang temaram menyapa penglihatannya. Setetes air mata bening menetes membasahi pipinya yang lebam dan kotor oleh debu pertempuran.
"Sepertinya... Bang Virgi bakal marah besar kalau dia liat kita kayak gini... bener kan, Eli?" bisik Gilang dengan suara parau dan bergetar.
Elisa yang sedang mengompres luka Gilang menahan isak tangisnya. Dia menyapu air matanya sendiri lalu menempelkan perban ke dahi Gilang. "Tentu aja, Bodoh! Lu pikir Bang Virgi bakal bangga liat lu nyaris mati dan bikin kekacauan kayak gini?"
Di samping mereka, Ryuka juga mulai menggerakkan badannya. Dia menopang tubuhnya yang sangat pegal, menyeka darah di sudut bibirnya, lalu menatap Gilang dan Elisa bergantian dengan tatapan heran.
"Hah... Rasanya badan gua remuk semua," gumam Ryuka pelan. Dia menghela napas panjang lalu menatap Elisa. "Tapi... sepertinya jauh sebelum gua kenal Bang Virgi di Jakarta, kalian berdua udah lebih dulu kenal sama dia, ya?"
Elisa terkekeh pelan di tengah sisa tangisnya. "Oy, Ryuka... lu tahu gak? Gua ini adik kandung dari Bang Virgi."
Mata Ryuka membelalak lebar. Dia tertekan kaget hingga hampir tersedak ludahnya sendiri. "HAH?! Lu adik kandungnya Bang Virgi?! Lu bercanda ya, Eli?! Gua gak percaya, anjir! Muka kalian beda banget!"
"Dih, beneran Sialan!" seru Elisa sambil tertawa kecil.
Melihat reaksi heboh Ryuka, Gilang yang tadinya terpuruk kini ikut terkekeh pelan. Gelak tawa kecil pecah di antara mereka bertiga di sudut lapangan. Sebuah tawa hangat yang sudah sangat lama tidak pernah tercipta di antara teman masa kecil itu.
Gilang memiringkan kepalanya, menatap Ryuka yang sedang memegangi kepalanya. "Ka... sebenernya kenapa lu bisa kenal sama Bang Virgi?"
Ryuka tersenyum tipis, memandang langit malam Cijalu yang mulai memudar menembus fajar. "Gua gak mau jawab detailnya... Tapi gua kenal dia gara-gara sebuah insiden mengerikan di Jakarta. Gua ketemu dia secara gak sengaja... persis kayak insiden kelam masa kecil kita dulu."
Ryuka mendadak menghentikan kalimatnya. Wajahnya berubah menjadi sangat merasa bersalah. Dia menunduk menatap tanah, suaranya memberat. "Maafin gua, Lang... Gara-gara aura hitam pekat gua waktu kecil... abang lu tewas, dan hidup lu jadi hancur kayak gini... Semua ini gara-gara—"
"Udah, gak apa-apa, Ka," potong Gilang dengan cepat sebelum Ryuka menyelesaikan kalimat penyesalannya.
Gilang menatap Ryuka dengan mata yang tulus, tanpa ada lagi aura kebencian atau dendam. "Yang udah berlalu, ya udah... Lagian, waktu kejadian itu, lu juga pasti sama-sama terluka dan menderita kayak gua, kan? Lu hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan dijauhi semua orang. Kita berdua sama-sama korban dari tragedi itu, Ka."
Ryuka terpaku mendengar ucapan Gilang. Beban berat dan rasa bersalah yang mengimpit dadanya selama bertahun-tahun seketika menguap, tergantikan oleh rasa lega yang luar biasa.
Melihat kondisi Ryuka, Gilang, dan Elisa yang sudah saling memaafkan, Friza melangkah mendekati mereka bertiga. Ratusan anggota Slonong Boys di belakangnya berdiri siaga.
"Oi, Gilang," panggil Friza dengan nada tegas. "Perang malam ini bisa kita akhiri di sini... tapi ada satu syarat."
Gilang menengadah, menatap Friza. "Syarat apa?"
"Serahkan seluruh wilayah kekuasaan Cijalu ke tangan aliansi Slonong Boys," jawab Friza tanpa ragu. "Ini harga yang harus dibayar atas komanya Fatah dan semua kekacauan yang bikin wilayah Sukaseri panas."
Gilang menghembuskan napas panjang. Tanpa ada beban sedikit pun di wajahnya, Gilang mengangguk mantap. "Oke. Gua sepakat. Gua serahkan seluruh kekuasaan Cijalu ke tangan Slonong Boys."
Namun, Gilang kemudian menambahkan dengan senyuman miring. "Tapi gua ingatin satu hal, Friza... Anak-anak Cijalu gak bakal tunduk gitu aja kalau kalian belum mengalahkan mereka secara langsung. Itulah watak asli orang-orang Cijalu. Dulu waktu gua menguasai Cijalu, gua harus berduel satu lawan satu sama pimpinan tertinggi mereka buat bikin mereka patuh. Kalau waktu itu gua dikeroyok, mungkin gua yang bakal habis di tangan mereka."
Friza menyunggingkan senyum tipis, menyalakan sebatang rokok. "Gak masalah. Selama lu melangkah mundur dan membiarkan Slonong Boys masuk, sisanya jadi urusan kami. Kami tahu cara menundukkan berandalan jalanan."
Friza kemudian berbalik menghadap ratusan pasukannya. "DENGAR SEMUA! PERTEMPURAN MALAM INI RESMI BERAKHIR! KITA MUNDUR!"
Teriakan gemuruh dari aliansi Slonong Boys memecah kesunyian fajar. Ratusan motor mulai dinyalakan, meninggalkan pelataran pabrik Cijalu satu per satu. Irsyad memikul tasnya kembali, berjalan pergi menembus kabut pagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sementara Zela berjalan mendekati Ryuka, membuang napas lega karena pertempuran gila ini akhirnya usai.
Perang panjang yang menumpahkan darah, keringat, dan dendam masa lalu itu... resmi berakhir seiring menyingsingnya matahari pagi di Kota Cikampek.
Keesokan harinya, tepat pada hari Minggu pagi yang cerah.
Suasana di kediaman rumah Ryuka terasa begitu hangat dan tenang. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela ruang tamu. Di sofa utama, Ryuka, Gilang, dan Elisa duduk berjejer dengan tubuh yang penuh balutan perban kasa. Sementara itu, Sebas sedang menyajikan teh hangat di meja, dan Denza duduk menyandar di kursi kayu sambil mengunyah camilan.
Setelah insiden di Cijalu, Gilang dan Elisa memutuskan untuk menginap di rumah Ryuka untuk memulihkan kondisi fisik mereka.
Di layar televisi ruang tamu yang menyala, seorang pembawa berita sedang membacakan warta berita kriminal lokal Cikampek:
"Berita terkini dari kawasan industri Cikampek. Peta kekuatan jalanan di wilayah Cijalu dipastikan telah mengalami pergeseran besar. Aliansi raksasa Slonong Boys secara resmi telah mengambil alih seluruh teritori dan kekuasaan di kawasan Cijalu Bersatu. Dengan masuknya wilayah Cijalu, aliansi Slonong Boys kini mencatatkan sejarah baru dengan membawahi lebih dari 10 fraksi berandalan terkuat yang tersebar di seluruh pelosok Cikampek..."
Ryuka menatap layar televisi itu sejenak, lalu melirik ke arah Gilang yang sedang menyesap teh hangatnya dengan tenang.
"Lang... Lu beneran gak apa-apa kekuasaan Cijalu jatuh ke tangan mereka?" tanya Ryuka penasaran. "Bukannya lu capek-capek bangun dan nguasain wilayah itu dari awal?"
Gilang meletakkan cangkir tehnya ke meja, lalu bersandar ke bantalan sofa. Dia menghembuskan napas lega, menyunggingkan senyuman paling tulus yang tidak pernah terlihat di wajahnya selama bertahun-tahun.
"Kekuasaan... harta... atau status penguasa jalanan... semua itu udah gak berarti lagi bagi gua sekarang, Ka," jawab Gilang pelan namun sangat mantap.
Gilang menoleh menatap Elisa yang duduk di sampingnya, lalu beralih menatap Ryuka. "Dulu gua berambisi ngumpulin semua itu cuma karena gua buta oleh dendam dan dimanipulasi sama Dewan Intelligent. Tapi sekarang... gua cuma mau melindungi apa yang memang seharusnya gua lindungi dari awal. Teman-teman gua... dan kedamaian hidup gua sendiri."
Elisa yang mendengar ucapan Gilang tersenyum lebar, menepuk bahu Gilang dengan pelan. "Nah, gitu dong! Ini baru Gilang yang gua kenal dari dulu!"
"Aduh, aduh! Pelan-pelan mukulnya, Eli! Luka gua masih basah, Sialan!" ringis Gilang sambil memegangi bahunya, memicu tawa renyah dari Elisa.
Ryuka menyunggingkan senyum miringnya, bersedekap dada sambil menikmati kehangatan pagi itu. Sebas yang berdiri di sudut ruangan tersenyum anggun melihat Tuan Mudanya akhirnya bisa tertawa lepas kembali, sementara Denza terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Dendam masa kecil telah terobati, kebenaran telah terungkap, dan ikatan persahabatan yang sempat retak kini telah kembali utuh. Di bawah naungan langit Cikampek yang tenang pada hari Minggu itu, pertarungan panjang yang melelahkan telah resmi usai, menyisakan lembaran baru yang siap mereka jalani bersama.