NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sesampainya di salah satu mal paling mewah di pusat kota, Alena dan Tanti langsung melangkah memasuki sebuah butik gaun malam eksklusif yang memajang deretan busana berdesain megah di balik etalase kaca berkilau.

Begitu mereka melangkah masuk, dua orang pelayan butik berpenampilan modis dan berwajah angkuh langsung menyambut dengan senyum sinis yang sarat akan merendahkan.

Mereka memerhatikan penampilan Alena yang sederhana—hanya mengenakan kemeja kasual dan celana bahan—serta Tanti yang mengekor di belakang.

"Maaf, Nyonya. Koleksi di sini khusus untuk kalangan atas dan sosialita. Sepertinya baju yang cocok untuk Anda ada di pasar tradisional seberang jalan," ucap pelayan pertama dengan nada menyindir tajam, tanpa sedikit pun menyembunyikan rasa jijiknya.

Alena mengerutkan keningnya, menahan emosi yang mulai membuncah di dadanya.

Belum sempat ia membuka suara, seorang wanita paruh baya sosialita yang sedang memilih gaun di dekat mereka ikut menimpali dengan tawa renyah yang menyebalkan.

"Zaman sekarang, banyak orang ndeso nekat masuk butik mahal cuma buat pegang-pegang baju tanpa tahu harganya. Maklum, muka tua tapi gak tahu diri," ejek wanita tua itu dengan tatapan penuh penghinaan.

Kesabaran Alena akhirnya habis. Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan black card kilat pemberian Baskara, dan melemparkannya dengan anggun di atas meja kasir marmer.

"Aku sanggup membayarnya!" ucap Alena tegas, menatap tajam kedua pelayan dan wanita sosialita tersebut.

Alih-alih melunak melihat kartu tanpa batas limit itu, salah satu pelayan justru mendengkus meremehkan, mengira kartu tersebut adalah kartu tiruan atau palsu.

"Alah, jangan sok pamer kartu mainan! Mentang-mentang tua, nekat bikin onar di sini!" bentak pelayan itu dengan nada tinggi.

Tanpa basa-basi lagi, kedua pelayan butik itu bertindak kasar. Mereka mendorong tubuh Alena dengan paksa agar segera keluar dari area butik.

Dorongan yang cukup kuat membuat keseimbangan Alena hilang, hingga ia jatuh tersungkur dengan lutut menghantam lantai keramik yang keras.

"Nyonya!" teriak Tanti histeris, buru-buru berlari menghampiri dan membantu Alena berdiri.

Amarah Tanti, yang sejak tadi menahan diri, kini meledak luar biasa.

Melihat bosnya diperlakukan tidak senonoh, ia dengan cepat menyambar ponsel dari dalam tas Alena.

Tanpa ragu, Tanti mencari kontak darurat sang pemilik kekuasaan mutlak di hidup Alena saat ini dan menekan tombol panggil.

Panggilan tersambung dalam hitungan detik. Suara berat dan dingin langsung menyahut dari seberang sana.

"Halo..."

"Halo, Tuan Baskara!" seru Tanti dengan napas memburu dan nada gemetar karena marah.

"Nyonya diusir dan didorong oleh pelayan toko sampai terjatuh di Mal Bintang!"

Sambungan telepon dari Tanti seketika memutus kesadaran Baskara dari tumpukan berkas di ruangannya.

Suara napas memburu dan kalimat penuh ampunan itu membuat suhu di ruang kerja direktur utama mendadak membeku.

Tanpa sepatah kata pun, Baskara bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat.

Ia menyambar jasnya, melangkah lebar keluar ruangan sambil membentak sekretarisnya untuk mengumpulkan seluruh kepala pengamanan korporasi.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, deretan mobil hitam berbaris membelah jalanan kota, melaju kencang menuju Mal Bintang tempat istrinya berada.

Tak sampai sepuluh menit, mobil mewah Baskara berhenti mendadak di depan pintu masuk mall.

Pria itu melangkah turun dengan aura intimidasi yang begitu pekat, diikuti empat orang pengawal berbadan tegap bersetelan jas hitam di belakangnya.

Di dalam butik eksklusif itu, suasana masih tegang.

Tanti sedang berjongkok merapikan ujung rok Alena, sementara dua pelayan tadi masih berdiri dengan wajah angkuh, bersiap mengusir mereka sekali lagi.

Namun, langkah kaki tegas yang menggema di lantai marmer menghentikan seluruh gerakan di dalam butik.

Baskara muncul di ambang pintu. Tatapannya menyapu ruangan, dan begitu melihat lutut Alena yang sedikit membiru dan lecet akibat terjatuh di lantai, sorot mata Baskara berubah menjadi sangat mematikan. Suhu di dalam butik seolah merosot drastis.

Ia berjalan cepat menghampiri istrinya, berlutut sebelah kaki di hadapan Alena untuk memeriksa luka di lutut wanita itu dengan jemari yang bergetar menahan amarah.

"Siapa yang melakukan ini?" suara rendah Baskara menggelegar dingin, menusuk hingga ke tulang siapa pun yang mendengarnya.

Salah satu pelayan yang tadi mendorong Alena, mendadak salah tingkah.

Namun saat ia melihat wajah pria yang datang, matanya membelalak kaget luar biasa.

Ia mengenali sosok itu dari sampul majalah bisnis bulanan—pria muda pewaris tunggal sekaligus pemegang saham terbesar dari grup perusahaan yang menaungi seluruh pusat perbelanjaan mewah tersebut.

Kaki pelayan itu langsung lemas seketika.

"T-Tuan Baskara..." cicit pelayan itu pucat pasi, suaranya bergetar hebat saat menyadari kesalahan fatal yang baru saja ia perbuat.

Pelayan butik itu terbata-bata, berusaha membela diri dengan tangan gemetar.

"Tuan, kami... kami mengusir mereka karena.."

"Kalian berani mengusir istriku?" potong Baskara dengan suara menggelegar penuh tekanan yang membuat sekujur tubuh pelayan itu membeku seketika.

Baskara berdiri perlahan, menatap tajam kepada dua pelayan sombong dan wanita sosialita yang kini wajahnya sepucat kertas.

Tanpa mengalihkan pandangannya, ia memberi gestur tegas kepada kepala pengawal di belakangnya.

"Gerald, tutup dan blokir butik ini sekarang juga. Cabut izin usahanya di seluruh mal," perintah Baskara mutlak.

"Baik, Tuan!" sahut Gerald sigap.

Mendengar keputusan itu, kedua pelayan tersebut langsung menjatuhkan diri berlutut di lantai, merengek sambil menangis histeris memohon ampun kepada Alena.

"Nyonya... mohon maafkan kami, Nyonya! Kami tidak tahu kalau Anda adalah istri Tuan Baskara! Tolong ampuni kami..." ratap pelayan itu putus asa.

Alena, yang sejak tadi terdiam kaget melihat kemarahan luar biasa suaminya, perlahan menyentuh lengan jas Baskara.

Ia menatap lekat-lekat mata suaminya yang masih menyalang penuh amarah.

"Bas, jangan ditutup butik ini," ucap Alena lembut namun tegas. "Pindahkan saja mereka ke bagian cleaning service (OB), dan cari karyawan baru yang lebih sopan."

Baskara menoleh, menatap istrinya sesaat sebelum menghela napas berat, melunak di hadapan wanita itu.

Ia lalu menatap tajam ke arah dua pelayan yang sedang berlutut.

"Dengar apa kata istriku?!" bentak Baskara dingin.

"Mulai hari ini, kalian turun pangkat menjadi petugas kebersihan di seluruh area toilet mal ini!"

Pelayan-pelayan itu menganggukkan kepala mereka berkali-kali sambil terisak, lalu bergegas pergi meninggalkan area butik dengan rasa malu yang teramat sangat.

Wanita sosialita yang tadi ikut mengejek pun kabur perlahan tanpa berani menoleh.

Melihat kekacauan mereda, salah seorang karyawan lain yang dari tadi hanya diam dan tidak ikut merundung Alena langsung melangkah maju dengan gemetar sopan.

"Silakan, Nyonya... silakan duduk," ucap karyawan itu ramah sambil menunjuk sofa beludru empuk di sudut ruangan bersama Tanti.

Baskara menganggukkan kepalanya pelan, lalu berdiri di samping istrinya dengan postur protektif.

Ia mengangkat tangan memberikan instruksi kepada manajer toko yang baru saja datang tergopoh-gopoh.

"Ambilkan semua gaun malam terbaik di butik ini, biarkan istriku memilihnya," ucap Baskara tegas.

Tanti yang sejak tadi menyaksikan ketegasan dan kekayaan luar biasa dari orang-orang di sekeliling Baskara mendadak terpesona.

Matanya berbinar-binar menatap Gerald, kepala pengawal berbadan tegap yang berdiri kaku di dekat pintu butik.

Dengan gerakan sembunyi-sembunyi, Tanti mencubit pelan lengan jas Gerald.

"Hei, sudah tampan, berondong, kaya lagi..." bisik Tanti heboh dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikannya.

Gerald menatap dingin ke arah Tanti tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun, membuat Tanti buru-buru menarik tangannya sambil tersenyum canggung.

Sementara itu, di sudut ruangan, Alena sedang sibuk memilah puluhan gaun malam mewah yang dibentangkan oleh para pelayan di hadapannya.

Baskara tidak tinggal diam. Pria itu mengambil sebuah kotak P3K dari tangan manajer toko, lalu berlutut tepat di hadapan kursi tempat Alena duduk.

Dengan sangat telaten, Baskara membuka tutup botol antiseptik, mengambil sepotong kapas, lalu membersihkan luka lecet dan memar di lutut istrinya dengan gerakan yang sangat hati-hati.

"Pelan-pelan, Bas. Perih..." gerutu Alena pelan, meringis kecil saat cairan obat itu menyentuh kulitnya.

Baskara mendongak sejenak, menatap lekat wajah Alena dengan sorot mata yang melembut drastis.

"Makanya, kalau jalan pakai mata, jangan suka melamun," goda Baskara pelan, meski jemarinya terus meniup lembut lutut Alena agar rasa perihnya berkurang.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!