Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN DUA PULUH SEMBILAN
Pagi itu, satu hari setelah Langit pulang dari kota Bandung, di kamar Langit terlihat Langit masih tertidur di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhya. Alarm terdengar berbunyi dengan kerasnya, namun semua itu tidak merubah Langit yang masih pulas berada dalam mimpinya.
Di dinding kamar terlihat jam telah menunjukkan pukul 9.30 pagi, terlihat gerakan-gerakan dari balik selimut Langit yang menandakan Langit sudah mulai terbangun dari tidurnya. Langit membuka selimutnya dan tangannya langsung meraih handphone yang diletakkan di meja sebelah tempat tidurnya. Langit menatap kelayar handphone dimana terdapat 27 panggilan tak terjawab dari ayahnya dan juga sebuah pesan whatsapp yang dari Inspektur Nugroho. Langit langsung bangkit dari tidurnya ke posisi duduk dan langsung membaca isi pesan dari ayahnya.
"Tara maaf semalam papah nggak pulang, ini papah lagi ada di Bandung, papah kira kamu belum pulang tadinya mau ngajak bareng. Papah ketemu temen papah yang kebetulan jadi Kapolres Bandung saat ini. Katanya kamu kena musibah ya? Temen papah bilang kamu keserempet motor pas nolongin nenek-nenek nyebrang, tapi nggak kenapa-kenapa kan? Papah mungkn pulang 2 atau3 hari lagi,kalau ada apa-apa langsung hubungin papah ya" Langit membaca isi pesan dari Inspektur Nugroho.
"Untung aja si om nggak cerita yang sebenernya, kalau cerita bisa-bisa rame nanti si papah, mandi dulu dah gue, biar nanti bisa ke sekolah ngambil tas gue" ucap Langit dalam hatinya.
Langit meletakkan kembali handphone nya dimeja semula, ia langsug bangkit dari tempat tidurnya, dengan membawa handuk ditangannya , Langit bergegas menuju kamar mandi dalam kamarnya. Selang beberapa lama, Langit terlihat keluar dari dalam kamarmandi mengenakan celana pendek dan handuk ditubuhnya. Langit membuka pintu lemari dan mengeluarkan celana panjang dan kaos yang akan dikenakannya kesekolah, dia enggan menggunakan seragam karena ke sekolah hanya ingin mengambil tas yang dititipkan di sana.
Setelah berpakaian Rapih, Langit meninggalkan kamar dan keluar dari rumahnya menuju sepeda motor yang diparkirkannya semalam. Setelah mengenakan jaket dan helmnya, Langit memacu sepeda motor meninggalkan rumahnya. Belum lama sepeda motor Langit berjalan, handphone Langit berdering, Langit menepikan sepeda motornya dan langsung menjawab panggilan masuk di handphonenya yang ternyata dari Allisya.
"Halo assalamu alaikum kak, kakak ke sekolah nggak hari ini?" tanya Allisya.
"Wa alaikum salam Sya, iya Sya kakak ke sekolah mau ngambil tas yang semalem kakak titipin di pos babeh, emang kenapa Sya?" jawab Langit.
"Oh begitu, boleh minta tolong nggak kak? Nanti aku whatsapp ke temen aku, tolong ambilin flashdisk aku yang ditemen aku, terus anterin kerumahaku ya kak, hehehehe itu juga kalau nggak ngerepotin kakak" pinta Allisya.
"Oh ya udah Sya, tapi bilang ke temen kamu, flashdisknya titipin ke babeh aja, nanti kakak juga palingan minta babeh bawain tas kakak ke warung deket sekolah sekalian sama flashdisk kamu, nggak enak kalau kakak ke sekolah, yang lain pada masuk sekolah kakaknya enggak" jawab Langit.
Langit menutup panggilannya dan meletakkan handphoneya kembali kedalam saku celananya.Langit melanjutkan mengendarai sepeda motornya menuju ke sekolah. Langit menepikan sepeda motornya disebuah warung kecil kira-kira 100 meterdari sekolah SMA Merah Putih. Langit mengeluarkan handphone dari sakunya dan langsung menghubungi 'babeh' nama yang tersimpan dalam kontaknya.
"Halo beh, ini Langit, beh minta tolong dong, bawain tas saya sama tadi flashdisk yang dititipin ke babeh, bawain ke warung yang deket lapangan beh, nggak enak kalau saya ke sekolah, kan saya dapet libur istirahat hehehe tenang beh, rokok yang biasa sebungkus nih tar buat babeh" pinta Langit
Langit mengakhiri panggilan teleponnya, untuk sekedar basa-basi sambil menunggu babeh, Langit membeli minuman kemasan dan gorengan diwarung tersebut. Setelah meminta ijin kepada pemilik warung untuk duduk disana menunggu seseorang, Langit duduk di kursi kayu sambil memakan gorengan yang dibelinya. Beberapa menit kemudian, babeh datang dengan berjalan kaki membawa sebuah tas ransel besar dan sebuah tongkat.
"Makan beh, ambil aja beh tar saya yang bayar" Langit menawari Babeh.
"Wah boleh lah kalau dipaksa sih, sekalian rokoknya ya" jawab Babeh tanpa sungkan.
"Nyak minta rokoknya sebungkus, sama mie goreng pakai telor 1 ya , sama es teh manisnya nyak" pinta Babeh kepada pemilik warung.
Langit bangun dari duduknya menghampiri pemilik warung yang sedang memasak mie goreng. "Jadi berapa bu semuanya, yang babeh pesan saya yang bayar juga" tanya Langit.ngambil tas ransel
"Semuanya 41 ribu mas" jawab pemilik warung.
"Oke bu" kata Langit sambil mengeluarkan selembar uang 50 ribuan dari dalam dompetnya dan angsung diserahkan kepada pemilik warung.
Langit kembali menuju tempat duduknya semula tepat disebelah babeh yang sedang duduk menunggu pesanannya. Langit langsung mengambil tas miliknya yang diletakkan diatas meja oleh babeh dan tongkat yang didirikan di sisi tembok warung.
"Beh tas sama tongkatnya saya ambil ya, oh iya beh flashdisk titipan anak kelas 11 mana?, mau buru-buru pulang ah beh mau molor lagi sekalian mau minta diurutin ini badan pada pegel-pegel" tanya Langit sambil membawa tas dan tongkat yang dititipkan semalam di pos babeh.
"Oh iya ini flashdisknya, sampe lupa heheheh" Jawab babeh sambil mengeluarkan flashdisk dari saku bajunya dan langsung diberikan kepada Langit.
"Ya udah beh saya langsung pulang ya, assalamu alaikum beh" pamit Langit.
"Wa alaikum salam, makasih ya semuanya hehe sering-sering aja begini" balas Babeh.
Langit langsung mengenakan helmnya, dengan membawa tas dan tongkat miliknya Langit menaiki sepeda motornya, setelah sepeda motor menyala dia langsung berjalan meninggalkan warung tersebut. Langit memacu sepeda motornya dengan perlahan karena banyaknya barang bawaan yang dibawa diatas sepeda motor tersebut.
Setelah jauh meninggalkan warung dekat sekolahnya, dan hampir tiba dirumahnya, Langit baru teringat bahwa dia harus kerumah Allisya dahulu mengantarkan flashdisk titipan teman Allisya terlebih dahulu. Langit terpaksa memutar balik sepeda motor nya untuk ke rumah Allisya.
Beberapa ratus meter Langit sudah melaju, hingga terpaksa menghentikan sepeda motornya karena handphone Langit terdengar berdering disaku celananya. Setelah sepeda motornya berhenti , Langit melihat handphonenya, siapa yang menghubunginya, karena nomornya tidak dikenali oleh Langit. Langit pun menerima panggilan tersebut walau bingung siapa yang menghubunginya.
"Halo selamat siang, maaf saya sedang di jalan , ini siapa ya?" tanya Langit kepada orang yang menghubunginya
"Halo kak ini Allisya, hp aku ketinggalan dirumah ini pake hp nya Bunda, mau bilang, kakak belum ke rumah aku kan? Aku sama Bunda lagi keluar mau ke mall yang deket rumah aku, kalau kakak mau kita ketemuan disana aja ya ehhehe" jelas Allisya yang ternyata menggunakan hp mamahnya untuk menggubungi Langit.
"Oh kamu Sya, ya udah sya kakak ke mall situ aja nanti ketemu di foodcourt ya, ya udah kakak lanjut jalan lagi, Assalamu alaikum" balas Langit.
"Wa alaikum salam kak" ucap Allisya.
Langit menutup panggilan tersebut dan menaruh kembali handphone ke dalam saku celananya. Langit kembali memacu sepeda motornya menuju mall yang dituju untuk menemui Allisya. Tiba disebuah persimpangan jalan raya yang cukup ramai.
Langit nampak memasuki mall yang dituju, melalui pintu khusus sepeda motor Langit masuk ke tempat partir dengan tak lupa mengambil tiket parkir terlebih dahulu. Langit mulai memarkirkan sepeda motornya, setelah meletakkan helm di kaca spion sepeda motornya, Langit bergegas menuju pintu masuk mall dengan berlari. Langit berjalan di dalam mall tersebut menuju ke lantai atas dimana food court berada, Langit memilih menaiki tangga berjalan atau escalator dibandingkan menaiki sebuah lift, Langit masih khawatir soalnya dulu dirinya pernah terjebak didalam sebuah lift pas dirinya masih kelas 2 sekolah dasar.
Akhirnya Langit tiba dilantai yang dimaksud, dia berjalan menuju foodcourt, baru saja Langit tiba di pintu masuk foodcourt yang dituju, terdengar suara tepukan tangan dan suara perempuan memanggil namanya. "Prok prok" suara tepukan tangan dar dalam food court, "Kak Langit sini" panggil Allisya.
Langit yang memanggil namanya itu adalah Allisya, langsung mencari dimana arah sumber suara tersebut. Setelah terlihat Allisya dengan mamahnya oleh Langit, Langit berjalan menghampiri mereka berdua.
"Assalamu alaikum tante" salam Langit sambil mencium tangan ibunya Allisya.
"Wa alaikum salam nak Langit, sini gabung kita makan dulu aja, Allisya kamu temenin nak Langit mesen, kartunya masih di kamu kan?" jawab ibunya Adellia.
"Ayo kak aku temenin mesen makanannya" ajak Allisya sambil bangkit dari tempat duduknya.
Langit dan Allisya pergi meninggalkan mejanya, mereka berdua keliling-keliling melihat ke setiap kedai yang ada disana. Langkah Langit terhenti disebuah kedai yang menjual sate kelinci, Langitpun memesan sate kelinci dengan lontongnya termasuk es teh manis sebagai minumannya. Allisya memberikan kartu sebagai alat pembayaran di foodcourt itu kepada penjual, tidak berselang lama yang dipesanpun siap, Langit membawa pesanannya diatas nampan menuju mejanya kembali bersama Allisya.
“Jadi nggak enak nih saya sama tante, tapi makasih ya tante kebetulan saya belum makan sih hehehehe" ucap Langit.
"Iya nggak apa-apa nak Langit, Allisya ngerepotin kamu ya , jadi harus nyempetin kemari kamunya anterin flashdisknya Allisya" jawab Adellia.
"Iya nggak apa-apa tante kan tadi saya sekalian ke sekolah ngambil tas saya yg ketinggalan kemarin" balas Langit.
"Dimakan dulu nak Langit , mumpung masih hangat makanannya" ujar Adellia.
Langit segera memulai menyantap makanan yang sudah ada didepannya bersama dengan Allisya dan Ibunya. Selang beberapa menit, disela-sela Langit sedang menyantap makannya, Ibu Allisya mengajaknya berbincang dengan nada sedikit serius.
"Nak Langit ibu mau bertanya tapi mohon jangan marah ya, boleh?" Tanya Adellia.
"Ya boleh lah tante , masa mau nanya aja gak boleh hehehe, emang mau nanya apa tante?" ucap Langit.
"Kalau ya nak Langit, ini kalau ya, kalau seandainya orang yang menyebabkan ibu sama adik kamu meninggal itu minta maaf bagaimana? Ini kalau ya nak Langit" Tanya Adellia sedikit ragu.
"Kok tante tiba-tiba bertanya seperti itu? Saya sama ayah saya menganggap semua itu murni kesalahan, tidak ada yang disalahkan , toh ibu dan adik saya meninggal karena sepeda motornya menabrak pohon, bukan ditabrak seseorang, sekalipun mungkin ada orang yang mungkin menjadi salah satu penyebab ibu saya menabrak pohon, saya pasti memaafkan" jawab Langit terkejut mendengar ucapan dari Ibu Allisya tersebut, sontak membuat Langit tersedak disaat dirinya sedang meminum minuman miliknya.
"Huftt...." Suara hela nafas Ibu Allisya
"Nggak apa-apa nak Langit, tante Cuma bertanya aja, bagus lah kalau nak Langit mau memaafkan, ya sudah dilanjut makannya" jawab kembali Adellia sambil terlihat menahan air matanya.
Allisya terlihat bingung mendengar pertanyaan dari ibunya kepada Langit, lebih membingungkan ketika melihat reaksi dari ibunya mendengar jawaban dari Langit. "Ada apa sih sebenarnya?, Bunda kenapa ya?" Tanya Allisya dalam benaknya yang terlihat bingung mendengar pertanyaan dari ibunya kepada Langit, lebih membingungkan ketika melihat reaksi dari ibunya mendengar jawaban dari Langit.
Allisya akhirnya ikut melanjutkan menyantap makanan didepannya bersama Langit dan Ibunya, walau dalam hatinya masih penuh dengan perdebatan tentang hal yang baru saja terjadi dihadapannya. Terlihat beberapa kali Allisya melirik kearah ibunya, melihat binar-binar air mata yang nampak tertahan dari mata ibunya tersebut. Ibu Allisya berulang kali tidak fokus saat akan mengambil nasi dengan sendoknya, beberapa kali nasi tersebut justru jatuh kembali ke atas piringnya. Langit nampak tak menyadari akan keanehan yang ada dari Ibu Allisya, dia hanya sangat menikmati suapan demi suapan nasi yang masuk ke mulutnya itu.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa makanan mereka berdua sudah habis termasuk minumannya. Langit sesaat menatap kearah jam tangan yang dikenakannya, dan langsung bangkit dari posisi duduknya untuk berpamitan.
"Tante maaf nih sebelumnya, bukannya saya gak sopan hehehehe, ya secara baru aja selesei makan saya langsung mau pamitan, soalnya saya masih ada janji lagi tante sekalian mau ganti perban kaki saya" pamit Langit dilanjutkan dengan mencium tangan Adellia.
"Iya nak Langit , nggak apa-apa kok, maafin Allisya ya kalau suka ngerepotin nak Langit, hati-hati di jalannya ya , jangan ngebut-ngebut bawa motornya" jawab Adellia
"Sya kakak duluan ya , Assalamu alaikum tante, Allisya" Pamit Langit.
"Iya kak, Wa'alaikum salam kak" jawab Allisya.
Langit langsung pergi meninggalkan Allisya dan Ibu Allisya yang masih duduk di kursinya masing-masing. Terlihat jelas, pandangan Ibu Allisya tetap saja mengarah kepada Langit walau sudah berjalan menjauh dan terus menjauhi dirinya dan Allisya. Tanpa sebab yang jelas Ibu Allisya tiba-tiba langsung memeluk Allisya yang duduk disebelahnya, sontak hal tersebut membuat Allisya terkejut.
"Bunda? Bunda kenapa?" Tanya Allisya penuh kebingungan.
"Nggak apa-apa Sya, Bunda mau aja meluk kamu, nggak kerasa anak Bunda yang dulu sering nakal pas masih kecil, yang sering ngambek kalau nggak diturutin kemauannya, sekarang sudah menjadi seorang gadis sholeha" jawab Ibu Allisya.
"Kamu harus tahu Sya, tapi belum sekarang, nanti kalau ada waktu yang tepat Bunda pasti cerita tentang kematian Ibu dan Adik dari Langit, tapi Bunda belum bisa cerita sekarang takutnya kamu kecewa, begitu juga Langit" ucap Adellia dalam hatinya.