NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Barikade api di gerbang air

Fajar menyingsing dengan warna merah yang mengerikan di atas Sungai Naga Tidur, jalur air pedalaman utama yang membelah bagian selatan Ibu Kota Kekaisaran Han. Kabut tebal yang biasanya membawa ketenangan di pagi hari, kini menguapkan aroma lumpur basah yang bercampur dengan ketegangan yang pekat. Lonceng-lonceng darurat di menara pengawas gerbang air terus bertalu tanpa henti, mengirimkan gema kecemasan ke seluruh penjuru kota.

Shen Xianle berdiri tegak di atas benteng pertahanan Gerbang Air Selatan. Jubah merah darahnya berkibar diterpa angin sungai yang kencang, menutupi zirah kain hitamnya yang kembali melekat dengan kokoh. Bahu kanannya yang sempat terluka kini dibalut ketat, rasa sakitnya mati rasa oleh adrenalin yang membakar dada. Di sampingnya, Jenderal Lu memegang kapak perang raksasanya dengan wajah veteran yang mengeras.

"Yang Mulia Maharani, armada Pasukan Naga Hitam telah terlihat di tikungan sungai bawah," melapor Jenderal Lu dengan suara berat. "Jumlah mereka tidak kurang dari delapan puluh kapal perang besar berzirah besi. Tanpa senjata rahasia dari Pegunungan Terlarang, panah biasa dari busur kita tidak akan mampu menembus lambung kapal mereka."

Xianle melayangkan pandangannya ke arah permukaan sungai. Dari balik kabut yang perlahan menipis, siluet moncong-moncong kapal berbentuk kepala naga hitam mulai bermunculan. Di atas geladak kapal utama, tampak panji-panji biru laut berkibar dengan angkuh. Meskipun Shen Chia kemungkinan besar masih terjebak atau tewas di dalam runtuhan gua bawah tanah, wakil jenderalnya tetap menjalankan perintah terkutuk itu dengan presisi militer yang menakutkan.

"Jika panah kita tidak bisa menembus lambung mereka, maka kita tidak akan menyerang kapal mereka dari luar," ucap Xianle, suaranya terdengar jernih dan tenang di tengah gemuruh angin. "Kita akan menggunakan sungai ini sebagai kuali neraka bagi mereka."

"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" Jenderal Lu mengernyitkan dahi.

Xianle menoleh ke arah Long Junwei yang baru saja melangkah naik ke atas benteng. Pangeran Bayangan itu mengenakan pakaian pertempuran hitam tanpa jubah peraknya, memberikan kesan ringkas dan mematikan. Di belakangnya, Mo Reng dan puluhan pendekar bayangan membawa ratusan tong kayu berukuran besar.

"Minyak sisa dari seluruh lumbung dan dapur ibu kota," Junwei menjelaskan, suara baritonnya yang mantap menenangkan keraguan Jenderal Lu.

"Selama tiga jam terakhir, Pasukan Bayanganku telah menuangkan ribuan galon minyak hitam kental ke hulu sungai. Karena arus sungai mengalir ke bawah, minyak itu saat ini sudah membentuk lapisan tipis yang tidak terlihat di sekeliling armada naga hitam."

Xianle menarik busur panah besar milik salah seorang pengawal, lalu menyematkan sebutir anak panah yang ujungnya telah dibungkus kain rami berlumur minyak raksa. Ia menarik tali busur itu dengan kekuatan penuh, mengarahkan bidikannya tepat ke tengah-tengah permukaan air sungai di depan kapal barisan terdepan musuh.

"Jenderal Lu, perintahkan pasukan pemanah untuk bersiap dengan panah api!" seru Xianle. "Begitu panahku melesat, bakar seluruh permukaan Sungai Naga Tidur!"

"Siapkan panah api!" teriak Jenderal Lu, suaranya menggelegar memicu gerakan serentak dari dua ribu pemanah Barak Barat di sepanjang dinding benteng.

Armada kapal naga hitam kini telah berada dalam jarak jangkau tembak. Mereka meluncur dengan kecepatan penuh, siap menghantam gerbang kayu besi penyekat kota. Para prajurit musuh di atas kapal berteriak dengan sorak-sorai kemenangan, mengira gerbang air yang tanpa pengawalan kapal perang Han akan runtuh dalam sekali tabrak.

Syuuutt!

Xianle melepaskan tali busurnya. Anak panah api miliknya melesat membelah udara pagi, meninggalkan jejak asap putih sebelum akhirnya menancap di permukaan air sungai yang berminyak.

BLAAAR!

Dalam sekejap mata, api berkobar dengan dahsyat, menjalar dengan kecepatan luar biasa di atas permukaan air sungai seolah-olah air itu sendiri telah berubah menjadi bahan bakar. Lautan api setinggi satu tombak seketika mengepung delapan puluh kapal perang zirah besi musuh.

"Argh! Sungai terbakar! Mundurkan kapal! Mundur!" teriakan panik yang memekakkan telinga meledak dari arah armada naga hitam.

Meskipun lambung kapal mereka terbuat dari besi yang tahan panah, panas yang dihasilkan oleh kobaran minyak kental di atas air mulai memanggang bagian dalam kapal kayu tersebut. Kapal-kapal itu saling bertabrakan dalam kekacauan total karena kendali kemudi yang macet akibat panas ekstrem. Banyak prajurit musuh yang terpaksa melompat ke dalam sungai, hanya untuk menemukan bahwa air di sekeliling mereka adalah cairan api yang mematikan.

l

"Tembak!" perintah Jenderal Lu.

Ribuan panah api melesat dari atas benteng, menghujani geladak kapal-kapal musuh yang kini terjebak di tengah barikade api. Langit di atas Gerbang Air Selatan menjelma menjadi malam kedua yang diterangi oleh tarian kematian yang membara.

Di tengah-tengah kemenangan taktis tersebut, Long Junwei tiba-tiba mencengkeram lengan Xianle, matanya yang tajam menatap ke arah ujung terjauh jembatan penyeberangan sungai yang terletak di luar dinding benteng.

Dari balik kepulan asap hitam pertempuran, sesosok penunggang kuda dengan zirah biru laut yang telah koyak melesat keluar dengan kecepatan gila. Pria itu memegang sebilah pedang tipis bersimbol naga laut yang darah para pengawal luar. Wajahnya yang semula tampan kini dipenuhi luka bakar dan amarah yang murni Shen Chia berhasil merangkak keluar dari Pegunungan Terlarang hidup-hidup!

"Shen Xianle!" raung Pangeran Keempat dengan suara yang terdistorsi oleh kegilaan politiknya. "Kau tidak akan pernah bisa mempertahankan tahta ini!"

Shen Chia melompat dari kudanya, menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk melesat naik menembus dinding benteng marmer setinggi tiga tombak dalam satu tarikan napas, mengarahkan pedang tipisnya langsung ke arah dada Xianle yang sedang lengah setelah melepas busurnya.

Denting!

Long Junwei bergerak lebih cepat. Pedang kunonya menangkis hantaman pedang tipis Shen Chia dengan benturan yang memicu gelombang kejut internal yang kuat, membuat debu-debu di atas benteng beterbangan. Pertarungan segitiga antara sisa darah kekaisaran Han kini pecah di atas dinding pertahanan gerbang air yang sedang membara.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!