Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 23
...Jika perkataan itu tidak main-main. Aku harus menghentikannya sekarang juga!...
...- Ardanayudha -...
Cetusan tidak bermutu yang keluar dari mulut Elvarrio sama sekali tidak Yudha dengarkan. Karena matanya fokus pada layar handphonenya. Tapi sesekali Yudha melihat ke arah pintu ruangan yang terbuka sangat lebar itu. Berharap Tama muncul dengan segelas kopi.
Tapi harapannya satu itu sepertinya tidak akan pernah terjadi. Karena sangat terlihat jelas, jika Tama tadi mengikuti kemana perginya Yumna. "Apa yang mereka bicarakan?"
"Wahhh! Sepertinya aku harus memberitahu Tirtha, jika Tama berpaling dari Sella." Suara Elvarrio yang masih tidak Yudha dengarkan.
Sedangkan Yudha sendiri kini membuka chat obrolan bersama seseorang di seberang sana. Yudha hanya ingin tanya, tanpa mendesak. Karena jika Yudha menghakimi orang itu, mungkin bukan kejujuran yang Yudha dapatkan. Melainkan sebuah kebohongan yang tidak bisa Yudha toleransi untuk kesekian kalinya.
Akan tetapi pesan singkat dari Tama mengurungkan niat Yudha. Tanpa berpikir lagi, kini pria itu beranjak dari duduknya. Berjalan keluar ruangan untuk menemui Tirtha, tanpa mempedulikan Elvarrio yang mungkin tengah mencibir tidak jelas, karena sikapnya yang sering sekali mengabaikan pria itu.
Diam sejenak untuk menunggu pintu lift itu terbuka. Kini Yudha masuk kedalam lift yang tidak mendapati siapapun. Hingga kakinya tiba dilantai Lima, tidak membuat rasa gugup itu menyelimuti jiwa Yudha, yang terus melangkah tanpa pandangan meliar. Karena tidak ada pemandangan menarik di lantai itu. Hanya lorong besar yang mengarah pada ruangan pemilik perusahaan.
Mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk, mendapati Tirtha yang duduk berhadapan dengan Sella. Tidak membuat Yudha merasa jika pemandangan itu adalah hal baru baginya. Itu sudah menjadi makanan Yudha setiap hari, melihat Sella yang selalu bersama Tirtha.
"Kau bilang padaku jika sudah menyelesaikan semuanya. Tapi kenapa dia masih memposting hal seperti itu?" Cetus Tirtha saat Yudha duduk di sofa singel sisi kanan. "Apa dia tidak melakukan pekerjaannya dengan baik? Dia sudah menerima uangnya bukan?"
"Tadi aku sempat bertemu dengannya. Dia ingin menagih janjinya. Dan kesepakatan awal yang sudah aku tawarkan kepadanya, dia langsung menyetujuinya. Jika dia sudah menerima uang itu, dia akan melupakan janjinya. Tapi__" Yudha membasahi bibirnya sekilas.
"Dia mengingkari." Sebentar Yudha melihat kehadiran Rama yang duduk di samping Sella dengan membenarkan sekilas kacamata bulatnya.
"Apa ada hal yang membuatnya menjadi seperti itu?" Tanya Sella mengerutkan samar keningnya.
"Aku hanya memintanya untuk berteman sebentar dengan wanita itu. Tapi entah apa yang dia lakukan, hingga wanita itu tidak ingin melepasnya." Sebentar Yudha memainkan lidahnya didalam mulut. Wajah terlihat sangat khawatir. Karena mau bagaimanapun, Yudha menjadi penanggung jawab utama dalam hal itu.
"Dan__" pandangan Yudha kini beralih pada Rama yang diam menaikan sekilas kedua alis tebalnya itu. "Dia tahu siapa Yumna."
Hal itu membuat posisi duduk Rama maupun Tirtha sedikit berubah, sedikit mencondongkan tubuh mereka kearah Yudha. Menunggu kelanjutan apa yang ingin dikatakan Yudha.
"Rama kau bisa menanyakan pada Yumna. Apa Yumna sempat mengambil foto mereka berdua?" Sambung Yudha yang membuat Rama mengangguk paham.
Saat Rama berdiri dari duduknya, pintu ruangan dibuka oleh Tama yang kini berjalan mendekat. Sebentar menunjuk Rama dengan mulut terbuka. "Kita bisa meminta bantuan Yumna untuk menghentikan wanita itu."
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau senang sekali menyangkut pautkan saudaraku?" Cetus Rama yang begitu rendah. Karena pria itu sulit untuk meninggikan suaranya.
"Tanpa melibatkan Yumna, dia juga yang akan menjadi incaran orang itu. Karena__" sebentar Tama memainkan lidahnya didalam mulut. Sebentar pandangannya melihat beberapa orang didepan matanya, sebelum beralih pada Rama kembali. "Aku yakin jika Yumna bisa mengatasinya. Dan, dia juga yang mengajukan dirinya sendiri."
"Tama__" bukan Rama, melainkan Tirtha. "Ada beberapa hal yang harus kita ingat lagi. Jika pun ini bisnis, tapi tidak semua orang menjadi korban. Cukup orang itu kita manfaatkan, dan aku tidak mau menambah orang lagi."
Kepala Yumna mengangguk pelan, melihat layar handphonenya untuk menunggu balasan dari seseorang diseberang sana. "Kenapa dia belum mengirimnya? Apa dia ragu?"
"Jika aku menjadi orang itu, aku juga akan berpikir berulang kali untuk memberikan nomorku pada orang asing." Cetus seorang pria, tak lain pemilik tempat itu. Meletakkan segelas minuman dingin di atas meja. Dan dengan santai pria itu duduk di hadapan Yumna.
"Dia pernah melihat ku, kita pernah bertemu. Dan kekasihnya juga sempat menanyakan siapa namaku. Jadi__" timpal Yumna yang tidak begitu cepat. Kini wajahnya sedikit ditekuk, karena harapan itu semakin redup. "Ini satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk bertemu secara pribadi dengannya."
"Tunggu!!" Pria itu mengusap sekilas ujung hidungnya. "Kenapa kau ingin terlihat dalam masalah di tempat mu bekerja? Padahal jika kau tidak menyerahkan dirimu pada mereka, hidup mu akan jauh lebih damai. Apa Rama tahu niat mu?"
"Mungkin dia sudah mendengarnya dari Tama." Senyum getir itu terlukis jelas diwajah Yumna.
"Mungkin Tama tidak langsung jujur padaku. Tapi saat aku menawarkan diri, dia mengatakannya. Pria yang menemui wanita itu, orang yang mendapat uang dari perusahaan. Jadi intinya, mereka ingin menghentikan wanita itu untuk tidak lagi mengusik artis perusahaan." Perkataan Yumna mungkin akan terdengar ambigu bagi orang yang belum pernah beradu argumen dengan Yumna. Tapi jika lawan bicara Yumna adalah orang-orang yang sering bicara satu sama lain, mereka akan paham. Apa yang Yunna katakan.
Kening sang lawan mengerut samar berusaha tuk memahami setiap kata yang keluar dari mulut Yumna. "Pria itu? Wanita itu? Siapa yang kau maksud?"
Yumna membuang napas gusar, tanpa ragu menunjukkan foto dua insan itu kepada lawan bicaranya. Diam mengamati gambar itu dengan cermat.
"Jika kau diam, kau pasti mengenal mereka." Cetus Yumna yang memiliki firasat, jika pria di hadapannya memang tahu siapa mereka berdua.
"Aku tidak tahu pasti__" diam sejenak, sang lawan bicara melihat Yumna. "Tapi aku tahu siapa nama mereka."
"Kau tahu?" Rasa penasaran didalam diri Yumna semakin besar. Karena mendapat sedikit titik celah itu akan membuahkan Yumna untuk bertemu dengan wanita itu.
Kepala sang lawan mengangguk sebentar. "Natussa, Chiko. Mereka juga tahu siapa dua orang itu. Jadi menurut ku. Berhentilah, nikmati saja uang gajimu. Karena itu lebih menyenangkan dari pada mempersulit jalan hidup."
"Jika dia tidak membuat postingan palsu tentang Malla, mungkin aku akan diam. Tapi dia terus menerus melakukan hal itu tanpa fakta. Jadi, tidak ada seorang kakak yang akan diam jika adiknya mendapat perlakukan tidak adil dari orang jahat itu." Ada sedikit peringatan yang terselip di perkataan Yumna.
"Benar__" mengakui hal yang paling mudah untuk sang lawan. "Mungkin jika aku di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama."
"Malla hanya ingin merubah nasib hidupnya. Sejak kecil Malla selalu mendapat perlakukan buruk dari ayah." Yumna menelan ludah getirnya. Menundukkan sebentar kepalanya untuk menutup kesedihannya. "Pria itu benar-benar tidak tahu diri. Seharusnya dia melindungi anak-anaknya, bukannya menjadikan anak-anaknya sebagai barang penghasil uang."