NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Sang Penguasa dan Bayangan Musuh Musuh Lama

Pagi datang dengan cuaca yang sangat cerah.

Matahari bersinar hangat menyinari sudut-sudut kota Jakarta, menghapus sisa-sisa kegelapan malam yang penuh dengan ketegangan dan aroma mesiu.

Udara pagi terasa begitu segar, seolah alam sendiri sedang merayakan berakhirnya sebuah era kejahatan di bawah kendali sindikat Cendana Tua.

Konvoi mobil SUV hitam berlapis baja milik Andra melaju tanpa hambatan memasuki kawasan elit Menteng.

Pintu gerbang besi yang menjulang tinggi terbuka secara otomatis, menyambut kepulangan sang pemilik rumah yang baru saja menuntaskan misi berbahaya di Surabaya.

Mobil-mobil mewah itu berhenti dengan mulus tepat di pelataran teras utama istana.

Andra melangkah keluar dari dalam mobil dengan mengenakan mantel hitam panjang yang sedikit basah oleh sisa embun pagi.

Meskipun ia baru saja melewati malam yang panjang, melelahkan, dan dipenuhi pertumpahan darah, raut wajah pria itu tampak sangat tenang.

Tidak ada garis kelelahan yang tercetak di wajahnya.

Sebaliknya, ada aura kemenangan mutlak dan dominasi yang terpancar jelas dari setiap gerak-geriknya.

Tugas kotor di Surabaya telah diselesaikan sampai tuntas tanpa ada celah.

Sindikat Cendana Tua kini telah kehilangan kepemimpinan utamanya setelah Ki Darmo tewas, dan Buku Hitam yang menyimpan seluruh rahasia gelap mereka kini sudah berada di tangan yang tepat.

Andra menaiki anak tangga marmer putih satu per satu dengan langkah yang sangat mantap.

Sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, daun pintu utama berukuran besar itu terbuka secara perlahan dari dalam.

Sosok Kirana muncul menyambut dengan balutan pakaian tidur tipis bernuansa pastel yang membuatnya terlihat anggun sekaligus rapuh.

Wajah wanita itu tampak sedikit cemas, namun senyuman kelegaan yang luar biasa langsung mengembang begitu melihat suaminya berdiri dengan selamat di hadapannya.

"Mas..." panggil Kirana dengan suara lembut yang bergetar.

Tanpa menunggu waktu lagi, wanita itu langsung berlari kecil menerobos udara pagi dan menghambur ke dalam pelukan Andra.

Andra merengkuh tubuh istrinya itu dengan sangat erat, menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa rindu yang sempat terenggut oleh badai malam tadi.

Ia membenamkan wajahnya sejenak di ceruk leher Kirana, menghirup aroma wangi alami yang selalu berhasil menenangkan pikirannya dari segala kekacauan dunia luar.

"Aku sudah pulang, Kir," bisik Andra di samping telinga istrinya, lalu mencium puncak kepala Kirana dengan penuh rasa sayang.

Kirana melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya masih setia melingkar di pinggang suaminya.

Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Andra, mencoba membaca apa saja yang baru saja terjadi.

Meskipun Andra berusaha tampil biasa-biasa saja di hadapannya, insting seorang istri tidak bisa dibohongi.

Kirana bisa merasakan sisa-sisa ketegangan dan hawa dingin yang masih melekat pada diri suaminya.

"Semuanya sudah beres di sana, Mas?" tanya Kirana dengan suara yang sangat pelan, menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

Andra tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang hanya ia tunjukkan kepada wanita di hadapannya ini.

Ia mengangkat tangannya untuk merapikan sehelai rambut Kirana yang menutupi dahi.

"Sudah, sayang. Semuanya sudah beres. Tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan di dunia ini," jawab Andra meyakinkan.

"Musuh-musuh itu sudah mendapatkan balasan yang paling pas untuk perbuatan mereka."

Kirana menghela napas panjang secara perlahan.

Beban berat yang selama semalaman menindih dadanya seolah seketika terangkat terbang bersama angin pagi.

Ia menunduk sejenak sebelum kembali menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.

"Syukurlah... jujur semalam aku benar-benar tidak bisa tidur sama sekali."

"Pikiranku terus melayang, membayangkan hal-hal buruk terjadi padamu di sana."

Melihat ekspresi ketulusan dari istrinya, hati Andra berdesir hangat.

Pria yang dikenal kejam dan tidak kenal ampun di dunia hitam itu melunak seketika di hadapan Kirana.

Ia memegang kedua pipi istrinya secara perlahan menggunakan kedua telapak tangannya yang hangat.

"Maafkan aku ya karena sudah membuatmu cemas setengah mati," ucap Andra tulus.

"Tapi sekarang semuanya sudah benar-benar aman."

"Dan sesuai dengan janji yang sudah kubilang sebelum aku pergi..."

Andra menatap mata indah Kirana lekat-lekat, menyiratkan keseriusan yang membuat jantung istrinya berdegup lebih kencang.

"Hari ini, detik ini juga, tidak ada lagi urusan kantor, tidak ada lagi rapat bisnis yang melelahkan, dan tidak ada lagi gangguan dari orang-orang luar."

"Waktu aku hari ini sepenuhnya, seratus persen, hanya untuk kamu seorang."

Mata Kirana langsung membesar seketika, memancarkan binar kebahagiaan yang luar biasa besar.

Rasa lelah, cemas, dan takut yang ia rasakan semalaman mendadak lenyap tanpa sisa.

"Jadi... rencana liburan kita ke Maladewa jadi kita lanjutkan hari ini, Mas?!" seru Kirana dengan nada yang sangat antusias, hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Andra tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba berubah ceria seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah impiannya.

"Tentu saja jadi, sayang," jawab Andra sambil tersenyum lebar.

"Jet pribadi kita sudah disiapkan di bandara khusus sejak subuh tadi."

"Sekarang, tugas kamu cuma satu: masuk ke kamar, siap-siap, dan beresin pakaian yang ingin kamu pakai di sana."

"Pagi ini juga kita langsung terbang meninggalkan Jakarta."

Kirana melompat kecil karena begitu girang, lalu kembali melingkarkan kedua tangannya ke leher Andra erat-erat sambil berjinjit.

"Terima kasih banyak, Mas! Kamu memang suami terbaik di dunia!" teriaknya riang.

Waktu menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit pagi.

Suasana di area terminal VIP khusus Bandara Internasional Soekarno-Hatta tampak sangat lengang, steril, dan tertib.

Pihak keamanan bandara telah memastikan bahwa seluruh jalur steril dari gangguan apa pun demi kenyamanan sang pengusaha besar.

Sebuah pesawat jet pribadi berukuran sedang dengan logo mewah milik konsorsium utama Andra sudah terparkir megah di atas landasan pacu.

Mesin turbinnya sudah mulai berdengung halus, memanaskan sistem navigasi sebelum melakukan penerbangan jarak jauh.

Andra dan Kirana berjalan berdampingan menuruni mobil penjemputan menuju ke arah tangga pesawat.

Kirana tampak sangat cantik mengenakan kacamata hitam besar, topi pantai bertepi lebar, dan dress musim panas berwarna cerah yang melambai tertiup angin pagi.

Sementara Andra mengenakan kemeja kasual putih lengan panjang yang lengannya sedikit dilipat ke atas, memperlihatkan aura maskulin dan wibawa alaminya yang begitu kuat.

Sebelum menaiki anak tangga pesawat, Handoko—asisten kepercayaan Andra—tampak berdiri siap di dekat pintu bawah sambil membawa map kulit berisi laporan akhir.

"Semua urusan operasional perusahaan, baik di pusat Jakarta maupun pembersihan sisa aset di Surabaya, sudah saya ambil alih dan kendalikan penuh, Tuan," lapor Handoko dengan nada formal dan terukur.

Andra menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh ke arah asisten setianya itu.

"Bagus sekali, Handoko," puji Andra singkat namun tegas.

"Pastikan selama aku cuti tiga hari ke depan, tidak ada laporan operasional bodoh yang masuk ke ponsel pribadiku."

"Kecuali... jika itu adalah berita kebangkrutan total atau kehancuran sisa-sisa antek musuh kita yang masih berani bersembunyi."

Handoko mengangguk paham sambil tersenyum tipis penuh arti.

"Baik, Tuan Muda. Saya mengerti sepenuhnya."

"Selamat menikmati waktu liburan Anda bersama Nyonya Kirana di surga tropis."

Andra mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan.

Ia kemudian menggenggam tangan lembut istrinya, memandu Kirana menaiki anak tangga pesawat satu per satu dengan penuh perhatian.

Begitu mereka berdua masuk ke dalam, pintu kabin utama ditutup rapat secara hidrolik dari dalam, mengunci segala kebisingan dunia luar.

Di dalam kabin privat yang sangat mewah—dilengkapi sofa kulit empuk, meja kerja mini dari kayu mahoni, dan interior berbalut emas redup—Andra dan Kirana duduk berdampingan tepat di sebelah jendela kaca yang lebar.

Mereka memasang sabuk pengaman masing-masing.

Tidak lama kemudian, suara kapten pilot terdengar melalui interkom, mengumumkan bahwa pesawat siap lepas landas.

Perlahan tapi pasti, badan pesawat mulai bergerak maju meninggalkan area parkir, meluncur mulus di atas jalur aspal landasan pacu, sebelum akhirnya menderu kencang dan melesat terbang menembus hamparan langit biru yang cerah.

Di dalam kabin yang mulai stabil di udara, pemandangan luar memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang perlahan-lahan mengecil, tertutup oleh gumpalan awan putih yang lembut bagaikan kapas.

Kirana menghela napas lega, menyandarkan kepalanya dengan sangat nyaman di bahu kokoh suaminya.

Jari-jemari tangan mereka saling bertautan erat di atas paha, seolah tidak ingin terpisahkan lagi oleh jarak maupun waktu.

"Mas..." panggil Kirana dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi sedikit serius, memecah keheningan nyaman di antara deru mesin pesawat.

Andra menolehkan kepalanya sedikit, merapikan letak kepala istrinya agar lebih nyaman.

"Hmm? Ada apa, sayang? Kamu butuh sesuatu? Minuman atau selimut?" tanya Andra lembut.

Kirana menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap lurus ke luar jendela ke arah hamparan langit tak bertepi.

"Bukannya butuh apa-apa..." ucap Kirana pelan.

"Aku cuma mikir... dari dulu sampai sekarang, hidup kita tidak pernah benar-benar tenang."

"Selalu ada saja orang yang datang menyerang, selalu ada ancaman, musuh baru, pertumpahan darah, dan intrik kekuasaan yang mengerikan."

Kirana menoleh, menatap mata suaminya dengan sorot mata yang menyiratkan rasa lelah emosional yang terpendam.

"Hidup di puncak kekuasaan dan dunia malam seperti yang kamu pegang sekarang... bukankah itu sebenarnya sangat melelahkan, Mas?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari lubuk hati sang istri yang paling dalam.

Bagi Kirana, harta berlimpah dan tahta tertinggi tidak ada artinya jika nyawa suami tercintanya terus-menerus dipertaruhkan di medan perang bayangan.

Andra terdiam sejenak.

Pandangannya menerawang jauh menembus kaca jendela pesawat, melompati awan-awan putih di luar sana.

Pikirannya mendadak berputar mundur ke masa-masa lalunya yang paling gelap—masa di mana ia hidup dalam kehinaan, kemiskinan ekstrem, direndahkan oleh keluarga besar, dan dikhianati oleh orang-orang yang ia percaya.

Ia ingat bagaimana darah dan air mata menjadi makanan sehari-hari sebelum ia berhasil merangkak naik menjadi penguasa bayangan yang ditakuti di negeri ini.

Namun, ketika Andra menundukkan kepalanya dan melihat wanita yang kini sedang bersandar di bahunya, semua memori kelam itu seolah langsung terbakar habis.

Amarah, dendam, dan ambisi dingin di dalam hatinya mencair, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa besar.

Andra mengangkat sebelah tangannya untuk mengecup lembut puncak kepala istrinya.

"Dulu sekali, Kir..." suara Andra terdengar sangat berbisik, namun begitu dalam dan penuh makna.

"Aku berjuang mati-matian hanya untuk satu tujuan: agar aku bisa bertahan hidup dari hari ke hari."

"Lalu, ketika aku mulai kuat, aku berjuang untuk mendapatkan kekuasaan mutlak, uang, dan pengaruh."

"Kenapa? Karena di dunia ini, jika kamu tidak memiliki kekuasaan, kamu hanya akan menjadi sampah yang diinjak-injak oleh orang serakah tanpa belas kasihan."

Andra menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menatap lekat-lekat ke dalam mata Kirana dengan ketulusan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia ini.

"Tapi sekarang... semuanya sudah berbeda."

"Sekarang, seluruh perjuanganku, seluruh darah yang kucurahkan, dan seluruh kekaisaran yang kubangun di atas bayangan... tujuannya cuma satu."

"Yaitu untuk melindungimu, melindungi rumah kita, dan memastikan masa depan kita aman dari siapa pun yang berani mengganggu."

Andra tersenyum tipis, merangkul pundak istrinya semakin erat.

"Jadi, selama kamu ada di sisiku, tidak ada kata lelah dalam kamus hidupku, Kir."

Mendengar pengakuan yang begitu tulus dari suaminya, air mata kebahagiaan menetes perlahan dari sudut mata Kirana.

Ia merasa menjadi wanita paling beruntung sekaligus paling dilindungi di muka bumi ini.

Kirana tahu persis bahwa pria di sampingnya bukanlah sekadar pengusaha sukses biasa, melainkan penguasa absolut yang memegang kendali penuh atas roda takdir dunia hitam di negeri ini.

Namun di balik sisi kejam, dingin, dan mengerikannya terhadap musuh-musuh di luar sana, Andra adalah benteng pertahanan paling kokoh dan rumah teraman bagi jiwanya.

Pesawat terus melaju dengan kecepatan tinggi, membelah angkasa raya menuju hamparan air laut jernih di kepulauan Maladewa.

Menjauh ribuan kilometer dari hiruk-pikuk intrik politik, pertumpahan darah, dan kebisingan kota metropolitan Jakarta.

Mereka berdua mengira lembaran baru yang damai telah resmi dibuka.

Sebuah babak di mana cinta dan kedamaian akhirnya bisa dirayakan di atas singgahsana kejayaan.

Namun, mereka lupa satu hukum besi di dunia bayangan: masa lalu tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali menagih hutang.

Ribuan mil jauhnya di jantung kota Jakarta...

Tepat saat pesawat pribadi Andra baru saja meninggalkan wilayah udara ibu kota, situasi di dalam istana Menteng yang megah mendadak berubah mencekam.

Rumah mewah berlapis baja itu kini berada dalam status kosong, karena seluruh pengawal elit telah ditarik atau dikerahkan untuk pengamanan jarak jauh.

Di ruang kendali bawah tanah pribadi milik Andra—sebuah ruangan super canggih yang hanya bisa diakses menggunakan pemindai retina mata dan kode enkripsi militer tingkat tinggi—layar-layar monitor besar tampak menyala secara otomatis.

Padahal, tidak ada satu pun manusia yang berada di dalam ruangan tersebut saat ini.

Sistem keamanan pusat tiba-tiba mengeluarkan suara peringatan bernada rendah.

Beep... Beep... Beep...

Lampu-lampu indikator yang tadinya berwarna hijau terang secara serentak berubah menjadi merah darah.

Di salah satu sudut ruangan, tepat di depan meja kerja utama berukir kayu jati milik Andra, udara di sekitarnya tampak bergetar aneh.

Sebuah distorsi kecil muncul dari sistem proyeksi holografik, sebelum akhirnya perlahan-lahan memadat menjadi wujud nyata seorang manusia.

Sesosok bayangan hitam misterius berdiri dengan postur tubuh yang sangat tegap.

Pria misterius itu mengenakan jas panjang serba hitam bergaya klasik, dengan sarung tangan kulit tipis yang melekat sempurna di kedua tangannya.

Wajahnya tertutup separuh oleh topeng venesia bergaya kuno berwarna kelam, menyisakan sepasang mata tajam dingin berwarna abu-abu yang memancarkan aura pembunuh berdarah dingin.

Pria itu melangkah santai mendekati meja kerja pribadi Andra—tempat di mana rahasia terbesar dan kendali utama seluruh jaringan bisnis sang penguasa disimpan.

Tanpa ragu sedikit pun, ia menarik kursi kebesaran berlapis kulit hitam milik Andra, lalu duduk dengan angkuh di atasnya.

Ia menyilangkan kedua kakinya dengan santai, menikmati kesunyian di dalam istana yang seharusnya tidak dapat dimasuki oleh siapa pun di dunia ini.

Pria bermasker itu kemudian merogoh saku jas dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna merah darah.

Di bagian tengah amplop tertutup rapat itu, tercetak sebuah lambang timbul berwarna keemasan yang sangat mencolok: Seekor Singa Bersayap yang Mencengkeram Pedang Patah.

Itu adalah simbol legendaris dari Ordo Singa Kelam (The Dark Lion Order)—sebuah faksi sindikat bayangan internasional berkelas global yang selama bertahun-tahun dikabarkan sudah lama bubar dan musnah dari peta dunia hitam.

Namun hari ini, simbol itu kembali muncul di jantung pertahanan pribadi Andra.

Pria misterius itu meletakkan amplop merah tersebut tepat di tengah-tengah meja kerja Andra.

Ia kemudian mengangkat tangan kanannya, mengetukkan jari telunjuknya dua kali ke atas permukaan meja dengan ketukan berirama lambat yang menggema di dalam ruangan yang sunyi.

Setelah itu, ia mengangkat pergelangan tangannya, menyentuh sebuah gawai komunikasi mikro yang tertanam di balik telinganya.

"Pengintaian sektor pusat berhasil disusupkan," ucap suara pria itu dengan nada datar, berat, dan terdengar dingin melalui alat komunikasi rahasia.

"Sinyal pelacak satelit mengonfirmasi target utama, Andra, sudah terbang menuju rute penerbangan luar kota ke arah selatan."

Dari ujung komunikasi yang lain, sebuah suara berat bernada senior merespons dengan penuh kemenangan:

["Bagus. Biarkan anak muda sombong itu menikmati sisa waktu liburannya yang sangat singkat di pulau surga itu."]

["Dia pikir dengan membunuh Ki Darmo dan merampas Buku Hitam Cendana Tua, dia sudah menjadi penguasa tunggal di negeri ini."]

["Dia lupa siapa yang sebenarnya menciptakan singgasana tempat ia duduk sekarang."]

Pria bertopeng kelam di ruangan itu tersenyum tipis di balik topengnya.

Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah kamera pengintai CCTV utama yang menyorot langsung ke arahnya, seolah ia tahu bahwa rekaman itu sedang dikirim secara langsung ke ponsel pribadi Andra nun jauh di udara.

Dengan gerakan lambat namun penuh intimidasi, pria itu mendekatkan mulutnya ke arah mikrofon kecil di mejanya, lalu berbisik pelan memberikan kalimat penutup:

"Selamat menikmati liburanmu yang indah, Tuan Muda... Tapi kursi singgasanamu sudah kami duduki secara resmi."

Klik.

Sambungan komunikasi terputus seketika.

Di saat yang bersamaan, foto rekaman CCTV langsung dari meja kerja itu terkirim otomatis menembus satelit, masuk ke dalam ponsel satelit rahasia milik Andra yang sedang terbang tinggi di atas awan.

Perang besar yang baru saja dikira usai di Surabaya... ternyata hanyalah sebuah babak pembuka dari badai yang jauh lebih besar dan mematikan yang siap menghantam kehidupan sang penguasa bayangan.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!