NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR

Liza datang keesokan paginya tepat pukul delapan, saat aku masih menyapu debu yang secara hukum mungkin sudah menjadi bagian bangunan.

Ia membawa map, kalkulator, dua pulpen, dan ekspresi orang yang tidak percaya kami mampu menjalankan usaha tanpa pengawasan orang dewasa. Mesin cuci milik Bu Ratna sudah kami keluarkan dari gudang. Bentuknya kusam, tutupnya lecet, tetapi motor pengeringnya sudah berfungsi.

“Kenapa tidak dikembalikan?” tanya Liza.

Aku menyandarkan sapu. “Nomor teleponnya hilang.”

“Bu Ratna tinggal dua gang dari sini.”

“Alamatnya juga tidak jelas.”

“Dia ketua arisan Makmu.”

Aku menoleh ke dalam rumah. “Mak!”

Mak Mina menyahut dari dapur, “Apa?”

“Kenapa mesin cuci Bu Ratna tidak diantar?”

“Karena kau baru pulang tiga hari. Jangan semua dosa bengkel kau warisi cepat kali.”

Liza menahan senyum. Ia membuka map dan mengeluarkan nota lama. “Biaya servisnya sudah dibayar setengah. Sisanya seratus delapan puluh ribu. Bu Ratna minta barang diantar hari ini.”

“Bisa.”

“Siapa yang antar?”

Aku melihat motor tua di depan rumah. Bukan motor angkut. Joknya bahkan sulit menahan harga diriku sendiri.

“Nanti dipikirkan.”

“Itu jawaban resmi bengkel ini untuk semua masalah?”

“Jangan datang pagi-pagi cuma untuk menghina.”

“Aku datang menagih penyelesaian.”

Kami sudah saling kenal sejak SMA. Dulu Liza duduk dua baris di depanku dan selalu membawa penggaris, stabilo, serta catatan rapi. Aku pernah meminjam kalkulatornya saat ujian fisika, lalu mengembalikannya dengan tutup baterai hilang. Sejak itu ia memperlakukanku seperti utang yang belum jatuh tempo tetapi sudah mencurigakan.

Ia melangkah ke meja kas. Surat pemecatanku terjepit di bawah buku servis. Aku belum sengaja menyimpannya. Aku juga belum siap membuangnya.

Liza menarik ujung kertas itu. “CV Cahaya Indah?”

“Jangan pegang barang orang.”

“Kalau diletakkan di meja umum, itu sudah jadi dekorasi.”

Ia membaca beberapa baris, lalu mengembalikannya tanpa komentar. Tidak ada ucapan kasihan. Entah kenapa, itu membuatku sedikit lebih lega dan sedikit lebih tersinggung.

“Jadi kau sekarang kerja di sini?”

“Aku membantu.”

“Dibayar?”

“Uang bukan ukuran segalanya.”

“Kalimat orang yang tidak dibayar.”

Bapak keluar membawa dua gelas kopi. Satu diberikan kepada Liza, satu diminumnya sendiri. Aku tidak mendapat bagian.

“Za, kau masih pegang pembukuan warung si Fauzi?” tanya Bapak.

“Masih, Pak.”

“Coba tengok buku kami.”

Aku menatapnya. “Untuk apa?”

“Biar tahu mana yang belum ditagih.”

“Aku bisa.”

Liza sudah duduk. “Bagus. Sebutkan pendapatan bulan lalu.”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya.

“Jumlah pelanggan?”

Aku memandang rak barang.

“Biaya material?”

“Tidak perlu diuji seperti sidang.”

“Baru tiga pertanyaan.”

Bapak menyerahkan buku catatan berminyak. Liza membukanya, menghela napas, lalu menarik kalkulator dari tas. Bunyi tombolnya cepat dan teratur, kontras dengan isi buku yang tampak ditulis ketika terjadi gempa.

Ia memisahkan nota lunas, belum lunas, barang selesai, barang belum disentuh, dan catatan yang tidak punya nama pelanggan. Aku membantu sambil mengeluh. Setiap kali menemukan angka yang tidak jelas, Liza menandainya dengan pulpen merah.

“Kenapa servis kipas Pak Udin cuma lima puluh ribu?” tanyanya.

“Kerusakannya ringan.”

“Materialnya enam puluh dua ribu.”

Aku merebut nota. “Tak mungkin.”

“Baut, kapasitor, kabel, dan ongkos ambil barang.”

“Ongkos ambil barang pakai motor sendiri.”

“Bensin tumbuh dari tangki?”

Aku diam.

“Ini bukan rugi karena sepi,” katanya. “Ini sepi karena tak dikelola, lalu setiap pekerjaan yang masuk dikerjakan seolah uang akan malu sendiri dan datang ke kas.”

“Aku baru mulai di sini.”

“Kelakuanmu cocok dengan sistemnya.”

Aku menunjukkan mesin cuci yang sudah siap. “Paling tidak aku selesaikan ini.”

“Setelah tiga bulan.”

“Aku baru pulang tiga hari.”

“Ya. Kau bilang tadi.”

Ia menelepon Bu Ratna, memastikan waktu pengantaran, lalu menghubungi seorang pengemudi becak barang yang dikenalnya. Dalam waktu sepuluh menit, masalah yang semalam kami anggap rumit sudah memiliki ongkos, jadwal, dan nama orang yang bertanggung jawab.

Setelah itu, Liza memaksaku menelepon lima pelanggan yang barangnya sudah selesai. Satu nomor tidak aktif. Dua orang marah karena menunggu terlalu lama. Seorang bapak lupa pernah menitipkan kipas dan bertanya apakah kami sedang mencoba menjual barang kepadanya. Pelanggan terakhir mengatakan televisinya sudah diganti baru karena mengira bengkel kami tutup.

“Berarti barangnya bisa dijual?” tanyaku setelah sambungan berakhir.

“Berarti kau minta izin tertulis dulu,” jawab Liza.

“Dia sudah tidak mau.”

“Tidak mau bukan berarti barangnya jadi warisanmu.”

Dari lima panggilan itu, hanya dua yang menghasilkan pembayaran. Namun, jumlahnya cukup untuk membeli komponen dan mengisi kas kecil. Liza menempelkan kertas bertuliskan BARANG SELESAI - HUBUNGI HARI INI di atas meja. Menurutku tulisannya terlalu besar. Menurutnya, ukuran itu diperlukan agar keluarga kami tidak bisa pura-pura buta.

Aku tidak suka betapa mudahnya ia membuat kami terlihat bodoh, tetapi aku lebih tidak suka menyadari uang itu sebenarnya sudah menunggu selama berbulan-bulan.

Menjelang siang, Bapak pergi membeli komponen. Mak Mina sibuk memasak. Tinggal aku dan Liza di bengkel, ditemani bunyi kipas tua serta kalkulator yang seolah sedang menghitung umur usahaku.

Ia menemukan kuitansi pembelian solder, kabel, dan kapasitor tanpa keterangan pekerjaan. “Ini untuk pelanggan mana?”

“Aku sudah ikut prosedur,” kataku, lebih defensif daripada yang kurencanakan.

Liza mengangkat alis. “Prosedur apa?”

“Radio tadi. Aku ukur dulu sebelum solder.”

“Baru satu kali. Jangan minta piagam.”

“Aku cuma bilang aku bisa berubah.”

“Kau baru menggunakan multimeter sesuai fungsi. Itu bukan perkembangan karakter, itu syarat minimum.”

Aku bersandar di kursi. “Kau ini kalau memuji takut miskin, ya?”

“Aku tidak suka membayar sesuatu yang belum kuterima.”

Kami melanjutkan pemeriksaan. Di dasar laci, Liza menemukan buku lain yang sampulnya hitam. Buku itu lebih tua, tebal, dan ditutup dengan karet gelang. Ketika ia hendak membuka, aku menariknya.

“Yang ini bukan catatan pelanggan.”

“Dari mana tahu?”

“Bapak menyimpannya paling bawah.”

“Justru itu alasan dibuka.”

Aku melepaskan karet. Halaman pertama berisi daftar pinjaman, tanggal, nama, dan cicilan yang sebagian besar berhenti dibayar beberapa bulan lalu. Ada utang sewa, pembelian komponen, biaya klinik, dan satu nama yang membuatku berhenti.

Marpaung Elektrik.

Liza menekan tombol kalkulator pelan-pelan. Angka bertambah. Ia mengulang dari awal, mungkin berharap hasil pertama salah. Setelah itu, ia menuliskan jumlahnya pada kertas kosong.

Aku melihat angka tersebut dan tertawa kecil karena otakku menolak menerima dengan cara lain.

“Ini pasti salah titik.”

“Tidak.”

“Hitung lagi.”

“Sudah dua kali.”

“Nilai semua barang di sini saja tak sampai segitu.”

Liza memandang rak televisi, alat ukur tua, mesin cuci, dan etalase kusam. “Itu yang membuatnya jadi masalah.”

Aku membaca angka itu sekali lagi.

Jumlah utang dalam buku tersebut lebih besar daripada nilai seluruh peralatan bengkel.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!