Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Di dalam kabin mobil mewah hitam klasik yang melaju membelah jalanan sunyi menuju perbatasan, suasana terasa begitu senyap. VROOMM... Dengung mesin mobil terdengar halus namun konstan. Di luar sana, lampu penerangan jalan mulai mati satu per satu, seolah sengaja menyerahkan kota ini sepenuhnya kepada kegelapan.
Dari balik kemudi, Sebas—pelayan pribadi sekaligus orang kepercayaan keluarga—melirik gua di kursi belakang lewat kaca spion tengah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka suara dengan raut wajah serius.
"Sebelum kita tiba, ini peringatan penting untuk Anda, Tuan Muda," ucap Sebas tegas. "Menurut saya, sebelum terlambat, kita harus pikirkan lagi baik-baik. Apakah Anda yakin kita harus pindah ke kota ini?"
Gua di kursi belakang tertawa kecil. "Haha... Seorang kepercayaan keluarga gua yang udah kenyang di dunia malam, tiba-tiba ketakutan? Lu nggak kayak biasanya, Sebas."
Sebas menggeleng pelan, mempertahankan wibawanya. "Tuan Muda, Anda terlalu meremehkan saya. Saya nggak pernah takut, ini cuma sekadar peringatan."
"Yaudah, jelasin ke gua," jawab gua singkat sambil melipat tangan di dada.
Tanpa membuang waktu, Sebas merendahkan suaranya, berbicara dengan intonasi yang dingin namun menusuk:
"Cikampek itu punya dua wajah, Tuan Muda. Siang hari kota ini terlihat normal, tapi begitu malam tiba... jalanan berubah jadi arena berandalan. Hukum di sini mutlak. Siang dan malam dilarang saling mencampuri, dan berandalan punya aturan mainnya sendiri yang diawasi langsung oleh Mahkamah Agung."
Sebas memajukan badannya sedikit lewat spion, menatap mata gua dengan serius. "Mengingat temperamen Anda yang suka menyulut keributan, kota ini bisa jadi tempat bermain yang sangat berbahaya kalau Anda bertindak tanpa perhitungan."
Mendengar penjelasan itu, gua malah mendengus sinis.
"Cih, membosankan. Gua kira di kota berandalan kayak gini nggak bakal ada aturan mainnya," ucap gua dengan nada agak kecewa.
Tidak lama kemudian, CITTT! Mobil kami melambat saat tiba di garis perbatasan kota yang gelap.
PRANGGG!
Kaca jendela mobil di sisi pengemudi mendadak hancur berkeping-keping akibat lemparan batu besar dari luar! PYAR! Serpihan kaca berhamburan mengotori jok kulit.
"Putar balik, woy!" teriak seorang berandalan dari kejauhan dengan suara serak penuh ancaman. "Ini bukan daerah buat mobil mewah kayak lu! Nggak cocok di sini, putar balik atau gua hancurin lu semua!"
Berandalan itu dan puluhan gerombolannya mulai mengepung mobil secara agresif, menggeprak-geprak kap mesin. BAM! BAM! Melihat hal itu, gua sama Sebas kompak membuka pintu. BREG! Kami melangkah keluar bersamaan.
Gua tersenyum miring. Mata gua berbinar menatap puluhan berandalan di depan kami. "Sebas, sepertinya gua mulai semangat. Gua tarik kata-kata gua yang bilang membosankan tadi."
Saat seorang berandalan melompat menyerang lebih dulu dengan balok kayu—WUSS!—Sebas bergerak secepat kilat.
BUGHH!
Hantaman kepalan tangan kosong Sebas mendarat telak di dada musuh hingga napasnya tertahan. Seketika itu pula, gua menyusul—melayangkan tinju keras uppercut dari bawah.
CRAK!
Dagu musuh terhantam tepat ke arah rahang hingga matanya mendelik dan dia tumbang seketika!
Namun, musuh datang berhamburan dari segala arah. Pertarungan brutal pun pecah di kegelapan malam. BUGH! DUAAGH! TAK! Suara benturan tulang, tangkisan lengan, dan erangan kesakitan menggema sahut-menyahut.
Awalnya pertarungan berjalan mulus tanpa hambatan. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah musuh yang terus mengalir membuat tenaga kami mulai terkuras.
"Tuan Muda, sepertinya kita harus pergi dari sini. Jumlah mereka nggak ada habisnya," seru Sebas di tengah kepungan dengan suara yang tetap berusaha tenang, meski napasnya mulai berat.
Gua menyeka bercak darah di sudut bibir. Gua menatap tajam ke depan dengan seringai liar. "Diam lu, Sebas. Ini baru permulaan, belum ada apa-apa."
Belum sempat gelombang serangan berikutnya menghantam kami... CRICKETS. Suasana mendadak mencekam dan hening total.
TAK! TAK! TAK!
Langkah kaki berat terdengar memecah keheningan, diikuti hadirnya sosok pria berumur di hadapan para berandalan.
Dia adalah seorang Old Generation—pria yang sudah lama tinggal di Cikampek. Meski sudah pensiun dari jalanan, namanya dulu cukup terkenal dan ditakuti di kalangan berandalan.
Melihat siapa yang berdiri tegap di depan mereka dengan pandangan dingin membunuh, nyali puluhan berandalan itu langsung menciut. Keringat dingin mengucur deras di wajah mereka.
"Lu semua tahu kan lagi berurusan sama siapa, hah?!" bentak sang Old Generation dengan suara menggelegar memekakkan telinga.
Para berandalan bergidik ngeri, melangkah mundur perlahan dalam ketakutan nyata.
"Kalau lu semua berurusan sama... tamu gua," lanjut pria tua itu dengan tatapan tajam menusuk. "Artinya, lu pada berurusan sama gua juga!"