Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Zafana bersama Oliver dan kedua anaknya sudah sampai dirumah milik Oliver. Sejak perjalanan tadi Zafana hanya diam menatap kearah jendela. Ucapan Rina tentang dirinya dan menganggap Zafana sebagai wanita murahan sungguh membuat hatinya sakit. Belum pernah ia dibicarakan seperti itu oleh orang lain dihadapannya.
"Mami, ayo masuk"ucap Enzi sambil menarik tangan Zafana membuat lamunan Zafana buyar.
"Enzi, kakak harus pulang sekarang..Enzi dirumah sama papa dan Ai ya"ucap Zafana.
"Kenapa?"Oliver bertanya.
"Saya...saya ada urusan lain, pak"jawab Zafana.
"Ai mau mami disini...mami jangan pergi"ucap Aileen sambil meronta dalam gendongan Oliver.
Oliver menghela lalu menurunkan Aileen dari gendongannya,
"Ai sama Enzi masuk duluan ya"
Enzi dan Aileen mengangguk lalu berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Oliver dan Zafana yang hendak beranjak kembali keluar, Oliver segera menahan tangannya dan menariknya hingga Zafana berbalik menatap Oliver.
"Maaf atas ucapan mama saya"ucap Oliver.
Zafana mengangguk dengan kepala menunduk, "gak masalah kok pak"
Grepp
Zafana terdiam mematung saat tubuh Oliver secara tiba-tiba memeluknya.
"Saya tau apa yang kamu rasakan, tapi saya juga mengalami hal serupa dari dulu"ucap Oliver dalam dekapan nya.
"Saya hanya ingin menjalani kehidupan atas keinginan saya, bukan keinginan orang lain"lanjutnya lalu melepas pelukannya dan menangkup wajah Zafana.
"Kamu masih punya banyak waktu untuk memutuskan jawaban dari lamaran saya, dan saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, Zafa"ucap Oliver sambil menatap wajah Zafana lekat.
Zafana memejamkan matanya lalu menghela, kali ini ia yakin dengan kata hatinya. Ia akan menerima Oliver, dan berusaha untuk menjadi calon yang baik untuk nya.
"Saya----"
"PAPA AI NANGIS!"teriak Enzi dari ambang pintu.
Oliver dan Zafana sontak menoleh lalu berlari masuk kedalam rumah. Aileen menangis diatas karpet ruang tamu sambil sesekali kakinya menendangi udara.
"Ai, kenapa sayang? Ada yang sakit?"tanya Oliver panik.
"Ai gak mah mama pulang! Ai mau mama nemenin Ai disini!"jawab Aileen dengan suara yang lantang.
Oliver menoleh membuat Zafana diam kebingungan.
"Iya sayang, mama bakalan nemenin Ai kok disini"ucap Oliver.
Aileen bangkit lalu berjalan menuju Zafana dengan napas yang masih terisak,
"Ai belum bilang apa keinginan Ai yang waktu itu"
Zafana berjongkok, "Ai mau apa?"
"Ai mau kakak mama jadi mami nya Ai"jawab Aileen sontak membuat Zafana terdiam.
"Ai, kakak belum bisa"ucap Zafana.
Aileen kembali merengut, "kenapa gak bisa? Mami gak sayang Ai?"
"Ai, kasih kakak mama pilihan ya.."ucap Oliver.
"Kalau kamu menerima permintaan Ai, itu tandanya kamu menerima juga permintaan saya..jadi sekarang kamu pilih pulang dan menolak permintaan saya dan Aileen, atau tetap disini dan menerima permintaan kami"lanjut Oliver.
Zafana menghela lalu menunduk, ia menjadi tidak yakin dengan keputusan yang sebelumnya ia buat sekarang. Melihat bagaimana Aileen menangis dan melihat bagaimana wajah murung Enzi membuat Zafana semakin berat untuk meninggalkan mereka.
"Saya....saya tetap disini"jawab Zafana sontak membuat bola mata Enzi, Aileen dan Oliver berbinar.
"Kamu sudah yakin dengan jawaban kamu?"tanya Oliver memastikan.
Zafana mengangguk lalu dalam hitungan detik Aileen dan Enzi langsung berhambur memeluknya. Entah lah, membuat keputusan seperti ini membuat hari Zafana perlahan merasa tenang.
Hari semakin gelap dan malam semakin larut, Zafana baru saja selesai membacakan dongeng untuk Enzi dan juga Aileen yang sudah tertidur dari 10 menit yang lalu. Oliver yang sejak tadi mengerjakan sesuatu didalam ruang kerja nya pun melangkah masuk kedalam kamar Enzi dan Aileen untuk mengecek keduanya.
"Istirahat, Na"ucap Alvano sontak membuat Zafana menoleh.
"Saya gak bawa baju ganti pak, jadi saya pulang sekarang ya"jawab Zafana.
"Ini sudah malam, saya gak mau kamu kenapa-napa dijalan..jadi nginap aja disini, besok baru saya antar pulang, biar baju ganti kamu bisa pakai dulu punya istri saya"ucap Oliver.
Zafana terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Melihat itu Oliver mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Zafana.
Mereka berjalan masuk kedalam kamar milik Oliver dan duduk dipinggiran ranjang.
Oliver berjalan membuka lemari milik mendiang istrinya dan mengambil baju tidur dan dalaman yang masih ia simpan didalam sana.
"Saya gak tau berapa ukuran dalaman kamu, jadi saya gak bisa mastiin ini bakalan cukup atau enggak"ucap Oliver sontak membuat semburat merah kedua pipi Zafana.
"M-makasih pak"Zafana sebenarnya ingin protes pada Oliver, tapi urung karena sudah terlanjur malu.
Dengan segera Zafana masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengganti pakaian dengan baju tidur yang diberikan oleh Oliver.
15 menit tepatnya Zafana berada didalam kamar mandi dan saat keluar ia melihat Oliver yang sedang mengerjakan sesuatu pada laptopnya.
"P-pak, saya tidur disofa ya"ucap Zafana membuat Oliver sontak menoleh kearahnya.
"Kenapa? Tidur dikasur aja, saya juga gak bakal macem-macem kok"jawab Oliver.
Sebenarnya bayangan hari itu saat ia terbangun dalam pelukan Oliver membuat Zafana sedikit malu. Entah kenapa ia kembali mengingat kecanggungan itu dan membuatnya semakin kaku.
"Kejadian waktu itu rencana Enzi sama Aileen, bukan keinginan saya"ucap Oliver yang baru saja menyadari kekhawatiran Zafana.
Mendengar itu membuat Zafana tertegun, "bapak bisa baca pikiran saya ya?"
Oliver menghela lalu menutup layar laptopnya, "saya ini dosen psikologi"
"Oh iya ya"Zafana bergumam.
"Udah, tidur dikasur aja.."ucap Oliver.
Zafana menghela lalu melangkahkan kakinya untuk menaiki kasur dan tertidur membelakangi Oliver.
"Saya sebenarnya ingin menanyakan alasan kamu memilih untuk tetap disini, tapi saya akan tanyakan itu besok"ucap Oliver sebelum akhirnya mematikan lampu kamar dan membiarkan lampu tidur dipinggiran kasur menyala.