**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Pengakuan
Dua hari kemudian, Reynard mengirim pesan yang hanya terdiri dari enam kata.
Reynard: Malam ini naik ke atap bersamaku.
Keira membaca kalimat itu berkali-kali. Tidak ada stiker, tidak ada panggilan Ci Kei, dan tidak ada alasan palsu seperti melihat lampu kota atau mencari angin. Keseriusan yang pendek itu membuat jantungnya kehilangan satu ketukan.
Pukul tujuh malam, Reynard menunggu di depan tangga menuju atap Apartemen Meranti Park. Ia mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan digulung sampai siku. Tidak ada senyum jahil ketika melihat Keira datang.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Keira.
"Naik dulu."
Angin malam menyambut mereka di atap. Dari sana, lampu Tangerang tersebar seperti titik-titik emas. Tempat itu biasanya membuat Keira tenang. Malam ini, deru kendaraan dari kejauhan justru terdengar seperti hitungan mundur.
Reynard berhenti di dekat pagar. Kedua tangannya masuk ke saku, lalu keluar lagi. Gugup. Keira baru menyadari ia belum pernah melihat laki-laki itu segugup ini.
"Tentang ciuman waktu itu?" Keira memberanikan diri.
Reynard menatapnya. "Tentang jauh sebelum itu."
Ia menarik napas panjang.
"Aku pertama kali melihatmu waktu masih SMP."
Keira mengerutkan kening. "Kita belum pernah bertemu waktu itu."
"Nggak secara langsung. Vanessa pulang membawa foto bersama teman-temannya. Kamu berdiri di sebelahnya, memakai kemeja putih dan memegang buku."
Potongan ingatan samar muncul. Vanessa memang pernah mencetak foto kegiatan sekolah mereka, tetapi Keira bahkan tidak ingat baju apa yang dikenakannya.
"Vanessa bercanda," lanjut Reynard. "Dia bilang kakak kelasnya itu tipe ideal untuk jadi adik iparnya suatu hari nanti. Mungkin dia lupa lima menit kemudian. Aku nggak."
Keira tertawa pendek karena gugup. "Kamu menyukai seseorang hanya dari foto?"
"Awalnya aku cuma penasaran. Lalu setiap kali Vanessa pulang, dia selalu menyebut namamu. Katanya Keira dapat nilai tertinggi. Keira marah karena ada teman yang diperlakukan nggak adil. Keira ingin bekerja dengan bahasa supaya bisa pergi ke banyak tempat." Reynard menunduk sebentar. "Tanpa sadar aku mengenalmu dari cerita-cerita kecil itu."
Angin meniup rambut Keira ke wajah. Ia ingin menyelipkannya ke belakang telinga, tetapi tangannya terasa kaku.
"Suatu hari aku mendengar kalian bicara lewat panggilan video," ujar Reynard. "Vanessa bertanya laki-laki seperti apa yang kamu suka. Kamu bilang nggak harus kaya atau sempurna. Kamu cuma ingin seseorang yang bisa memasak, setia, dan bertanggung jawab."
"Aku ingat percakapan itu," bisik Keira.
"Aku juga. Terlalu jelas."
Reynard memandang telapak tangannya sendiri seolah di sana tersimpan versi dirinya bertahun-tahun lalu.
"Waktu itu aku gampang marah. Aku nggak bisa memasak apa pun selain mi instan. Badanku kecil, dan aku benci olahraga. Setelah mendengar ucapanmu, aku mulai latihan basket. Aku belajar masak dari video sampai dapur Mama hampir kebakaran. Aku memaksa diri berhenti menyelesaikan masalah dengan emosi."
Keira menatap bahunya yang kini lebar, tangan yang berkali-kali membuat sarapan untuknya, dan ketenangan yang selalu ia andalkan saat masalah datang. Semua hal yang ia anggap sifat alami Reynard tiba-tiba memiliki awal yang berbeda.
"Karena satu kalimat dariku?"
"Karena aku ingin, kalau suatu hari berdiri di depanmu, aku bukan anak kecil yang langsung kamu abaikan."
Suara Reynard tidak meninggi, tetapi setiap kata jatuh berat. Keira mundur setengah langkah dan menyentuh pagar dingin di belakangnya.
"Lalu BINUS?"
"Enam pilihan kampusku berada di kota yang sama denganmu."
"Enam?"
"Semua."
Keira mengingat Vanessa pernah mengeluh karena adiknya menolak satu kampus negeri yang dianggap lebih bergengsi. Saat itu Reynard hanya berkata ia sudah menghitung pilihan terbaik. Keluarga Hartono akhirnya mengalah karena nilai masuknya sangat baik dan jurusan yang dipilih masuk akal.
"Jadi kalau BINUS menolakmu?"
"Aku masuk pilihan kedua, tetap di Jabodetabek."
"Dan kalau semuanya menolak?"
"Aku ikut ujian lagi tahun berikutnya."
Tidak ada nada romantis berlebihan dalam jawabannya. Reynard mengatakannya seperti seseorang yang memang sudah menyiapkan setiap kemungkinan. Justru ketenangan itu membuat Keira sadar betapa lama rencana tersebut tinggal di kepalanya.
"Vanessa bilang kamu tertarik program Computer Science di sini."
"Aku memang suka programnya. Tapi itu bukan alasan pertama." Reynard tersenyum pahit. "Aku mencari semua kemungkinan agar bisa dekat denganmu. BINUS yang terbaik di antara pilihan itu."
Keira mengingat hari pertama Reynard datang dengan koper, menyebut dirinya sebagai paket yang harus diterima. Ia mengingat Vanessa menelepon dari Brasil dan meminta Keira menjaga adiknya. Semua terasa seperti kebetulan yang merepotkan sekaligus lucu.
Ternyata bahkan kepindahan itu bukan kebetulan.
"Unit Vanessa di seberang rumahku," kata Keira perlahan. "Kamu yang meminta tinggal di sana?"
Reynard mengangguk. "Aku memohon pada Vanessa agar membiarkanku memakai unitnya. Dia pikir aku cuma butuh tempat dekat kampus. Aku bilang akan lebih aman karena ada kamu. Itu benar, tapi bukan seluruh kebenarannya."
"Jadi kamu sengaja datang membawa koper ke pintuku."
"Iya."
"Kamu sengaja membuatku bertanggung jawab menjagamu."
"Aku mencari kesempatan supaya kamu mau melihatku." Tatapannya tidak lari. "Aku nggak pernah berniat menyakitimu atau memaksamu. Kalau selama ini aku melewati batas, aku minta maaf. Tapi perasaanku bukan sesuatu yang muncul karena kita tinggal berseberangan. Aku datang karena perasaan itu sudah ada."
Potongan-potongan dua puluh empat babak hidup mereka seperti diputar ulang di kepala Keira. Kode pintu yang diketahui Reynard. Sarapan yang selalu sesuai seleranya. Obat di tas. Payung saat hujan. Cara ia berdiri di antara Keira dan bahaya. Buku catatan yang memuat hidup Keira secara rinci.
Semua perhatian itu kini memiliki akar lima atau enam tahun ke belakang.
"Nexera," kata Keira tiba-tiba. "Waktu menerima penghargaan, kamu bilang punya penyemangat diam-diam."
Reynard mengembuskan napas. "Kamu."
Satu kata itu membuat mata Keira panas.
"Kamu bahkan belum benar-benar mengenalku waktu SMP. Bagaimana kalau aku berbeda dari cerita Vanessa? Bagaimana kalau aku mengecewakanmu?"
"Aku sudah mengenalmu sekarang." Reynard melangkah mendekat, lalu berhenti cukup jauh agar Keira tidak merasa terdesak. "Kamu keras kepala, sering lupa makan, pura-pura kuat kalau takut, dan bisa mengomel dua puluh menit karena aku menaruh handuk di tempat yang salah."
Keira hampir tertawa di tengah kekacauan dadanya.
"Kamu juga baik ketika nggak ada orang yang melihat," lanjut Reynard. "Kamu tetap membela orang lain meski dirimu sendiri gemetar. Kamu mencintai keluargamu dan bekerja keras tanpa merasa dunia berutang penghargaan. Aku nggak jatuh cinta pada foto itu lagi, Ci Kei. Aku jatuh cinta pada kamu yang nyata."
Air mata menggenang di pelupuk Keira. Ia membencinya karena bisa mengucapkan kalimat setenang itu setelah mengguncang seluruh fondasi hubungan mereka.
"Jadi selama ini semuanya perhitunganmu?"
"Sebagian besar adalah kesempatan yang kuciptakan." Reynard tidak menghindar. "Tapi setiap kali kamu memilih mempercayaiku, itu bukan perhitunganku. Itu pilihanmu."
Keira menelan ludah. Ada satu pertanyaan yang membuat perutnya mual sejak awal.
"Waktu sindrom haus kulitku kambuh di foyer," katanya dengan suara bergetar, "dan waktu aku menciummu... apakah itu juga kamu rencanakan?"
Wajah Reynard langsung berubah.
"Tidak."
Jawabannya datang begitu cepat hingga hampir bertabrakan dengan pertanyaan Keira.
"Aku memang melihat ramalan cuaca dan menjemputmu. Aku memang ingin dekat denganmu. Tapi aku nggak pernah merencanakan kamu akan kehilangan kendali." Reynard menggeleng keras. "Itu satu-satunya bagian yang sama sekali nggak kuduga. Aku bahkan nggak menyangka kamu akan menciumku lebih dulu."
Ia maju satu langkah, lalu berhenti lagi. Kerentanan di matanya membuat Reynard tampak seperti anak laki-laki yang menunggu vonis, bukan orang yang merancang jalan selama bertahun-tahun.
"Kalau ciuman itu membuatmu menyesal, aku nggak akan menggunakannya untuk menuntut apa pun," katanya. "Kalau kamu ingin aku kembali menjadi adik Vanessa di depanmu, aku akan mencoba. Mungkin aku nggak akan berhasil sepenuhnya, tapi aku nggak akan memaksamu."
"Kenapa baru bicara sekarang?"
"Karena setiap hari aku bilang pada diri sendiri untuk menunggu sampai kamu siap." Reynard tertawa kecil, getir. "Lalu kamu berterima kasih kepadaku dengan suara seperti itu, dan aku sadar aku nggak sanggup terus berpura-pura."
"Orang di telepon waktu aku sakit itu siapa?"
"Vanessa. Dia bertanya apakah aku sudah mengatakan alasan sebenarnya aku memilih unit ini. Aku bilang belum." Reynard menatapnya lurus. "Dia tahu aku menyukaimu, tapi dia nggak tahu seluruh perencanaanku. Jangan marah kepadanya. Aku yang membujuknya."
Setidaknya satu misteri terjawab. Namun jawaban itu sekaligus menegaskan bahwa bahkan percakapan yang didengarnya saat demam mengarah ke malam ini.
Keira memalingkan wajah ke lampu kota. Ia menyukai Reynard. Pengakuan itu sudah lahir dalam dirinya sebelum malam ini. Namun mengetahui bahwa laki-laki itu telah mengubah dirinya, memilih kota, dan mengatur kepindahan demi mendekat membuat perasaan itu tampak jauh lebih besar daripada yang siap ia tanggung.
Ia juga membayangkan wajah Vanessa. Mama dan Papa. Bisik-bisik orang tentang perempuan yang berpacaran dengan adik sahabatnya yang tiga tahun lebih muda.
"Katakan sesuatu," pinta Reynard.
Untuk pertama kalinya, suaranya nyaris pecah.
Keira menoleh. Ia ingin mengatakan dirinya tidak membenci semua itu. Ia ingin mengaku bahwa apartemennya terasa kosong ketika Reynard menjaga jarak. Ia bahkan ingin menyentuh tangan yang menggantung tegang di sisi tubuh laki-laki itu.
Namun semua kata itu berhenti di tenggorokan.
"Beri aku beberapa hari," katanya akhirnya.
Wajah Reynard membeku.
Keira tidak menunggu jawaban. Ia berbalik menuju pintu tangga, berjalan secepat yang bisa ia lakukan tanpa terlihat sedang melarikan diri.
Di belakangnya tidak terdengar langkah mengejar.
Ketika pintu besi tertutup, Reynard masih berdiri sendirian di bawah langit malam, menatap punggung Keira yang telah hilang dan tidak berani menarik napas terlalu dalam.