NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Sedang Meneliti Istri

"Selamat datang, Nyonya Halim."

Sapaan serempak dari belasan pegawai NARA membuat Keira berhenti di pintu. Nathan berdiri di sampingnya dengan wajah tanpa dosa.

"Aku bilang jangan mengumumkan apa-apa."

"Aku hanya mengenalkan istriku kepada tim sendiri."

Tim mengangkat tangan. "Kami sudah tahu sejak Cambridge."

"Yang tidak tahu hanya pegawai baru," tambah Lucas.

Keira menatap Nathan. "Namaku Keira. Tidak perlu Nyonya."

Para pegawai tertawa kecil dan kembali bekerja. Nathan membawanya melihat ruang produk, pusat keamanan, lalu kantor CEO. Makan siang mereka sudah tergeletak di meja. Mi gorengnya menggumpal karena dipesan terlalu awal.

Dalam perjalanan, Keira melihat kartu kecil pada setiap meja yang hanya menampilkan nama depan dan tingkat akses. Tim mengelola riset, Lucas mengawasi infrastruktur, sedangkan pegawai baru bekerja pada modul terpisah. Tidak seorang pun dapat membuka model inti sendirian.

"Karena Carl?" tanya Keira.

"Karena manusia bisa berubah," jawab Nathan. "Sistem yang baik tidak bergantung pada satu orang tetap setia selamanya."

Di ruang demonstrasi, NARA mengenali perintah yang tidak lengkap dan menanyakan konteks sebelum bertindak. Nathan sengaja memberi instruksi yang bertentangan. Sistem menolak dengan suara netral.

"Ia tidak selalu menurut penciptanya?"

"Kalau selalu menurut, ia bukan teknologi dengan nurani. Ia hanya alat yang cepat."

Keira menyentuh layar. "Kau mengajari mesin meminta persetujuan, tetapi kau sendiri baru belajar."

"Karena mesin punya dokumentasi. Suami tidak."

"Suami punya telinga."

"Itu sebabnya aku terus mendengar, Ci."

Nathan membuka kotak dan langsung mengernyit. "Aku pesan jam sebelas."

"Sekarang hampir satu."

"Rapat kandidat molor."

"Lain kali pesan setelah rapat. Makanan tidak membaca jadwalmu."

Nathan mengaduk mi, lalu mendorong porsi yang lebih baik ke arah Keira. "Maaf."

Satu kata tanpa pembelaan membuat Keira mengambil garpu. Ia memberi Nathan potongan ayam, dan Nathan membalas dengan sayuran. Ketika ia hendak menyuapi, Nathan berhenti serta mengangkat alis meminta izin. Keira membuka mulut sebelum sempat merasa malu.

"Kemajuan besar," katanya.

"Untuk siapa?"

"Untuk suami yang kemarin dilarang menyuapi."

Setelah makan, Nathan membuka versi uji NARA pada layar besar. Antarmukanya sederhana, tetapi model di belakangnya membaca pola pilihan, ritme kerja, serta respons pengguna.

"Aku ingin menguji satu fungsi," katanya. "Dengan persetujuanmu."

"Data apa?"

"Jawaban percakapan, jadwal yang kau berikan, dan kebiasaan yang kulihat. Tidak ada isi ponsel atau komputer."

Keira duduk di sampingnya. "Tunjukkan masukan sebelum diproses."

Nathan membukanya satu per satu: Keira memeriksa pintu dua kali, menjaga meja tetap rapi, tidak suka rencana berubah mendadak, menyediakan ruang aman, dan sulit meminta bantuan. Keira menghapus satu asumsi yang menurutnya salah, lalu menyetujui sisanya.

Hasil muncul beberapa detik kemudian.

Subjek memiliki kebutuhan tinggi terhadap keteraturan. Kemungkinan pemicu: masa kecil dengan ketidakpastian dan perubahan lingkungan. Rekomendasi untuk pasangan: beri informasi sebelum perubahan, tawarkan pilihan konkret, jangan mengambil alih tanpa persetujuan, dan konsisten pada janji kecil.

Keira membaca dalam diam.

"Aku bukan subjek penelitian."

Nathan segera menutup laporan. "Maaf. Aku ingin tahu cara membuatmu merasa aman."

"Kau bisa bertanya kepadaku."

"Kalau kutanya kenapa kau memeriksa pintu dua kali, kau akan menjawab kebiasaan."

"Karena memang kebiasaan."

"Kebiasaan punya asal."

Keira menatap layar gelap. Mesin itu menyusun sesuatu yang selama ini ia simpan tanpa nama. Masa kecilnya dipenuhi pindah kontrakan, tagihan terlambat, dan hari-hari ketika Herman pulang terlalu malam. Lalu pada usia enam belas, rumah besar Sutanto memberi keamanan sekaligus dunia baru yang tidak ia pahami.

"Sistemmu tidak sepenuhnya salah," katanya. "Tapi jangan menjadikanku proyek perbaikan."

"Aku tidak ingin memperbaikimu. Aku ingin memperbaiki caraku memperlakukanmu."

Kalimat itu membuat tenggorokan Keira mengencang. Nathan membuka kembali NARA dan mengetik pertanyaan: bagaimana membantu istri membangun rasa aman tanpa mengurangi kemandiriannya?

Jawabannya berupa langkah sederhana. Menepati waktu. Mengabarkan perubahan. Meminta izin. Meninggalkan ruang untuk menolak.

"Itu semua sudah kukatakan," ujar Keira.

Nathan menyimpan pengaturan agar seluruh data percobaan Keira terhapus setelah sesi. Ia bahkan menunjukkan log penghapusan dan memberi Keira tombol untuk memutus izin kapan saja.

"Aku tidak akan memakai jawabannya untuk model umum," katanya. "Ini hanya untuk akun lokal di komputermu jika kau mau."

"Aku belum mau."

"Baik."

"Kau kecewa?"

"Sedikit. Tapi kecewa bukan izin."

Keira menatapnya beberapa detik. "Simpan rancangan fiturnya, bukan dataku. Mungkin nanti aku coba lagi."

Nathan tidak merayakan keputusan kecil itu. Ia hanya mengangguk, dan sikap tenangnya membuat Keira lebih percaya daripada seratus janji.

"Benar. NARA mengonfirmasi istriku selalu benar."

"Fitur paling cerdas perusahaanmu."

Ketegangan pecah menjadi tawa.

Seusai makan, Keira bersandar di sofa untuk menunggu Nathan menyelesaikan satu surel. Pendingin ruangan terlalu dingin. Nathan menyelimuti kakinya tanpa membangunkan, lalu mengangkat betisnya ke atas sofa agar tidak menggantung.

Keira membuka mata tepat ketika wajah Nathan dekat. Nathan mundur terlalu cepat dan menabrak meja kecil.

"Kau sedang apa?"

"Memindahkan kakimu."

"Wajahmu tidak berada dekat kakiku."

"Aku memeriksa apakah kau tidur."

"Dengan bibir?"

Nathan berdiri. Telinganya merah. "Aku kembali bekerja."

Keira membawa selimut itu kembali ke Nebula. Bella langsung menunjuknya.

"Itu bukan milik kantor kita."

"Pinjaman dari sebelah."

"Dari suami programmer?"

"Dia pindah ke perusahaan AI baru. Gajinya lumayan."

Bella mengangguk seolah teka-teki terpecahkan. "Pantas sekarang makin berani membeli makan siang."

Keira membiarkannya percaya, lalu mengajak Bella melihat toko perhiasan sepulang kerja.

Di gedung A, Nathan menatap kembali laporan NARA. Frasa `ketidakpastian masa kecil` tetap menyala di layar. Tim telah mengirim berkas lain pagi tadi, hasil penelusuran latar keluarga Keira yang dimulai setelah kasus penguntitan.

Di dalamnya ada satu nama yang belum pernah Keira sebut.

Fenny Gunawan.

Nathan menutup berkas sebelum Ivan masuk. Ia belum tahu bagaimana memberi tahu Keira bahwa perempuan yang meninggalkannya ternyata tinggal di kota yang sama, di balik gerbang keluarga lain.

Untuk pertama kalinya, jenius dengan IQ seratus delapan puluh tidak menemukan kalimat pembuka yang aman.

Ia membuka percakapan WhatsApp dengan Keira, mengetik bahwa ada sesuatu tentang masa lalunya, lalu menghapus kalimat itu. Memberi informasi sebelum perubahan adalah saran NARA sendiri. Namun informasi yang belum lengkap hanya akan memindahkan ketakutan ke pundak Keira.

Nathan mengirim pesan berbeda.

Nathan: Cincin jam enam. Aku menjemputmu.

Balasan datang segera.

Keira: Jangan terlambat.

Nathan melihat dua kata itu dan membuat keputusan. Ia akan memastikan kebenaran tentang Fenny lebih dulu. Setelah itu, Keira mendengarnya langsung darinya, bukan dari rumor keluarga. Janji kecil harus ditepati lebih dulu sebelum rahasia besar dibuka dengan benar. Tidak boleh terlambat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!