Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Ribut di Depan Gang
Keributan dimulai dari seutas tali jemuran.
Bu Yayuk menuduh ujung tali Mbah Surti melewati batas halaman dan membuat dasternya terkena cipratan air. Mbah Surti membalas bahwa selokan mampet justru karena sampah plastik dari rumah Bu Yayuk.
Dalam lima menit, perkara tali berubah menjadi perkara anak dan cucu.
"Setidaknya Galih saya kuliah hukum," kata Bu Yayuk di tengah gang. "Nanti jadi pengacara, bukan cuma jaga warung!"
Mbah Surti berdiri di depan warung dengan tongkat di satu tangan. "Cucu saya juara provinsi. Tinggal tunggu masuk ITB. Kalau jadi ilmuwan, pengacara juga antre minta tanda tangannya!"
Tetangga membentuk lingkaran dengan kecepatan yang mengagumkan. Ada yang pura-pura menyapu, ada yang membeli gula satu bungkus hanya agar bisa berdiri dekat warung.
Laras datang dari bengkel sambil membawa kunci pas. "Mbah, masuk. Kakinya baru mendingan."
"Saya nggak bisa masuk sebelum dia tarik omongannya."
"Omongan yang mana? Sudah kebanyakan."
Rayhan berdiri di belakang Mbah Surti, wajahnya tampak cemas seperti cucu baik-baik. Namun ketika Bu Yayuk mulai membanggakan Galih, ia menambahkan dengan suara cukup keras untuk didengar tetangga terdekat.
"Galih memang hebat. Habis dikeroyok tiga orang juga masih bisa pulang sendiri."
Bu Yayuk langsung menoleh. "Kenapa kamu bawa-bawa itu?"
"Saya memuji. Berani sekali."
"Anak saya dikeroyok karena ada perempuan yang bikin salah paham!"
Bisik-bisik di sekeliling mereka membesar. Laras menatap Rayhan dan melihat sudut bibirnya hampir naik.
"Lo sengaja, ya?" bisiknya.
"Aku cuma bantu Mbah."
"Bantu pakai bensin."
Mbah Surti sudah hendak membalas ketika Laras mengambil tongkatnya dan menunjuk rumah. Pak Darto ikut keluar, lalu menggiring kedua pihak ke halaman masing-masing. Kerumunan bubar perlahan, membawa potongan cerita yang pasti berubah bentuk sebelum magrib.
Seorang tetangga sempat menarik Laras ke samping dan bertanya apakah perempuan yang dimaksud Bu Yayuk adalah dirinya. Laras menjawab tidak tahu dan tidak ingin tahu, tetapi tatapan orang itu sudah penuh kesimpulan.
Di seberang gang, Bu Yayuk menutup pagar terlalu keras. Mbah Surti masih mengomel sambil berjalan masuk, mengatakan cucunya tidak mungkin kalah dari anak pengacara mana pun.
"Galih yang mau jadi pengacara, Mbah. Bukan ibunya," koreksi Laras.
"Sama saja. Ibunya sudah latihan debat tiap hari."
Pak Darto menahan tawa sambil membantu Mbah duduk. Rayhan membawakan air minum dengan sikap manis, seolah tadi bukan dia yang menambah bahan bakar ke seluruh pertengkaran.
"Kalau Bu Yayuk sama Mbah makin ribut, yang susah Galih," kata Laras setelah mereka kembali ke bengkel.
Rayhan menyusun kunci sok di meja. "Bukan salahku ibunya suka omongin orang."
"Lo sengaja menyebut pengeroyokan supaya semua orang dengar."
"Faktanya memang begitu."
"Semua hal benar nggak harus lo lempar ke jalan."
Rayhan tidak membalas. Ia tahu Laras benar, tetapi bagian gelap di dalam dirinya tetap puas melihat jalan antara rumah Galih dan Pak Darto terasa sedikit lebih panjang.
Raungan mesin memotong percakapan mereka.
Sebuah mobil sport merah berhenti di depan bengkel. Suara dari bagian transmisi terdengar kasar ketika pengemudi memindahkan gigi. Laras meletakkan kunci sok dan berjalan keluar.
Reno turun dengan kacamata hitam terselip di kerah kaus.
Rayhan membeku sepersekian detik, lalu kembali menunduk pada alat-alat.
"Pak Darto ada?" tanya Reno.
"Lagi ambil onderdil," jawab Laras. "Masalahnya apa?"
"Gigi susah masuk sejak semalam. Teman bilang bengkel ini bagus."
Laras meminta kunci, masuk ke kursi pengemudi, lalu menguji perpindahan gigi tanpa menyalakan mesin. Setelah itu ia membuka kap dan memeriksa beberapa bagian sebelum berjongkok di sisi mobil.
"Bisa ditinggal. Gue cek dulu sumbernya. Kalau memang transmisinya, nggak selesai hari ini."
Reno memandang rambut pendek Laras, seragam kerja yang penuh noda, lalu kunci pas di tangannya.
"Mekaniknya kamu?"
"Kelihatan seperti tukang bunga?"
Reno tertawa. "Jarang lihat cewek pegang mobil begini."
"Mobil nggak tanya yang pegang cewek atau cowok. Yang penting bautnya benar."
"Galak juga. Namanya siapa?"
"Nama nggak masuk nota servis."
Rayhan muncul di sisi Laras dan mengambil lembar penerimaan kendaraan. "Tulis nama pemilik, nomor telepon, sama keluhan."
Reno menerima pulpen, lalu menatap Rayhan lebih lama daripada di pom bensin. "Lo yang kemarin, ya?"
"Yang mana?"
"Anak pom bensin."
"Saya cuma isi bensin."
"Kerja di sini juga?"
"Bantu keluarga."
Rayhan berbicara sopan, tetapi ia berdiri setengah langkah di depan Laras. Gerakan itu kecil dan jelas disengaja.
Reno menulis namanya. Hanya Reno, tanpa nama keluarga. "Kalau selesai cepat, gue kasih bonus."
"Bayar sesuai nota aja," kata Laras.
"Bonusnya buat kamu."
"Nggak perlu."
Reno tidak pergi. Ia bersandar pada mobil sambil melihat Laras bekerja. Setiap beberapa menit ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban: Laras tinggal di mana, punya pacar atau tidak, biasa ikut balapan atau tidak.
Laras akhirnya berdiri dan memutar kunci pas di tangannya.
"Kalau mau mobilnya diperiksa, kasih ruang. Kalau mau cari teman ngobrol, warung di ujung gang."
"Kalau cari nomor kamu?"
"Nomor bengkel ada di nota."
Pak Darto datang membawa onderdil dan langsung mengambil alih pembicaraan teknis. Setelah pemeriksaan awal, ia memperkirakan perbaikan membutuhkan dua hari. Reno menyerahkan kunci tanpa protes, tetapi matanya masih mengikuti Laras.
Selama dua hari itu, Laras membongkar bagian yang bermasalah bersama Pak Darto. Rayhan membantu mengambil alat dan mencatat komponen, namun konsentrasinya pecah setiap kali ponsel bengkel berbunyi.
Reno menelepon tiga kali. Pertama menanyakan progres. Kedua menanyakan apakah Laras yang mengerjakan. Ketiga menawarkan makan malam kalau mobil selesai lebih cepat.
Pada telepon ketiga, Laras menyerahkan gagang telepon kepada Pak Darto.
"Bapak saja yang jawab. Kalau gue, biaya servisnya bisa nambah karena pelanggan dilempar dongkrak."
Pak Darto tertawa, tetapi setelah menutup telepon ia mengingatkan Rayhan agar tidak mencari gara-gara.
"Pelanggan begitu cuma banyak omong," katanya. "Selama Laras bisa jaga diri, kita kerja profesional."
Rayhan memandangi nomor Reno di buku servis. "Kalau dia nggak berhenti?"
"Kita yang berhentikan baik-baik. Bukan pakai tinju."
Nasihat itu terdengar sederhana bagi orang yang tidak tahu hubungan darah di antara mereka.
Dua hari kemudian, ia datang mengambil mobil bersama seorang teman. Laras menjelaskan komponen yang diganti dan biaya kerja. Reno membayar, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang tambahan dari dompetnya.
Ia menepukkannya ke meja kerja Laras.
"Buat kamu. Cewek bengkel jarang yang semenarik ini."
Laras tidak menyentuh uang itu. Ia memutar kunci pas setengah lingkaran di telapak tangan.
"Ambil lagi sebelum gue pakai buat nutup mulut lo."
Teman Reno tertawa, mengira itu gurauan. Reno justru tersenyum lebih lebar. Ia memasukkan uangnya kembali, lalu berjalan ke mobil.
"Sampai ketemu lagi, cewek bengkel."
Mesin merah itu meraung meninggalkan gang.
Rayhan berdiri di bayang-bayang rak ban, menatap profil Reno yang sekilas memiliki garis wajah serupa dengannya. Jemarinya mengepal sampai sendi-sendinya berbunyi.
Kakaknya baru dua kali datang ke hidupnya, dan sudah memilih orang yang paling tidak boleh disentuh.