NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Keesokan paginya, Maya bangun dengan tubuh lebih ringan.

Bukan karena sakitnya hilang sepenuhnya. Perutnya masih terasa sensitif, punggungnya sedikit pegal, dan kepalanya berat karena terlalu banyak emosi. Namun ada sesuatu yang berbeda di dadanya.

Ia sudah mengatakan cukup.

Kepada Bu Ratna.

Kepada Vina.

Mungkin belum kepada Dimas sepenuhnya, tapi pintu itu sudah mulai terbuka.

Raka duduk di sofa kamar, tertidur dengan kepala bersandar ke sandaran. Kemejanya kusut. Tablet masih berada di pangkuannya. Ia tampak tidak nyaman, tapi tetap tidak pergi.

Maya memandangnya lama.

Pria itu bisa tidur di kamar besar, di ranjang luas, di ruang kerja dengan sofa mahal. Tapi ia memilih duduk di sana karena Maya memintanya.

Maya turun pelan dari ranjang.

Raka langsung membuka mata.

"Mau ke mana?"

Maya membeku. "Kamar mandi."

Raka berdiri.

"Saya bisa sendiri."

"Aku tunggu di pintu."

"Mas Raka, itu berlebihan."

"Dokter bilang jangan jatuh."

"Saya tidak berencana jatuh."

"Orang jatuh biasanya tidak berencana."

Maya menatapnya beberapa detik, lalu menyerah. "Baik. Tapi jangan berdiri terlalu dekat."

Raka benar-benar berdiri di depan pintu kamar mandi seperti pengawal. Maya mencuci muka sambil menatap dirinya di cermin dan hampir tertawa. Hidupnya berubah menjadi sangat aneh.

Setelah sarapan, Raka memberikan sebuah kartu hitam kecil.

Maya menatap benda itu seolah ular.

"Apa ini?"

"Kartu."

"Saya tahu ini kartu. Untuk apa?"

"Keperluanmu."

Maya langsung mendorongnya kembali. "Tidak."

Raka tidak mengambil.

"Kenapa?"

"Saya tidak punya keperluan sebesar itu."

"Kamu belum tahu batasnya."

"Justru itu masalahnya."

Raka menyandarkan punggung di kursi. "Maya, kamu istriku. Kamu butuh akses uang."

"Saya punya uang."

"Berapa?"

Maya diam.

Tabungannya setelah semua kejadian mungkin cukup untuk bertahan beberapa bulan kalau ia hidup sangat hemat. Tapi dibandingkan dunia Raka, uang itu seperti receh di dasar tas.

"Cukup," jawabnya.

"Untuk membeli vitamin kehamilan?"

"Mas sudah membeli."

"Untuk membeli baju?"

"Mas juga sudah membeli."

"Untuk keadaan darurat?"

Maya tidak menjawab.

Raka mendorong kartu itu lagi.

"Ambil."

"Saya takut."

"Pada kartu?"

"Pada diri saya kalau mulai merasa semua ini milik saya."

Raka menatapnya lama.

"Semua ini memang juga milikmu."

Maya menggeleng. "Tidak semudah itu."

"Aku suamimu."

"Mas Raka mengatakan itu seperti jawaban untuk semua."

"Karena memang."

Maya menatap kartu itu.

"Dulu setiap rupiah yang saya pegang sudah ada tujuannya. Beras, listrik, uang sekolah Dimas, obat, transport. Kalau saya ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri, saya harus menghitung apa yang harus dikorbankan. Sekarang Mas memberi saya kartu tanpa batas jelas. Saya tidak tahu cara memegangnya tanpa merasa bersalah."

Raka diam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung memaksa.

Ia mengambil kartu itu, lalu meletakkannya di dalam amplop kecil.

"Simpan. Tidak perlu dipakai sekarang."

Maya mengangkat wajah.

"Tapi kalau suatu hari kamu butuh sesuatu dan aku tidak ada di dekatmu, kamu tidak perlu meminta izin siapa pun. Termasuk aku."

Maya menerima amplop itu perlahan.

"Terima kasih."

"Dan jangan menyembunyikannya di kotak biskuit."

Maya tersentak. "Mas Raka melihat kotak saya?"

"Aku melihat banyak hal."

"Itu tidak sopan."

"Kamu menyimpan sertifikat rumah di kotak biskuit."

"Kotak itu aman."

"Itu kotak biskuit."

"Tidak ada pencuri yang mencari sertifikat di kotak biskuit."

"Justru semua orang sekarang tahu."

Maya ingin membantah, tapi Wati yang sedang menuang teh tiba-tiba batuk menahan tawa. Maya menoleh. Wati langsung pura-pura sibuk.

Suasana membaik sebentar.

Siang harinya, penjual dari butik datang membawa beberapa pilihan pakaian hamil yang lebih santai. Maya mencoba dua, menolak lima, lalu akhirnya menerima tiga setelah Raka berkata ia akan menyumbangkan sisanya ke yayasan ibu tunggal kalau Maya tidak mau.

"Mas Raka mulai pintar memaksa dengan cara halus," kata Maya setelah orang butik pergi.

"Aku belajar."

"Dari siapa?"

"Dari istriku yang selalu menemukan alasan untuk menolak."

Maya memalingkan wajah agar ia tidak melihat senyumnya.

Sore itu, saat Raka mandi setelah rapat daring, Maya duduk di ruang keluarga membaca buku kehamilan. Ia membaca bagian perubahan hormon dan peningkatan sensitivitas emosi. Kalimat-kalimat medis itu membuatnya gelisah.

Apakah itu alasan ia semakin mudah tergerak oleh Raka?

Karena hormon?

Karena ia hamil?

Karena terlalu lama sendirian?

Atau karena pria itu memang perlahan masuk ke tempat yang dulu ia tutup rapat?

Pintu kamar terbuka.

Raka keluar dengan rambut basah, memakai celana santai dan kaus hitam. Biasanya ia selalu rapi dengan kemeja. Melihatnya seperti itu membuat Maya lupa membaca.

Raka menyadarinya.

"Apa?"

Maya cepat menunduk ke buku.

"Tidak."

Raka berjalan ke dapur mengambil air. Kaus hitam itu melekat di bahunya, memperlihatkan tubuh yang jelas dijaga dengan disiplin. Maya mencoba membaca satu kalimat yang sama tiga kali dan gagal memahami.

"Bukumu terbalik," kata Raka.

Maya panik melihat buku.

Bukunya tidak terbalik.

Raka menatapnya.

Maya sadar ia dikerjai.

"Mas Raka!"

Untuk pertama kalinya, senyum Raka terlihat jelas.

Senyum kecil, tapi cukup membuat Maya ingin melempar bantal.

"Kamu melamun."

"Saya membaca."

"Tentang apa?"

Maya melihat halaman. Sial. Bab yang terbuka berjudul perubahan gairah saat hamil.

Ia menutup buku terlalu cepat.

Raka melihat judulnya sebelum buku tertutup.

Keheningan jatuh.

Wajah Maya memerah sampai leher.

"Saya tidak sengaja membuka halaman itu."

"Aku tidak bertanya."

"Tapi wajah Mas bertanya."

"Wajahku memang sering disalahpahami."

Maya berdiri. "Saya mau ke kamar."

Raka bergerak ke depannya.

"Kenapa buru-buru?"

"Mengantuk."

"Sekarang baru jam lima."

"Saya hamil. Bisa mengantuk kapan saja."

"Benar."

Ia tidak menyingkir.

Maya menatap dadanya karena tidak berani menatap wajahnya.

"Mas Raka, minggir."

"Kalau tidak?"

Jantung Maya memukul rusuk.

"Saya panggil Mbak Wati."

"Dia sedang turun mengambil paket."

Maya mengangkat wajah. "Mas sengaja?"

"Tidak. Tapi waktunya menarik."

Ia mendekat sedikit.

Maya mundur setengah langkah, lalu punggungnya menyentuh sofa.

"Kamu takut?" tanya Raka pelan.

Maya ingin berkata iya. Tapi bukan takut seperti dulu. Bukan takut disakiti. Ini rasa takut yang membuat telapak tangannya hangat dan napasnya pendek.

"Sedikit."

"Pada aku?"

"Pada diri saya."

Mata Raka menggelap.

Ia berhenti mendekat.

Tepat saat Maya mengira ia akan pergi, Raka mengangkat tangan dan merapikan ujung jilbabnya yang longgar.

"Kalau kamu takut pada dirimu, aku akan berhenti."

Maya menatapnya.

Suara Raka rendah.

"Tapi jangan bilang semua yang kamu rasakan hanya karena takut."

Maya tidak bisa menjawab.

Ponsel Raka berbunyi.

Ia menatap layar, wajahnya kembali dingin.

"Sabrina mengadakan ulang tahun pribadi besok malam."

Maya masih berusaha menenangkan napas. "Lalu?"

"Dia mengundang kita."

"Kita baru saja bertemu dia."

"Dia tidak akan berhenti."

Maya menyentuh buku yang masih ia pegang.

"Kalau kita tidak datang, dia akan bilang saya takut."

"Kamu tidak perlu membuktikan apa pun."

"Saya tahu."

Maya menatap Raka.

"Tapi saya ingin dia tahu saya tidak bisa terus didorong mundur."

Raka menatapnya lama.

"Baik."

Maya mengangguk.

Namun malam itu, ketika Sabrina menerima konfirmasi kehadiran mereka, ia tersenyum puas.

Di tangannya ada pesan dari Dimas.

`Saya mau kerja sama. Tapi jangan sakiti ibu saya terlalu jauh.`

Sabrina tertawa pelan.

"Anak durhaka yang masih ingin terlihat berbakti," gumamnya. "Menarik."

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!