Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Hari-hari berlalu, dan ruang kerja Askar perlahan berubah menjadi tempat yang paling ia nantikan setiap pagi. Di sana tak ada makian, tak ada ketegangan, tak ada tatapan penuh pertanyaan yang membuatnya merasa bersalah. Yang ada hanyalah ketenangan — dan Rara. Setiap kali pintu ruangannya terbuka, biasanya disertai suara ketukan pelan dan wajah yang selalu tersenyum hangat, beban di pundak Askar seolah berkurang setengahnya.
Pagi itu, Rara masuk membawa secangkir kopi panas dan selembar kertas catatan. Ia meletakkannya di sudut meja, tepat di samping tangan Askar yang sedang menandatangani berkas.
"Kopi hitam tanpa gula, seperti biasa," ucap Rara lembut, suaranya terdengar menenangkan di kesunyian ruangan ber-AC itu. "Saya sudah periksa jadwal harianmu. Pukul sepuluh ada rapat singkat dengan tim pemasaran, lalu jam dua siang pertemuan dengan klien dari Jakarta. Sore ini jadwalmu kosong, tidak ada acara lain."
Askar meletakkan pulpennya, mengambil cangkir kopi itu dan menyesapnya pelan. Hangatnya merambat ke seluruh tubuh. "KaMu selalu ingat seleraku ya, Rara. Kopi tanpa gula, suhu pas, tidak terlalu panas."
Rara tersenyum, duduk di kursi di hadapannya tanpa diminta. "Tentu saja, Mas. Saya kan sekretarismu. Sudah kewajibanku mengingat hal-hal kecil seperti itu. Lagipula... dulu pun saya selalu ingat hal-hal kecil tentangmu. Kamu itu tidak suka makanan terlalu pedas, tidak suka bau rokok yang menyengat, dan kalau sedang lelah, kamu pasti memijat pelipis seperti itu."
Askar tertegun, tangannya berhenti bergerak di pelipis. Ia menatap wanita itu lekat-lekat. "kamu masih ingat semua itu?"
"Bagaimana bisa saya lupa?" Rara menunduk pelan, senyumnya masih terukir namun kini ada bayangan kesedihan tipis di sana.
"Dulu kita menghabiskan begitu banyak waktu bersama. Saya hafal kebiasaanmu lebih dari siapa pun. Dan ketika... kamu memilih menikah dengan Miska, saya sempat berpikir mungkin suatu saat nanti kamu akan berubah. Tapi ternyata tidak. Kamu tetaplah kamu. Dan melihatmu sekarang, duduk di sini seperti dulu... rasanya waktu seolah berhenti saja."
Suasana di ruangan itu berubah hening seketika. Hanya suara AC yang berhembus pelan. Askar menatap Rara, dan di matanya ia melihat sesuatu yang lama tak ia temukan — pengertian yang tulus, tanpa syarat, tanpa harus ia jelaskan panjang lebar. Di rumah, setiap kali ia pulang lelah, Miska biasanya hanya diam menatapnya, lalu bertanya kapan makan malam siap, atau sekadar menunduk tak berani menatap matanya. Tak pernah ada pertanyaan soal perasaannya, soal beban di pundaknya. Tak pernah ada.
"Rara," panggil Askar pelan, suaranya rendah. "Kamu pernah merasa... salah menentukan jalan hidup?"
Rara mengangkat wajah, menatapnya dalam. "Pernah. Sering sekali. Terutama saat melihat orang yang saya sayangi berjalan di jalan yang berbeda, dan saya tak bisa melakukan apa-apa selain melihatnya dari jauh. Tapi kemudian saya sadar — takdir itu punya cara sendiri untuk menyatukan orang-orang yang memang ditakdirkan bersama."
"Bagaimana kalau jalan yang dipilih ternyata membawa kebahagiaan yang semu?" tanya Askar, dadanya terasa sesak. "Bagaimana kalau ternyata orang yang kita pilih ternyata tak pernah benar-benar memahami kita, walau kita sudah hidup bersamanya bertahun-tahun?"
"Kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk memahamimu, Mas," jawab Rara lembut namun tegas. "Pemahaman itu bukan sesuatu yang diajarkan. Ia lahir dari kesamaan frekuensi, dari cara pandang yang sejalan, dari rasa nyaman yang muncul begitu saja tanpa perlu banyak kata. Kalau harus berjuang keras agar dimengerti... mungkin itu tanda bahwa kalian memang bukan satu frekuensi."
Kata-kata itu begitu pas, begitu tepat mengenai sasaran, hingga Askar tak bisa membantahnya. Ia teringat Miska — betapa keras ia berusaha menjelaskan, betapa sering ia menyuruhnya mengerti, namun selalu berakhir dengan kesalahpahaman. Dan di sini, dengan Rara, ia tak perlu banyak bicara. Sekilas pandang saja, Rara sudah tahu apa yang ia butuhkan.
"Kamu tahu, Rara," ucap Askar pelan, menatap cangkir kopi di tangannya. "Di rumah, rasanya seperti berjalan di atas kulit telur. Setiap kata harus dipilih hati-hati, setiap tindakan harus dipikirkan dulu. Kalau tidak, pasti akan ada masalah, pasti ada air mata, pasti ada tuduhan-tuduhan yang menyakitkan. Padahal aku pulang ke rumah itu untuk beristirahat, bukan untuk berperang."
Rara mengangguk pelan, tatapannya penuh simpati yang tulus. "Saya bisa membayangkannya, Mas. Itu pasti sangat melelahkan. Seharusnya rumah itu tempat kamu pulang dengan tenang, tempat di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa harus takut salah bicara."
"Itulah yang kurasakan saat bersamamu," kata Askar tiba-tiba, cepat dan jujur, seolah mulutnya berbicara lebih dulu sebelum otaknya sempat berpikir. "Bersamamu... aku merasa tenang. Aku merasa menjadi diriku sendiri. Tak perlu berpura-pura baik, tak perlu menjaga perasaan siapa pun yang tak bisa menjaga perasaanku."
Rara terdiam, pipinya sedikit memerah. Ia menatapnya, dan kali ini tak ada senyum tenang yang biasa ia tampilkan. Matanya memancarkan perasaan yang selama ini ia sembunyikan. "Mas... jangan berkata begitu. Kamu sudah berkeluarga. Itu tidak pantas."
"Aku tahu. Aku tahu itu salah," jawab Askar jujur, suaranya bergetar pelan. "Tapi perasaan itu bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan. Semakin lama kita bekerja bersama, semakin aku sadari — dulu aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dan sekarang, ketika kamu kembali... rasanya seperti menemukan bagian diriku yang hilang."
"Mas..." Rara menyebut namanya pelan, penuh peringatan namun nadanya lembut. "Hati-hati dengan perasaanmu. Kamu bisa terluka, dan dia juga. Mungkin Miska memang punya cara sendiri untuk menyayangimu yang tidak kamu pahami."
"Kalau menyayangi itu berarti membuatku merasa tertekan setiap hari, maka aku tak butuh cara seperti itu," potong Askar cepat. "Dan kamu... kamu tak perlu membela dia. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisiku."
"Baiklah, saya tidak akan membahasnya lagi," ucap Rara pelan, berdiri perlahan. "Tapi ingat, Mas. Saya selalu ada di sini. Sebagai teman, sebagai sekretaris, sebagai orang yang peduli padamu. Apa pun keputusanmu nanti, saya akan mendukungmu. Tapi tolong... jangan buru-buru mengambil keputusan saat hatimu sedang gelisah."
Askar menatap punggung wanita itu yang berdiri di dekat jendela. Cahaya matahari pagi menembus kaca, menyinari rambutnya yang berkilau. Di saat itu, ia merasa Rara adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Bahwa Miska di rumah hanyalah beban yang terus membebani bahunya, sementara Rara di sini adalah penenang yang ia butuhkan.
"Terima kasih, Rara," ucapnya pelan. "Sudah mendengarkan aku. Sudah tidak menghakimiku."
Rara berbalik perlahan, tersenyum tipis — senyum yang penuh pengorbanan dan pengertian.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Mas. Itu yang selalu ingin kulakukan. Mendengarkanmu. Memahamimu. Dan... berharap suatu hari nanti kamu melihat ke arahku seperti dulu."
Kalimat itu terucap begitu pelan, hampir seperti bisikan, namun terdengar jelas di telinga Askar. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin menjawab sesuatu, ingin mengatakan bahwa ia sudah melihatnya, bahwa ia sudah mulai merasakan hal yang sama. Namun pintu ruangannya tiba-tiba diketuk pelan, dan seorang staf lain masuk untuk menyampaikan sesuatu.
Rara segera menata ekspresinya kembali, menjadi sekretaris yang profesional.
"Kalau begitu, saya kembali ke meja saya dulu, Mas. Jangan lupa jadwal rapat jam sepuluh ya."
"Baik, terima kasih, Rara."
Saat Rara keluar, Askar duduk termenung lama di kursinya. Kopi di tangannya sudah mulai dingin, namun ia belum menyentuhnya lagi. Pikirannya penuh dengan wajah Rara, kata-katanya, dan perasaan hangat yang muncul setiap kali berada di dekatnya. Ia tak lagi merasa bersalah. Ia justru merasa bahwa akhirnya ada seseorang yang benar-benar memahaminya, seseorang yang bisa menjadi teman hidup yang sejati — bukan beban yang terus menuntut perhatian dan kepercayaan yang tak pernah ia berikan.
Siang itu, saat makan siang, mereka kembali pergi bersama. Bukan lagi untuk urusan pekerjaan, melainkan karena keinginan hati. Di sebuah restoran tenang yang jauh dari kantor, mereka duduk berhadapan, berbicara tentang masa lalu, tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka susun bersama, tentang hal-hal yang membuat mereka tertawa dan menangis.
"Kau tau, Askar," ucap Rara di sela tawa mereka, menggunakan nama panggilannya tanpa sebutan 'Pak' atau 'Mas' untuk pertama kalinya.
"Dulu aku selalu membayangkan kita akan makan seperti ini. Berdua, tanpa ada yang mengganggu. Tanpa ada kewajiban pada siapa pun."
Askar menatapnya, hatinya berdesir mendengar namanya yang diucapkan begitu akrab dan lembut.
"Dan sekarang? Apakah bayanganmu menjadi kenyataan?"
Rara tersenyum, matanya berbinar lembut. "Lebih baik dari bayanganku. Karena sekarang, aku tahu kamu ada di sini, di depanku. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi... asal kau juga menginginkannya."
Mata mereka bertemu, dan di meja itu, di antara aroma makanan yang lezat dan suasana yang tenang, sesuatu yang baru lahir. Bukan sekadar persahabatan, bukan sekadar kerjasama. Itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam — sesuatu yang tanpa mereka sadari, perlahan-lahan merenggangkan Askar dari rumahnya, dari istrinya, dari kenyataan yang selama ini ia bangun. Dan Miska, yang saat itu sedang menyapu lantai rumah dengan keringat di pelipisnya, tak tahu bahwa hatinya yang selama ini ia jaga setia, perlahan-lahan ditinggalkan oleh orang yang paling ia cintai.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪