NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Garis pertahanan baru

Matahari sudah mulai condong ke barat saat Arlen kembali ke puncak bukit. Dia tidak sendirian; gulungan kulit tua berisi gambar dan simbol kuno yang dipinjamkan Tuan Valian beberapa saat yang lalu kini tergantung rapi di bahunya. Penjaga berjalan di sampingnya, sesekali mengangkat kepalanya menghirup udara segar di sekitar nya, seolah-olah bisa merasakan perubahan yang sedang terjadi pada tuannya.

Sesampainya di dataran tertinggi bukit itu, Arlen berhenti. Ia menatap ke sekeliling—ke arah desa di kejauhan, ke arah jalan raya utama, hingga ke batas hutan lebat yang mengelilingi wilayah itu. Angin sore berhembus kencang, menerbangkan ujung rambut dan jubah nya yang hitam, namun matanya yang kelabu tetap tenang dan tajam, seolah sedang memetakan setiap kelemahan yang ada di hadapannya.

Arlen membentangkan lembaran kulit itu di atas batu besar yang datar. Di sana tergambar susunan garis dan titik yang terlihat rumit namun memiliki keteraturan yang indah.

"Menurut catatan ini, bukit ini memiliki lima titik aliran energi utama," gumam Arlen pelan sambil jari-jarinya meluncur di atas goresan kuno itu. "Selama ratusan tahun titik-titik itu tertutup dan mati, sehingga perlindungan alaminya lenyap. Jika aku bisa mengaktifkan kembali kelima titik itu dan  menghubungkannya dengan ruang rahasia di pusat bukit ini, maka akan terbentuk formasi pelindung tak kasat mata yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun yang membawa niat buruk."

Dia mengangkat kepalanya menatap ke arah salah satu titik yang ditandai—sebuah batu besar yang berdiri sendiri di sisi timur bukit.

"Tapi ini bukan sekadar menggambar garis," pikirnya dalam hati. "Ini adalah perjanjian dengan alam sendiri. Kekuatan tidak diberikan begitu saja; ia harus dipanggil, diarahkan, dan diikat dengan tekad yang tak tergoyahkan."

Arlen melipat kembali catatan itu, lalu berjalan perlahan menuju batu pertama. Dia berjongkok dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan batu yang kasar itu. Lalu memejamkan matanya, membiarkan kesadarannya meresap masuk ke dalam tanah, mencari aliran energi yang samar di sana.

Saat dia memusatkan seluruh kekuatan batinnya, cahaya keemasan samar mulai memancar dari sela-sela jarinya. Cahaya itu tidak menyilaukan, namun terasa hangat dan kokoh, perlahan merambat menyusuri serat-serat bebatuan menembus jauh ke dalam bumi.

Di saat yang sama, jauh di dalam kediaman Adipati Dolken, Jenderal Kaelen berdiri tegak di tengah ruangan luas yang berisi peta seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan. Di sebelahnya berdiri seorang pria tua berjubah panjang berwarna biru tua, penasihat kerajaan yang menguasai ilmu pengamatan energi.

"Ada perubahan yang terjadi," ujar pria tua itu tiba-tiba sambil menatap ke arah utara, tangannya mengusap sebuah kristal bening yang kini berdenyut pelan di tangannya. "Aliran energi di wilayah bukit itu... Dia menyusun kembali dirinya. Seolah ada dinding tak kasat mata yang sedang dibangun."

Kaelen mengerutkan keningnya.

"Apakah itu perbuatan anak itu?"

"Satu-satunya yang pasti: ada seseorang yang memahami cara kerja energi kuno yang sudah lama terlupakan itu," jawab penasihat itu sambil menurunkan tangannya. "Jika ia berhasil menyelesaikannya, kita tidak akan bisa lagi memantau atau melangkah ke wilayah itu tanpa diketahui, bahkan mungkin ditolak mentah-mentah oleh alam itu sendiri."

Kaelen terdiam sejenak, pikirannya kembali pada tatapan mata Arlen yang dalam.

"Apakah hal itu berbahaya bagi Kerajaan?"

"Belum tentu berbahaya, namun pasti membatasi kekuasaan kita," jawab penasihat itu dengan nada serius. "Penguasaan mutlak menuntut kita mengetahui segala sesuatu yang terjadi di setiap jengkal tanah ini. Jika ada tempat yang berdiri sendiri di luar kendali kita, maka itu adalah lubang pada jaring kekuasaan kita."

Kaelen mengangguk pelan.

"Kalau begitu kita harus bergerak lebih cepat sebelum dinding itu selesai terbentuk. Namun... aku tidak ingin bertindak gegabah tanpa perintah Adipati. Kita belum tahu seberapa kuat perlindungan itu nantinya."

Sementara itu, di tempat gelap yang jauh lebih rahasia, sosok pemimpin Lingkaran Kelam yang bertubuh kurus itu berdiri di depan cermin gelap yang memantulkan bayangan yang berombak. Di hadapannya berdiri seorang pengikutnya yang baru saja kembali dari pengamatan.

"Kekuatan itu sedang dikerahkan," lapor pengikut itu dengan suara rendah. "Anak itu sedang membangun perlindungan wilayah."

Pemimpin itu tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin dan mengancam.

"Percuma saja. Dinding tertinggi sekalipun akan memiliki pintu, dan pintu itu selalu bisa dibuka jika kau tahu apa yang dijadikan penguncinya. Ia menjaga tanahnya seolah tanah itu miliknya, padahal dia hanyalah penjaga yang tidak tau apa yang sebenarnya sedang di jaga nya."

Sosok itu berbalik perlahan.

"Kirimkan seseorang yang bukan makhluk bayangan, melainkan manusia biasa yang terlatih. Seseorang yang bisa menyusup tanpa memancarkan getaran kekuatan gelap. Kita harus menguji seberapa jauh jangkauan penglihatan dan perlindungan yang sedang anak itu bangun."

Ia mengangkat tangannya, dan dari bayangannya sendiri muncul sosok ramping yang bergerak senyap, seolah menyatu dengan kegelapan ruangan itu.

"Pergilah ke sana. Amati setiap gerakannya. Cari tahu titik lemah dari pagar yang sedang ia bangun itu. Dan jika ada kesempatan... ambil sedikit darah atau sisa tenaga hidupnya."

Kembali ke bukit hijau itu, hari mulai berganti menjadi malam. Arlen baru saja selesai mengaktifkan titik kedua. Dia berdiri tegak, mengusap keringat halus di keningnya. Kelelahan mulai terasa menjalar ke seluruh tubuhnya, namun hatinya terasa tenang. Ia bisa merasakan bahwa tanah itu kini sedikit lebih "berbicara" padanya, seolah alam itu sendiri menerima kehadirannya dan perlindungan yang ia tawarkan.

Namun tiba-tiba, langkahnya terhenti. Arlen menoleh tajam ke arah pinggiran hutan yang gelap. Matanya yang keemasan samar menyapu kegelapan itu.

"Kau sudah lama berdiri di sana sejak matahari terbenam," ucap Arlen dengan suara yang tenang namun terdengar jelas hingga ke kejauhan. "Mengapa tidak maju dan memperlihatkan dirimu, alih-alih bersembunyi di balik bayangan pohon?"

Hening sejenak, lalu dari balik batang pohon tua yang besar itu melangkah keluar seorang sosok yang mengenakan pakaian berwarna gelap yang menyatu dengan malam. Sosok itu bergerak sunyi dan senyap, seolah kakinya tidak menyentuh tanah. Dia mengenakan penutup wajah kain tipis, hanya memperlihatkan sepasang mata yang tajam dan waspada.

"Aku tidak menyangka perlindungan itu sudah sepekat ini," ujar sosok itu. Suaranya rendah dan datar, tidak membawa ancaman namun juga tidak bersahabat. "Bahkan napasku pun tidak luput dari perhatianmu."

Arlen berdiri diam di tempatnya, tidak mundur selangkah pun. Ia menatap sosok itu dalam-dalam.

"Kau dikirim oleh mereka yang bersembunyi di balik kegelapan," ucap Arlen bukan bertanya, melainkan menyatakan fakta. "Kau datang untuk melihat apa yang sedang kulakukan, atau untuk menghentikannya?"

Sosok itu diam sejenak, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya ke samping, menandakan ia tidak membawa senjata yang terlihat.

"Aku hanya pengamat. Namaku tidak penting. Aku hanya ingin tahu... mengapa kau melakukan ini? Membangun tembok yang memisahkan tempat ini dari dunia luar hanya akan membuatnya menjadi penjara bagi penghuninya."

Arlen tersenyum tipis, senyum yang mengandung kearifan jauh melampaui usianya.

"Tembok dibangun bukan untuk memenjarakan mereka yang ada di dalamnya, melainkan untuk menahan mereka yang berniat jahat masuk. Dunia di luar sana saat ini sedang sakit karena keserakahan dan ambisi yang tidak tahu batas. Aku tidak ingin penyakit itu menyebar ke tanah ini."

Arlen melangkah maju selangkah, matanya menatap tajam tepat ke manik mata sosok itu.

"Kau adalah manusia yang terlatih dengan baik. Aku bisa merasakan bahwa hatimu tidak sepenuhnya gelap, meskipun kau melayani mereka yang berjalan di jalan itu. Katakan pada tuanmu yang mengirimmu: usahanya sia-sia. Apa yang dilindungi oleh keseimbangan alam tidak akan pernah bisa diambil paksa oleh siapa pun."

Sosok pengamat itu tampak tertegun sejenak. Ia merasakan tekanan yang datang dari anak itu—bukan berupa kekuatan fisik atau sihir yang mengancam, melainkan ketegaran keyakinan yang membuat orang lain segan.

"Aku akan menyampaikan pesan itu," jawabnya singkat. "Namun ingatlah,... semakin kau tampak berbeda dari yang lain, semakin banyak mata yang akan tertuju padamu. Dan tidak semua mata itu bersahabat."

Sebelum Arlen sempat menjawab, sosok itu bergerak mundur secepat bayangan, lalu lenyap seketika di balik rimbunan pepohonan gelap itu.

Arlen tidak mengejarnya. Ia tahu pengamat itu hanya peringatan awal. Kehadirannya mengonfirmasi satu hal penting: Lingkaran Kelam sudah mengawasi setiap langkahnya dengan sangat dekat.

Ia menatap ke arah tempat sosok itu menghilang, lalu perlahan mengepalkan tangannya.

"Datanglah sekuat apa pun kalian," gumamnya pelan namun tegas. "Aku tidak akan membiarkan kalian menginjakkan kaki di sini, selama napas ini masih mengalir di tubuhku."

Malam semakin larut, namun Arlen tidak beranjak turun dari bukit itu. Dia duduk bersila di atas batu besar , memejamkan matanya kembali. Masih ada tiga titik perlindungan yang harus dia bangun.Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin, sebelum badai yang sesungguhnya benar-benar datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!