"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Cemburu Sang Tuan Muda
Dua minggu berlalu sejak momen manis di ruang terapi itu. Hubungan Senjani dan Jiro mengalami kemajuan yang signifikan, selaras dengan kondisi fisik Jiro yang kian membaik. Berkat latihan fungsional yang intensif dan ketelatenan Senjani, Jiro kini sudah mampu menggerakkan pergelangan kakinya secara mandiri, bahkan mampu menahan posisi berdiri selama beberapa detik di parallel bar dengan topangan tangan.
Pagi itu, Senjani harus menemani Jiro pergi ke Rumah Sakit Delima Medika, yaitu tempat kerja lama Senjani sekaligus rumah sakit pusat tempat rekam medis Jiro disimpan untuk melakukan pemeriksaan elektromiografi untuk melihat grafik pemulihan aktivitas listrik ototnya.
Senjani mendorong kursi roda Jiro menyusuri koridor rumah sakit yang ramai. Beberapa mantan rekan kerja Senjani yang dulu sempat bergunjing tentang pemecatannya tampak melirik dengan pandangan takjub sekaligus iri, melihat Senjani yang kini tampil sangat anggun mendampingi salah satu konglomerat muda paling berpengaruh di kota ini.
"Senjani? Kamu Senjani Kiran, kan?"
Sebuah suara dari seorang pria yang ramah menghentikan langkah kaki mereka di dekat area poli spesialis saraf. Senjani menoleh dan mendapati seorang pria muda tampan mengenakan jas putih dokter berdiri di sana dengan senyum lebar.
"Dokter Heru?" Senjani terkesiap pelan, matanya sedikit melebar. Heru adalah dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi junior yang dulu sering bekerja sama dengan Senjani di bangsal. Pria itu juga sempat menaruh hati pada Senjani sebelum Senjani mendadak menghilang akibat pernikahan paksa ini.
"Ya ampun, ternyata itu beneran kamu! Aku cari kamu ke mana-mana setelah kasus Bu Tari waktu itu," ucap Heru melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Jiro sejenak. Tangannya terulur secara impulsif, menggenggam bahu Senjani dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang tulus. "Kamu gapapa, kan? Kamu kerja di mana sekarang? Tolong kasih aku nomor ponselmu yang baru, Jan."
Senjani merasa tidak nyaman dengan kontak fisik yang tiba-tiba itu, terutama di depan suaminya. Dia melangkah mundur satu pijakan untuk melepaskan cengkeraman tangan Heru dari bahunya dengan halus. "Saya baik-baik aja, Dok. Terima kasih atas perhatiannya. Sekarang saya—"
Ehem!
Sebuah dehaman keras dan dingin memotong kalimat Senjani. Aura di sekitar mereka mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Jiro, yang sejak tadi diam memperhatikan interaksi itu, menatap Heru dengan sepasang netra elang yang menyipit tajam, memancarkan permusuhan yang sangat kentara.
Pria di atas kursi roda itu meraih tangan kanan Senjani dengan gerakan posesif, lalu menggenggam jemari istrinya dengan sangat erat di depan mata Heru.
"Maaf, Dokter yang terhormat," ucap Jiro. Suaranya terdengar sangat tenang, namun getaran intimidasi di dalamnya begitu pekat dan berat, sanggup membuat siapa saja merinding. "Istriku saat ini sedang sangat sibuk mengurus proses pemulihan fisikku. Jadi, dia sama sekali tidak memiliki waktu luang untuk membagikan nomor ponselnya kepada pria asing mana pun."
Heru tersentak, tatapannya beralih pada cincin pernikahan emas yang melingkar di jari manis Senjani dan Jiro. Wajah dokter muda itu seketika berubah agak canggung dan memucat di bawah tekanan tatapan membunuh dari Jiro. "Ah... Anda... Tuan Jiro Nandotomo? Maaf, saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya mantan rekan kerjanya Senjani."
"Mantan rekan kerja tetap saja bagian dari masa lalu," balas Jiro telak, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Heru untuk membela diri. Dia menoleh ke arah Senjani, menatap istrinya dengan pandangan menuntut yang tajam. "Senjani, jadwal pemeriksaan kita lima menit lagi. Ayo masuk ke dalam sekarang."
"B-Baik, Mas," jawab Senjani buru-buru. Dia memberikan anggukan hormat yang singkat kepada Heru yang masih terpaku patah hati, lalu segera mendorong kursi roda milik Jiro masuk ke dalam ruang periksa VIP.
Sepanjang proses pemeriksaan EMG berlangsung, Jiro terus bungkam. Dia menolak menatap mata Senjani dan hanya menjawab pertanyaan dokter pemeriksa dengan satu atu dua kata yang ketus. Senjani yang sudah mulai memahami tabiat suaminya hanya bisa tersenyum simpul di dalam hati. Tuan Muda Nandotomo yang angkuh ini ternyata sedang cemburu buta.
...----------------...
Sore harinya, setelah kembali ke rumah besar keluarga Nandotomo, Jiro langsung menyuruh pelayan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar pengantin. Pria itu memutar kursi rodanya menghadap jendela, memunggungi Senjani dengan gestur tubuh yang merajuk.
Senjani berjalan mendekat, meletakkan tasnya, lalu berlutut di samping kursi roda Jiro. Dia mendongak, menatap wajah samping suaminya yang masih tertekuk kaku.
"Mas Jiro masih marah tentang kejadian di rumah sakit tadi?" tanya Senjani lembut, mencoba memancing suara suaminya.
"Untuk apa aku marah?" dengus Jiro dengan nada ketus tanpa menoleh. "Itu hak pribadimu untuk menyapa penggemarmu di rumah sakit lama."
Senjani tidak bisa menahan tawa kecilnya lagi. Suara tawa renyah wanita itu justru membuat Jiro semakin kesal. Jiro memutar kursi rodanya dengan cepat, menatap Senjani dengan raut wajah frustrasi.
"Kenapa kamu malah tertawa? Kamu menganggap reaksimu yang membiarkan pria lain memegang bahumu di depan umum itu lucu?!" bentak Jiro, suaranya naik satu oktav. Cemburu yang ditahannya sejak siang akhirnya meledak juga. "Kamu itu istriku! Di atas kertas ataupun di dunia nyata, kamu adalah milik Jiro Nandotomo! Aku tidak suka melihat pria lain menatapmu seolah-olah dia memiliki hak atas dirimu!"
Senjani terdiam sejenak. Alih-alih takut dengan bentakan dari Jiro, matanya justru berbinar haru. Dia meraih kedua tangan Jiro, menggenggamnya dengan kehangatan yang menenangkan batin pria itu.
"Mas, tolong dengarkan aku dulu," ucap Senjani, suaranya bergetar penuh ketulusan yang mendalam. "Dokter Heru itu hanya masa lalu yang tidak pernah berarti apa-apa bagiku. Di dalam hidupku saat ini, hanya ada satu pria yang aku urus, yang aku pikirkan siang dan malam, dan yang paling ingin aku lihat kembali berdiri dengan gagah."
Senjani menempelkan telapak tangan Jiro tepat di atas dadanya sendiri, membiarkan suaminya merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang karena luapan emosi.
"Dengerin detak ini, Mas. Detak ini hanya berdegup sekencang ini saat aku ada di dekatmu. Hatiku, fokusku, dan seluruh dedikasiku sudah terkunci untuk suamiku, Jiro Nandotomo. Jadi, tolong jangan meragukanku lagi hanya karena kecemburuanmu."
Deg!
Kata-kata Senjani laksana siraman air es yang langsung memadamkan seluruh api amarah di dalam dada milik Jiro. Pria itu terpaku, merasakan getaran konstan di bawah telapak tangannya yang menempel di dada istrinya. Tatapan matanya yang semula tajam, perlahan meleleh menjadi begitu lembut dan penuh dengan kabut asmara yang membara.
Jiro menarik tangan Senjani dengan perlahan namun pasti, memaksa tubuh wanita itu mendekat hingga Senjani terpaksa bertumpu pada kedua lututnya di atas paha Jiro. Jiro mengulurkan tangan kirinya, menyelipkan jemarinya di tengkuk Senjani, menatap bibir manis istrinya yang selama beberapa minggu ini selalu mengusik mimpinya.
"Kamu sendiri yang mengatakannya, Senjani," bisik Jiro dengan suara bariton yang serak dan penuh gairah, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga napas hangat mereka menyatu. "Bahwa aku adalah satu-satunya priamu. Jangan pernah berani mengingkari kata-katamu, atau aku tidak akan pernah melepaskanmu seumur hidupmu."
Di bawah temaram lampu kamar yang mulai meremang seiring tenggelamnya matahari, Jiro memajukan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang lembut namun sarat akan kepemilikan yang mutlak. Momen itu menjadi penegasan bahwa sang monster kini telah sepenuhnya takluk di bawah pesona sang terapis penyembuh hatinya.