Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Menjadi Penopang Saat Kau Tak Bisa Berdiri
Hujan turun deras sejak pagi, membawa serta angin yang mendinginkan udara, namun juga membawa kabar yang tak diharapkan. Sejak bangun tidur, Argan merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya yang jauh lebih hebat dari biasanya. Kakinya terasa kaku, kesemutan, dan setiap kali ia mencoba sedikit bergerak, rasa sakit itu menjalar hingga ke pinggang dan punggung bawah. Ia berusaha menyembunyikannya, menahan desah napasnya agar tak terdengar, dan berpura-pura sibuk menata berkas di meja samping tempat tidur.
Namun Aruna selalu melihat hal-hal kecil yang tak disadari orang lain. Cara Argan menahan napas saat menggerakkan tubuh, keringat dingin di pelipisnya padahal udara cukup sejuk, hingga rahangnya yang sesekali mengeras menahan rasa sakit—semuanya tak luput dari perhatiannya.
Ia masuk membawa segelas air hangat dan obat pereda nyeri yang diatur dokter, lalu meletakkannya perlahan di meja. “Anda kesakitan, bukan?”
Argan menoleh, berusaha tersenyum tenang. “Hanya sedikit pegal. Tidak apa-apa. Nanti juga hilang sendiri.”
“Tidak apa-apa untuk mengakuinya,” kata Aruna lembut namun tegas, lalu duduk di tepi tempat tidur di sampingnya. “Anda tidak harus selalu kuat di depan saya, Argan. Bolehkah saya membantu Anda?”
Argan menatapnya lama. Di hadapan orang lain, ia harus tampak tegar, tak tergoyahkan, seolah tak ada apa pun yang mampu melumpuhkannya. Namun di hadapan gadis ini, dinding pertahanannya perlahan runtuh dengan sendirinya. Ia mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya tanpa rasa malu, ia mengakui kelemahannya.
“Rasanya berat sekali, Aruna. Seolah ada batu besar menindih kaki dan punggungku. Kadang... kadang aku lelah harus selalu berjuang seperti ini.”
Aruna tersenyum penuh pengertian, lalu dengan lembut membantu Argan berbaring kembali dengan posisi yang lebih nyaman, menaruh bantal penyangga di bawah kakinya agar posisinya lebih tinggi dan aliran darah lebih lancar. “Tidak apa-apa untuk merasa lelah. Bahkan pelari tercepat pun butuh berhenti dan menarik napas. Anda tidak harus terus berjalan setiap detik.”
Ia mengambil handuk kecil yang sudah direndam air hangat, lalu memerasnya perlahan. Dengan sangat hati-hati, meletakkan handuk hangat itu di bagian paha dan betis Argan, sambil mengusapnya lembut dengan gerakan memutar agar rasa kaku perlahan berkurang.
“Biar saya yang menjadi penopang Anda hari ini,” bisiknya pelan di tengah keheningan ruangan. “Saat Anda tak bisa berdiri, saya akan berdiri cukup kuat untuk kita berdua. Sampai Anda siap kembali tegak.”
Argan menutup matanya, merasakan kehangatan yang menjalar bukan hanya dari handuk itu, melainkan dari sentuhan tangan Aruna yang penuh kasih sayang tanpa pamrih. Selama ini ia berpikir menjadi pria berarti harus selalu melindungi dan mengayomi. Namun hari ini ia belajar sesuatu yang baru: sesekali dibela dan dirawat oleh orang yang dicintai bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hubungan mereka seimbang—ada saat memberi, dan ada saat menerima.
“Kau tidak pernah lelah?” tanyanya pelan dengan mata masih terpejam. “Menghadapi semua ini bersamaku? Menjadi penopang saat aku belum mampu berdiri sendiri?”
Aruna berhenti sejenak, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lembut. “Saya tidak lelah. Karena saya tahu, jika keadaan terbalik... Anda akan melakukan hal yang sama untuk saya. Bahkan lebih dari itu.”
Kalimat itu membuat hati Argan terasa penuh hingga sesak. Ia membuka matanya, menatap wajah gadis yang begitu tulus di hadapannya. “Kau benar, Aruna. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Bahkan jika harus merangkak sekalipun, aku tak akan membiarkanmu terluka.”
Sore harinya, meski rasa sakit belum hilang sepenuhnya, Argan merasa jauh lebih baik—bukan hanya secara fisik, tapi juga di hatinya. Ia tetap pergi ke kantor karena ada urusan yang tak bisa ditunda, namun kali ini ia tak memaksakan diri. Ia berangkat lebih siang, pulang lebih awal, dan Aruna selalu ada di sampingnya untuk mengingatkan kapan harus berhenti dan beristirahat.
Di perjalanan pulang, saat hujan masih turun rintik-rintik membasahi kaca jendela mobil, Argan menggenggam tangan Aruna erat di pangkuannya.
“Terima kasih untuk hari ini,” ucapnya lembut. “Terima kasih tidak melihatku sebagai orang yang lemah, tapi sebagai orang yang kadang butuh bantuan agar bisa kembali kuat.”
“Kita saling menopang, Argan,” jawab Aruna sambil tersenyum lembut. “Itulah arti kebersamaan. Bukan berarti tidak pernah jatuh atau sakit, tapi selalu ada tangan yang siap menolong saat itu terjadi.”
Malam itu, sebelum tidur, Argan berjanji dalam hatinya: ia akan berusaha sekuat tenaga untuk pulih, bukan hanya untuk membuktikan pada dunia, tapi juga untuk menjadi penopang bagi Aruna sebagaimana gadis itu selalu menjadi penopang baginya. Karena cinta yang sesungguhnya bukanlah tentang mencari seseorang yang sempurna, melainkan tentang menemukan seseorang yang rela berbagi beban, dan berdiri cukup kuat untuk menopang—saat pasangannya tak mampu berdiri sendiri.
Lanjut ke Bab 18?