NovelToon NovelToon
The Thirteen Fault

The Thirteen Fault

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona

Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Who's Ruinning The School's Reputation?

"Keluarga lo... ternyata sopan banget, ya?"

"Udah ah. Gak usah bahas keluargaku," Billby melambaikan tangannya memberikan isyarat bahwa ia tidak suka membicarakan privasi keluarganya.

"Lo sebenarnya anak kepala sekolah?" tanya Vahan lagi, masih penasaran.

Billby terdiam sejenak. "Bukan."

"Terus kenapa lo gak pernah dihukum?"

"Karena aku imut. Gak ada orang yang tega ngehukum anak seimut begini," jawab Billby random dengan percaya diri.

Vahan terkekeh ringan. "Lo ternyata narsis juga, ya."

"Ini kenyataan tahu! Ibaratnya nih... ada kue yang bentuknya imut banget. Imut yang bener-bener menggemaskan kayak aku gini. Pasti orang-orang gak bakal tega buat memakannya, kan? Jadi kurang lebih gitulah... karena aku terlalu imut, para guru di sekolah ini gak ada yang tega mau ngehukum aku," jelas Billby panjang lebar seraya memberikan perumpamaan yang terdengar masuk akal tapi gila secara bersamaan.

Vahan terkekeh lagi sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Lo emang gak bener."

Hingga akhirnya bel berbunyi dan waktu pelajaran pun tiba. Jam pertama dimulai dengan mata pelajaran matematika.

Vahan mendesah berat. "Haaah... pagi-pagi udah disuguhin matematika aja."

Billby yang baru saja mau membuka halaman novelnya menoleh ke arah cowok di sampingnya. "Ternyata... kamu bisa ngerasain keberatan juga, ya? Aku pikir cowok pintar kayak kamu gak pernah protes soal pelajaran sekolah."

Vahan memang murid yang pintar. Bukan hanya sekadar pintar, tapi dia adalah murid paling jenius di angkatannya—mungkin semua itu berkat tekanan besar dari orang tuanya.

"Lo pikir otak gue ini mesin otomatis? Sepintar apa pun itu, semuanya tetap harus dipahami lewat proses belajar. Jelas gue bisa merasa keberatan lah," balas Vahan dengan nada tidak suka karena dianggap robot.

Billby tersenyum penuh arti. "Tenang aja... nanti kalau ada latihan soal, aku bisa bantu kamu."

Vahan hampir saja tertawa terbahak-bahak kalau tidak ingat di depan kelas sudah ada guru yang mengawasi. "Lo mau bantu gue? Gue sih lebih milih gak makan satu tahun daripada harus dibantu sama lo."

"Ya udah gak apa-apa... aku kan cuma nawarin, gak memaksa juga," balas Billby santai lalu mulai fokus membaca novel dewasa yang ada di atas mejanya.

Beberapa waktu berlalu di tengah keheningan kelas yang mencekam.

"Haahh..." Desahan lirih itu terdengar lagi dari arah Vahan. Kali ini dengan nada yang jauh lebih frustrasi.

Billby menoleh sekilas. "Ternyata beneran ada soal latihan," gumamnya menatap Vahan yang sedang memutar-mutar bolpoin sambil memandangi buku di depannya dengan pandangan lelah.

"Diem aja lo. Sana tidur," balas Vahan ketus.

Saat Billby menoleh ke sekeliling kelas, keadaan teman-temannya yang lain pun ternyata sama saja. Semuanya terlihat frustrasi. Ada yang menggelengkan kepalanya seperti sedang berusaha me-refresh otak yang mulai berasap. Ada yang memukul-mukul kepalanya sendiri menggunakan pena. Ada juga yang menatap papan tulis dengan tatapan kosong, berharap mukjizat jawaban muncul dari sana.

Ia kembali menatap Vahan yang masih mentok di bukunya. "Mau dibantuin gak?" tawarnya lagi, mengabaikan fakta bahwa Vahan baru saja merendahkan kemampuannya tadi.

Vahan menatap Billby dengan pandangan seolah sudah kehilangan selera hidup. "Lo gak usah ngerusak mood gue, ya. Lo gak bakal ngerti rasanya pagi-pagi disuruh ngerjain soal trigonometri kayak gini."

Tanpa izin, Billby langsung menarik buku tulis Vahan yang sudah dipenuhi coretan rumus beserta jawaban. Ia mengoreksi setiap jawaban dari nomor satu sampai nomor delapan belas dengan kecepatan yang luar biasa singkat.

Lalu saat matanya menangkap sesuatu yang dirasa kurang pas, ia menarik buku tersebut lebih dekat untuk mengamatinya lagi. Keningnya seketika mengernyit.

"Kamu salah di sini. Harusny ini 6cos, bukan 3cos. Kamu keliru di aturan rantai karena lupa mengalikan koefisien depannya," ujar Billby seraya menunjuk angka di soal yang dimaksud.

Vahan langsung merampas kembali bukunya dengan panik dan meneliti ulang bagian soal yang ditunjuk Billby tadi. Dan ya... ternyata hitungan Billby benar seratus persen.

Vahan seketika lemas di kursinya. Ini adalah kesalahan kecil yang sebenarnya sering dilakukan banyak orang akibat kurang fokus atau terburu-buru. Tapi seorang Vahan sangat jarang melakukan keteledoran seperti ini. Mungkin kali ini karena fisiknya sudah terlalu lelah akibat kurang tidur semalam.

"Lo bener..." ujarnya lirih sambil memaki diri sendiri di dalam hati. Bisa-bisanya ia terciduk melakukan kesalahan dasar oleh si Sleeping Queen. Astaga... malunya terasa menembus Tembok Besar China.

Billby hanya mengangguk santai tanpa berniat mengejek, lalu kembali membuka novelnya. Sedangkan Vahan malah terus menatap gadis di sebelahnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Merasa terus diperhatikan, Billby berseloroh tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, "Dijaga matanya, ya... kemasukan cinta baru tau rasa lo."

Vahan refleks menegakkan tubuhnya, salah tingkah. "Lo... diem-diem pinter, ya? Atau jangan-jangan cuma kebetulan doang?" pujinya yang diakhiri dengan nada keraguan. Lagian selama ini yang ia lihat Billby hanya tidur dan makan. Sekalipun ia tidak pernah melihat gadis itu menyentuh buku pelajaran. Tapi kenapa tiba-tiba otaknya bisa secemerlang itu? Bisa jadi cuma kebetulan, kan?

Billby masih tetap fokus pada novelnya, namun ia tetap membalas enteng, "Mungkin memang cuman kebetulan."

Namun, yang Vahan rasakan setelah mendengar jawaban Billby justru bukannya puas, melainkan makin dirundung rasa penasaran. Ia menyodorkan kembali buku tulisnya ke hadapan Billby. "Kalau emang lo pinter, coba kerjain satu soal ini. Masih ada dua soal sisa yang belum gue selesaikan."

Kali ini Billby benar-benar menoleh. "Emangnya tadi aku ada bilang kalau aku pinter, ya?"

"Terus yang tadi cuma kebetulan gitu?"

Billby terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Tadi kan kamu sendiri yang bilang gitu. Udah ah... aku lagi seru baca nih."

Vahan dengan jahil merampas novel Billby. "Kerjain dulu satu soal. Tunjukin ke gue kalau lo emang bisa."

"Aku gak bisa," tolak Billby ketat.

"Bohong. Gue yakin yang tadi itu bukan cuma sekadar kebetulan."

"Kamu lagi mabuk, ya? Kok ngomongnya ngalor-ngidul sih. Dalam satu waktu ucapan kamu bisa berubah-ubah terus, kamu itu manusia apa bunglon?" ejek Billby jengkel.

"Terserah. Cepetan kerjain." Vahan tetap ngotot.

"Balikin gak novelnya? Aku bilangin ke guru nih kalau kamu ngajak ngobrol aku terus dari tadi. Biar kamu langsung diskors seminggu," ancam Billby tepat sasaran.

Mendengar ancaman itu, akhirnya Vahan mengembalikan novel tersebut dengan wajah malas. "Dasar tukang ngadu." Ia menarik kembali buku tulisnya lalu lanjut mengerjakan dua soal yang tersisa dengan sisa-sisa fokusnya.

"Mau gak?" Tiba-tiba saja Billby menyodorkan sesuatu dari kolong mejanya. Tenang saja... kali ini bukan permen lolipop, melainkan sebutir permen Kopiko. "Ini bisa bantu naikin fokus loh," tambahnya sambil mengulas senyuman.

Manis sekali.

Vahan menggeleng cepat. "Gak. Lagi jam pelajaran."

Billby mengangguk, tidak berniat memaksa. "Ya udah. Padahal kalau kamu mau, makan aja... gak bakal dimarahin sama guru kok. Soalnya aku yang ngasih."

"Kenapa emang kalau lo yang ngasih? Emang lo kebal hukum?"

"Tadi kamu udah nanya itu. Jawabannya tetap sama, karena aku imut," balas Billby santai seraya membuka bungkus permen lalu mengulumnya sendiri.

"Jawaban lain yang lebih masuk akal."

Billby mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, berpura-pura memikirkan jawaban yang bagus untuk Vahan. "Karena... karena sebenarnya aku ini guru mereka," jawabnya makin tidak masuk akal.

"Gak mungkin."

"Emang gak mungkin sih. Waktu aku lahir aja... mereka pasti udah pada lulus SMA atau mungkin malah udah lulus kuliah."

Vahan mendengus. "Emang lo-nya aja yang sinting."

***

Kantin Sekolah

"Lo tadi ngomongin apa aja sama si Billby? Asik banget kayaknya gue liat-liat dari depan," ujar Mex membuka obrolan.

"Lo ngobrol lagi sama dia? Gue pribadi gak ada respect-respect-nya sama tuh cewek. Nggak usah deket-deket deh sama orang kayak dia. Lama-lama gue labrak juga itu cewek," komentar Afghan berapi-api.

"Tapi lo berdua kelihatan makin deket," lanjut Mex menilai.

Vahan menghela napas gusar. "Kalian berdua gak pada laper apa? Ngomong mulu dari tadi. Dan tolong tempelin ini baik-baik di otak lo pada ya! Gue. Gak. Deket. Sama. Dia. Soal pizza yang katanya beracun itu kejadiannya udah tiga hari lalu. Dan itu adalah pertama kalinya gue interaksi sama dia secara langsung. Jadi gak usah ngadi-ngadi bilang gue deket."

"Bagus deh. Pokoknya lo gak boleh ada hubungan sama dia. Kalau mau pacaran, nanti aja pas udah kuliah sama kakak tingkat," tutur Afghan yang seleranya memang menyukai perempuan yang berusia lebih tua.

Tak!

Mex tanpa ragu menjitak keras kepala Afghan. "Lo tuh orang paling bego di antara kita bertiga, jadi gak usah sok-sokan bahas pacaran. Pikirin aja dulu nilai lo sekarang, apa nanti bisa lolos masuk ke Universitas Paradise apa gak," ujar Mex menyuarakan kenyataan pahit. Vahan dan Mex berada di kelas unggulan 3A, sedangkan Afghan sendiri terdampar di kelas 3C.

"Apaan sih lo! Gue kan bilang buat dia... bukan buat gue!" seru Afghan sambil mengusap-usap jidatnya yang memerah dengan wajah kesal.

"Gue gak ada niat buat pacaran, ya. Lo berdua aja yang otaknya mikir kejauhan. Lagian di SMA ini kan aturannya ketat banget gak boleh pacaran. Lo pikir gue bakal ngancurin reputasi gue dengan bikin skandal sebelum lulus?" Vahan menatap kedua temannya dengan pandangan malas.

"Ya... pokoknya lo gak boleh pacaran sama dia. Titik!" putus Afghan tegas, seolah dia orang tuanya Vahan. "Si tukang tidur itu tuh udah merusak citra baik sekolah kita tahu," lanjutnya ketus.

"Memangnya kelakuan merokok di area parkiran sekolah gak termasuk merusak citra sekolah, ya?"

Ketiganya seketika membeku. Mereka serempak menoleh ke arah sumber suara asing di belakang mereka.

Itu Billby.

1
pineapple
Kaka aku kasi bunga, semangat yaa
chill: makasih banget yang mampir dan ninggalin jejak.. love youu🩷🩷🩷🐾🐾😭😭
total 1 replies
@Biru791
gemesss
@Biru791
pliss deh up yg banyak gemesa deh
chill: kamu setia banget.. makasih ya😍 love you..
total 1 replies
Dini
sama sama
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.

good story
@Biru791
dobel up dong tur
chill: okeh deh.. besok ya.. makasih banget sudah ngikutin terus
total 1 replies
@Biru791
thour ayoo upp di tunggu
chill: aku up setiap hari jam 15📝⌛
total 1 replies
@Biru791
semangatt upp
chill: makasih 😍😍 seneng banget ada yang komen🩷🩷
total 1 replies
chill
tinggalin jejak dong 😍
chill
jangan lupa di like ya..🙏
chill
komentar ya say.. buat motivasi penulis baru💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!