Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Kata-kata Manis
Xavier tidak membahas kalimat `teman sekampus` di depan Angela hari itu.
Itu justru membuat Keira waspada.
Xavier Sia bukan tipe yang melupakan hal kecil. Ia mengingat Keira tidak bisa makan pedas. Ia mengingat daun bawang harus dipisah. Ia mengingat jam obat, posisi duduk yang tidak kena angin, bahkan cara Keira menggigit bibir saat berbohong.
Jadi ketika ia tidak berkomentar sama sekali tentang Keira yang gugup menyebutnya teman sekampus di depan Angela, Keira tahu satu hal.
Hukuman sedang menunggu waktu.
Benar saja, malam itu, setelah Angela pergi dan suasana apartemen kembali tenang, Xavier mengetuk pintu Keira sambil membawa semangkuk bubur kacang hijau hangat.
"Makanan penutup," katanya.
Keira membuka pintu lebih lebar. "Kamu sekarang kurir makanan tetap?"
"Pacar."
"Iya, pacar yang punya hobi memberi makan."
Xavier masuk, meletakkan mangkuk di meja, lalu duduk di sofa seperti sudah hafal tempatnya. Mochi tidak ikut malam itu, tetapi bulu hitamnya tetap menempel sedikit di lengan kaus Xavier. Keira mengambil tisu dan menyingkirkan bulu itu tanpa berpikir.
Gerakannya berhenti di tengah.
Xavier menatap jarinya.
Keira menarik tangan. "Ada bulu Mochi."
"Aku belum tanya."
"Wajah kamu sudah tanya."
Ia duduk di sisi lain sofa dan mengambil mangkuk. Bubur kacang hijaunya hangat, tidak terlalu manis, dengan santan tipis. Xavier jelas sengaja membuatnya ramah untuk lambung.
Keira makan dua suap sebelum menyadari Xavier diam saja memandangnya.
"Kenapa?"
"Teman sekampus?"
Sendok Keira berhenti.
Nah.
Hukuman tiba.
Ia pura-pura tidak paham. "Apa?"
"Tadi pagi. Di depan Mama kamu."
"Aku panik."
"Kamu punya banyak pilihan kata. Tetangga. Pacar. Orang yang memasak untuk kamu. Orang yang kamu tembak duluan."
"Xav!"
"Tapi kamu pilih teman sekampus."
Keira menutup wajah dengan satu tangan, sendok masih di tangan lain. "Aku sudah gugup setengah mati. Mama muncul saat aku keluar dari apartemen kamu dengan piyama dan mangkuk. Otak aku tidak punya waktu memilih kata romantis."
"Aku mengerti."
Nada Xavier terlalu tenang.
Keira menurunkan tangan pelan. "Kamu mengerti?"
"Iya."
"Berarti selesai?"
"Tidak."
Tentu saja.
Xavier menyandarkan punggung ke sofa, lengan terlipat santai, wajahnya datar tetapi matanya jelas sedang menikmati.
"Aku minta kompensasi."
"Kompensasi apa?"
"Kata-kata manis."
Keira hampir tersedak bubur. "Apa?"
"Kamu memperkenalkan aku sebagai teman sekampus. Jadi sekarang kamu harus memperbaiki kerusakan reputasi."
"Reputasi kamu baik-baik saja."
"Sebagai pacar, terluka."
Keira menatapnya tidak percaya. "Kamu sedang akting?"
"Sedikit."
"Jelek."
"Tetap sakit."
Keira menaruh mangkuk di meja. "Xavier Sia, kamu benar-benar..."
"Xav."
"Jangan koreksi aku saat kamu sedang menyebalkan."
"Justru harus."
Keira mengambil bantal dan memeluknya sebagai pelindung. "Aku tidak bisa kata-kata manis."
"Kamu bisa."
"Tidak bisa."
"Kamu waktu menembak aku bisa."
"Itu karena aku hampir pingsan. Kondisi tidak sadar tidak dihitung."
"Aku hitung."
Keira mengerang pelan. "Kenapa kamu mau mendengar hal begitu? Kamu sudah tahu."
Wajah Xavier berubah sedikit. Godaan di matanya mereda, digantikan sesuatu yang lebih lembut.
"Karena tahu dan mendengar itu berbeda."
Keira terdiam.
Kalimat itu sederhana. Tetapi ia langsung memahami maksudnya. Selama ini Xavier lebih sering menunjukkan daripada meminta. Ia memasak, menjemput, menunggu, mengingat. Mungkin sesekali, ia juga ingin mendengar bahwa Keira memilihnya bukan karena terbawa sakit, sistem, atau rasa terima kasih.
Ia ingin mendengar Keira mengatakannya saat sadar penuh.
Keira menunduk ke bantal.
"Harus sekarang?"
"Iya."
"Satu kalimat?"
"Tergantung kualitas."
"Kamu dosen?"
"Korban teman sekampus."
Keira menendang kakinya pelan. Xavier tidak menghindar.
Ia menarik napas panjang. Wajahnya sudah panas bahkan sebelum bicara. Di luar jendela, lampu kota Bandung menyala samar. Apartemennya tidak terlalu besar, tetapi malam itu terasa seperti seluruh dunia menyusut menjadi sofa, mangkuk bubur, dan tatapan Xavier yang menunggu.
"Aku..." Keira berhenti.
Xavier tidak membantu.
Menyebalkan.
Ia memejamkan mata sebentar, lalu memaksa dirinya membuka lagi. Kalau ia bicara sambil menutup mata, itu terasa seperti curang.
"Aku suka kamu."
Suara Keira kecil.
Tetapi jelas.
Xavier tidak langsung bereaksi. Hanya matanya yang melembut.
"Lagi."
Keira menatapnya. "Apa?"
"Aku bilang tergantung kualitas. Itu terlalu pendek."
"Kamu benar-benar pemeras."
"Aku pacar."
"Pacar pemeras."
"Lagi, Kei."
Panggilan itu membuat pertahanannya melemah.
Keira memeluk bantal lebih erat. "Aku suka kamu karena kamu menyebalkan tapi selalu ada. Karena kamu ingat hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri kadang malas perhatikan. Karena di dekat kamu, aku tidak perlu pura-pura kuat terus."
Xavier diam.
Keira tidak tahu kenapa ia justru lanjut. Mungkin karena setelah satu kalimat keluar, kalimat lain mengikuti seperti benang yang sudah ditarik.
"Aku suka cara kamu masak, walau kamu terlalu sering mengatur aku makan. Aku suka kamu bawa teh tanpa tanya. Aku suka kamu menunggu jawaban aku tanpa membuat aku merasa ditinggalkan. Aku suka... dipanggil Kei oleh kamu."
Kalimat terakhir membuat suaranya nyaris habis.
Wajah Xavier tidak lagi menggoda.
Ia menatap Keira seperti setiap kata disimpan satu per satu.
"Cukup?" tanya Keira, malu sampai ingin menghilang.
Xavier menggeleng pelan.
"Belum?"
"Aku cuma tidak tahu harus jawab apa."
Keira berkedip. "Kamu yang minta."
"Iya."
"Terus sekarang kamu bingung?"
"Iya."
Untuk pertama kalinya malam itu, Keira merasa menang.
Ia tertawa kecil. "Lihat? Kata-kata manis itu berbahaya."
Xavier menatapnya, lalu mengulurkan tangan. Ia tidak menarik Keira mendekat. Hanya membuka telapak tangan di atas sofa.
Keira menatap tangan itu beberapa detik, lalu meletakkan tangannya di sana.
Xavier menggenggamnya.
"Aku juga," katanya.
"Kamu juga apa?"
"Semua yang kamu bilang. Aku juga."
Keira menyipit. "Itu curang. Kamu tidak boleh membalas esai dengan ringkasan."
"Aku bisa buat versi panjang."
"Coba."
Xavier menatap tangan mereka.
"Aku suka kamu karena kamu masuk hidupku dengan cara paling kacau. Salah masuk apartemen, menculik kucingku, menuduhku aneh, lalu membuat semua tempat yang dulu sunyi jadi berisik."
Keira menahan napas.
"Aku suka kamu karena kamu takut tapi tetap mencoba. Karena kamu bisa membuat aku melakukan hal bodoh seperti kirim bunga ke studio DKV dan tanya warna baju malam-malam. Karena kalau kamu tidak ada, apartemen seberang terasa terlalu sepi."
Keira tidak lagi tersenyum.
Matanya panas.
Xavier mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, sangat pelan.
"Dan aku suka dipanggil Xav oleh kamu."
Keira menunduk cepat. "Oke. Cukup. Kita seri."
"Belum."
"Xav."
"Mulai sekarang," katanya, "kalau kamu menyebut aku teman sekampus lagi, kompensasinya dua kali lipat."
Keira mengambil bantal dan memukul bahunya.
Xavier tertawa.
Tawa itu rendah, hangat, memenuhi ruang kecil Keira sampai ia lupa bahwa beberapa jam sebelumnya ia takut Angela akan marah, takut Xavier akan tersinggung, takut semuanya terlalu rumit.
Malam itu, kata-kata manis tidak menyelesaikan semua masalah.
Tetapi untuk sementara, kata-kata itu membuat Keira percaya bahwa perasaan yang diucapkan dengan benar bisa menjadi tempat pulang.