NovelToon NovelToon
Istriku Dan Rahasia Kelahirannya

Istriku Dan Rahasia Kelahirannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Kutukan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.

Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!

"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Puk!

Sebuah tepukan ringan mendarat di punggungnya.

Arien tersentak hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan, tubuhnya menegang kaku seolah disambar petir.

Ia menoleh dengan jantung yang nyaris meledak.

“Ari neng nuju naon di dieu? Aa milari ka tempat korsel, teu aya!”

(Lagi apa kamu di sini? Ayah cari sampai ke bianglala, tidak ketemu!)

Rasa lega yang luar biasa melanda dadanya. Yang menepuknya adalah Alan. Melihat ayahnya, Arumie langsung merentangkan tangan minta digendong.

“Neng ge milarian Aba! Ari Aba tas timana atuh?!”

(Aku juga cari Ayah! Terus Ayah habis dari mana saja?!) suaranya terdengar bergetar karena tak sabar.

Alan menerima Arumie dari pelukan istrinya sambil tersenyum lembut, tak sadar badai apa yang sedang bergemuruh di hati Arien.

“Aa ka cai heula, sakedap uih deui nyampak tos teu araya! Ditelepon ti tadi teu diangkat!”

(Ayah ke toilet sebentar, pas baliknya kamu sudah tidak ada! Telepon dari tadi tidak diangkat!)

“Calik atuh Neng mah di dieu, jajan heula! Arumie ku Aa wé dikurilingkeun na!”

(Duduk dulu saja di sini, jajan dulu! Arumie sama Ayah saja keliling-kelilingnya!)

Alan berjalan membawa Arumie menuju barisan wahana lain, meninggalkan Arien sendirian di pinggir lapangan.

Begitu suami dan anaknya hilang di keramaian, ekspresi wajah Arien berubah drastis. Kelembutan digantikan ketegangan yang tajam. Ia menyadari—ia tidak bisa sembarangan mencari Rael. Mata-mata Valians bisa ada di mana saja. Jika Arien bisa merasakan keberadaan aura Rael, maka mereka juga bisa melakukan nya.

Arien tersenyum getir. Ia melakukan hal yang terdengar konyol namun terbukti paling ampuh: berbaur dalam keramaian. Ia duduk di sebuah kedai bakso yang penuh sesak, di tengah tawa dan aroma kuah panas, di antara orang-orang yang tak tahu siapa dirinya. Kerumunan ini adalah perisai terbaik. Selama ini ia bertahan hidup di dunia manusia biasa dengan cara ini—menjadi bagian dari kebisingan, hingga keberadaannya menjadi samar, tak terdeteksi oleh para pengejarnya.

Ia memejamkan mata. Tarikan napasnya dalam, berusaha menenangkan badai emosi yang mengamuk di dadanya.

'Kenapa kamu ada di sini, Kak Rael… Apakah sesuatu telah terjadi pada saudara-saudara yang lain?'

Perlahan, cahaya keemasan yang sangat tipis mulai memancar dari tubuhnya, tersembunyi di balik pakaian. Kesadarannya melesat keluar, menembus dinding, menembus jarak, menyapu seluruh penjuru Kota Bandung.

Ia memusatkan penglihatan batinnya, mencari secercah cahaya yang ia kenal lebih dari apa pun.

'Tidak ada… Di sisi lain kota pun tidak ada!' Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

'Namun aku masih bisa merasakannya! Sedetik lagi… di mana kamu, Kak?'

Ia menambah fokusnya pada satu titik samar yang terlihat dari kejauhan—seutas benang cahaya yang berpendar. Tiba-tiba—

Ptaaaassssss!!!

Cahaya itu meledak lalu lenyap seketika.

Arien tersentak ke depan, tubuhnya hampir jatuh menabrak meja. Matanya terbuka lebar, napasnya terengah-engah.

Kosong.

Bersih.

Seolah-olah sosok itu ditelan bumi dalam sekejap.

Arien gemetar hebat. Ia mencoba lagi, menyisir setiap sudut, menyusuri setiap aliran energi di udara. Berkali-kali. Namun nihil. Jejak itu hilang total.

'Hilang…!' suaranya bergetar parah, hampir tak terdengar di tengah riuh pembeli bakso.

'Kenapa aura Kak Rael lenyap begitu saja?! Apakah dia pergi…?!'

Kepanikan mulai merayap, dingin dan mencengkeram. Jika Rael bisa datang tanpa peringatan dan pergi tanpa jejak, berarti sesuatu yang sangat besar sedang terjadi. Dan badai itu mungkin sudah berada tepat di hadapannya.

Secara perlahan, ia sadar. Orang-orang di sekitarnya mulai melirik, memperhatikan tingkahnya yang aneh.

'Ah… aku lupa berada di mana!' gumamnya dalam hati.

Arien segera menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia menata kembali ekspresi wajahnya, berusaha tampil tenang seolah tidak terjadi apa-apa, lalu memanggil penjual bakso yang sedang sibuk melayani pembeli.

“Ibu… abi hiji ngadamel baso, mie na di yamin!”

(Ibu… saya pesan satu porsi bakso, mienya di yamin!)

Sambil menunggu pesanan datang, Arien mengeluarkan ponselnya. Ia berpura-pura sibuk menatap layar, berharap perhatian orang-orang di sekitarnya akan segera beralih. Dan benar saja—perlahan-lahan tatapan mereka kembali pada urusan masing-masing.

Arien menghela napas pelan.

'Ekspresi wajahku mengundang perhatian ya…' gumamnya lirih.

Belum sempat pikirannya melangkah lebih jauh, suara akrab terdengar dari arah belakang.

“Neng… nuju pesen baso?”

(Ayang sedang pesan bakso?)

Arien menoleh. Alan berdiri di sana, senyum tipis terukir di bibirnya. Di pundak kanannya, Arumie—putri kecil mereka—tertidur pulas, kepala miring ke samping dengan napas yang teratur.

Melihat anaknya sudah terlelap dalam gendongan suaminya, refleks Arien berdiri. Rasa kasihan langsung menyelimuti hatinya.

“Gening bobo ba! Ti iraha dede bobo na? Langsung uih we hayu karunya…”

(Ih kok tidur, Yah! Sejak kapan Arumie tertidur? Langsung pulang saja, Yu, kasihan…)

Arien mengusap punggung Arumie pelan, lalu berjalan menuju kasir.

“Ibu… di bungkus we pesenan abi mah!”

(Ibu… pesanan saya dibungkus saja, ya!)

Sementara Arien membayar, Alan berjalan keluar sambil tetap menggendong Arumie, berniat memesan kendaraan panggilan daring agar mereka bisa segera pulang. Setelah urusan pembayaran selesai, Arien menyusul ke luar, berdiri di samping suaminya di tepi jalan.

“Ba… tos pesan taksi online na?”

(Ayah… sudah pesan kendaraannya?)

“Nya ieu atos… Kantun ngantosan!”

(Sudah ini… tinggal menunggu!)

Mereka berdiri berdekatan. Arien menatap kosong ke kejauhan, ke arah keramaian festival yang masih tampak ramai. Pikirannya melayang jauh.

Ia merasakannya tadi—aura itu. Aura kakaknya, Rael. Seolah-olah sosok itu berada tepat di hadapan nya, begitu dekat… namun seketika lenyap, terputus tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Hahh…

Arien menghela napas panjang. Sesak terasa di dadanya.

Orang-orang yang dulu sangat dirindukannya—keenam kakaknya—berada di dunia yang sama. Menghirup udara yang sama, melihat matahari, bulan, dan bintang yang sama. Namun Arien tidak berani menemui mereka. Bahkan sekadar melihat keadaan mereka sebentar saja.

Rasa bersalah yang ia simpan bertahun-tahun menjadi tembok tebal di antara mereka. Kesalahan yang pernah ia perbuat begitu besar, seakan takkan pernah bisa dimaafkan.

Karena itulah Arien memilih pergi. Membangun hidupnya sendiri, jauh dari mereka. Jarak di antara mereka bukan lagi sekadar tempat—melainkan bagaikan langit dan bumi, yang sejajar namun tak pernah bersentuhan.

Ia berusaha merapikan kembali hatinya. Berusaha…

“Neng...”

(sayang...)

Suara Alan memanggilnya, namun Arien tak bergerak.

“Neng…!”

(Sayang…!)

“Arien…!!!”

Baru kemudian ia tersentak. Menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang masih kosong.

“Ah… Aba! Hampura… Neng ngalamun!”

(Ah… Ayah! Maaf… aku melamun!)

Wajahnya tampak pucat dan lesu. Cahaya lampu jalan yang jatuh ke wajahnya memperjelas bahwa ada sesuatu yang sedang dipendamnya—bukan sekadar lelah biasa.

Alan menyadarinya. Selama di festival tadi, tingkah istrinya memang terasa berbeda. Sering melamun, diam tanpa suara, tatapan matanya sering kali entah tertuju ke mana. Sesuatu pasti terjadi.

Namun Alan tidak bertanya sekarang. Ia hanya mengangguk pelan, lalu meraih tangan Arien, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan kekuatan. Ia mengajak istrinya duduk di bangku tepi jalan, membiarkannya tenang dalam keheningan yang menenangkan sambil menunggu kendaraan datang.

Pertanyaan-pertanyaan itu, pikirnya, bisa ditanyakan nanti. Saat mereka sudah sampai di rumah, saat hanya ada mereka berdua. Dan saat itu tiba, ia akan mendengarkan—apa pun yang ingin Arien sampaikan.

1
Syahira🌹
mereka dijebak nggak sih🤔
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
udah gk bisa ngeles/Slight/
Alia Chans
misterius banget🤭🤭🤭
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
cincin itu jgn jgn cincin pernikahan mrka tpi nyimpan magic di dalamnya?🤔
Mingyu gf😘
fikas, rael sudah tahu tentang cincin itu
Mingyu gf😘
wahh apakah rael sudah mencium aura cincin yang ada pada vano
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
sangat menegangkan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
mantap ya kalau jadi orang kaya
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kenapa pada punya firasat buruk apa yang sebenarnya akan terjadi?
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Sedahsyat itu energi dari cincin tersebut. Tapi Rael mengenali persis aura itu. Tapi siapa? Dan, ada hubungan apa ya di masa lalu mereka🤔
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
tapi aku juga suka ngemilin lauk jengkol. hehehe. enaak
Arni Arlinawati Pratiwi💃: buset.. gak giung nak? apa atuh bahasa idonesia nya giung.. ah elah, ribet banget! /Curse/
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
nyesel baca novel ini blm makan siang. jdnya krucukan pas baca ini. tanggung jawab mak🤣😄
Arni Arlinawati Pratiwi💃: ha ha ha ha ha.. mamam tu jengkol! /Curse/
total 1 replies
Miranda.
sampai saat ini, kekuatan aura hanya ditunjukkan cuma sekedar "ketegangan yang mencekik" semata. belum ada adu power mereka kuat di bagian mana. hanya... lewat narasi saja yang mengatakan "mereka kuat."

semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Miranda.: nahh gitu dong
aku suka meninggal
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
yaampun visualnya itu loh menggugah selera /Shy/
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
cincinnya itu setara dengan kekuatan tanos kah,?
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
impian aku banget /Hey/ bisa diganti aku aja gak pemerannya nih
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
Alan dimana kamu, semoga gak papa yah/Blush/
Alia Chans
tipe cowok idaman ya🤭🤭🤭
Tapi .. ya gitulah🤣🤣
Mingyu gf😘
apa vano kk airen?
Arni Arlinawati Pratiwi💃: bukan sayang 👍
total 1 replies
Mingyu gf😘
iya, kenapa airen berbeda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!