Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Rahasia yang Hampir Terbongkar
Nadira masih mematung di samping ranjang. Kartu identitas itu masih berada di tangannya. Matanya terus bergantian menatap foto pada kartu dan wajah Adrian yang tertidur lemah.
"Direktur Utama Mahendra Grup..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Jantungnya berdegup semakin cepat. Tidak mungkin seorang direktur perusahaan besar tiba-tiba menjadi pasien rumah sakit jiwa tanpa alasan. Belum sempat ia berpikir lebih jauh...
"Kamu sedang apa?" Suara berat dari belakang membuat tubuh Nadira tersentak. Ia buru-buru membalikkan badan.
Direktur rumah sakit berdiri di ambang pintu dengan wajah datar.
Seketika Nadira refleks menyembunyikan kartu identitas itu di balik map yang dibawanya. "S-saya hanya sedang memeriksa kondisi pasien, Pak."
Tatapan Direktur beralih ke arah Adrian. "Bagaimana dengan lukanya?"
"Sudah ditangani, Pak."
Direktur melangkah mendekat, tatapannya menyapu seluruh ruangan. Kemudian berhenti pada meja kecil di samping ranjang. "Di mana barang-barang pasien?"
Nadira menelan ludah. "Ini Pak, masih lengkap."
Direktur mengangguk pelan. "Bagus. Ingat, semua barang milik pasien tidak boleh dibawa keluar dari ruangan tanpa izin."
"Baik, Pak."
Setelah beberapa detik memperhatikan Nadira, Direktur akhirnya pergi. Setelah pintu tertutup, Nadira mengembuskan napas panjang.
"Hampir saja..." Ia segera menyelipkan kartu identitas Adrian ke dalam saku seragamnya. "Aku harus mencari tahu kebenarannya."
***
Keesokan paginya...
Adrian mulai sadar, kepalanya masih terasa berat. Namun saat menoleh ke samping, ia mendapati Nadira tertidur di kursi dengan posisi kepala bersandar di tepi ranjang.
Tangannya masih menggenggam tangan Adrian. Melihat pemandangan itu, hati Adrian terasa hangat. Dengan pelan, ia melepaskan genggamannya agar tidak membangunkan Nadira.
Namun gerakan kecil itu justru membuat Nadira membuka mata. "Kamu sudah sadar?" Nadira langsung berdiri. "Syukurlah. Apa ada yang sakit?"
Adrian menggeleng, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah wanita itu.
Nadira tersenyum. "Aku ambilkan sarapan dulu ya."
Saat Nadira berbalik, Adrian tiba-tiba memanggilnya.
"Nadira."
Wanita itu berhenti, ia menoleh dengan wajah terkejut. Ini pertama kalinya Adrian memanggil namanya dengan jelas.
"Ada apa?"
Adrian terdiam cukup lama, bibirnya beberapa kali bergerak. Seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Aku..."
Belum sempat kalimat itu selesai...
Brak!
Pintu kamar dibuka dengan kasar.
Empat petugas keamanan masuk bersama Direktur rumah sakit.
"Pasien Adrian! Kami mendapat laporan anda menyerang petugas semalam."
Nadira langsung menggeleng. "Itu tidak benar, Pak! Saya melihat sendiri. Adrian tidak menyerang siapa pun."
Direktur menatap Nadira tajam. "Suster Nadira. Jangan mencampuri urusan ini."
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya!"
Ucapan Nadira membuat wajah Direktur berubah dingin. Ia memberi isyarat kepada para petugas.
"Ikat pasien."
Dua petugas langsung mendekati Adrian sambil membawa sabuk pengaman khusus.
Melihat itu, Adrian spontan mundur. "Tidak..." Suara seraknya terdengar jelas.
Nadira berdiri di depan ranjang. "Jangan! Kondisinya masih terluka!"
Direktur mulai kehilangan kesabaran. "Singkirkan Suster Nadira!"
Dua petugas wanita segera memegang kedua lengan Nadira.
"Lepaskan saya! Pak Direktur, saya melihat sendiri siapa yang menyerang!"
Namun teriakannya tidak dihiraukan.
Adrian memandang Nadira yang terus berusaha melepaskan diri. Tatapannya berubah tajam, kini amarah yang selama ini ia pendam mulai terlihat.
"Jangan..." gumamnya.
Para petugas tetap mendekat, salah seorang mencoba memasang sabuk di kedua tangan Adrian.
Detik berikutnya...
Bugh!
Dengan satu hentakan kuat, Adrian melepaskan tangan petugas itu hingga pria tersebut terpental dan jatuh ke lantai, semua orang membeku.
Dokter Bima menatap Adrian dengan mata membelalak. "Itu... itu bukan tenaga orang yang sedang kehilangan kesadaran karena obat..."
Direktur rumah sakit mengepalkan tangannya.
Di sisi lain, Nadira ikut tertegun. Namun bukan karena Adrian melawan. Melainkan karena sorot mata pria itu. Tatapannya bukan tatapan seorang penderita gangguan jiwa.
Melainkan tatapan seorang pria cerdas yang selama ini dipaksa hidup dalam kebohongan. Dan kini Nadira mulai benar-benar percaya bahwa Adrian mungkin tidak pernah gila sejak awal.
Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Adrian. Petugas keamanan yang terjatuh masih meringis kesakitan sambil memegangi lengannya.
Tak seorang pun menyangka pria yang selama ini dianggap pasien gangguan jiwa mampu melawan dengan gerakan secepat itu.
Direktur rumah sakit menjadi orang pertama yang memecah keheningan. "Pegang dia!"
Namun kali ini, tidak ada satu pun petugas yang berani langsung mendekat. Mereka saling berpandangan dengan ragu.
Adrian berdiri tegak di samping ranjang. Napasnya terdengar berat akibat luka di punggung yang belum pulih, tetapi sorot matanya begitu tajam. Ia menatap lurus ke arah Direktur, kali ini Adrian membuka suara dengan jelas.
"Aku... tidak gila."
Kalimat sederhana itu membuat suasana kembali membeku.
Direktur justru tertawa kecil. "Lihat? Semua pasien di sini selalu mengatakan hal yang sama."
Beberapa petugas ikut mengangguk. Mereka sudah terlalu sering mendengar pengakuan serupa. Hanya Nadira yang tetap diam. Entah mengapa, kali ini ia tidak merasa Adrian sedang berhalusinasi. Tatapan pria itu terlalu jujur dan terlalu normal.
"Aku dijebak." Suara Adrian kembali terdengar. "Ibu sambungku... ingin mengambil perusahaan ayahku."
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Direktur langsung memotong. "Cukup!"
"Dokter Bima, siapkan obat penenang!"
Dokter Bima terdiam, tangannya tidak bergerak.
"Dokter!" bentak Direktur.
Dengan langkah berat, Dokter Bima mengambil sebuah suntikan dari atas meja. Namun saat melihat wajah Adrian, tangannya kembali gemetar.
Di dalam hatinya, rasa bersalah semakin besar. Selama ini... ia tahu pria itu mungkin tidak bersalah. Tetapi ia terus memilih diam.
"Maafkan saya..." gumamnya dalam hati.
Nadira tiba-tiba melangkah maju. "Pak Direktur, saya keberatan."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Pasien baru saja sadar, dia belum melakukan tindakan yang membahayakan siapa pun. Kenapa sekarang harus disuntik obat penenang?"
Direktur menatap Nadira dengan dingin. "Kamu sedang mempertanyakan keputusan saya?
"Saya hanya menjalankan prosedur sebagai perawat. Prosedur juga mengajarkan bahwa pasien berhak didengar sebelum diberikan tindakan," jawab Nadira dengan tegas.
Kalimat itu membuat beberapa perawat saling berpandangan. Mereka tahu... apa yang dikatakan Nadira memang benar. Namun tak seorang pun berani mengatakannya.
Wajah Direktur mulai memerah menahan marah. "Suster Nadira, mulai saat ini... kamu saya nonaktifkan dari tugas merawat pasien Adrian."
Bagai disambar petir, Nadira membeku. "Apa?"
"Kamu akan dipindahkan ke Bangsal Anggrek mulai hari ini."
"Pak, tapi..."
"Itu keputusan final."
Tanpa memberi kesempatan menjawab, Direktur berbalik meninggalkan ruangan. Dokter Bima ikut berjalan keluar dengan langkah berat.
Sementara para petugas perlahan melepaskan sabuk pengaman yang sejak tadi mereka bawa. Tak ada seorang pun berani menyentuh Adrian lagi.
Beberapa menit kemudian, ruangan kembali sepi.
Nadira berdiri mematung, air matanya hampir jatuh. Ia tidak sedih karena dipindahkan, ia sedih karena harus meninggalkan seseorang yang baru saja mulai membuka diri kepadanya.
Adrian memandang Nadira. "Nadira..."
Wanita itu menoleh.
"Aku... tidak berbohong." Suara Adrian terdengar lirih.
Namun cukup untuk membuat hati Nadira bergetar. Ia teringat kartu identitas yang masih tersimpan di saku seragamnya.
Tanpa berkata apa-apa, Nadira mengangguk pelan. "Entah kenapa... aku mulai percaya padamu."
Mata Adrian membelalak, itu adalah kalimat pertama yang memberinya secercah harapan setelah hidup dalam keputusasaan.
***
Sore harinya, Nadira berada di ruang arsip rumah sakit untuk menyerahkan berkas sebelum pindah bangsal. Saat sedang menyusun map pasien, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah map cokelat bertuliskan:
RAHASIA – ADRIAN MAHENDRA
Jantungnya langsung berdegup kencang. "Kenapa ada berkas rahasia di sini?"
Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ruangan sedang kosong. Dengan tangan gemetar, Nadira perlahan membuka map tersebut.
Di halaman pertama terdapat sebuah surat perintah. Matanya membelalak saat membaca isi kalimat yang tertulis.
"Pasien Adrian Mahendra dinyatakan tidak boleh dipulangkan dalam keadaan apa pun tanpa persetujuan keluarga dan Direktur Rumah Sakit."
Nadira mengernyit. "Itu aneh..."
Namun yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir adalah lembar berikutnya. Di sana terdapat fotokopi bukti transfer uang bernilai miliaran rupiah dari sebuah rekening atas nama... Miranda Mahendra.
Nadira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya hampir jatuh. "Tidak mungkin... ternyata Adrian... benar."
Saat itulah suara langkah kaki terdengar semakin dekat menuju ruang arsip. Seseorang sedang berjalan ke arah pintu. Dan Nadira masih memegang map rahasia yang seharusnya tidak pernah ia lihat.