Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguasa kota Veridia
Pintu baja laboratorium rubuh dengan suara dentuman memekakkan telinga, terhempas ke lantai beton dalam wujud lelehan logam membara. Asap tebal mengepul masuk, tetapi bukannya gempuran tembakan energi dari regu Penjaga Kategori biasa yang menyambut mereka, suasana mendadak senyap.
Dari balik buaian asap, melangkah sosok bertubuh tegap dengan seragam kebesaran berwarna kelabu bergaris emas. Mantel tebal berkibar di belakangnya. Di balik bahunya, dua prajurit pengawal pribadi dengan baju zirah rapat berdiri siaga.
Pria itu melangkah maju. Wajahnya tegas, dengan simetri yang sangat familiar bagi Rian. Namun, berbeda dengan Rian, pria ini memiliki sorot mata biru dingin yang tak tersentuh emosi manusia biasa. Di pipi kirinya, sebuah garis putih tipis melintang—bekas luka lama yang persis sama.
Jenderal Leon Vance. Penguasa sesungguhnya di balik Dewan Veridia. Dalang sebenarnya dari proyek oblivion.
"Luar biasa, Rian," ujar Leon, suaranya mengalun tenang, mendominasi seluruh sudut ruangan. "Kau berhasil melangkah sejauh ini. Aku hampir bangga padamu."
Maya mengangkat senapan gelombang mikronya dengan tangan gemetar, membidik tepat ke arah dada Leon. Namun sebelum ia sempat menarik pelatuk, salah satu pengawal Leon menggerakkan jarinya. Sebuah gelombang kejut magnetik tak terlihat menghantam senapan Maya, membanting senjata itu hingga terlempar dan hancur berkeping-keping di dinding. Maya tersungkur, mengerang menahan sakit pada luka tembaknya.
"Jangan sentuh dia, Leon!" gertak Rian, melangkah maju pasang badan di depan Maya.
Leon menatap Rian dengan pandangan skeptis, seolah sedang mengamati spesimen laboratorium yang menarik. "Masih berhati lembut? Kedamaian buatan yang kutanam di otakmu selama delapan tahun ternyata membuah rasa empati yang tidak berguna."
"Kau sebut rasa empati sebagai hal tak berguna?" Rian menatap saudaranya dengan geram. "Kau ingin mengubah jutaan orang di Neo-Veridia menjadi boneka tanpa memori, tanpa perasaan, hanya agar kau bisa mengendalikan kota ini tanpa perlawanan!"
Leon menghela napas pelan, merapikan sarung tangan kulitnya. Ia berjalan mendekati meja eksperimen, menatap bingkai foto tua yang retak di atas debu.
"Kau tidak mengerti, Rian," kata Leon, suaranya melembut namun menyimpan kegelapan mendalam. "Lihatlah kota ini. Distrik Bawah dipenuhi kriminal, manusia menjual kenangan demi melupakan rasa lapar, dan penderitaan merayap di setiap sudut. Penderitaan adalah akar dari segala kejahatan. Tanpa ingatan masa lalu, tidak ada rasa dendam. Tanpa rasa dendam, tidak ada perang. Aku tidak sedang menjajah mereka... aku sedang menyembuhkan mereka."
"Dengan cara mencuri identitas mereka?" potong Rian tajam. "Manusia tanpa ingatan bukanlah manusia yang sembuh, Leon. Mereka cuma cangkang bernapas!"
"Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani mengambil keputusan sulit," balas Leon dingin. Ia memalingkan wajah, menatap Rian lurus-lurus. "Dan sekarang, Inti Kode di dalam kepala serta fisikmu sudah siap. Hari peluncuran *Reset Massal* Proyek Oblivion telah tiba."
Leon mengangkat tangannya, memberi sinyal pada pengawalnya. "Bawa Dr. Vance dan wanita itu ke Archivia Pusat di Sektor Nol. Saatnya mengklaim kembali apa yang menjadi milik Kota Veridia."
Dua prajurit bertubuh raksasa melangkah maju. Rian bersiap melancarkan serangan, namun sebelum ia sempat bergerak, sebuah jarum suntik pemutus gelombang syaraf menghantam leher belakangnya. Pandangan Rian mendadak kabur, pendar keemasan di matanya meredup, dan kegelapan dengan cepat menelan kesadarannya sekali lagi.
Salah satu pengawal Leon mengambil langkah awal dengan membiusnya, agar dengan mudah membawa Maya dan Rian yang tak sadarkan diri pergi.