Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Makanlah dulu," ucap ibunya sekali lagi, bukan bertanya melainkan memintanya dengan lembut menyantap hidangan yang disiapkannya sendiri.
Keira menatapnya tak percaya. "Ibu... kau benar-benar ada di sini?" bisiknya lemah, takut jika ia sekadar terjebak dalam mimpi indah yang kelak akan lenyap begitu matanya terbuka sepenuhnya.
"Ibu hendak ke mana?" tanya Keira lemah saat melihat ibunya beranjak pergi dari samping tempat tidurnya.
"Pergi saja," jawab Gina singkat tanpa menoleh kembali.
"Bolehkah Ibu menemaniku sebentar?" pinta Keira dengan harapan yang begitu tulus. Ia tak tahu mengapa kehadiran ibunya sesaat tadi justru membuat hatinya mendambakan kasih sayang yang selama ini tak pernah ia miliki.
"Jangan manja. Aku ke sini hanya karena Keyna memintaku," ucap Gina dingin. Setelah menyampaikan itu, ia pun melangkah pergi meninggalkan kamarnya tanpa menoleh sekalipun.
Keira menatap pintu yang tertutup perlahan. "Jadi... hanya karena Keyna, bukan karena Ibu sendiri yang menginginkannya..." gumamnya getir sembari menelan makanan itu perlahan. Setiap suapan terasa pahit menyisakan luka yang semakin dalam di hatinya.
Demam itu baru benar-benar reda setelah lima hari berlalu. Selama itu, tak ada satu pun anggota keluarganya yang benar-benar menjenguknya. Hanya Bibi yang senantiasa datang merawatnya dengan tulus setiap hari. Sedangkan ibunya, setelah hari itu, tak pernah kembali lagi.
Hari Minggu pun tiba. Keira turun perlahan menuruni tangga. Segala sesuatu di rumah itu tetap sama, tak ada yang berubah, tak ada yang peduli. Ia tetaplah bayangan yang tak pernah dilihat oleh siapa pun.
"Ayo bermain bersama!" sapa Keyna riang menyambut kedatangan saudaranya itu. Rumah tampak sibuk seperti biasa. Ayah bekerja di ruang kerjanya, Ibu sibuk dengan urusan rumah, Arya pun tenggelam dengan kegiatannya sendiri, sementara Mentari entah ke mana.
Keyna menyambutnya dengan senyum lebar, seakan tak pernah merasa keberatan sedikit pun atas kehadiran kembarnya.
Namun Keira hanya menggeleng pelan. "Maaf, aku tak bisa."
"Mengapa? Apa kau masih sibuk?" tanya Keyna tak menerima penolakan itu.
"Nanti saja di hari lain," jawab Keira singkat berusaha menyembunyikan perasaannya. Meski Keyna tulus menyayanginya, Keira tetap merasa ada dinding tebal yang memisahkan mereka, dinding yang dibangun oleh kasih sayang yang tak pernah sama rata diberikan kepada mereka berdua.
"Sekali saja tak bisa?" Keyna tak menyerah. Ia ingin begitu dekat dengan kakaknya, seakan ada sesuatu yang mendorongnya untuk terus mendekat meski selalu ditolak.
"Aku takut Ibu marah jika melihatku bersamamu," jawab Keira pelan.
"Aku tak akan membiarkanmu lelah. Istirahatlah sebentar jika lelah," bujuk Keyna tak menyerah. "Ayo ke halaman belakang saja. Hanya sebentar."
Melihat ketulusan di mata saudaranya, hati Keira yang sempat keras pun luluh perlahan. Ia pun tersenyum tipis. "Baiklah. Namun kau yang kalah nanti harus bersembunyi dan membiarkanku mencarimu."
Mereka pun bermain di halaman belakang yang luas. Permainan batu-kertas-gunting pun dimulai. Keira yang kalah pun terpaksa menutup mata dan menghitung.
Saat ia membuka mata dan mulai mencari ke mana saudaranya bersembunyi, sosok Keyna tak terlihat di mana pun. Ia mencari di balik pohon, di balik semak-semak, hingga ke sudut taman yang paling tersembunyi, namun tak ada jejak sama sekali.
Kekhawatiran pun mulai merayap di hatinya. "Ke mana kau sebenarnya, Keyna?" batinnya cemas. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada saudaranya itu.
Meski taman itu berada di dalam lingkungan rumah yang seharusnya aman, namun bagi keluarga yang begitu memuja Keyna, apa pun yang terjadi padanya kelak pasti akan menjadi kesalahannya seorang diri.
Matahari pun perlahan terbenam, namun Keyna tak kunjung muncul. Keira pun akhirnya memberanikan diri menemui ayahnya yang sedang sibuk bekerja di ruang kerjanya.
Dengan langkah gontai dan penampilan yang tak lagi, rambutnya berantakan, serta lututnya yang terluka dan berdarah karena terjatuh saat mencari ke mana-mana, ia mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
"Masuk."
Suara ayahnya terdengar begitu dingin. Saat pintu terbuka dan Bara melihat penampilan putrinya yang berantakan dan penuh luka itu, keningnya seketika berkerut tak senang.
"Ada apa?" tanyanya datar tanpa sedikit pun menyentuh atau memeriksa luka di tubuh putrinya.
"Ayah... Keyna tak terlihat di mana pun," lapor Keira dengan napas yang masih terengah karena cemas. "Kami bermain di halaman belakang, namun ia tak kunjung kembali. Aku sudah mencari ke mana-mana namun tak menemukannya. Maafkan aku... aku tak mampu menjaganya."
Belum sempat kalimat itu selesai terucap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Keira hingga tubuhnya terhuyung mundur.
"Bodoh!" bentak Bara meledak-ledak. Pria itu memang sejak pagi hari sudah penuh tekanan karena pekerjaan yang menumpuk.
Seharian ia tak sempat sekadar menjenguk putri kesayangannya, apalagi menghabiskan waktu bersama keluarga. Dan kini, saat mendengar putri kesayangannya hilang karena dijaga oleh Keira, amarahnya pun tak lagi dapat ia tahan.
"Jangan pernah kau mendekati atau bermain bersama Keyna lagi!" bentaknya tajam. "Kau selalu saja mendatangkan malapetaka ke mana pun kau pergi!"
Setelah melontarkan kata-kata yang menghancurkan hati putrinya itu, Bara pun melangkah keluar dengan wajah yang penuh kekhawatiran, memerintahkan seluruh penjaga rumah untuk segera mencari keberadaan putri kesayangannya.