Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 - Konseling Pranikah
Konseling pranikah di KUA berlangsung lebih buruk daripada yang Bella bayangkan.
Ia datang bersama Arman, Bu Ratna, dan Pak Darto. Pak Hendra mengantar Arman, tapi tidak ikut masuk ke ruang konseling. Katanya, yang akan menikah harus bicara sendiri.
Bella membenci kalimat itu.
Karena saat hanya berdua dengan Arman di depan penyuluh pernikahan, semua kelemahan mereka terlihat jelas.
Penyuluh itu perempuan paruh baya bernama Bu Fadilah. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam. Ia meminta Bella dan Arman duduk berdampingan.
"Jadi, kalian menikah karena sudah saling yakin?"
Bella cepat mengangguk.
Arman diam sepersekian detik terlalu lama.
Bu Fadilah menangkapnya.
"Mas Arman?"
"Iya. Yakin."
"Apa yang membuat yakin?"
Arman menghela napas.
"Kami saling mencintai."
Bu Fadilah menulis sesuatu.
"Cinta seperti apa?"
Arman tampak terganggu.
"Maksudnya?"
"Cinta yang membuat kalian siap bekerja sama? Atau cinta yang hanya terasa saat semua mudah?"
Bella menunduk.
Arman menjawab kaku, "Kami siap."
Bu Fadilah menatap Bella.
"Mbak Bella, kalau setelah menikah Mas Arman bekerja di bengkel dan penghasilan awal tidak besar, apa kamu siap mengatur rumah sederhana?"
Bella memaksa senyum.
"Siap, Bu."
"Pernah mengatur belanja rumah?"
"Belum, tapi saya bisa belajar."
"Bisa masak?"
"Bisa sedikit."
"Bisa mencuci sendiri?"
Bella terdiam.
Di rumah Pak Darto, ia jarang mencuci berat. Selalu ada Nadia dulu, lalu Sari kalau datang, atau Bu Ratna yang mengambil alih sambil memanjakannya.
"Bisa," jawab Bella pelan.
Bu Fadilah tidak memojokkan. Ia hanya mencatat.
Lalu menatap Arman.
"Mas Arman, kalau Bella belum terbiasa, apa kamu siap membantu?"
Arman hampir menjawab "itu tugas istri", tapi ia ingat Pak Hendra. Ia menelan kata itu.
"Siap."
"Contohnya?"
"Ya... membantu belanja."
"Memasak?"
Arman mengerutkan kening.
"Saya tidak bisa masak."
"Bisa belajar?"
Arman diam.
Bella meliriknya.
Bu Fadilah meletakkan pulpen.
"Begini. Menikah bukan hanya agar aib tertutup. Kalau dari awal kalian masuk dengan rasa saling menyalahkan, rumah tangga akan menjadi tempat perang. Saya perlu tahu, saat bertengkar, apa yang biasanya kalian lakukan?"
Bella menggenggam tas.
Arman menjawab, "Kami belum menikah."
"Tapi sudah bertengkar."
Wajah Arman berubah.
"Siapa yang bilang?"
Bu Fadilah menatapnya tenang.
"Tidak perlu ada yang bilang. Pasangan yang datang dengan wajah seperti kalian biasanya sudah membawa banyak kalimat yang belum selesai."
Bella hampir menangis.
Arman bersandar di kursi.
"Kalau bertengkar, saya butuh diam dulu."
"Diam untuk menenangkan diri atau menghukum?"
Arman tidak menjawab.
Bu Fadilah mencatat lagi.
Setelah sesi itu selesai, Bella merasa lebih lelah daripada setelah lamaran. Di luar ruangan, Bu Ratna langsung mendekat.
"Bagaimana?"
Bella ingin berkata buruk. Tapi di depan Pak Hendra, ia hanya menjawab, "Baik."
Pak Hendra menatap Arman.
"Kamu?"
Arman berkata datar, "Baik."
Bu Fadilah keluar dan menyerahkan catatan jadwal lanjutan.
"Saya ingin mereka datang sekali lagi sebelum akad."
Bu Ratna terkejut.
"Masih perlu, Bu?"
"Perlu."
"Tapi akad tinggal..."
"Justru karena tinggal sebentar."
Pak Hendra langsung mengambil jadwal.
"Terima kasih, Bu."
Bu Ratna tidak berani membantah.
Di halaman KUA, Bella melihat Nadia dan Raka turun dari mobil.
Ia langsung tegang.
Nadia datang bukan untuk mereka. Ia mengantar Raka mengambil salinan dokumen buku nikah yang tertinggal. Namun bagi Bella, kehadiran Nadia selalu terasa seperti cermin yang sengaja didekatkan ke wajahnya.
Nadia memakai pakaian sederhana. Raka berjalan di sampingnya, membawa map. Mereka berbicara pelan. Raka membuka pintu kantor untuk Nadia. Hal kecil lagi.
Bella membenci hal kecil itu.
Arman juga melihat.
Wajahnya mengeras.
Nadia menyapa Pak Hendra lebih dulu, lalu Bu Ratna dan Pak Darto. Saat menatap Bella, ia hanya mengangguk.
"Konseling?"
Bella memaksa senyum.
"Iya, Tante."
Kata itu masih pahit.
Nadia menatap Arman.
"Bagus. Semoga membantu."
Arman berkata sinis, "Kami tidak butuh bantuanmu."
Raka menoleh.
Pak Hendra langsung berkata, "Arman."
Arman diam.
Nadia tidak tersinggung.
"Aku tidak menawarkan."
Bella merasa semua orang melihat mereka lagi. Ia ingin cepat pulang.
Namun Bu Fadilah, yang masih berdiri di pintu, memperhatikan Nadia dan Raka.
"Mbak Nadia?"
Nadia menoleh.
"Ya, Bu?"
"Kalian pasangan yang akad minggu lalu?"
"Iya."
"Bagaimana hari-hari pertama?"
Pertanyaan itu membuat semua orang diam.
Nadia melirik Raka.
Raka menjawab, "Kami masih belajar, Bu."
Bu Fadilah tersenyum.
"Jawaban bagus. Pernikahan memang begitu."
Lalu ia menatap Arman dan Bella.
"Belajar. Bukan saling menang."
Bella menunduk.
Arman memalingkan wajah.
Di perjalanan pulang, Bu Ratna berkata kepada Bella, "Jangan dengarkan terlalu banyak. Penyuluh memang biasa menakut-nakuti."
Bella diam.
Tapi kalimat Bu Fadilah menempel.
Bukan saling menang.
Apakah ia menikah untuk menang?
Di kehidupan lalu, iya. Ia ingin menang dari Nadia. Ia ingin mengambil tempat yang membuat Nadia terlihat mulia. Ia ingin semua orang berkata Bella lebih pantas.
Sekarang ia bahkan tidak tahu apakah Arman akan membantunya mencuci piring.
Arman mengantar mereka pulang tanpa bicara. Ketika Bella turun dari motor, ia berkata pelan, "Mas, nanti malam bisa telepon?"
"Lihat nanti."
"Mas..."
"Aku capek, Bella."
Ia pergi.
Bella berdiri di halaman, memegang tas.
Bu Ratna memanggil dari pintu.
"Masuk, Nak."
Bella masuk, tapi pikirannya tertinggal di KUA.
Sementara itu, Nadia dan Raka mampir ke pasar sebelum pulang. Mereka membeli sayur, jahe, dan beberapa kain lap. Nadia menawar dengan lihai. Raka membawa belanjaan meski Nadia berkali-kali menyuruhnya jangan terlalu berat.
"Saya membawa kangkung, bukan karung semen," kata Raka.
"Kangkung juga bisa jadi alasan Bu Lilis menyalahkanku kalau Mas batuk."
Raka tertawa.
Di warung bumbu, seorang ibu mengenali Nadia.
"Mbak yang kemarin menikah dengan Mas Raka, ya?"
"Iya, Bu."
"Semoga langgeng. Mas Raka orang baik."
Nadia tersenyum.
"Amin. Terima kasih."
Ibu itu menatap Raka.
"Dulu jarang lihat Mas Raka keluar. Sekarang kelihatan lebih segar."
Raka tampak canggung.
Nadia menjawab, "Karena sekarang saya paksa beli kangkung."
Ibu warung tertawa.
Raka menggeleng, tapi senyumnya hangat.
Kabar kecil itu sampai ke Bu Lilis sore harinya. Seorang tetangga rumah utama berkata melihat Raka dan Nadia belanja di pasar seperti pasangan biasa. Bu Lilis terdiam lama.
Pasangan biasa.
Selama ini ia memperlakukan Raka seperti pasien keluarga.
Mungkin karena itu ia lupa Raka juga laki-laki dewasa yang ingin membeli kangkung dengan istrinya.
Bu Lilis duduk di dapur, menatap sup yang sedang ia masak.
Untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah kekhawatirannya selama ini benar-benar kasih sayang, atau kebiasaan menguasai.
Di rumah kecil, Nadia tidak tahu pikiran Bu Lilis.
Ia sedang memotong sayur, sementara Raka membaca jadwal obatnya keras-keras seperti anak sekolah menghafal.
"Pagi satu, malam satu. Kalau batuk berat..."
"Mas Raka."
"Ya?"
"Aku bisa baca."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa dibaca keras?"
Raka menatap botol obat.
"Agar saya juga mendengar. Selama ini orang lain yang mengingatkan. Saya ingin mulai mengingat sendiri."
Nadia berhenti memotong.
Lalu ia tersenyum pelan.
"Bagus. Itu lebih penting daripada kangkung."
Raka menatap sayur di talenan.
"Tapi kangkung tetap penting."
Mereka tertawa.
Di luar, dua calon pengantin lain sedang belajar bahwa cinta tanpa kesiapan hanya membuat orang saling melukai.
Di rumah kecil itu, Nadia dan Raka belajar dengan cara berbeda.
Pelan, canggung, tapi tidak saling menjatuhkan.
Malamnya, Nadia menulis satu kalimat di buku usaha sebelum tidur: Belajar bukan tanda lemah.
Raka membacanya ketika mengambil obat.
"Itu untuk usaha?"
"Untuk semuanya."
"Termasuk pernikahan?"
"Termasuk memasak kangkung agar tidak terlalu lembek."
Raka tersenyum.
"Saya merasa kangkung itu menjadi simbol penting dalam rumah tangga kita."
"Karena Mas Raka yang memotong batangnya terlalu panjang."
"Saya sedang belajar."
Nadia menunjuk buku.
"Nah. Tidak lemah."
Mereka tertawa pelan. Nadia merasa tidak perlu langsung pandai dalam segala hal. Ia hanya perlu tidak berhenti belajar dan tidak membiarkan orang lain memakai ketidaktahuannya untuk menundukkan dirinya.
Ia menutup buku itu, lalu menyimpannya di laci meja jahit.
Besok ia akan belajar lagi.
🤣🤣🤣