Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Sisa 30 menit lagi aku akan pergi dari rumah ini," ucap Lilian sambil menatap jam yang ada di dinding kamar nya,
Tok ... Tok ... Tok ...
terdengar suara ketukan di depan pintu kamar Lilian, wanita yang sudah rapi dan cantik itu sedikit kaget karena pad saat ini dia memang berdiri di depan pintu kamar nya sambil memegang gagang koper, seolah-olah langah nya sudah dia siapkan untuk langsung keluar dari pintu itu.
"Siapa di luar?" tanya Lilian di balik pintu kamar.
"Aku," ucap Tasya singkat.
Lilian yang mendengar suara itu segera membuka pintu. Benar saja, tampak sosok wanita yang sangat dia benci berdiri di sana dengan senyum penuh kemenangan.
"Lilian, aku menang," ucap nya sambil memperlihatkan dokumen tersebut ke hadapan Lilian.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lilian pun menerima dokumen tersebut, dia membuka dan memastikan kalau Alen benar-benar sudah menandatangani surat perceraian tersebut.
"Benar, ini tandatangan mas Alen, dia benar-benar menandatangani ini tampa membacanya?" batin Lilian. Jauh di lubuk hati nya yang paling dalam dia sangat sakit hati.
"Sekarang kau boleh pergi dari sini, dari rumah ini, kau bukan siapa-siapa nya mas Alen lagi, selanjutnya aku bebas untuk mengantikan posisi mu," ucap Tasya dengan penuh kesombongan dan keangkuhan.
Lilian menutup kembali dokumen tersebut dan kemudian memasukkan ke dalam tas nya, ia kembali memegang gagang koper besar itu, menarik nafas panjang dan kemudian menghembus nya dengan kasar.
"Aku akan pergi, kau tidak mendapatkan posisi ini, akulah yang memberikan nya kepada mu, sudah s sangat lama aku menantikan hal ini, selanjutnya nikmati lah menjadi bayang-bayang ku," ucap Lilian yang kemudian melangkah pergi dari hadapan Tasya.
"Lilian! Apapun yang kau katakan, akulah pemenang nya sekarang," ucap Tasya.
Lilian yang mendengar itu hanya bisa meneteskan air mata, entah itu air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan, namun kedua sudut bibirnya tampak terangkat sempurna.
"Mas Alen, Raya, Sinta, setelah ini kalian akan benar-benar kehilangan orang sperti ku," batin Lilian.
Jam menunjukkan pukul 12.00
"Nona, silahkan masuk," ucap seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang tak lain adalah mata-mata sang papa yang bertugas untuk menjemput Lilian secara diam-diam.
"Terima kasih," ucap Lilian menyerahkan koper tersebut kepada sang mata-mata dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Tak butuh waktu lama, mereka pun meninggalkan tempat tersebut untuk selama-lamanya.
Sementara itu di ruang kerja Alen.
"Ah, kenapa hatiku tiba-tiba terasa sangat sakit, jantung ku juga rasanya berdegup kencang secara tiba-tiba, apa yang terjadi?" ucap Alen sambil memegang dadanya dengan satu tangan. Bahkan bulpen yang ada di tangan lainnya ikut terjatuh ke lantai.
Namun saat ini dia masih belum menyadari kepergian Lilian dari rumah mereka serta perceraian yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Merasakan perasaan yang tidak enak, Alen pun memutuskan untuk menyudahi pekerjaan nya, dia keluar dari kamar untuk meminta Lilian mengambil obat yang biasa dia minum.
"Lilian! Lilian kau di dalam?" ucap nya yang saat ini mengetuk-ngetuk pintu kamar Lilian beberapa kali namun tidak mendapatkan jawaban.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Alen kepada dirinya sendiri, ia pun memegang gagang pintu dan bersiap untuk membuka nya.
"Mas," panggil Tasya yang saat itu berdiri di belakang Alen untuk mencegah Alen membuka pintu tersebut. Dia khawatir Alen akan segera tau kalau Lilian sudah meninggalkan rumah mereka.
Karena jika Alen terlalu cepat tau sudah pasti Alen akan mencari dan mengejarnya malam itu juga sementara Lilian belum pergi terlalu jauh.
"Tasya, sudah jam berapa ini? Kenapa kau tidak tidur?" tanya Alen. Tangan nya terlepas dari gagang pintu dan buru-buru menghampiri Tasya.
"Lilian mungkin sudah tidur, apa yang kau butuhkan? Siapa tau aku bisa membantu," ucap Tasya menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku hanya butuh obat, hanya Lilian yang tau di mana letak obat itu, jadi sebaiknya kau istirahat saja," ucap Alen yang kembali hendak menghampiri kamar Lilian.
"Aduh, mas perutku tiba-tiba sakit," ucap Tasya yang saat itu sudah kehabisan akal untuk membuat Alen gagal masuk kamar Lilian.
"Astaga, sudah ku bilang kan kau harus segera istirahat, lupakan saja soal obat nya, ayo aku antar kau ke kamar," ucap Alen yang kemudian mengantarkan Tasya kembali ke kamar nya.
Sangking peduli nya kepada Tasya, dia bahkan mengabaikan tentang kesehatan nya sendiri.
"Lilian, mas Alen tidak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk menemukan mu, karena sekarang akulah yang jadi kesayangan di rumah ini," batin Tasya yang selalu penuh percaya diri.
Sementara itu di sisi lain.
"Karen, malam ini Lilian akan kembali, apa kau tidak mau menunggu di depan pintu," ucap sang papa yang saat itu sudah tidak sabar sampai-sampai ia bolak balik di depan pintu untuk menunggu Lilian tiba di rumah mereka.
Sang putra yang baru saja kembali dari perusahaan menatap papanya yang sudah lama tampak tidak pernah sebahagia ini sejak kepergian sang mama dan sang adik.
"Aku lelah, aku ingin langsung istirahat," ucap Karen yang kemudian meninggalkan sang papa.
Papa Ardan menghela nafas panjang setelah melihat Karen meninggalkan nya, dia tidak tau apa yang ada di isi pikiran dan juga hati Karen.
"Nak, semoga setelah dia kembali kau tidak menaruh kebencian padanya, papa khawatir karena penyebab kau jadi sperti itu sekarang adalah Lilian," batin papa Ardan.
Sementara itu di sisi lain,
Lilian kini semakin jauh dari kediaman Alen, ia menatap sekeliling jalan raya yang pada saat itu sudah sepi karena memang jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Bagaimana kabar papa selama ini?" tanya Lilian kepada sang mata-mata, ia angkat bicara untuk memecahkan kesunyian dalam mobil tersebut.
"Beliau baik-baik saja, hanya kurang ceria," ucap sang mata-mata lagi.
"Kalau kakaku? Bagaimana kabarnya?" tanya Lilian lagi.
Sang mata-mata yang mendengar itu seketika terdiam, ia tampak gugup dan tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Lilian yang kedua.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Lilian bingung.
"A-aku, kurang tau nona, karena selama ini aku selalu mengawasi mu," ucap mata-mata tersebut tak ingin mengatakan apapun tentang Karen kepada Lilian.
Lilian terdiam, meskipun merasa ada yang janggal dia tetap tidak bicara setelah itu.
"Selama tiga tahun kakak tidak pernah menghubungi ku, dia tidak pernah mengatakan apapun setelah hari dimana aku kabur dari rumah, apakah setelah kembali nanti dia masih bersedia menganggap ku sebagai adik?" batin Lilian yang memang sama sekali tidak tau tentang keadaan Karen setelah malam itu.
"Nona muda, tidak lama lagi kita akan tiba di mansion," ucap sang mata-mata memperingatkan agar Lilian segera bersiap-siap.
Bersambung ....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍