Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
[ Vonis yang Menyayat Hati ]
Satu bulan berlalu.
Musim hujan mulai datang. Langit hampir setiap hari diselimuti awan kelabu, seolah ikut berduka atas kisah yang belum menemukan akhirnya.
Persidangan Vincent Lawson menjadi perhatian seluruh negeri. Sejak pagi, halaman pengadilan telah dipenuhi wartawan, masyarakat, hingga keluarga para korban organisasi Black Raven. Semua ingin menyaksikan bagaimana mafia paling dicari itu menerima hukuman.
Di ruang tunggu saksi, Zhava duduk dengan seragam kepolisiannya. Di tangannya masih tersimpan surat yang ditulis Vincent. Kertas itu mulai kusut karena terlalu sering dibaca.
Setiap kali rasa bersalah datang menghantuinya, ia akan membuka surat itu kembali. Membaca setiap kalimat yang ditulis Vincent, lalu menangis diam-diam.
"Letnan Zhava."
Seorang petugas menghampirinya.
"Sidang akan segera dimulai."
Zhava mengangguk pelan, lalu memasukkan surat itu kembali ke dalam sakunya.
Pintu ruang sidang terbuka.
Vincent melangkah masuk dengan kedua tangan diborgol. Wajahnya tampak lebih kurus dibanding sebulan lalu, tetapi sorot matanya tetap tenang. Ia menatap seluruh ruangan tanpa rasa takut.
Ketika pandangannya bertemu dengan Zhava, ia hanya menganggukkan kepala pelan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kebencian.
Hanya sebuah tatapan yang perlahan mengajarkan Zhava arti dari kata merelakan.
Hakim mulai membacakan dakwaan satu per satu. Penyelundupan senjata, pencucian uang, pemerasan, kepemimpinan organisasi kriminal, dan berbagai tindak pidana lainnya.
Vincent tidak membantah satu pun.
Setiap kali hakim bertanya, jawabannya selalu sama.
"Saya mengaku."
Pengacaranya beberapa kali mencoba membujuk agar Vincent memberikan pembelaan. Namun Vincent hanya menggeleng.
"Aku memang harus mempertanggungjawabkan semuanya."
Tibalah giliran Zhava memberikan kesaksian.
Ia berdiri di depan ruang sidang dengan tangan yang dingin.
Hakim menatapnya.
"Saudari Zhava Vianzya, apakah benar Anda menjalankan penyamaran selama dua tahun untuk mendekati terdakwa?"
"Benar."
"Apakah terdakwa mengetahui identitas asli Anda?"
"Tidak."
"Apakah selama penyamaran terdakwa pernah mencurigai Anda?"
Zhava menggeleng.
"Tidak pernah."
Setiap jawaban yang keluar dari mulutnya terasa seperti sedang merobek luka yang belum sempat sembuh.
Hakim kembali bertanya.
"Apakah terdakwa pernah mengancam keselamatan Anda?"
Zhava terdiam.
Bayangan Vincent memenuhi pikirannya.
Pria itu selalu memastikan ia pulang dengan selamat.
Membawakan kopi setiap pagi.
Membantunya menutup toko bunga.
Mengajaknya bertemu anak-anak panti.
Bahkan pada hari penangkapannya...
Vincent memilih menjatuhkan pistol daripada mengambil risiko dirinya terluka.
"Tidak."
Suara Zhava hampir tidak terdengar.
"Selama saya mengenalnya..."
"...dia tidak pernah menyakiti saya."
Ruangan mendadak sunyi.
Hakim mencatat keterangannya.
Zhava perlahan kembali ke tempat duduk.
Air matanya terus mengalir, tetapi ia berusaha tetap tegar.
Setelah seluruh saksi selesai diperiksa, hakim memberikan kesempatan terakhir kepada Vincent untuk menyampaikan sesuatu.
Vincent berdiri perlahan.
Ia tidak melihat wartawan.
Tidak melihat hakim.
Tatapannya hanya tertuju kepada Zhava.
"Saya tidak akan meminta hukuman diringankan."
"Saya tahu semua kesalahan saya."
"Saya menerima apa pun keputusan pengadilan."
Ia berhenti sejenak.
"Lalu..."
"...ada satu orang yang ingin saya bicarakan."
Semua orang mengikuti arah pandangnya.
Zhava menundukkan kepala.
"Zhava Vianzya."
Suara Vincent tetap tenang.
"Dia tidak pernah mengkhianati negara."
"Dia hanya menjalankan tugasnya."
"Tolong..."
"...jangan pernah menyalahkannya karena menangkap saya."
Air mata Zhava langsung jatuh.
Padahal orang yang paling berhak membencinya...
Justru sedang melindunginya di depan semua orang.
Vincent kembali menatap hakim.
"Itu saja."
Ia duduk kembali.
Seluruh ruang sidang dipenuhi keheningan.
Hakim mengetukkan palunya.
"Sidang akan dilanjutkan minggu depan untuk pembacaan putusan."
Vincent kembali diborgol.
Saat melewati kursi saksi, langkahnya berhenti sesaat di depan Zhava.
Mereka saling menatap tanpa sepatah kata pun.
Zhava menggenggam erat surat di dalam sakunya.
"Vincent..."
bisiknya pelan.
Vincent tersenyum tipis.
Senyum yang sama seperti ketika pertama kali ia datang membeli mawar putih di toko bunga.
"Jangan menangis lagi."
Hanya itu yang ia ucapkan.
Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju mobil tahanan.
Zhava berdiri mematung sampai sosok Vincent menghilang dari pandangannya.
Untuk pertama kalinya...
Ia menyadari bahwa cinta yang paling besar bukanlah tentang memiliki.
Melainkan tentang tetap melindungi seseorang...
bahkan ketika orang itu telah menghancurkan seluruh hidupmu. 💔