NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 27

Sesampainya di istana, Arya dibuat bingung dengan begitu banyaknya prajurit yang berlalu lalang sibuk mempersiapkan sesuatu. Situasi seperti saat ini belum pernah dilihatnya selama dia tinggal di istana, dan itu menimbulkan pertanyaan besar di benaknya.

Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Arya berjalan menuju aula. Seorang prajurit berlari tergopoh-gopoh juga menuju aula begitu mengetahui kedatangan Arya.

"Mohon maaf, Paduka ... Tuan Arya sudah kembali. Beliau sedang berjalan menuju aula."

Raja Gajayana seketika bangkit berdiri. Baginya, informasi kedatangan Arya adalah hal yang paling ditunggunya dalam situasi seperti ini.

"Saudara semua, akhirnya orang yang kita tunggu, pahlawan besar kita kini sudah berada di istana. Kita tidak perlu cemas lagi menghadapi serbuan pasukan kerajaan Gandara," ucapnya penuh semangat. Pandangannya tertuju ke arah pintu aula menunggu Arya membukanya.

Dharmaseta yang berada di samping Mandala dan Santoso, hanya bisa mengernyitkan dahinya. Dia masih belum paham siapa yang dimaksud Raja Gajayana, dan penasaran seperti apa rupanya.

"Memangnya siapa yang dimaksud Paduka, Senopati?" tanya Dharmaseta berbisik pelan kepada Mandala.

"Seorang pendekar muda, Tuan. Kekuatan dan kemampuan ilmu kanuragannya  tidak perlu disangsikan lagi," jawab Mandala.

"Sekuat itukah dia sehingga paduka sangat berharap banyak kepadanya?" Rasa ragu sedikit terbersit di hati Dharmaseta.

Mandala mengangguk pelan. Tapi dia juga sulit untuk menjelaskan dan membuat Dharmaseta percaya sebelum lelaki tua itu melihat kemampuan Arya.

"Benar, Tuan Dharmaseta. Kekuatannya sungguh menakutkan. Bahkan akupun takut jika berhadapan dengannya," sahut Santoso.

Setelah ditunggu cukup lama dan tidak muncul juga, Raja Gajayana bertanya kepada prajurit yang melapor kepadanya. "Kau bilang Arya sudah datang, lalu di mana dia sekarang?"

"Mohon maaf, Paduka ... Hamba tidak berani berbohong, tadi hamba melihat sendiri Tuan Arya memang sudah berjalan mengarah ke sini," jawab prajurit dengan mimik ketakutan.

"Cepat cari dia sampai ketemu!" perintah Raja Gajayana.

Tanpa diketahui mereka yang berada di aula, Putri Citra yang secara kebetulan berpapasan dengan Arya, langsung menyeret Arya dan membawa pemuda itu ke dalam kamarnya.

Satu bulan lebih tidak bertemu Arya, membuat gadis cantik putri Raja Gajayana itu memendam kerinduan yang sangat berat. 4 hari saja tidak bertemu sudah membuatnya gelisah tidak karuan, apalagi satu bulan lebih.

Putri Citra tidak peduli meski Arya sudah menjelaskan ingin menemui Raja Gajayana di aula. Baginya, sosok pertama yang harus ditemui pemuda itu adalah dia.

Tak berapa lama, ketukan di pintu kamarnya membuat Putri Citra sedikit naik pitam. Dia merasa waktunya berduaan dengan Arya sudah terganggu oleh orang yang berani mengetuk pintunya.

Putri Citra berjalan dengan rasa geram berjalan menuju pintu dan membukanya. Kemarahannya seketika meledak, begitu tahu bahwa yang mengganggu keasyikannya bersama Arya adalah seorang prajurit.

"Apa kau sudah bosan hidup berani mengganggu waktuku!?"

Lutut prajurit tersebut bergetar saking takutnya. "Mohon maaf, Gusti Putri. Hamba diperintah Paduka untuk mencari Tuan Arya. Apakah beliau ada di sini?"

"Arya memang ada di sini. Bilang pada ayahku, hari ini aku tidak mau kebersamaanku dengan Arya diganggu oleh siapapun!"

"Tapi, Gusti Putri ... Paduka menyuruh hamba ..."

"Apa kau tuli, Prajurit!? Sampaikan saja kepada ayahku apa yang tadi aku perintahkan kepadamu!" bentak Putri Citra.

Suara gadis cantik itu yang keras membuat Arya berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Ada apa, Prajurit?"

"Mohon maaf, Tuan ... Paduka menyuruh hamba mencari Tuan. Beliau menunggu kedatangan Tuan di aula sekarang."

"Baiklah kalau begitu, ayo kita ke sana!" jawab Arya.

"Kau tidak boleh kemana-mana! Hari ini kau khusus menemaniku!" sela Putri Citra sambil memegangi tangan Arya agar tidak pergi kemanapun.

Arya tersenyum memandang Putri Citra.

"Apa Putri sudah lupa apa yang aku katakan dulu? Siapa tahu ada hal penting yang mau dibicarakan paduka denganku. Ingat, dahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi!"

Putri Citra menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa sedikitpun membantah jika Arya sudah berbicara. "Apa aku boleh ikut ke aula?"

"Boleh saja. Memangnya siapa yang berani melarangmu memasuki aula istana?"

Putri Citra mengangkat wajahnya lalu tersenyum manis kepada Arya.

Mereka bertiga mengayunkan langkah menuju aula yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar Putri Citra. Tampak gadis cantik itu menggenggam erat tangan Arya seolah tidak mau berpisah lagi.

Begitu pintu aula terbuka, semua pasang mata yang berada di dalam tempat itu serentak teralih. Raja Gajayana tersenyum lebar melihat Arya dan Putri Citra yang bergandengan tangan memasuki aula istana.

Dugaan yang tidak-tidak pun muncul dalam pikiran penguasa kerajaan Kanjuruhan tersebut. Terutama tentang hubungan putrinya dengan Arya. Bukan hanya raja Gajayana, semua pasang mata yang ada di aula pun punya pemikiran serupa. Mereka menduga jika Arya dan Putri Citra memiliki hubungan khusus tentang masalah hati.

Arya menundukkan kepalanya memberi hormat kepada raja Gajayana. Setelah itu dia memberi hormat kepada semua pejabat istana yang berada di dalam aula.

Pandangan matanya terhenti ketika melihat lelaki yang beberapa waktu ditolongnya. Begitu pula dengan Dharmaseta yang juga terpaku menatapnya.

"Bagaimana Paman bisa ada di sini?" tanya Arya. Kerutan di dahinya begitu kentara menunjukkan rasa herannya.

"Pendekar juga kenapa bisa ada di sini?" Dharmasetaa bertanya balik.

"Kalian sudah saling mengenal?"  tanya Raja Gajayana keheranan.

"Pendekar muda ini yang sudah menyelamatkan hamba ketika hendak kemari, Paduka. Semua prajurit kerajaan Gandara dibunuhnya tanpa menyisakan satupun yang hidup," jawab Dharmaseta.

Raja Gajayana sedikit ternganga sembari menggaruk bagian belakang kepalanya. "Baguslah kalau kalian saling mengenal."

"Kali ini hamba sudah yakin jika kerajaan Kanjuruhan akan bisa memenangkan perang melawan kerajaan Gandara, Paduka. Pendekar muda ini adalah jaminannya," tutur Dharmaseta penuh keyakinan.

Ganti Arya yang kebingungan dengan apa yang sudah terjadi. Kenapa ada pembahasan perang segala dalam pertemuan kali ini, pikirnya.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Paduka? Apakah hamba sudah ketinggalan informasi terbaru?" tanya Arya.

"Duduklah dulu. Aku akan menceritakannya kepadamu," balas Raja Gajayana.

Sementara itu di tempat yang jauh dari Kotaraja kerajaan Kanjuruhan, 30 ribu prajurit kerajaan Gandara sedang beristirahat di kaki gunung Arjuno.

Mereka harus melewati gunung yang cukup tinggi itu untuk sampai di Kotaraja Kanjuruhan, dan itu bisa memakan waktu sekitar dua minggu lamanya.

Raja Barawijaya yang langsung memimpin perang untuk pertama kalinya sejak dia diangkat menjadi raja, memberi perintah kepada pasukannya selama sehari untuk beristirahat memulihkan stamina fisik mereka yang terkuras.

Ratusan tenda besar kecil berdiri berjajar memenuhi kaki gunung yang terkenal angker tersebut. Sebuah tenda yang paling besar khusus untuk raja, juga sudah berdiri dan dikelilingi tenda prajurit di sekitarnya.

Di dalam tenda besar itu, Senopati agung yang baru, Jalaksora, tampak memaparkan strategi yang sudah direncanakannya dengan matang.

Dua orang lelaki tua berbaju hitam juga berada di dalam tenda besar tersebut. Mereka berdua adalah sepasang pendekar Jari Iblis yang disewa Jalaksora untuk ikut membantu menyerang kerajaan Kanjuruhan.

"Hamba yakin dengan ikutnya Tetua Wongsopati dan Tetua Joyorono dalam penyerangan kali ini, kemenangan akan ada dalam genggaman kita, Paduka," kata Jalaksora tegas.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!