NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14: Tamu tak Diundang

Selama perjalanan naik ke lantai 40, Neo berdiri dalam diam.

Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, namun di dalam kepalanya, rasa penasaran itu mulai mendidih.

Ia sengaja datang lebih awal. Ia ingin menangkap basah Stella Rosewood. Ia ingin melihat wajah panik wanita itu saat Neo tiba-tiba muncul dan merusak zona amannya.

Ia ingin melihat topeng apa yang akan dipakai oleh wanita penipu itu hari ini.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai 40. Sekretaris di meja depan nyaris pingsan melihat rombongan Neo.

"Tunggu di sini, Liam," perintah Neo pelan.

Neo berjalan sendirian mendekati pintu ganda bertuliskan 'Ruang Direktur Utama'.

Insting tajamnya menangkap sesuatu. Bahkan sebelum ia membuka pintu, indra penciumannya sudah disambut oleh jejak wangi yang kemarin sore mengganggunya.

White Tea & Peony.

Aroma itu bersih, menenangkan, dan sialnya... sangat mengundang.

Neo tidak mengetuk. Ia memutar kenop dan mendorong pintu kayu itu lebar-lebar.

"Apa yang sed..."

Kalimat Neo terhenti di tenggorokan.

Di seberang ruangan, duduk di atas kursi kulit kebesaran, adalah Stella Rosewood.

Wanita itu terlihat sangat elegan dengan kemeja sutra burgundy-nya.

Sinar matahari pagi membingkai wajahnya yang memiliki garis keturunan Asia-Amerika, menonjolkan tulang pipinya yang tegas.

Mata –monolid dan Obsidian– mereka bertemu. Tatapan mematikan dari sang predator bertemu dengan tatapan terkejut dari sang mangsa.

Waktu seolah berhenti berdetak selama tiga detik penuh.

Bagi Neo, melihat Stella duduk di kursi kekuasaan itu dengan postur yang begitu santai dan tidak ketakutan sedikit pun, adalah sebuah pemandangan yang mengusik egonya.

Wanita ini benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis bodoh yang selalu mengejarnya.

Namun, yang terjadi selanjutnya sukses membuat sirkuit di otak cerdas Neo Hayes Blake mengalami korsleting seketika.

Stella terdiam mematung. Matanya melotot menatap sosok tinggi besar di ambang pintu.

Jantungnya berpacu, tapi bukan karena terpesona oleh aura dominan pria itu. Melainkan karena suara sistem berbunyi melengking di kepalanya.

[ Peringatan Waktu! Target tamu tak diundang telah tiba. Eksekusi Misi Harian sekarang! Sisa waktu 10 detik! ]

[ 9... 8... 7... ]

"Vix, aku bersumpah akan membakar mu hidup-hidup," batin Stella menjerit histeris.

Cegukan suara bebek atau harga diri hancur di depan Neo?

Tentu saja, Stella lebih memilih mati daripada harus bersuara seperti bebek di hari pertamanya bekerja.

Nona Cegil itu mengambil napas panjang, mengunci egonya rapat-rapat di dalam lemari imajiner, lalu memutuskan untuk menjadi gila seutuhnya.

Tepat sebelum Neo melangkah masuk untuk mengintimidasi, Stella tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan.

Tangan kanannya terangkat, menjepit sebuah benda kecil bertekstur kenyal berwarna merah muda terang.

Senyum miring yang luar biasa tengil, sedikit dipaksakan tapi tetap terlihat manis, merekah di bibir Stella.

"Selamat pagi, Tuan Blake yang menakutkan," sapa Stella dengan nada yang dibuat semanis madu, persis seperti orang gila yang tidak memiliki rasa takut.

Lalu, tanpa aba-aba, ia mengedipkan sebelah matanya dengan gaya flirty yang sangat konyol.

"Mau permen jeli beruang?"

Keheningan yang menyusul benar-benar memekakkan telinga.

Neo membeku di tempatnya. Sepatu kulit mahalnya yang baru maju satu langkah kini terpaku ke lantai kayu.

Rahangnya sedikit mengeras.

Pria yang ditakuti di seluruh daratan Eropa itu menatap benda kecil berbentuk beruang berwarna merah jambu di tangan Stella, lalu menatap wajah wanita itu, lalu kembali menatap permen tersebut.

Ia sudah menyusun puluhan skenario di kepalanya selama perjalanan kemari.

Ia menduga Stella akan marah, atau mengusirnya, atau pura-pura menangis, atau kembali memeluknya layaknya wanita murahan.

Tapi ditawari permen jeli beruang merah muda sambil diberi kedipan mata konyol di tengah ketegangan yang mencekik ini?

Neo kehabisan kata-kata. Auranya yang sedingin es retak sesaat karena kebingungan yang absolut.

Vix yang melayang di atas lampu gantung tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.

"Ya ampun! Wajah pria itu sangat epik! Host, aku padamu!"

[ Ding! ]

[ Misi Selesai dengan Sempurna! Level Ketengilan Host: Tak Terhingga. ]

[ Hadiah: 25 Poin Karma ditambahkan. ]

Melihat Neo yang diam seribu bahasa, Stella memutuskan bahwa misinya sudah selesai.

Ia tidak punya waktu untuk merasa malu.

Dengan gerakan yang sangat cuek dan anggun seolah tidak terjadi hal memalukan, Stella melempar permen jeli itu ke dalam mulutnya sendiri, mengunyahnya dengan santai.

"Sayang sekali. Kau melewatkan rasa yang paling enak," ucap Stella acuh tak acuh, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.

Ia melipat kedua tangannya di depan dada, aura santainya perlahan digantikan oleh aura pertahanan yang tajam.

"Jadi, apa yang membawa CEO Blake Group ke kantor sementaraku ini tanpa membuat janji, Tuan Blake? Jangan bilang kau datang hanya untuk memeriksa apakah aku sungguhan melompat dari jembatan atau tidak."

Neo tersadar dari kebingungannya. Garis rahangnya kembali mengeras, dan mata obsidiannya menyipit berbahaya.

Langkah kakinya yang panjang segera membawa pria itu masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang mengancam.

Aroma Dark Musk dan Leather milik Neo mulai bertabrakan dengan wangi White Tea & Peony milik Stella di udara, menciptakan tensi yang luar biasa pekat di dalam ruangan itu.

Neo berhenti tepat di seberang meja mahoni. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangannya di atas meja, mengurung jarak antara dirinya dan Stella.

Bayangan tubuhnya yang besar menutupi Stella, menciptakan intimidasi fisik yang tak terbantahkan.

"Bermain rumah-rumahan, Rosewood?" suara Neo terdengar sangat pelan, serak, bergetar dengan amarah yang ditekan.

Tatapan matanya menelusuri wajah Stella, mencari celah, mencari kebohongan.

"Kau pikir dengan meretas sistem keluargamu sendiri dan mencuri kursi paman mu yang bodoh itu, kau tiba-tiba menjadi wanita berkuasa?"

Stella tidak mundur seinci pun. Hawa dingin dari pria itu terasa menusuk kulitnya, tapi Nona Cegil itu malah balas menatap tepat di kedalaman mata obsidian Neo.

"Meretas?" Stella tertawa pelan, memiringkan kepalanya.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Tuan Blake. Aku hanya mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku. Paman Arthur mundur karena masalah kesehatan, tentu saja."

Neo mendengus pelan. Kedekatan jarak mereka membuat Neo bisa menghirup aroma wanita itu dengan sangat jelas.

Wangi teh putih itu anehnya membuat rasa pening di kepala Neo akibat kurang tidur mereda. Namun ia mengabaikannya.

"Kau pembohong yang hebat, Stella," bisik Neo berbahaya, matanya terpaku pada mata monolid wanita itu.

"Kau menipuku, menipu keluargamu, dan menipu seluruh London. Tapi ingat ini. Mencuri dari keluargamu sendiri tidak akan membuatmu cukup kuat untuk berdiri di arena yang sama denganku. Kau masih hama kecil."

Stella tersenyum. Bukan senyum tengil, melainkan senyum dingin yang penuh perhitungan.

Ia mencondongkan wajahnya ke depan, hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Neo yang keras bak pahatan patung dewa Yunani.

"Kau terlalu percaya diri, Tuan Blake," balas Stella dengan suara yang sama pelannya, namun setajam pisau bedah.

"Siapa bilang aku ingin berdiri di arenamu? Aku sedang membangun arenaku sendiri. Dan saat arenaku sudah jadi..."

Mata Stella berkilat penuh tantangan. "...aku yang akan memutuskan apakah pria sepertimu pantas berdiri di sana atau tidak."

Hening.

Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang sarat akan percikan api. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah.

Di dalam dada Neo, jantungnya berdetak dengan ritme yang asing.

Kemarahan pria itu perlahan melebur menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya. Obsesi.

Wanita di depannya ini bukan lagi lintah yang menyedihkan.

Ia adalah teka-teki yang menantang, mangsa yang menggigit balik, dan tebing curam yang membuat Neo ingin melompat hanya untuk melihat apa yang ada di dasarnya.

Tepat pada saat ketegangan di antara mereka sudah mencapai titik maksimal, suara pintu diketuk dari luar memecah keheningan.

"T-Tuan Blake? Nona Rosewood?" Suara Liam terdengar ragu dari balik pintu kayu.

"Maaf mengganggu... tapi ada pihak kepolisian London di depan. Mereka datang dengan surat perintah penggeledahan untuk ruangan Paman Anda, Nona Rosewood."

Stella menarik tubuhnya menjauh dari Neo, menyeringai menang.

"Ah, sepertinya pertunjukan utamanya sudah dimulai. Mau menonton bersamaku, Tuan Blake? Atau kau terlalu sibuk untuk melihat bagaimana 'hama kecil' membersihkan kandangnya?"

Neo menegakkan tubuhnya, menatap Stella dengan pandangan tak terbaca.

Namun satu hal yang pasti, pria dingin itu tahu bahwa hidupnya yang terkendali kini telah dirusak sepenuhnya oleh Nona Pembuat Onar ini.

Dan anehnya, ia sama sekali tidak ingin pergi.

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!