NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024

Bunga di Meja Kerja

"Kenapa," bisiknya, "aku merasa pernah ada di gambar ini?"

Nathanael tidak menjawab.

Malam itu, ia hanya duduk di ujung sofa sampai Louisa akhirnya menutup aplikasi LINE Webtoon. Ketika ia berdiri, Nathanael ikut berdiri, mengambil ponsel yang hampir jatuh dari pangkuannya, lalu meletakkannya di meja dengan layar menghadap bawah.

"Tidur," katanya.

Louisa mengangguk, terlalu lelah untuk membantah.

Ia tidak tahu jam berapa Nathanael kembali ke ruang kerja. Ia hanya ingat lampu koridor yang dibuat redup, segelas air hangat di meja samping tempat tidur, dan suara pintu kamarnya ditutup dari luar dengan sangat pelan.

Keesokan paginya, sesuatu yang tidak ada semalam muncul di meja kerjanya.

Sebuah vas kaca kecil.

Di dalamnya, tiga tangkai bunga warna putih kehijauan berdiri rapi. Kelopaknya tidak terlalu besar, lembut seperti kertas tipis yang baru dibuka. Di antara batangnya ada daun eucalyptus kecil, membuat aroma segar memenuhi sudut kamar.

Louisa berhenti di ambang pintu.

Mug jeruknya ada di sebelah vas itu. Buku sketsanya ada di bawah lampu meja. Semua benda lain sama seperti yang ia tinggalkan, sehingga bunga itu terlihat semakin jelas sebagai sesuatu yang sengaja diletakkan di sana.

Tidak ada kartu.

Tidak ada nama pengirim.

Louisa menyentuh pinggir vas dengan ujung jari. Airnya dingin. Bunganya masih segar, seolah baru dipotong pagi ini.

"Bu Sari?"

Ia keluar kamar sambil membawa rasa penasaran yang belum sempat disembunyikan.

Bu Sari sedang menata mangkuk bubur ayam di meja makan. "Iya, Bu Louisa?"

"Bunga di kamar saya, Ibu yang taruh?"

"Saya taruh di meja, Bu. Tapi bunganya sudah dikirim waktu saya datang." Bu Sari tersenyum kecil. "Kurir florist bilang untuk Bu Louisa."

"Ada kartu?"

"Tidak ada. Cuma bilang harus ditaruh di tempat yang kena cahaya, tapi jangan kena matahari langsung."

Louisa memandangi arah kamarnya.

Sangat spesifik.

Terlalu spesifik untuk kiriman acak.

Nathanael muncul dari koridor dengan rambut masih sedikit basah. Ia memakai kemeja putih dan jam yang selalu ia pakai ke kantor. Matanya turun sebentar ke wajah Louisa, lalu ke arah kamar.

"Ada apa?"

"Ada bunga."

"Hm."

"Kamu lihat?"

"Tadi lewat."

Jawaban itu terlalu pendek. Louisa menatapnya, mencoba mencari tanda. Nathanael mengambil gelas air dari meja, seolah percakapan tentang bunga misterius adalah hal paling biasa di pagi hari.

"Kamu tahu dari siapa?"

"Florist, mungkin."

Louisa menahan napas satu detik.

"Aku juga tahu itu dari florist."

Sudut bibir Nathanael bergerak hampir tidak terlihat. "Kalau begitu kamu sudah tahu sebagian."

Bu Sari pura-pura sibuk mengaduk bubur.

Louisa ingin bertanya lebih jauh, tetapi Nathanael sudah menarik kursi untuknya.

"Sarapan dulu. Nanti bunganya keburu kamu interogasi sebelum kamu makan."

"Bunga tidak bisa diinterogasi."

"Makanya makan dulu."

Louisa duduk, masih merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi bubur ayam hangat di depannya membuat perutnya mengingat bahwa ia memang lapar. Nathanael tidak membahas bunga lagi. Ia bertanya apakah Louisa ingin mengurus beberapa dokumen resign hari ini atau beristirahat dulu. Ia tidak memaksa ketika Louisa berkata ingin menggambar.

Setelah Nathanael berangkat ke kantor, Louisa kembali ke kamar.

Bunga putih kehijauan itu membuat meja kerjanya terlihat berbeda. Bukan lebih mewah. Hanya lebih hidup. Seolah sudut yang kemarin penuh kardus dan buku catatan lama sekarang punya udara baru.

Ia mengambil buku sketsa, duduk, lalu mulai menggambar bentuk kelopaknya.

Garis pertama kaku.

Garis kedua lebih ringan.

Setelah hampir satu jam, ia baru sadar bahwa untuk pertama kalinya sejak resign, ia menggambar bukan untuk proyek kantor, bukan untuk permintaan siapa pun, dan bukan untuk menyenangkan orang tertentu.

Hanya karena bunga itu ada.

Hari berikutnya, vas yang sama berisi bunga berbeda.

Kali ini warnanya kuning pucat, kecil-kecil, disusun dengan ranting baby blue eucalyptus. Tidak ada kartu lagi. Tidak ada nama pengirim. Bu Sari hanya berkata kurir datang lebih pagi, kali ini bahkan sebelum ia selesai menyalakan rice cooker.

Louisa berdiri di depan meja kerjanya dengan tangan terlipat.

"Ini pasti Stella," gumamnya.

Alasannya kuat. Stella suka kejutan. Stella suka membuat segala sesuatu terasa seperti konten harian. Stella juga punya energi untuk memesan bunga berbeda setiap pagi hanya demi melihat reaksi orang.

Louisa memotret vas itu dan mengirimkannya lewat WhatsApp.

Louisa:

Stel, ini kerjaan kamu?

Stella:

Pagi-pagi sudah tuduh aku? Ci, aku baru buka laptop.

Louisa:

Bunga ini.

Stella:

Wah cantik.

Louisa:

Jadi kamu yang kirim?

Stella:

Kalau aku yang kirim, kartunya akan lebih heboh.

Louisa menatap balasan itu.

Masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Ia mengetik lagi.

Louisa:

Tapi kamu tahu siapa yang kirim?

Stella:

Aku tahu banyak hal, tapi untuk yang ini aku memilih menjadi warga netral.

Louisa:

Itu artinya kamu tahu.

Stella:

Itu artinya aku sayang hidupku.

Louisa memicingkan mata ke layar.

Di luar dugaan, ia tertawa.

Tawa itu kecil, tetapi cukup membuat dadanya terasa longgar. Ia belum tahu siapa pengirim bunga. Ia juga belum tahu kenapa seseorang mengirim tanpa nama. Namun dua pagi berturut-turut, meja kerjanya menunggu dengan sesuatu yang tidak meminta balasan.

Pada hari ketiga, Louisa membuka pintu kamar lebih cepat.

Ia bahkan belum mencuci muka.

Vas kaca itu sudah ada.

Isinya kali ini bunga ungu muda dengan kelopak berlapis tipis dan satu batang daun hijau tua. Masih tanpa kartu.

Louisa berdiri diam, lalu mengambil ponselnya.

Louisa:

Stel.

Stella:

Aku belum ngapa-ngapain.

Louisa:

Aku bahkan belum kirim foto.

Stella:

Feeling aku kuat.

Louisa memotret bunga itu, mengirimkannya, lalu menunggu.

Balasan Stella datang beberapa detik kemudian.

Stella:

Ci, kalau kamu mau tahu siapa pengirimnya, coba tanya orang yang serumah.

Louisa menatap layar.

Di ruang makan, suara kursi bergeser pelan.

Nathanael sudah duduk di sana, membaca berita bisnis dari tablet, seolah ia tidak punya hubungan apa pun dengan bunga yang setiap pagi muncul di kamar Louisa.

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!