NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: (FLASHBACK) MEMBALIKKAN KEADAAN

Suapan terakhir nasi goreng baru saja masuk ke mulut Dimas. Namun, belum sempat ia mengunyahnya dengan benar, kelopak matanya tiba-tiba terasa sangat berat.

​Bruk.

​Hanya butuh beberapa detik sebelum Dimas benar-benar tertidur pulas dengan kepala menelungkup di atas meja kantin.

​Ketika ia mengerjap dan membuka mata kembali, suasana kantin sudah senyap. Kursi-kursi tertata rapi, dan lantai tampak bersih tanpa sisa keramaian siswa.

​"Hah... Pada ke mana ini?!" gumamnya panik.

​Di tengah kebingungan itu, ia melihat sosok ketua OSIS sedang merapikan papan pengumuman di dekat pintu keluar. Dimas langsung bangkit dan menghampirinya.

​"Eh, Ketos!"

​Ketua OSIS itu menoleh. "Iya? Ada apa, Dim?"

​"Ini kok sepi banget? Udah pada bubar?"

​"Loh, kamu gak sadar? Ini kan udah jam pulang sekolah."

​"Hah, seriusan?!"

​"Iya, dari tadi."

​"Aduh, berabe!"

​Dimas langsung berlari tergopoh-gopoh menuju kelas privat untuk menyambar tasnya. Begitu keluar gerbang sekolah, napasnya memburu. Ia celingukan mendapati suasana jalanan sudah lengang.

​"Beneran sepi... Tapi aneh, kok Pak Taryo gak nyariin gue tadi pas bolos kelas privat?"

​Mata Dimas menangkap sosok Pak Taryo, petugas keamanan sekolah, sedang merapikan sepeda motor di area parkir. Ia pun setengah berlari menghampirinya.

​"Pak!"

​Pak Taryo mendongak. "Iya? Ada apa, Dimas?"

​"Loh, bapak gak marah? Kan tadi saya gak masuk kelas privat."

​"Oh, itu? Santai saja. Kebetulan tadi bapak sibuk banget ngurus berkas administrasi sekolah, jadi anggap saja itu jam istirahat buat kamu."

​"Wih, serius, Pak?"

​"Iya."

​"Makasih banyak, Pak!"

​Pak Taryo tertegun sejenak, menatap Dimas dengan alis terangkat. "Hmm... Iya."

​"Loh, kenapa muka bapak kaget gitu?"

​"Agak aneh saja dengar kamu ngomong makasih secara tulus begitu."

​"Lah, emangnya apa yang aneh? Ini normal kali!" protes Dimas pura-pura sewot.

​"Hahaha, iya-iya. Ya sudah, sana pulang."

​"Yaudah, kalau gitu saya duluan ya, Pak!" sahut Dimas sambil melambaikan tangan, lalu bergegas pergi meninggalkan area sekolah.

​Perjalanan pulangnya diisi dengan naik bus kota yang mulai sepi penumpang. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di depan pintu rumahnya, senyum tengil di wajah Dimas seketika runtuh. Topeng riangnya copot, menyisakan tatapan kosong dan dingin yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

​"Selamat datang!" sambut sang kakak dari arah ruang tengah.

​"Iya," jawab Dimas datar, tanpa menoleh.

​"Loh, gak makan dulu? Makanan udah disiapin."

​"Nanti."

​Brak!

​Dimas menutup pintu kamarnya dengan kasar, memutus segala interaksi. Di dalam kamar yang temaram itu, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, memeluk diri sendiri dalam keheningan.

Sementara itu di dalam kamarnya yang temaram, Dimas terduduk lemas di lantai. Ia meraih dua bingkai foto di atas meja belajar—foto mendiang ayah dan ibunya.

​"Haa... Pura-pura kuat itu susah ya, Ayah... Ibu..." gumamnya lirih.

​Dimas mendekap kedua bingkai itu erat-erat ke dadanya. Tangisnya yang selama ini tertahan akhirnya pecah, menyisakan sesak yang berulang kali ia rasakan sejak hari kelam kepergian orang tuanya.

​"Hmm... Aku pasti cari dalang dari semua ini! Ayah, Ibu... tunggu aku," tekadnya dalam isak tangis.

​Setelah cukup lama membiarkan air matanya tumpah, Dimas perlahan meletakkan kembali bingkai foto tersebut ke tempat semula. Ia bangkit dari lantai, menghapus sisa air mata di wajahnya, lalu beranjak keluar kamar untuk makan malam.

​Suasana meja makan malam itu berjalan seperti biasa. Sunyi, kaku, dan mencekam. Tidak ada obrolan hangat, yang terdengar hanyalah suara tokek di balik langit-langit rumah.

​Saat sang kakak mencoba membuka percakapan, balasan Dimas hanyalah keheningan dingin, seperti yang selalu ia lakukan.

​Padahal dulu, Dimas adalah anak yang sangat ceria dan apa adanya. Namun, semenjak masalah besar itu merenggut kebahagiaan keluarganya, ia memilih memendam semuanya rapat-rapat, bertekad mewujudkan satu keinginan terakhir mendiang ayahnya tanpa peduli seberapa besar beban yang harus ia pikul sendirian. Ia bahkan belum menyadari kalau cara yang ia pilih selama ini salah. Dimas tidak peduli lagi pada dirinya sendiri—baginya, yang penting amanat sang ayah terpenuhi, meski ia harus hidup di balik topeng kepalsuan sejak SMP hingga menginjak bangku SMA.

​Keesokan harinya, Dimas kembali menyalakan motor Beat kesayangannya, memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar tidak terlambat.

​Sesampainya di ruang kelas privat, suasana masih kosong. Pak Taryo rupanya belum tiba, kemungkinan besar masih dalam perjalanan menuju sekolah. Sambil menunggu, Dimas mengeluarkan ponselnya dan membuka game battle royale favoritnya.

​"Mantap! Gini kan enak, sepi. Gue turun ke Peak deh, mau coba main bar-bar!" gumamnya penuh semangat.

​Begitu karakter permainannya mendarat di area Peak, minimap langsung dibanjiri tanda merah langkah kaki musuh yang berkerumun.

​Dimas sempat panik, jempolnya bergerak cepat mengatur strategi, tapi ia terlalu gegabah menyerang tanpa perhitungan matang. Dalam hitungan detik, karakternya tertembak jatuh dan seketika kembali ke lobby.

​"Aduh, sial! Gini amat dah! Ya... udahlah ya, namanya juga game." Dimas menghela napas pasrah, menaruh ponselnya di meja.

​Tepat saat ia mengeluhkan kekalahannya di game, pintu kelas terbuka. Pak Taryo datang membawa kantong plastik berisi makanan hangat.

​Dimas yang melihatnya langsung berbinar. "Widih, ada apa nih, Pak?"

​"Oh, ini? Istri saya masak agak banyak, jadi dia suruh saya bagi ke kamu."

​"Wow, seriusan?!"

​"Iya, nih ambil."

​Tanpa pikir panjang, Dimas menyambar kantong makanan itu. "Wah, gak usah repot-repot segala, Pak, hehehe," ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

​"Alah, tinggal ambil aja banyak komentar, Dimas-Dimas," Pak Taryo menggelengkan kepala melihat tingkah siswanya.

​"Hahaha!"

​"Udah, sana siap-siap, sebentar lagi mulai."

​"SIAP, PAK!"

​Dimas mengambil tasnya dari lantai, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kelas privat yang sederhana itu.

​Pak Taryo yang sudah duduk di balik meja belajarnya menoleh, menatap Dimas dengan pandangan menyelidik. "Jadi, Dimas, malam tadi di rumah kamu belajar?"

​Dimas menggaruk tengkuknya sekilas, lalu nyengir lebar. "Emmm, maaf, Pak. Kemarin saya gak belajar."

​"Loh, kenapa? Kamu kan tahu materi ini penting."

​"Hahaha, ya mau gimana lagi, Pak. Lagi ada masalah keluarga," jawab Dimas enteng, sengaja menutupi luka di balik candaannya.

​Pak Taryo menghela napas pendek, namun sorot matanya menyiratkan kelembutan seorang guru yang sudah paham betul watak muridnya. "Yaudah kalau gitu. Pak Taryo akan ulang materinya dari awal, tapi ingat, jangan bercanda terus. Harus serius!"

​"TENANG SAJA, PAK!" sahut Dimas penuh semangat.

​Suasana kelas privat langsung berubah. Dimas mulai duduk tegak, memperhatikan setiap penjelasan Pak Taryo di papan tulis. Ketika ia mencoba mengerjakan soal dengan caranya sendiri—yang terkadang keliru di tengah jalan meski hasil akhirnya benar—sebuah penggaris kayu pelan mendarat di kepalanya.

​Plak!

​"Aduh! Sakit, Pak!" protes Dimas sambil mengusap kepalanya.

​"Cara kamu salah, walau angkanya pas. Ulangi dari awal dan pahami konsep dasarnya!" tegas Pak Taryo.

​Meskipun awalnya merasa asing dan kesulitan, Dimas tidak menyerah. Sifat keras kepala yang selama ini ia pakai untuk bertahan hidup perlahan ia alihkan ke angka-angka dan rumus di depannya. Lama-kelamaan, pola berpikirnya mulai terbuka. Logika di balik rumus matematika dan fisika itu mulai menyatu di kepalanya.

​"Jadi, Dimas, sampai di sini sudah paham?" tanya Pak Taryo setelah menjelaskan panjang lebar.

​Dimas terdiam sejenak, menatap deretan angka di buku catatannya. "Hmm... Sudah, Pak. Coba bapak tes saya!"

​Sudut bibir Pak Taryo terangkat membentuk senyuman tipis. "Oke, kita lihat."

​Ujian mendadak pun dimulai. Pak Taryo mulai melontarkan rentetan pertanyaan matematika dan fisika tingkat lanjut satu per satu dengan tempo cepat. Tanpa ragu, Dimas menjawabnya dengan lancar, membalikkan keadaan dari seorang siswa yang sering dianggap remeh menjadi seseorang yang benar-benar menguasai materi.

​Hingga akhirnya, Pak Taryo memberikan soal terakhir—sebuah soal jebakan yang jauh lebih rumit dari sebelumnya.

​Dimas terdiam cukup lama. Dahinya mengerut, pensil di tangannya berputar cepat, dan otaknya berpikir keras menerka celah dari rumus tersebut. Suasana kelas terasa senyap, hanya menyisakan deru napasnya yang teratur.

​Namun, seiring kilasan logika mendarat di kepalanya, mata Dimas mendadak terang. Dengan gerakan pasti, ia mencoret kertasnya, menemukan inti dari masalah tersebut, dan menyelesaikan jawabannya detik itu juga.

​Momen di mana Dimas menaklukkan soal tersulit itu menjadi titik balik yang membungkam keraguan di dalam dirinya sendiri—membuktikan bahwa di balik segala topeng, luka, dan beban berat yang ia pikul dalam diam, ia tidak pernah sebodoh atau selemah yang orang-orang kira.

1
Myz Pena
dek dimas dek dimas... 😮‍💨
Myz Pena
giliran begini nomor satu 🤧, pelajaran aja nomor -00000
Myz Pena
beginilah kalau nilai ipanya hanya 30.. tong kosong nyaring bunyinya 🤭
Myz Pena
baru juga masuk sekolah sudah di suruh bentuk kelompok kerja.. apa nggak pusing itu kepala 😭
Myz Pena: nggak apa2 , namanya jga dunia novel.. bebas kan 😉
total 2 replies
Myz Pena
ya Allah, IpA mu nilainya hanya 30.... dek dimas dek dimas 🤧
Myz Pena
aduuuuh degdegan gua bacanya padahal udah bukan remaja lagi 🤣
Myz Pena: bagusss.. lebih baik janga tanya umurku 🤭🤣
total 2 replies
Myz Pena
banyak alasan aja itu 🤧
Myz Pena
ada2 aja... bermacam macam suasana sekolah jadi ingat masa SMA.. putih abu2 aduh indahnya masa remaja 😍
Myz Pena: oke kalau begitu smngaaaaattt 💪💪💪
total 4 replies
Myz Pena
emang keramatnya dimana,, perasaan biasa aja deh .🤧
Myz Pena: kirain bakal terjadi sesuatu yang keramat 🤣
total 2 replies
Myz Pena
emang keramatnya dimana ?🤧
Siti Mujaroh
❤️
Fleuriaa
Namanya Raka udah kek nama mantan ku aja 😒
Hamzah: ada nih yang baru siapa tahu minat, cek profilku
total 6 replies
Fleuriaa
🔥👍
Tio Buki
Ikut meramaikan ya🙏🙏🙏
Tio Buki
Lanjut Thor💪👍👍
Tio Buki
Semangat ya🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Hadiah untukmu thor👍👍👍🙏🙏🙏
Tio Buki
Alasan
Tio Buki
Emm. Pagi
Tio Buki
Terus yang mesinnya siapa dong???
Hamzah: wkwkwk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!