NovelToon NovelToon
Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Wanita perkasa / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Lim Mei Li bukan wanita biasa.

Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.

Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.

Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.

Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.

Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.

"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."

Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.

Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.

🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Le Jardin terlalu tenang.

Mei Li menyadari itu begitu masuk ke restoran. Bukan sunyi kosong, melainkan sunyi yang dibeli dengan harga mahal. Piano dimainkan pelan di sudut ruangan. Lampu-lampu dibuat hangat, tidak terlalu terang untuk menyembunyikan rahasia, tidak terlalu gelap untuk disebut romantis murahan.

Arka sudah menunggu di meja dekat jendela.

Ia berdiri ketika melihatnya.

Malam itu ia memakai setelan abu gelap dengan kemeja putih tanpa dasi. Di pergelangan tangannya, gelang kayu cendana tetap ada. Tidak ada bunga di meja. Tidak ada lilin berbentuk hati. Tidak ada hal berlebihan yang membuat Mei Li ingin mundur.

Hanya dua gelas air, satu vas kecil berisi daun hijau, dan kursi yang ditarik cukup jauh agar ia bisa duduk tanpa disentuh.

"Miss Lim," sapanya.

"Pak Arka."

"Anda datang tepat waktu."

"Saya biasanya begitu."

"Saya tahu. Itu sebabnya saya datang lebih awal."

Mei Li duduk, menatap menu yang sudah disiapkan. "Anda memesan tempat tanpa memesan makanan?"

"Saya tidak tahu apa yang Anda suka."

Jawaban itu membuatnya berhenti membalik halaman.

Orang-orang yang ingin mendekatinya biasanya berusaha menunjukkan bahwa mereka tahu. Mereka menebak, mengatur, memamerkan riset. Arka justru mengakui ia belum tahu.

"Anda bisa menebak dari kopi tanpa gula dan melati putih," katanya.

"Saya bisa. Tapi makan malam pertama bukan ujian menebak."

"Makan malam pertama?"

Arka tersenyum tipis. "Saya sedang optimis."

Mei Li menatap menu lagi agar sudut bibirnya tidak terlalu jelas bergerak.

Mereka memesan perlahan. Arka memilih ikan dengan saus ringan, Mei Li memilih daging panggang medium dan salad pahit. Tidak ada wine; Arka langsung memesan sparkling water setelah melihat Mei Li tidak menyentuh daftar minuman.

"Anda tidak bertanya kenapa saya tidak minum alkohol," kata Mei Li.

"Kalau Anda ingin memberi tahu, Anda akan memberi tahu."

"Dan kalau tidak?"

"Saya tetap bisa makan."

Mei Li tertawa kecil.

Kali ini Arka tidak berkomentar bahwa itu pertama atau kedua kalinya. Ia hanya tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih aman: Yogyakarta, Bu Ratih, dan kontrak batik yang sudah dibekukan. Percakapan itu berjalan mudah. Terlalu mudah.

Mei Li terbiasa duduk di meja makan sebagai penyerang atau target. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia duduk sebagai seseorang yang ditanya apakah sausnya terlalu asin.

"Tidak," jawabnya setelah mencicipi. "Tapi Anda terdengar seperti orang yang siap memanggil chef."

"Saya hanya ingin makan malam ini tidak menjadi bagian dari daftar masalah Anda."

"Daftar masalah saya panjang."

"Saya bisa mulai dari piring kecil."

Kalimat itu sederhana. Bodoh, mungkin. Namun justru karena tidak mencoba menyelamatkan seluruh dunianya, ia terasa lebih mungkin dipercaya.

Di tengah makan, ponsel Mei Li bergetar. Nama Amy muncul.

Arka langsung menurunkan pandangan ke piringnya, memberi ruang.

Mei Li mengangkat. "Ya?"

"Nona, Kevin sudah tiba di Penang. Alana mengonfirmasi titiknya. Tidak ada kontak langsung."

"Pantau. Jangan sentuh."

"Baik."

Panggilan berakhir kurang dari dua puluh detik.

Arka tidak bertanya.

Mei Li menatapnya. "Anda tidak penasaran?"

"Penasaran."

"Tapi tidak bertanya?"

"Saya sedang makan malam dengan Anda, bukan menginterogasi Anda."

Ia meletakkan garpu. "Kalau suatu hari urusan saya membahayakan Anda?"

"Saya berasal dari keluarga yang membuat banyak orang merasa berbahaya hanya dengan nama belakang," jawab Arka tenang. "Saya tidak serapuh kelihatannya."

"Anda tidak kelihatan rapuh."

"Syukurlah."

"Anda kelihatan terlalu sopan."

"Itu lebih parah?"

"Kadang."

Arka tertawa pelan. Suaranya rendah, membuat beberapa meja di sekitar mereka terasa semakin jauh.

Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Arka memesan teh hangat untuk dirinya dan teh melati untuk Mei Li setelah bertanya lebih dulu. Di luar jendela, SCBD berkilau dalam garis kaca dan lampu. Jakarta di bawah sana masih penuh perang, tetapi meja kecil itu seperti ruang yang dipinjam dari dunia lain.

"Apa Anda pernah lelah memimpin semua orang?" tanya Arka.

Mei Li memutar cangkir teh. "Apa Anda pernah lelah menjadi orang yang selalu mengerti?"

Arka diam, lalu tersenyum tipis. "Sering."

Jawaban itu membuatnya menatap lebih lama.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia mendengar celah kecil di balik kesempurnaan sopan pria itu.

"Lalu apa yang Anda lakukan saat lelah?" tanya Mei Li.

Arka menatap teh di cangkirnya. "Biasanya tetap melakukan yang harus dilakukan."

"Jawaban khas anak keluarga besar."

"Mungkin." Ia tersenyum tanpa membantah. "Tapi beberapa tahun terakhir, saya belajar satu hal. Orang yang selalu tampak kuat tetap perlu tempat untuk meletakkan punggung."

Mei Li tidak bergerak.

"Anda punya tempat itu?" tanyanya.

"Kadang."

"Kadang?"

"Teras rumah. Buku lama. Dimas yang terlalu berisik sampai saya lupa sedang lelah." Arka menatapnya, kali ini lebih lembut. "Dan mungkin, mulai sekarang, makan malam yang tidak harus membicarakan perang."

Mei Li menurunkan pandangan ke teh melatinya. Uapnya naik tipis, menyentuh wajahnya dengan hangat.

"Saya tidak pandai menjadi tempat orang beristirahat."

"Saya tidak meminta Anda menjadi apa pun."

Kalimat itu membuat dadanya terasa aneh. Bukan sakit. Bukan takut. Lebih seperti kunci yang diputar pelan pada pintu yang sudah terlalu lama tertutup.

***

Arka mengantar Mei Li pulang tanpa mengusulkan mampir.

Mobil berhenti di depan villa Menteng Regency. Amy dan Bella sudah menunggu di dalam, tetapi tidak keluar. Mereka cukup pintar membaca jarak.

Hujan tipis turun lagi.

Arka membuka pintu mobil lebih dulu, lalu memayungi Mei Li sampai teras. Sama seperti di Solo, ia memberi ruang. Sama seperti di Solo, ketiadaan sentuhan terasa lebih jelas daripada sentuhan itu sendiri.

"Terima kasih untuk makan malam," kata Mei Li.

"Terima kasih sudah datang."

"Saya yang berutang."

"Kalau begitu, hutang Anda lunas."

"Semudah itu?"

"Untuk makan malam, iya."

"Untuk yang lain?"

Arka menatapnya.

Di bawah lampu teras, jarak mereka lebih dekat daripada seharusnya. Hujan jatuh di tepi payung, membuat dunia di sekitar mengecil. Mei Li bisa melihat satu tetes air di garis rahang Arka, turun pelan sampai berhenti di dagunya.

Arka juga melihat bibirnya.

Hanya sekilas.

Namun cukup.

Udara berhenti.

Ia menunduk sedikit, sangat sedikit, lalu berhenti sebelum jarak itu menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

"Selamat malam, Mei Li," katanya pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memakai Miss Lim.

Mei Li tidak tahu bagian mana yang lebih berbahaya: hampirnya ciuman itu, atau cara ia memilih berhenti.

Arka mundur satu langkah, menutup payung, lalu berjalan kembali ke rumah sebelah.

Mei Li tetap berdiri di teras sampai pintunya tertutup.

Di balik pintu villa, Amy bertanya sangat pelan, "Nona?"

Mei Li menyentuh bibirnya sendiri tanpa sadar.

"Jangan tanya."

1
Hagia Sophia
sukaa bgt sama ceritanya.. semangat kak... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!