NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : CELAH SINAR DIANTAR AWAN KELAM

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kayu rumah panggung Azahra Aletta, membiaskan garis-garis emas di atas lantai papan yang masih dingin. Sisa-sisa air hujan semalam masih menetes berirama dari ujung atap rumbia, jatuh menghantam tanah basah di bawah sana.

Azahra berdiri di depan cermin retak di kamarnya. Tangan wanitanya perlahan menyentuh pipinya sendiri—pipi yang semalam disentuh oleh jemari kasar Ethan Austin dengan kelembutan yang begitu membekas.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, jantung Azahra berdetak bukan karena rasa takut akan intrik korporasi atau ketakutan akan kematian, melainkan karena sebuah desir hangat yang aneh. Pengakuan murni Ethan di bawah deru hujan kemarin sore terus bergaung di kepalanya. Pria yang dulu sangat mengagungkan kekuasaan dan uang itu rela melepaskan mahkotanya, membiarkan tangannya berdarah, dan bertaruh nyawa di tepi tebing yang runtuh hanya untuk memastikannya tetap bernapas.

"Apakah dia benar-benar sudah berubah?" bisik Azahra pada bayangannya di cermin.

Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh dadanya. Rasa trauma akan masa lalu memang belum sepenuhnya lenyap, tetapi retakan di dinding es hatinya kini makin melebar, membiarkan hangatnya ketulusan Ethan menyusup masuk.

Azahra melangkah ke dapur kecilnya. Ia menyeduh secangkir teh herbal hangat dan menyiapkan mangkuk kayu berisi bubur jagung manis—resep sederhana yang biasa ia buat untuk memulihkan stamina. Ia menyapu pandangannya ke luar jendela. Di rumah kayu bernomor 12 di ujung jalan, pintu depannya masih tertutup rapat.

Azahra menyengkelit selendang kainnya, memegang baki kayu berisi mangkuk bubur dan teh hangat, lalu berjalan perlahan menyeberangi jalan setapak tanah yang masih becek.

Langkah kaki Azahra terhenti di depan teras rumah panggung Ethan. Ia menaiki tangga kayu pelan-pelan, takut mengganggu pria yang mungkin masih beristirahat akibat luka-lukanya semalam. Namun, saat jemarinya baru akan mengetuk pintu, pintu kayu tersebut perlahan terdorong terbuka dari dalam.

Ethan berdiri di sana.

Pria tegap itu tidak mengenakan kemeja. Ia hanya memakai celana panjang katun hitam dan kain kasa tebal yang membalut dada hingga bahu kirinya yang terkilir. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan khas bangun tidur, dan garis wajahnya tampak agak pucat menahan sisa rasa nyeri. Namun, begitu matanya yang berwarna kelabu menangkap sosok Azahra berdiri di ambang pintu membawa baki makanan, wajah pucat itu seketika berseri terang.

"Azahra...?" bisik Ethan, suaranya parau khas serak pagi hari.

Azahra membuang pandangannya ke samping, berpura-pura tidak memperhatikan dada bidang dan perut tegap Ethan yang terekspos tanpa sehelai benang pun.

"Saya... aku menyuruh Pak Basri memeriksa bahumu lagi nanti siang," kata Azahra pelan, mencoba menjaga suaranya tetap datar. "Ini bubur jagung dan teh herbal untuk mengusir dingin semalam. Makanlah sebelum minum obat tradisionalnya."

Ethan menatap baki kayu di tangan Azahra, lalu menatap mata gadis itu. Sebuah senyuman sangat lebar terukir di bibirnya—senyuman polos dan bahagia yang membuat Ethan tampak seperti pria biasa tanpa beban puluhan perusahaan.

"Kamu memasakkannya khusus untukku?" tanya Ethan dengan nada menggoda yang lembut.

"Aku cuma buat kelebihan," kilih Azahra cepat, pipinya mendadak menyemburkan warna kemerahan yang tak bisa ia sembunyikan. "Kalau kamu tidak mau, aku bisa berikan ke Pak Basri."

"Mau!" seru Ethan cepat, setengah meringis saat gerakan tangannya yang mendadak menarik otot bahunya yang cedera. "Argh..."

Azahra refleks melangkah maju, meletakkan baki kayu di atas meja teras dan menahan siku kanan Ethan dengan cemas. "Jangan banyak bergerak dulu! Bahumu itu baru saja diluruskan semalam!"

Ethan membiarkan Azahra menuntunnya duduk di bale-bale kayu teras. Pria itu menatap Azahra yang kini berdiri di sampingnya dengan raut wajah cemas.

"Jika bahuku yang cedera ini bisa membuatmu datang dan memperhatikan aku setiap pagi..." bisik Ethan pelan, menengadahkan kepalanya dan menatap mata Azahra dari dekat, "...maka aku tidak keberatan jika bahuku ini tidak pernah sembuh."

Azahra membeku. Ia menatap mata kelabu Ethan yang memancarkan kejujuran tanpa batas. "Jangan bicara sembarangan. Kamu itu calon cacat kalau bercanda seperti itu."

"Aku serius," sahut Ethan tulus. Ia meraih tangan kanan Azahra yang tergantung di samping gaunnya, menggenggamnya perlahan di antara telapak tangannya yang hangat. "Tiga tahun di Jakarta, aku punya segalanya tapi merasa mati. Di sini, meski bahuku sakit dan tanganku lecet... aku merasa benar-benar hidup karena ada kamu."

Azahra meresapi kehangatan genggaman tangan Ethan. Kali ini, ia tidak menarik tangannya kembali. Ia membiarkan jemarinya beristirahat di dalam genggaman tegap sang mantan CEO, membiarkan keheningan pagi menyelimuti mereka berdua dalam kedamaian yang belum pernah ada sebelumnya.

Siang hari berjalan dengan tempo yang lambat dan menenangkan.

Berita tentang tindakan nekat Ethan yang melompat ke tepi tebing untuk menyelamatkan Nisa dan Azahra semalam telah menyebar cepat ke seluruh pelosok Desa Teluk Mutiara. Pria asing yang dulu dianggap sebagai orang kaya kota yang angkuh itu kini mendadak menjadi pahlawan di mata warga lokal.

Saat Azahra sedang membimbing anak-anak melukis di halaman sekolah, Ethan datang berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Tangan kirinya tersangga oleh kain gendongan sederhana, namun tangan kanannya memegang sebuah kotak kayu besar.

"Pak Ethan datang!" seru Budi girang, menyambut pria itu bersama anak-anak lainnya.

Ethan tersenyum, berlutut menggunakan satu kakinya di atas tanah rumput di hadapan anak-anak. Ia membuka kotak kayu tersebut, memperlihatkan puluhan set cat air baru, buku gambar tebal, dan seperangkat alat olahraga yang sengaja ia minta dikirimkan dari kota kabupaten terdekat tadi pagi.

"Ini hadiah dari Pak Ethan untuk anak-anak pintar yang rajin menjaga kebersihan sekolah," ujar Ethan hangat, membagikan buku-buku gambar tersebut satu per satu.

Azahra berdiri di amparan teras sekolah, menyandarkan tubuhnya ke tiang kayu sambil memperhatikan pemandangan tersebut. Ada rasa kagum yang makin tak membendung di dalam dadanya. Ethan yang dulu tak pernah sudi berjabat tangan dengan staf biasa tanpa menggunakan sarung tangan steril, kini membiarkan anak-anak desa menepuk-nepuk bahunya dan menempelkan bekas cat warna-warni di kemeja putihnya.

Ethan mendongak, menangkap basah tatapan Azahra yang sedang memperhatikannya sambil tersenyum tipis.

Pria itu berdiri, melangkah perlahan menghampiri Azahra di teras.

"Kenapa menatapku seperti itu?" goda Ethan, mengusap bekas noda cat merah di pipinya sendiri. "Ada yang aneh di wajahku?"

"Tidak," sahut Azahra pelan. Ia mengambil selembar sapu tangan bersih dari sakunya, melangkah mendekati Ethan, lalu secara perlahan mengusap noda cat merah di pipi tegap pria itu.

Gerakan Azahra begitu alami dan lembut. Ethan terpaku di tempatnya, menahan napas sewaktu jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Ia bisa melihat kilau lembut di mata jernih Azahra—kilau yang tidak lagi dibentengi oleh ketakutan.

"Kamu beneran menikmati hidup di sini, kan?" tanya Azahra pelan, matanya beradu langsung dengan mata kelabu Ethan sewaktu tangannya selesai membersihkan noda cat tersebut.

"Sangat," jawab Ethan mantap. "Aku tidak pernah merasa secukup ini dalam hidupku, Azahra. Jika kamu mau... kita bisa tinggal di sini selamanya. Aku akan membangun rumah yang lebih bagus di atas bukit, dan kita bisa mengajar bersama di sekolah ini."

Azahra menyunggingkan senyum hangat—sebuah senyuman indah yang membuat dada Ethan berdesir dahsyat. "Jangan berjanji terlalu muluk, Ethan. Dunia kota tempat asalmu sangat luas dan kuat... terkadang mereka tidak membiarkan kita lari begitu saja."

"Aku tidak peduli pada dunia kota lagi," janji Ethan tegas, menggenggam lembut jemari Azahra yang memegang sapu tangan. "Aku sudah memutus seluruh jembatan di belakangku. Tidak ada yang bisa menyeret kita kembali."

Namun... takdir di luar sana tampaknya memiliki rencana yang berbeda.

Sore harinya, di balik rindangnya semak-semak hutan pinus yang mengelilingi batas barat Desa Teluk Mutiara.

Dua sosok pria bersetelan jaket serba hitam dan bertopi kap menurunkan teropong lensa jarak jauh mereka. Dari jarak tiga ratus meter di atas bukit kecil, kamera DSLR dengan lensa telefoto berukuran besar berkali-kali menembakkan bidikan gambar secara bisu.

Cklik! Cklik! Cklik!

Lensa kamera itu menangkap setiap momen intim yang terjadi sore itu: foto Azahra Aletta yang sedang mengusap pipi Ethan Austin di teras sekolah, foto kebersamaan mereka saat tertawa bersama anak-anak desa, hingga foto saat Ethan menggenggam tangan Azahra di depan rumah panggung kayu.

Pria bertopi hitam itu—Bagas, kepala tim intelijen pribadi kepercayaan James Daniel—memeriksa hasil tangkapan gambarnya di layar digital kamera.

Wajah Bagas memucat pasi. Pupil matanya bergetar hebat saat melihat hasil pemindaian perangkat lunak pengenal wajah yang terhubung dengan komputer tablet di tangannya.

MATCH CONFIRMED: 99.9%

SUBJECT A: AZAHRA ALETTA (DECEASED STATUS: INVALID)

SUBJECT B: ETHAN AUSTIN

"Demi Tuhan..." bisik Bagas dengan suara bergetar parau. "Gadis ini benar-benar masih hidup... dan Pak Ethan telah menyembunyikannya selama ini."

Asisten di samping Bagas meneguk ludahnya kasar. "Pak Bagas... apa yang harus kita lakukan? Pak Ethan dengan sengaja membohongi Pak James saat berada di desa ini dua hari lalu!"

Bagas menyapu keringat dingin di dahinya. Ia mengingat betapa hancurnya jiwa James Daniel selama tiga tahun terakhir—betapa bosnya itu hidup bagaikan mayat hidup yang mengurung diri di balik dinding penyesalan, mendirikan yayasan atas nama Azahra, dan menangisi makam kosong setiap bulan.

Dan sekarang, fakta membuktikan bahwa pria yang berpura-pura menjadi rekan berdukanya—Ethan Austin—ternyata menikmati kehidupan bahagia bersama wanita yang paling James cintai di sebuah desa terpencil.

"Ini bukan lagi sekadar kebohongan bisnis..." desis Bagas dingin, merogoh ponsel khususnya dari balik jaket. "...ini adalah pengkhianatan terbesar dalam hidup Pak James."

Bagas menekan tombol panggilan terenkripsi. Sambungan telepon langsung terhubung pada nada dering pertama.

Sementara itu, di lantai empat puluh gedung Daniel Corporation di ibu kota Jakarta.

Suasana di dalam ruangan CEO yang megah itu sunyi bagaikan kuburan. Tirai kaca raksasa menampakkan pemandangan langit malam kota yang dipenuhi kerlip lampu kendaraan. Di balik meja kerja kayunya yang mahal, James Daniel duduk membisu dalam kegelapan.

Di tangannya, ia memegang sebotol wiski tua yang sudah berkurang setengahnya. Wajahnya tampak makin kuyu, matanya merah pekat oleh insomnia dan lingkaran hitam yang mendalam.

BZZZ... BZZZ...

Ponsel khusus di atas mejanya bergetar nyaring. James meraih ponsel tersebut tanpa minat, menempelkannya ke telinga.

"Bicaralah, Bagas," perintah James dengan suara serak yang memancar dingin. "Katakan padaku bahwa pencarianmu di desa konyol itu cuma membuang-buang waktu agar aku bisa tidur malam ini."

Keheningan menyiksa terjadi di ujung telepon selama beberapa detik.

"Pak James..." suara Bagas bergetar parau di ujung sambungan. "...Bapak harus memeriksa berkas digital terenkripsi yang baru saja saya kirimkan ke email pribadi Bapak."

James berkerut kening, alis tebalnya bertaut tajam. "Apa maksudmu?"

"Gadis itu, Pak..." bisik Bagas dengan nada ketakutan murni. "...Alya... guru relawan di Desa Teluk Mutiara itu... dia memang Azahra Aletta. Pemalsuan kematiannya tiga tahun lalu sangat sempurna, Pak. Dia masih bernapas."

BANG!

Gelas wiski di tangan kanan James meledak berkeping-keping saat cengkeraman jarinya mendadak mengencang tak terkendali. Cairan alkohol cokelat dan darah segar meluncur menyatu menetes di atas meja kerja mahal tersebut.

Namun, James sama sekali tidak merasakannya. Seluruh inderanya melumpuh total.

"K-kau... bicara apa...?" bisik James, suaranya bergetar antara syok dahsyat dan histeria yang meluap dari dasar jiwanya.

"Buka email Bapak sekarang, Pak James..." cicit Bagas.

Dengan tangan kiri yang gemetar hebat hingga menjatuhkan beberapa pen di meja, James menyentuh layar komputer utamanya. Ia membuka pesan terenkripsi dari Bagas dan mengunduh berkas foto definisi tinggi yang terlampir di sana.

Layar monitor raksasa itu seketika menyala, menampilkan puluhan foto berwarna terang.

Mata James membelalak lebar. Pupil matanya mengecil tajam.

Di sana, di dalam layar komputer itu, terhampar nyata sosok Azahra Aletta—wanita yang ia tangisi setiap malam selama 1.095 hari, wanita yang namanya ia ukir di atas batu pualam pemakaman, dan wanita yang kehilangannya telah mencabut seluruh rasa kemanusiaan James.

Dia masih hidup. Mengenakan gaun katun sederhana, tersenyum manis dengan binar mata jernih yang memancarkan kehidupan.

Namun, yang membuat darah James seketika membeku menjadi es dan terbakar menjadi api neraka di detik berikutnya adalah sosok pria di samping Azahra dalam foto tersebut.

Ethan Austin.

Foto berikutnya menampilkan jemari Ethan yang menggenggam erat tangan Azahra. Foto berikutnya memperlihatkan Azahra yang sedang menyentuh lembut pipi Ethan di teras sekolah. Dan foto terakhir menunjukkan Ethan yang tersenyum bahagia sambil merangkul Azahra di depan sebuah rumah panggung kayu.

‘Kau hanya berhalusinasi karena rasa bersalahmu, James... Gadis itu sudah mati tiga tahun lalu.’

Kata-kata Ethan saat berada di kamar hotel dua hari lalu kembali bergaung liar di dalam tempurung kepala James—bergaung seperti deruan petir yang menghancurkan seluruh akal sehatnya.

Ethan tahu. Ethan telah menemukannya terlebih dahulu. Ethan berpura-pura bersedih di depan makam, pura-pura menyetujui pendirian yayasan, dan menatap James dengan wajah kasihan... padahal di belakang punggungnya, Ethan menyembunyikan Azahra dan menikmati setiap inci kehangatan wanita itu untuk dirinya sendiri.

"ETHAN... AUSTIN!"

PRANGGG!

James meraung bagaikan monster terluka. Tangan kirinya menghempaskan monitor komputer raksasa itu hingga menghantam lantai marmer dan hancur berkeping-keping. Pria itu berdiri di tengah kegelapan ruang kerjanya, menyapu seluruh barang-barang di meja kerjanya hingga berserakan di lantai.

Napas James memburu hebat bagaikan banteng murka. Air mata murni meluncur deras menembus pipinya yang basah oleh darah dari telapak tangannya sendiri.

Rasa penyesalan, duka, dan keputusasaan yang membelenggunya selama tiga tahun seketika terbakar habis, berganti dengan kegilaan obsesi, rasa dikhianati yang teramat sangat, dan amarah luar biasa yang menuntut pembalasan dendam.

Ego sang raja yang tertidur selama tiga tahun kini bangkit kembali dalam wujudnya yang paling mengerikan dan paling berdarah.

James merogoh ponselnya dari atas lantai kotor, menempelkannya kembali ke telinganya dengan cengkeraman yang membiru.

"Bagas!" raung James dengan suara desisan iblis yang merindingkan bulu kuduk. "Siapkan seluruh helikopter pribadi dan panggil lima puluh tim pengawal bersenjata terbaik dari konsorsium!"

"P-pak James... apa yang akan Bapak lakukan?!" tanya Bagas panik dari ujung telepon.

"Aku akan pergi ke desa gila itu malam ini juga!" bisik James dengan mata merah berapi-api yang memancarkan kegelapan mutlak. "Jika Ethan pikir dia bisa mencuri wanita milikku dan tertawa di atas penderitaanku... maka aku akan meratakan desa itu menjadi debu, membunuh Ethan dengan tanganku sendiri, dan membawa Azahra kembali ke tempat asalnya... ke dalam sangkar milikku!"

James menutup panggilannya kasar, melempar ponselnya hingga hancur di dinding kaca.

Ia melangkah keluar dari ruangan kerjanya menembus kegelapan lorong gedung, meninggalkan tetesan darah segar di atas marmer mengilap—menandakan bahwa badai paling mengerikan dalam sejarah persaingan dua raja... kini telah resmi menerjang menuju kedamaian rapuh di Desa Teluk Mutiara.

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!