Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024
Meiran tidak suka membuang sumber daya.
Terutama sumber daya yang datang sendiri, membawa ego, kemampuan, dan alasan masing-masing.
Karena itu, keesokan sore, ia memesan ruang diskusi kecil di gedung seni dan mengirim dua pesan.
Untuk Yanting:
`Aku butuh masukan material untuk proyek ruang jeda. Kalau masih berlaku, aku ingin menggunakan akses referensi Kho Group.`
Untuk Hafeng:
`Aku butuh kritik struktur. Jangan bawa alasan interior lagi.`
Yanting membalas lebih dulu.
`Aku datang pukul empat.`
Hafeng membalas tiga menit kemudian.
`Aku memang akan ke gedung seni.`
Meiran membaca dua pesan itu dan tersenyum.
"Sisi, catat. Kompetisi bisa lebih produktif daripada rapat biasa."
**【Sistem Predator】Catatan: Host mulai memanfaatkan rivalitas untuk keuntungan proyek.**
"Bahasamu membuatku terdengar jahat."
**【Sistem Predator】Akurat.**
Pukul empat, Yanting datang dengan tablet dan dua file material. Pukul empat lewat tiga, Hafeng masuk membawa penggaris, buku catatan, dan wajah yang jelas tidak suka melihat Yanting sudah duduk di sana.
"Kamu terlambat," kata Meiran.
"Tiga menit."
"Tetap terlambat."
Yanting tersenyum. "Saya baru saja datang."
"Tidak ada yang bertanya," jawab Hafeng.
Meiran mengetuk meja dengan pulpen. "Aturan hari ini sederhana. Kalau kalian ingin berkompetisi, berkompetisilah pada hal yang berguna. Ko Yanting, material dan akses proyek. Hafeng, struktur dan sirkulasi. Aku tidak butuh dua pria yang saling menatap seperti mau membeli gedung yang sama."
Yanting tertawa pelan.
Hafeng membuka buku catatan. "Mulai saja."
Mereka mulai.
Dan Meiran harus mengakui, pemandangan itu memuaskan.
Yanting menunjukkan data material komposit yang pernah dipakai Kho Group untuk ruang publik kecil di kawasan komersial. Ia menjelaskan harga, umur pakai, risiko perawatan, dan pemasok yang bisa dipercaya.
Hafeng langsung menandai tiga kelemahan: bobot, panas permukaan, dan sambungan yang rentan jika pemasangan tidak presisi.
"Kalau dipakai di area duduk, sambungan harus disembunyikan di bawah garis bayangan," kata Hafeng.
Yanting mengangguk. "Benar. Di proyek kami, kontraktor pernah salah memasang bagian itu."
"Karena desain detailnya kurang jelas."
"Atau kontraktornya kurang disiplin."
"Desain yang baik harus mengantisipasi kontraktor kurang disiplin."
Meiran menulis cepat. "Bagus. Lanjutkan saling menyalahkan, datanya berguna."
Keduanya diam sebentar.
Lalu anehnya, mereka benar-benar lanjut bekerja.
Selama satu jam, ruang diskusi berubah menjadi medan perang yang rapi. Yanting memberi data industri. Hafeng membedah teknis. Meiran mengambil yang ia butuhkan dan membuang sisanya tanpa rasa bersalah.
Ketika Yanting menyarankan supplier premium, Hafeng berkata terlalu mahal.
Ketika Hafeng menyarankan solusi struktur yang terlalu dingin, Yanting berkata pengguna tidak akan merasa diundang.
Ketika keduanya mulai saling menatap lagi, Meiran hanya mengangkat satu alis, dan mereka kembali ke topik.
Ia mendorong sketsa denah ke tengah meja. "Masalah utamaku bukan cuma bahan. Juri akan melihat jalur pengguna dalam tiga puluh detik pertama. Kalau mereka tidak mengerti fungsi ruang jeda ini dari panel pertama, aku kalah."
Yanting memutar tablet, membuka foto sebuah ruang tunggu kecil di gedung komersial. "Di proyek seperti ini, panel pertama harus menjual suasana. Tunjukkan manusia duduk, pencahayaan, tekstur. Jangan mulai dari denah teknis."
Hafeng segera mengambil pensil Meiran tanpa meminta izin. "Kalau panel pertama terlalu manis, mereka akan mengira konsepmu cuma dekorasi. Mulai dengan masalah. Panas, suara, arus orang. Baru solusi."
"Pensilku," kata Meiran.
Hafeng berhenti, melihat benda di tangannya, lalu meletakkannya kembali di depan Meiran.
Yanting menyembunyikan senyum di balik gelas air.
Meiran mengambil pensil itu lagi. Ujungnya masih hangat dari jari Hafeng. Hal kecil yang seharusnya tidak penting, tetapi ia tetap menyadarinya.
"Baik," katanya, menjaga suara tetap datar. "Panel pertama: masalah pengguna. Panel kedua: pengalaman ruang. Panel ketiga: detail material dan struktur. Ko Yanting, aku butuh data harga yang tidak membuat proposal tampak seperti mimpi orang kaya. Hafeng, aku butuh detail sambungan yang bisa digambar jelas."
"Kamu mau pakai data kelas menengah?" tanya Yanting.
"Aku mau juri percaya proyek ini bisa dibangun."
Tatapan Yanting berubah lebih serius. Ia mengetuk layar, membuka daftar lain. "Kalau begitu jangan pakai katalog utama. Ada pemasok lokal yang kualitasnya cukup stabil. Mereka jarang dipakai untuk proyek besar, tapi cocok untuk skala kompetisi."
Hafeng melihat daftar itu. "Nama kedua jangan dipakai. Finishing-nya mudah tergores."
"Kamu tahu?"
"Pernah lihat sample-nya di workshop."
Meiran menulis nama pemasok pertama dan ketiga, lalu mencoret yang kedua. "Lihat? Kalian baru saja menghemat waktuku dua hari."
Hafeng menatap coretan itu. "Jangan tulis namanya terlalu kecil. Kalau nanti kamu lupa, kamu akan mengulang pertanyaan yang sama."
"Aku tidak mudah lupa."
"Tentang hal penting, tidak. Tentang makan siang, sering."
Meiran berhenti menulis.
Yanting juga ikut menoleh.
Hafeng tampak baru sadar kalimat itu keluar terlalu alami. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak menariknya kembali.
Meiran menutup ekspresi wajahnya dengan menunduk ke sketsa. "Terima kasih atas pengamatan yang sangat tidak perlu."
"Itu perlu kalau kamu pingsan sebelum presentasi."
"Aku belum pernah pingsan di depanmu."
"Belum."
Yanting mengetuk meja pelan, memotong udara yang mulai terasa terlalu pribadi. "Besok di showroom, sekalian pilih sample yang bisa dibawa. Kalau sample fisik ada di panel, proposalmu akan terlihat lebih matang."
"Setuju," kata Meiran cepat, menerima jalan keluar itu.
**【Sistem Predator】Efisiensi proyek meningkat. Respons target: kompetitif, protektif terhadap kontribusi sendiri, fokus tinggi pada Host.**
Nilai Cinta: 10.
Meiran berhenti menulis sepersekian detik.
Sepuluh.
Angka itu muncul diam-diam, tanpa hujan, tanpa surat, tanpa hampir jatuh. Hanya dari satu meja kerja tempat Hafeng ingin pendapatnya dipakai olehnya.
Menarik.
Yanting melihat perubahan kecil di wajahnya. "Ada masalah?"
"Tidak. Aku baru ingat sesuatu."
Hafeng langsung bertanya, "Apa?"
Meiran menatap keduanya. "Bahwa kalian berdua sebenarnya bisa sangat berguna kalau tidak terlalu sibuk merasa paling penting."
Yanting tersenyum.
Hafeng menutup buku catatan. "Aku tidak merasa paling penting."
"Kalau begitu kamu tidak keberatan kalau aku pakai rekomendasi Ko Yanting untuk material utama?"
Hafeng langsung membuka buku lagi. "Dengan catatan struktur dariku."
"Tentu."
"Dan supplier harus dicek ulang."
"Tentu."
Yanting berkata, "Aku bisa mengatur kunjungan singkat ke showroom material besok. Bukan acara resmi. Hanya melihat sample fisik."
Hafeng menatapnya. "Besok?"
"Ada masalah?"
"Aku juga perlu melihat sample fisik."
Meiran menahan senyum. "Kalau begitu kalian berdua datang."
Yanting mengangguk. "Aku akan kirim alamat."
Hafeng berkata, "Aku bisa menjemput dari kampus."
Meiran menatapnya. "Menjemput siapa?"
Hafeng diam satu detik. "Kamu. Agar tidak terlambat."
"Aku bisa datang sendiri."
"Jakarta macet."
Yanting menambahkan dengan tenang, "Aku juga bisa mengirim mobil."
Hafeng menoleh. "Tidak perlu."
"Meiran yang memutuskan."
Meiran menutup tabletnya.
"Benar. Aku yang memutuskan."
Keduanya menatapnya.
"Besok kita bertemu di kampus. Dari sana, kita berangkat bersama. Satu mobil cukup."
Hafeng langsung berkata, "Mobilku."
Yanting tersenyum. "Kalau begitu aku akan bertemu di showroom."
Meiran mengangkat alis. "Ko Yanting mundur?"
"Aku tidak perlu menang di semua titik." Yanting berdiri, memasukkan tabletnya ke tas. "Kadang lebih menarik melihat siapa yang merasa perlu menang."
Hafeng menatapnya dengan wajah gelap.
Meiran menyukai kalimat itu lebih dari yang seharusnya.
Setelah Yanting pergi, Hafeng masih berdiri di ruang diskusi.
"Kamu menikmati ini," katanya.
"Sangat."
"Perempuan jahat."
"Kamu masih di sini."
Hafeng tidak menjawab.
Meiran mengambil tasnya. "Besok jangan terlambat, pengemudi."
"Aku bukan pengemudi."
"Kalau begitu apa?"
Hafeng menatapnya lama.
"Orang yang memastikan kamu sampai tepat waktu."
Kali ini, Meiran yang diam lebih dulu.
Di luar ruang diskusi, matahari sore turun di antara gedung kampus. Permainan yang ia mulai dengan angka dan taruhan kini mulai bergerak ke wilayah yang lebih sulit dihitung.