NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Perhatian Diam-diam

Video itu muncul di grup penari saat Senja sedang pemanasan.

Awalnya hanya satu tautan dari salah satu penari junior. Judulnya pendek, seperti semua gosip yang sengaja dibuat agar orang sulit tidak membuka.

Putri konglomerat mabuk hampir tabrak pemotor di Senopati?

Senja melihat judul itu dari layar ponsel Lara. Tangannya yang sedang merapikan ikatan rambut berhenti.

"Jangan buka kalau kamu belum siap," kata Lara.

Namun terlambat. Penari lain sudah memutar videonya di sudut ruangan.

Rekaman itu buram, diambil dari dashcam mobil belakang. Sebuah mobil putih melaju tidak stabil, hampir menyentuh pembatas jalan, lalu mendadak membanting setir. Motor di sisi kiri terjatuh. Mobil putih itu berhenti sebentar, lampu rem menyala, kemudian bergerak lagi.

Nomor polisinya tidak terlihat jelas.

Namun Senja mengenali model mobil itu.

Serena sering memakainya.

"Itu bukan pasti dia," bisik Senja, lebih seperti berusaha adil daripada membela.

Lara menatapnya. "Kamu tidak perlu membela dia."

"Aku tidak membela. Aku hanya..."

"Takut kalau benar, kamu yang disalahkan?"

Senja terdiam.

Lara menghela napas, lalu menurunkan ponselnya. "Maaf. Aku masih belajar cara marah tanpa menusukmu."

Kalimat itu membuat Senja menatapnya.

Lara mengangkat bahu. "Aku serius. Kemarin aku marah, tapi bukan berarti aku mau kamu sendirian."

Sesuatu yang hangat bergerak di dada Senja. Dia belum sempat menjawab ketika ponselnya sendiri bergetar.

Serena.

Senja tidak mengangkat.

Panggilan berhenti, lalu masuk lagi. Sekali. Dua kali.

Lara melihat layar. "Angkat di speaker. Aku di sini."

Senja ragu, kemudian mengangguk. Dia menjauh ke pantry kecil agar tidak didengar semua orang, Lara ikut berdiri di sampingnya.

"Apa?" tanya Senja setelah menerima panggilan.

Suara Serena terdengar lebih tajam dari biasanya. Tidak ada lagi manis. "Kamu sudah lihat video itu?"

"Aku baru lihat."

"Itu bukan aku."

Senja memejamkan mata. "Kalau bukan kamu, kenapa meneleponku?"

Diam di seberang.

Lara menatap Senja, jelas bangga sekaligus khawatir.

Serena menurunkan suara. "Dengar. Kemarin malam setelah fitting, kita masih bersama sampai hampir jam sebelas."

Senja membuka mata. "Tidak."

"Kamu akan bilang begitu kalau ada yang bertanya."

"Tidak, Serena."

"Kamu pikir ini permainan? Kalau video itu menyebar, Papa akan kena. Keluarga Liem akan kena. Dan kamu, Nyonya Wijaya yang baik hati itu, juga akan kena karena orang akan bilang kamu membiarkan kakakmu dihancurkan."

"Aku tidak akan berbohong."

"Kamu pernah hidup dari keluarga ini."

"Aku tahu."

"Lalu balas sekali saja."

Senja memegang tepi meja pantry. "Membalas bukan berarti membuat korban kecelakaan kehilangan kebenaran."

Serena tertawa pendek, kasar. "Kamu sok suci sejak jadi istri Rayhan."

"Aku hanya tidak mau ikut salah."

"Kalau aku jatuh, Senja, jangan kira kamu bisa berdiri bersih."

Telepon terputus.

Senja menurunkan ponsel. Tangannya dingin.

Lara langsung memeluknya. Pelukan itu cepat, kuat, dan tanpa basa-basi.

"Kamu hebat," bisiknya.

Senja tertawa kecil, tapi suaranya pecah. "Aku gemetar."

"Hebat boleh gemetar."

Ko Jefri muncul di pintu pantry. Dia tampak mendengar bagian akhir, tetapi tidak bertanya detail. "Latihan bisa ditunda sepuluh menit."

"Tidak perlu, Ko," kata Senja.

"Aku tidak bertanya."

Lara menunjuk Ko Jefri. "Hari ini semua orang suka kalimat itu."

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Senja tertawa sungguhan, meski pendek.

Namun masalah tidak berhenti di situ.

Saat latihan selesai, Pak Hadi sudah menunggu di depan sanggar dengan wajah lebih serius dari biasa. Dia tidak langsung membuka pintu mobil.

"Nyonya, Tuan muda meminta Nyonya tidak menemui keluarga Liem malam ini jika mereka memanggil."

Senja menatapnya. "Rayhan tahu?"

"Tuan muda tahu ada upaya meminta Nyonya memberi alibi."

"Serena meneleponku di sanggar. Aku tidak..."

"Tuan muda tidak meminta penjelasan Nyonya."

Kalimat itu menghentikan napas Senja sesaat.

Tidak meminta penjelasan.

Artinya, untuk sekali ini, Rayhan tidak menempatkannya di kursi tersangka.

"Dia bilang apa lagi?"

Pak Hadi membuka pintu mobil. "Hanya satu kalimat: kalau keluarga Liem menekan Senja, arahkan mereka ke pengacara Wijaya."

Senja masuk ke mobil dengan perasaan yang sulit dinamai.

Sepanjang perjalanan, ponselnya terus bergetar. Papa Liem. Serena. Nomor rumah Liem. Semua tidak dia angkat. Setiap getar membuat perutnya berkontraksi, tetapi Lara mengirim satu pesan yang dia baca berkali-kali.

Lara: Jangan angkat. Aku di pihakmu.

Di Wijaya Mansion, Rayhan belum pulang. Namun di ruang keluarga kecil, ada map baru di meja. Bukan map biru proposal Liem, melainkan map hitam dengan logo kantor hukum.

Pak Hadi menjelaskan, "Tuan muda meminta ini disiapkan jika keluarga Liem memaksa Nyonya menandatangani pernyataan apa pun."

Senja menyentuh sampul map itu dengan ujung jari.

"Aku tidak ingin perang dengan keluarga Liem."

"Kadang," kata Pak Hadi hati-hati, "menolak dijadikan alat sudah dianggap perang oleh orang yang terbiasa memakai kita."

Senja menatapnya.

Pak Hadi tampak sedikit menyesal karena bicara terlalu banyak, lalu menunduk. "Maaf, Nyonya."

"Tidak." Senja menggeleng pelan. "Pak Hadi benar."

Malam itu, hujan tidak turun. Jakarta terasa panas dan lengket. Senja duduk di tepi ranjang, memandang ponsel yang terus menyala.

Satu voice note dari Serena masuk.

Senja menatapnya lama sebelum menekan play.

Suara Serena terdengar lebih pelan daripada siang tadi, tapi justru lebih berbahaya.

"Kamu boleh merasa menang hari ini. Tapi ingat, Senja. Aku tahu bagaimana membuat orang percaya bahwa kamu yang menyebabkan semua ini."

Voice note selesai.

Di kamar yang terlalu rapi itu, Senja mendengar ulang ancaman tersebut sekali lagi, lalu mematikan layar.

Untuk pertama kalinya, dia tidak menangis.

Dia membuka map hitam dari Rayhan dan membaca nama firma hukum di halaman pertama.

Di halaman kedua, ada catatan singkat yang sudah diberi pembatas kuning.

Jika pihak mana pun meminta Nyonya Wijaya memberikan pernyataan mengenai kejadian Senopati, seluruh komunikasi harus melalui kuasa hukum. Nyonya tidak berkewajiban memberi alibi, klarifikasi, atau pernyataan keluarga tanpa pendamping hukum.

Senja membaca kalimat itu tiga kali.

Bahasanya kering, khas hukum, tetapi efeknya tidak kering sama sekali. Selama bertahun-tahun, setiap kali keluarga Liem berkata dia harus membantu, Senja selalu merasa tidak punya dinding. Kali ini, ada dinding. Hitam, formal, dan dingin, tetapi berdiri di depannya.

Ponselnya bergetar lagi.

Bukan Serena.

Rayhan.

Senja mengangkat setelah dering kedua. "Halo?"

"Sudah baca mapnya?"

"Sedang."

"Kalau mereka menelepon lagi, jangan angkat."

"Aku sudah tidak mengangkat."

"Bagus."

Hening sebentar. Senja mendengar suara kertas di seberang, mungkin Rayhan masih bekerja.

"Rayhan," katanya pelan, "terima kasih."

"Itu bukan untukmu berterima kasih. Itu prosedur."

Kalimat itu seharusnya membuatnya kesal. Anehnya, tidak.

"Prosedur yang berguna," jawab Senja.

Rayhan diam satu detik lebih lama dari biasa. "Tidur setelah membaca. Jangan ulang voice note itu."

Senja menatap ponselnya, terkejut. "Kamu tahu?"

"Aku tahu Serena tidak bisa diam."

Telepon terputus sebelum Senja sempat bertanya lebih jauh.

Dia menatap layar gelap, lalu benar-benar menghapus voice note Serena dari ponselnya.

Di halaman pertama map hitam itu, nama firma hukum masih tercetak rapi, seperti pintu yang baru kali ini terbuka untuknya.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!