Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Aturan Baru
Sentuhan itu berlangsung tidak sampai satu menit.
Namun bagi Yu, satu menit itu cukup untuk membuat tubuhnya percaya bahwa dunia belum runtuh setelah rahasianya terbuka. Ia menarik tangan lebih dulu, pelan-pelan, seperti takut gerakan mendadak bisa memecahkan sesuatu yang baru saja diletakkan dengan hati-hati.
Zhen tidak mengejarnya.
Ia hanya mengambil gelas air dan mendorongnya sedikit ke arah Yu.
"Minum."
Yu menurut.
Air putih itu terasa biasa saja, tapi tenggorokannya baru sadar sudah kering sejak babak pertama pengakuan memalukan tadi. Setelah setengah gelas, ia bisa bernapas lebih normal.
"Sekarang uang," kata Zhen.
Yu hampir tersedak. "Kita baru selesai momen serius."
"Uang juga serius."
"Bisa besok?"
"Tidak."
Zhen mengambil ponselnya. Beberapa detik kemudian, ponsel Yu bergetar.
Notifikasi mobile banking.
Rp 50.000.000 masuk.
Yu menatap layar.
"Zhen."
"Sudah."
"Kamu tidak bisa langsung transfer balik begitu."
"Bisa. Buktinya sudah."
"Aku bilang jangan."
"Aku mendengar. Aku tidak setuju."
Yu menaruh gelas di meja terlalu keras. Airnya bergoyang. "Aku meminta waktumu. Aku membuat kekacauan. Aku membuat kamu harus..."
"Tidak."
Satu kata itu menghentikan semua kalimatnya.
Zhen menatapnya dengan mata sangat tenang. "Aku tidak menerima uang untuk hak menyentuhku. Aku juga tidak menerima uang agar kamu boleh merasa tenang di dekatku."
Yu menggenggam ponsel.
"Tapi aku tidak mau gratis."
"Ini bukan transaksi."
"Aku tidak suka berutang."
"Kamu tidak berutang."
"Menurutmu."
"Menurutku yang tangannya kamu butuhkan."
Yu terdiam.
Kasar, tepat, tidak bisa dibantah.
Zhen melanjutkan, "Kalau kamu ingin mengganti waktu, caranya bukan uang."
"Lalu apa?"
"Jujur saat butuh. Ikuti aturan. Jangan membuat rencana bodoh yang melibatkan transfer uang, folder palsu, atau garpu jatuh."
Yu menutup mata. "Garpu itu kecelakaan."
"Kecelakaan akibat panik."
"Masih kecelakaan."
"Baik. Jangan membuat kecelakaan yang bisa dicegah."
Yu ingin marah, tapi sulit karena ia mulai merasa ingin tertawa. Mungkin tubuhnya terlalu lelah untuk drama besar. Mungkin karena setelah uang kembali, rasa bersalah di dadanya sedikit berkurang meski gengsinya belum menerima.
"Aku tetap merasa tidak enak," katanya.
"Itu boleh. Tapi uangnya tetap di rekeningmu."
"Kamu keras kepala."
"Kamu baru tahu?"
Mereka saling menatap beberapa detik.
Yu kalah lebih dulu.
"Fine."
"Bagus."
"Tapi kamu juga harus jujur," kata Yu.
Zhen mengangkat alis.
"Kalau kamu tidak nyaman karena... kebersihan, atau karena disentuh, bilang. Jangan cuma tahan karena kasihan."
"Aku tidak melakukan hal berdasarkan kasihan."
"Tetap saja."
Zhen menatap tangannya sendiri sebentar. "Aku memang tidak suka disentuh sembarangan. Kadang setelah menyentuh barang orang, aku ingin cuci tangan. Tapi denganmu, reaksinya tidak sama."
Yu menahan napas.
"Aku belum tahu kenapa," lanjutnya. "Jadi kalau suatu hari aku butuh berhenti, aku akan bilang. Bukan karena kamu kotor."
Kalimat terakhir membuat tenggorokan Yu tiba-tiba panas.
"Aku tidak tanya bagian itu."
"Wajahmu tanya."
Yu menunduk, kalah.
"Tapi kalau suatu hari aku traktir makan, kamu tidak boleh menolak."
"Tergantung tempat."
"Zhen."
"Kebersihan penting."
"Aku akan pilih tempat yang lantainya tidak membuatmu trauma."
"Maka bisa dipertimbangkan."
Yu menghela napas, tapi kali ini lebih ringan.
Zhen mengambil notes kecil dari meja samping. Yu menatapnya curiga.
"Apa itu?"
"Aturan."
"Kamu benar-benar menulis aturan?"
"Kalau tidak ditulis, kamu akan mencari celah."
"Aku bukan kontraktor nakal."
"Kamu memindahkan gelas ke rak atas untuk alasan ergonomis."
Yu langsung diam.
Zhen membuka notes. "Aturan pertama. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan."
Yu menegakkan punggung.
"Berlaku untuk kamu dan aku," lanjut Zhen. "Kalau kamu butuh, kamu bilang. Kalau aku sedang tidak nyaman, aku bilang tidak. Kalau aku bilang berhenti, berhenti. Kalau kamu bilang berhenti, aku berhenti."
Yu mengangguk pelan.
Aturan itu seharusnya membuatnya malu, tetapi justru ada rasa aman di sana. Batas bukan penolakan. Batas adalah pagar yang membuat orang berani mendekat tanpa jatuh.
"Aturan kedua," kata Zhen. "Tempat."
"Tempat?"
"Untuk sekarang, hanya di rumah, mobil, atau tempat aman yang tidak ramai. Tidak di kelas, tidak di depan orang banyak, tidak ketika kamu panik di tengah kerumunan kecuali keadaan darurat."
Yu teringat lobby Fasilkom, pergelangan tangannya di genggaman Zhen, dan wajah teman Kevin yang mundur. "Kalau darurat?"
"Aku akan bantu. Tapi setelah itu kita bicara."
"Bicara apa?"
"Apa pemicunya, apakah kamu masih butuh, dan apakah ada yang perlu dicatat. Kalau gangguannya dari orang lain seperti Kevin, itu bukan cuma urusan sentuhan. Itu urusan keamanan."
Yu mengangguk pelan. Aneh, tapi cara Zhen memecah rasa panik menjadi hal-hal yang bisa dicatat membuat masalahnya terasa sedikit lebih kecil.
"Oke."
"Aturan ketiga. Durasi."
Yu merasa telinganya mulai panas lagi. "Harus sedetail itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Agar kamu tidak menghitung sendiri sambil panik."
Ia terdiam, karena itu terlalu akurat.
Zhen menulis. "Mulai dari sepuluh detik. Kalau belum cukup, bilang."
"Sepuluh detik terdengar seperti timer olahraga."
"Lebih baik daripada kamu mencuri setengah detik dari charger."
"Aku benci ingatanmu."
"Aku tahu."
Zhen menulis lagi. "Aturan keempat. Tidak berbohong soal kondisi."
"Sulit."
"Aku tidak bilang mudah."
"Kalau aku bilang baik-baik saja?"
"Aku akan bertanya ulang."
"Kalau aku tetap bilang baik-baik saja?"
"Aku akan lihat wajahmu."
Yu memeluk bantal lagi. "Itu curang."
"Wajahmu informatif."
"Aku perlu melatih wajah."
"Terlambat."
Untuk pertama kalinya malam itu, Yu tertawa tanpa merasa akan menangis.
Zhen menunggu sampai tawanya reda. Lalu ia menutup notes.
"Aturan terakhir."
Yu menatapnya, tiba-tiba gugup.
Zhen tidak membaca dari notes kali ini. Ia menatap Yu langsung.
"Kalau kamu butuh, bilang saja. Jangan curi-curi."
Kalimat itu jatuh lebih lembut daripada semua aturan sebelumnya.
Yu menunduk. "Aku malu."
"Aku tahu."
"Aku mungkin tetap malu."
"Boleh."
"Aku mungkin butuh waktu untuk bisa bilang."
"Aku tunggu."
Yu menggigit bibir. "Kamu terlalu sabar malam ini. Ini mencurigakan."
"Besok aku bisa kembali menyebalkan."
"Syukurlah. Aku hampir tidak mengenalimu."
Zhen mengangkat alis sedikit. "Mau latihan?"
"Latihan apa?"
Ia meletakkan tangan di atas meja lagi, sama seperti sebelumnya.
"Bilang."
Yu menatap tangan itu.
Jantungnya langsung berdetak cepat. Bukan karena haus sentuhan sedang parah, tetapi karena kata itu. Bilang. Meminta secara langsung. Tidak mencuri. Tidak membeli. Tidak bersembunyi.
Ia membuka mulut.
Tidak ada suara.
Zhen menunggu.
Yu menarik napas sekali, lalu menunduk ke tangan Zhen, wajah panas.
"Aku..." Suaranya kecil. "Butuh sebentar."
Zhen mengangguk.
"Boleh."
Yu meletakkan ujung jarinya di punggung tangan Zhen.
Sepuluh detik.
Tidak ada timer. Tidak ada uang. Tidak ada akun palsu.
Hanya Zhen yang duduk diam di seberang meja, dan Yu yang untuk pertama kalinya belajar meminta tanpa merasa dirinya harus dihukum karena butuh.