NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Kotak Bekal

Ia belum tahu, hidupnya yang selama ini hanya punya warna abu-abu akan disentuh oleh seseorang yang tersenyum dengan dua lesung pipi.

Keesokan harinya, anak perempuan itu benar-benar melihatnya.

Laknat sedang duduk di sudut belakang set, tempat bayangan papan latar jatuh miring di lantai. Di tangannya ada piring plastik kecil berisi nasi dingin, sambal sisa, dan potongan mi goreng yang sudah menggumpal. Hendra memberikannya tadi pagi dengan kalimat pendek, "Makan kalau mau. Jangan minta lagi."

Laknat makan pelan.

Ia sudah terbiasa membuat satu porsi kecil terasa lama. Satu suap nasi. Berhenti. Minum air. Menunggu. Satu suap lagi. Jika makan terlalu cepat, perutnya akan kembali kosong sebelum hari selesai.

Ia tidak sadar anak perempuan itu berdiri di depannya sampai bayangannya jatuh di atas piring.

"Kamu makan itu?"

Laknat mengangkat kepala.

Bintang Kecil berdiri di sana, masih memakai kostum syuting. Rambutnya dikepang dua, pipinya sedikit merah karena lampu studio, dan di tangannya ada kotak bekal kuning yang kemarin ia lihat dari jauh.

Laknat langsung menunduk lagi. "Iya."

"Itu pedas?"

Ia melihat sambal di piringnya. "Sedikit."

"Sedikit itu pedas atau tidak?"

Pertanyaan itu membuatnya bingung. Orang dewasa biasanya tidak menanyakan hal seperti itu kepadanya.

"Pedas," jawabnya akhirnya.

Anak perempuan itu berjongkok di depannya tanpa izin. Laknat refleks menarik piringnya sedikit ke belakang, takut ia menginjak atau menyentuhnya. Bukan karena piring itu berharga, tetapi karena itu satu-satunya makan siangnya.

Wenny kecil tidak tersinggung.

Ia membuka kotak bekalnya.

Aroma nasi hangat langsung keluar, bersama lauk yang disusun rapi, sayur kecil, telur gulung, dan buah potong. Semua tampak bersih dan berwarna. Laknat menatap terlalu lama sebelum sadar dan cepat melihat lantai.

"Kamu mau ini?" tanya Wenny.

Laknat menggeleng.

"Kenapa?"

"Bukan punyaku."

"Kalau aku kasih, jadi punyamu."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Laknat, dunia tidak pernah bekerja sesederhana itu. Barang yang diberikan orang dewasa biasanya bisa diambil kembali. Kebaikan biasanya punya harga. Jika ia menerima sesuatu, Hendra bisa marah. Jika ia tidak menerima, perutnya tetap lapar.

"Aku tidak punya uang," katanya pelan.

Wenny mengerutkan kening. "Aku tidak jualan."

Ia mendorong kotak bekal kuning ke arah Laknat.

Laknat menatapnya, lalu menatap kotak itu. Tangannya tidak bergerak.

"Nanti kamu makan apa?" tanyanya.

Wenny melihat piring plastiknya. "Aku makan punya kamu."

Laknat langsung panik. "Jangan."

"Kenapa?"

"Tidak enak."

"Aku mau coba."

"Pedas."

"Aku bisa makan pedas."

Ia mengatakannya dengan keyakinan penuh anak tujuh tahun yang merasa seluruh dunia bisa ditaklukkan jika ia cukup berani. Sebelum Laknat sempat mencegah, Wenny sudah mengambil piring plastiknya dan menukar dengan kotak bekal kuning.

"Tukar," katanya.

Laknat memegang kotak bekal itu seperti memegang sesuatu yang bisa pecah.

"Cepat makan," Wenny menambahkan. "Nanti dipanggil syuting."

"Kamu..."

"Namaku Wenny. Tapi di sini orang panggil Bintang Kecil." Ia menunjuk pipinya sendiri. "Kalau aku senyum, katanya kelihatan begini."

Ia tersenyum.

Dua lesung pipi muncul.

Laknat lupa pada rasa lapar selama beberapa detik.

Senyum itu tidak seperti senyum orang dewasa yang merasa kasihan. Tidak seperti senyum kru yang sekadar sopan. Wenny tersenyum seolah duduk di lantai berdebu bersama anak pembawa kardus adalah hal paling biasa di dunia.

"Kamu namanya siapa?" tanya Wenny.

Laknat menggenggam sendok kecil di dalam kotak bekal.

Ia tidak ingin menjawab.

Nama itu selalu membuat orang mengernyit, tertawa, atau diam terlalu lama.

"Laknat," katanya hampir berbisik.

Wenny berkedip. "Apa?"

"Laknat."

"Itu nama?"

Ia mengangguk.

Wenny tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi dari arah set, suara asisten memanggil, "Bintang Kecil, siap take berikutnya!"

"Sebentar!" Wenny menjawab, lalu cepat-cepat menyuap makanan dari piring plastik Laknat.

Laknat menahan napas.

Wajah Wenny langsung berubah.

"Pedas," katanya, tetapi mencoba terlihat kuat.

"Sudah kubilang."

"Tidak apa-apa. Aku bisa."

Ia menyuap lagi, kali ini potongan mi dingin yang menempel pada nasi. Laknat ingin menghentikannya, tapi bagaimana caranya mengambil kembali makanan yang sudah ia berikan? Atau lebih tepatnya, ditukar paksa oleh anak perempuan yang terlalu berani?

Akhirnya ia membuka kotak bekal kuning.

Nasi hangat.

Telur gulung.

Sayur yang tidak pahit.

Ia mengambil satu suap kecil.

Rasa itu membuat dadanya sakit.

Bukan karena tidak enak. Justru karena terlalu enak. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, makanan di depannya bukan sisa, bukan hukuman, bukan sesuatu yang harus ia rebut dari hari yang buruk. Seseorang memberikannya sebelum ia meminta.

"Enak?" tanya Wenny sambil mengipas mulutnya karena pedas.

Laknat mengangguk sangat pelan.

"Kalau enak, makan banyak."

Ia ingin bertanya kenapa.

Kenapa anak ini memberinya makanan? Kenapa tidak takut kotor? Kenapa tidak jijik pada namanya? Kenapa melihatnya seolah ia bukan kutukan?

Namun pertanyaan itu terlalu besar untuk mulut anak sembilan tahun.

Jadi ia makan.

Satu suap. Lalu satu suap lagi.

Warna dunia yang biasanya abu-abu terasa berubah sedikit. Mungkin kuning seperti kotak bekal. Mungkin hangat seperti nasi. Mungkin putih seperti gigi kecil Wenny saat tersenyum menahan pedas.

"Kalau lapar, bilang saja," kata Wenny tiba-tiba.

Laknat berhenti mengunyah.

"Bilang pada siapa?"

Wenny memikirkan pertanyaan itu dengan serius. "Pada orang yang punya makanan."

"Orang tidak kasih."

"Belum tentu."

"Biasanya tidak."

Wenny menatapnya seolah baru mendengar aturan dunia yang sangat aneh.

"Kalau ketemu aku, bilang," katanya. "Kalau aku punya bekal, kita bagi."

Laknat tidak tahu cara menjawab. Tidak ada orang yang pernah menawarkan besok kepadanya dengan kalimat sesederhana itu. Bagi anak lain, itu janji kecil. Bagi Laknat, itu terdengar seperti pintu yang tiba-tiba terbuka.

Lalu Wenny batuk.

Awalnya kecil.

Laknat mendongak. "Pedas?"

Wenny mengangguk, tapi wajahnya mulai memerah dengan cara yang berbeda. Ia menyentuh lehernya, lalu menggaruk pergelangan tangan.

"Gatal," gumamnya.

Laknat meletakkan sendok. "Jangan makan lagi."

"Aku..."

Suara Wenny berubah serak.

Dalam beberapa detik, orang dewasa di sekitar mulai sadar. Seorang asisten berlari mendekat. Mama Wenny datang dari ruang artis dengan wajah pucat. Piring plastik jatuh dari tangan Wenny, nasi dan mi dingin tercecer di lantai.

"Wenny!" seru ibunya.

Laknat mundur.

Semua terjadi terlalu cepat. Orang-orang mengangkat Wenny, memanggil mobil, mencari tahu apa yang ia makan. Ada yang bertanya pada Laknat, ada yang bertanya pada Hendra, ada yang melihat piring plastik itu seperti benda berbahaya.

Laknat ingin memungut piring itu. Ingin membersihkan nasi yang tercecer. Ingin melakukan sesuatu yang membuat semua orang berhenti panik. Tetapi tubuhnya seperti terkunci. Wajah Wenny yang tadi merah karena pedas kini pucat, dan tangan kecilnya mencari ibunya.

Ia baru saja makan bekal paling enak dalam hidupnya.

Anak yang memberinya bekal itu dibawa pergi karena makanan darinya.

"Dia makan punya anak itu," kata seseorang.

Hendra menoleh tajam ke arah Laknat.

Laknat langsung merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin.

"Aku tidak..." Ia berhenti. Tidak ada kalimat yang benar.

Wenny yang menukar.

Tapi Wenny sakit setelah makan miliknya.

Jadi salahnya tetap terasa seperti miliknya.

Mama Wenny tidak berteriak pada Laknat. Ia terlalu sibuk memegang putrinya yang mulai sulit bernapas. Kru membawa mereka ke mobil produksi. Seorang staf meminta Hendra ikut karena harus menjelaskan makanan yang tadi dimakan.

Hendra mengumpat pelan, tetapi ikut.

Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti mimpi buruk. Laknat duduk di kursi paling belakang, memegang kotak bekal kuning yang belum sempat ia tutup. Di bagian dalam tutupnya ada stiker kecil berbentuk matahari.

Ia menatap stiker itu sampai matanya perih.

Di depannya, Mama Wenny terus memanggil nama putrinya dengan suara bergetar tetapi berusaha tenang. Seorang kru mencari nomor dokter keluarga. Staf lain mencatat makanan yang tadi dimakan Wenny: nasi, sambal, mi dingin, bumbu warung. Kata-kata itu berputar di kepala Laknat seperti batu kecil yang dilempar berulang.

Mi.

Bumbu.

Punya dia.

Tangannya menggenggam kotak bekal semakin erat sampai sudut plastik menekan kulitnya.

Di rumah sakit, dokter mengatakan itu reaksi alergi makanan. Mereka menyebut beberapa kemungkinan, termasuk bahan dari gandum dalam mi dan bumbu. Laknat tidak benar-benar mengerti. Ia hanya mengerti Wenny terbaring di ranjang dengan wajah pucat, sementara orang dewasa bergerak cepat di sekitarnya.

Ia berdiri di luar kamar.

Hendra duduk jauh darinya, wajahnya kesal karena hari kerja mereka kacau. "Gara-gara kau," gumamnya.

Laknat tidak menjawab.

Mungkin benar.

Jika ia tidak menerima bekal itu, mungkin Wenny tidak perlu berbaring di ranjang rumah sakit.

Beberapa jam kemudian, pintu kamar terbuka sedikit. Mama Wenny keluar untuk bicara dengan dokter. Dari celah pintu, Laknat melihat Wenny membuka mata.

Anak perempuan itu menoleh.

Melihatnya.

Laknat ingin lari, tetapi kakinya tidak bergerak.

Wenny mengangkat tangan lemah, menyuruhnya mendekat.

Ia masuk satu langkah. "Maaf."

Wenny mengernyit kecil. "Kenapa kamu minta maaf?"

"Kamu sakit."

"Bukan salah kamu." Suaranya masih serak. "Aku yang mau tukar."

Laknat menggenggam kotak bekal kuning di depan tubuhnya. "Kenapa?"

"Apa?"

"Kenapa kamu kasih makananmu?"

Wenny menatapnya seperti pertanyaan itu mudah sekali.

"Karena kamu kelihatan lapar."

Laknat menunduk pada kotak bekal.

Di dada kecilnya, sesuatu yang selama ini keras dan dingin retak tanpa suara.

Untuk pertama kalinya, dunia tidak sepenuhnya abu-abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!