Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Kesempatan untuk Orang yang Tepat
Arvin menoleh bingung. "Naik ke bak mobil."
Vira mengernyit. "Ngapain?"
"Kita, 'kan, mau berangkat," jawab Arvin.
"Iya. Terus kenapa kamu naik di belakang?" Vira menunjuk kursi di samping kemudi. "Kursi penumpang kosong, kok."
Arvin menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Aku... takut kamu gak nyaman kalau aku duduk di depan."
Vira menyipitkan matanya. "Memangnya kenapa?"
"Soalnya..." Arvin menundukkan kepala. "Aku cuma kuli buat bantu angkat barang."
Vira menatapnya beberapa saat. "Lalu?"
Arvin terdiam.
"Memangnya kalau kamu kuli, kamu berhenti jadi manusia?" tanya Vira tenang. "Kamu kerja cari nafkah dengan cara yang halal. Bukan ngemis, bukan nipu orang, apalagi nyuri."
Arvin mengangkat kepalanya perlahan.
"Jadi gak ada alasan buat kamu duduk di belakang."
Vira membuka pintu mobil. "Ayo. Duduk di depan."
Setelah berkata demikian, ia lebih dulu masuk ke balik kemudi.
Arvin masih berdiri mematung. Tatapannya tertuju pada Vira dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Takjub, haru, sekaligus tak percaya.
Seumur hidupnya, belum pernah ada orang yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu penumpang dan duduk di samping Vira.
Sepanjang perjalanan, Arvin hanya diam. Tatapannya lurus ke depan, tak tahu harus memulai percakapan dari mana.
Vira yang sedang menyetir sempat meliriknya.
"Vin."
"Hm?"
"Kenapa diam aja? Sariawan?"
Arvin terkekeh kecil. "Bukan. Aku cuma gak mau ganggu kamu nyetir."
Vira tersenyum tipis. "Malah aku jadi ngantuk kalau kamu diam terus."
Arvin menggaruk tengkuknya. "Aku memang jarang ngobrol, Ra. Jadi gak kebiasa."
Vira mengangguk pelan. "Kamu bisa naik motor?"
"Bisa. Dulu pernah belajar sama teman."
"Hmm."
Beberapa saat kemudian, Vira kembali membuka percakapan.
"Selama ini kamu kerja serabutan, kebanyakan angkat barang berat. Kamu gak kepikiran cari kerja lain?"
Arvin mengembuskan napas pelan. "Aku cuma lulusan SMP, Ra. Memangnya bisa kerja apa selain jadi kuli?"
Vira meliriknya sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan. "Kalau kamu mau, ada kerjaan yang gak butuh ijazah."
Arvin menoleh. "Kerjaan apa?"
"Jadi tukang kredit pakaian."
Arvin mengernyit. "Kredit pakaian?"
"Iya. Yang penting bisa naik motor, bisa berhitung, bisa nulis, dan bisa ngomong sama orang. Gak perlu angkat barang berat, gak perlu kerja di bawah terik matahari seharian."
Arvin tertawa hambar. "Aku memang pernah dengar usaha itu lumayan. Tapi aku gak punya modal. Motor juga gak punya. Lagian aku sama sekali gak ngerti cara kerja usaha kredit."
"Itu bukan masalah," ujar Vira ringan.
Arvin kembali menoleh.
"Kalau kamu mau," lanjut Vira. "semuanya bakal aku ajarin."
"Maksudnya?"
"Aku yang belanja stok pakaiannya. Aku juga yang keluarin modal," kata Vira.
Di kehidupan sebelumnya, Daril sukses karena di belakangnya yang mengelola usaha adalah dirinya. Tentu saja ia sangat tahu seluk beluk tentang perkreditan.
Arvin semakin bingung.
"Nanti aku beliin motor inventaris buat operasional," jelas Vira. "Kamu tinggal ambil barang dari aku, terus keliling nawarin ke pelanggan."
Arvin membelalak. "Kamu serius?"
"Iya."
"Tapi... aku benar-benar gak punya pengalaman."
"Pengalaman bisa dipelajari."
"Aku takut malah bikin kamu rugi."
Vira tersenyum kecil. "Gak bakal." Ia melirik Arvin sesaat. "Kalau kamu bersedia... mau gak kerja sama aku?"
Arvin masih mematung.
"Aku jadi bosnya," lanjut Vira sambil tersenyum tipis, "dan kamu jadi orang kepercayaanku."
"Kenapa kamu ngelakuin semua ini?" tanya Arvin akhirnya. "Masih banyak orang lain yang lebih cocok daripada aku."
Vira tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Karena aku lebih percaya sama kamu."
Arvin menoleh.
Vira menatapnya sekilas. "Selama ini aku lihat kamu jujur, pekerja keras, dan berbakti sama ibumu. Gak semua orang punya sifat kayak gitu."
Arvin terdiam.
"Lagian..." lanjut Vira, "apa kamu gak pengen tinggal di rumah yang lebih layak? Ngerawat ibumu di tempat yang lebih nyaman?"
Pertanyaan itu membuat Arvin menelan ludah.
"Kalau kamu tetap bertahan di pekerjaanmu sekarang, penghasilanmu bakal segitu-segitu aja. Kamu akan terus jadi kuli seumur hidup."
Arvin hanya bisa menunduk.
Vira masih melihat keraguan di wajah Arvin. "Kalau kamu takut aku rugi, kita mulai dari kecil dulu."
"Mulai dari kecil?"
Vira mengangguk. "Kita coba modal lima juta dulu buat lihat prospeknya. Kalau hasilnya bagus, baru kita kembangkan pelan-pelan."
Arvin membelalak. "Hah? Lima juta aja bisa?"
"Tentu." Vira tersenyum yakin. "Aku tahu tempat belanja yang harganya murah dan kualitasnya bagus."
Arvin masih memandang Vira dengan tatapan tak percaya. Ia tak pernah menyangka, di tengah hidupnya yang terasa buntu, akan ada seseorang yang bersedia memberinya kesempatan untuk mengubah nasibnya.
***
Sementara itu, di rumah, Yanti baru saja bangun. Ia mengernyit saat melihat sinar matahari sudah menyelinap masuk melalui ventilasi.
"Sudah siang?" gumamnya heran. "Tumben Vira gak bangunin aku."
Biasanya, pagi-pagi sekali Vira sudah mengetuk pintunya, menyuruhnya mulai membereskan rumah. Namun pagi ini suasana justru terasa begitu sepi.
Yanti turun dari ranjang, lalu keluar dari kamar. "Ra?"
Tak ada jawaban.
Ia melangkah ke dapur. Kosong. Ia lalu membuka pintu depan dan melirik ke arah toko di samping rumah. Rolling door masih tertutup.
"Ke mana perempuan yang sok-sokan jadi bos itu?" gerutunya.
Entah terdorong rasa penasaran atau apa, Yanti berbalik menuju kamar Vira.
Tok! Tok!
"Ra! Vira!"
Tetap tak ada jawaban.
Yanti ragu sejenak sebelum menekan gagang pintu.
Ceklek.
Pintu itu ternyata tidak dikunci. Ia mendorongnya perlahan.
Kamar Vira tampak rapi. Selimut terlipat, meja belajar bersih, dan tak ada tanda-tanda pemiliknya masih berada di sana.
"Ra?" panggilnya sekali lagi sambil melirik ke arah pintu kamar mandi.
Masih tak ada sahutan.
Tatapan Yanti mulai berkeliling ke seluruh isi kamar. Ranjangnya jauh lebih besar daripada ranjang di kamarnya.
Lemarinya tampak baru dan kokoh. Lebih tepatnya baru dipernis ulang. Karena dari model dan ukirannya terlihat jelas kalau itu lemari tua.
Namun pandangannya akhirnya berhenti pada meja rias. Perlahan ia mendekat.
"Make up-nya memang gak banyak...."
Jemarinya menyentuh satu per satu botol perawatan wajah yang tersusun rapi.
"...tapi skincare-nya lengkap."
Krim siang, krim malam, serum, pelembap, tabir surya, body lotion, hingga beberapa kotak yang bahkan segelnya masih utuh.
"Pantes aja kulitnya mulus." Sorot mata Yanti berubah. "Kalau aku ikut pakai..."
Ia mengambil salah satu kotak, lalu membolak-baliknya.
"Masih baru." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau aku ambil satu atau dua... kayaknya gak bakal ketahuan, deh."
...✨"Kesempatan tidak selalu diberikan kepada orang yang paling pintar, tetapi kepada mereka yang mau bekerja keras dan menjaga kepercayaan." ⭐...
..."Kemiskinan tidak membuat seseorang kehilangan harga diri. Yang menghilangkannya adalah ketika ia berhenti jujur."...
..."Orang baik melihat potensi yang bisa dikembangkan, sedangkan orang tamak hanya melihat sesuatu yang bisa diambil."...
..."Kepercayaan adalah modal yang nilainya lebih mahal daripada uang. Sekali hilang, tak mudah mendapatkannya kembali."✨...
.
To be continued
Lain halnya yang menjaga toko Vira.
Arvin yang waktu itu membeli beras dengan uang receh, bahkan uangnya kurang.
Vira tanpa berkata apapun mengambil beras kualitas bagus. Ditambah mengambil beberapa mie instan untuk diserahkan kepada Arvin.
Ini Yanti bukan pemilik toko tapi menghina pembeli. Kata-kata kasar yang tak pantas keluar dari mulutnya. Menghina.
Dari dalam rumah Vira mendengar apa yang dikatakan Yanti. Dia berjalan cepat menuju toko.
Rasain Yanti kena teguran keras dari Vira.
Vira minta maaf pada Arvin di depan Yanti.
Yanti disuruh cuci piring, Vira yang menjaga toko.
Vira terkejut mendengar Arvin bicara mengenai gosip tentang dirinya.
Vira ingat kepingan-kepingan kejadian beberapa hari terakhir. Jadi tahu penyebabnya.
Vira bertekad menemukan siapapun orangnya yang telah menyebar fitnah yang sangat keji.
Pulang dari bekerja kembali melewati rumah Vira.
Beli beras bisa untuk alasan datang. Kalau ada kesempatan ingin memperingatkan Vira tentang gosip yang sedang beredar.
Pulang dari bekerja kembali melewati rumah Vira.
Arvin beli beras sebagai alasan datang. Nanti kalau ada kesempatan ingin memperingatkan Vira tentang gosip yang sedang beredar.
Yanti menawarkan diri untuk menjaga toko.
Vira tidak menjawab. Vira merasa ada yang aneh akhir-akhir ini.
Vira pikirannya berkelana mengingat tentang sikap pelanggan yang bersikap tidak semestinya. Tatapan mereka penuh rasa curiga, bahkan jijik.
Toko Vira bisa rugi kalau sepi pelanggan.
Vira memutuskan Yanti menjaga toko setelah pekerjaan rumah selesai.
Vira tetap akan mengawasi Yanti jangan sampai bisa mengutil uang atau barang dagangannya.
Ada yang menegor tidak boleh sembarangan nebak. Bisa jadi memang benar karena tomcat.
Deril yang kecewa diputus sama Vira juga menambah keruh suasana.
Arvin geram mendengar pembicaraan mereka. Merasa Vira bukan perempuan seperti yang mereka bicarakan.
Arvin masuk ke dalam warung. Dia memperingatkan pada ibu-ibu yang sedang menggosip.
Apa yang dikatakan Arvin membuat mereka diam
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.