Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tidak Percaya
Lampu neon minimarket 24 jam itu berkedip lambat. Jalanan Jakarta di luar mulai
sepi, menyisakan deru kendaraan sesekali di tengah udara malam yang menusuk
kulit.
Shaquena berdiri diam di area parkir yang lowong. Dari balik dinding kaca, ia
memperhatikan seorang gadis berseragam polo biru di balik meja kasir. Gadis itu
menunduk, tangan kirinya memegang pena sementara tangan kanannya membalik
halaman demi halaman buku tebal yang sudah kusam.
Pengantar Hukum Pidana.
Maya. Di jam selarut ini, mahasiswi hukum tingkat akhir itu masih harus
berjibaku dengan sif malam demi menyambung hidup.
Di kehidupan pertama Shaquena, nama Maya baru melambung beberapa tahun
lagi sebagai pengacara pro bono berdarah dingin yang sedikit menggetarkan pilar hukum Mahendra Group demi membalas dendam atas kematian ayahnya di sel tahanan. Namun
sekarang, Maya di hadapannya hanyalah gadis muda yang kelelahan, menyimpan kemarahan tanpa tahu harus disalurkan ke mana.
Shaquena mengembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu kaca. Lonceng di atas pintu berdenting nyaring, memecah kesunyian.
Maya tersentak. Tangannya cepat-cepat menutup buku tebal itu dan menyelipkannya
ke kolong meja. Lingkar hitam di bawah matanya mempertegas wajah pucatnya, tetapi sorot matanya luar biasa tajam.
"Selamat malam. Selamat datang," sapanya datar.
Shaquena hanya mengangguk tipis. Ia melangkah menyusuri lorong yang berbau pengharum lemon bercampur aroma kopi instan. Diambilnya sebotol teh melati dingin dari mesin pendingin dan sebungkus roti tawar kupas dari rak, lalu
meletakkannya di atas meja kasir.
Maya mengarahkan alat pemindai.
Tut.
"Lima belas ribu," gumamnya tanpa mendongak.
Shaquena mengulurkan selembar uang lima puluh ribu. Saat laci kasir berdenting terbuka dan jemari Maya mulai menghitung kembalian, Shaquena berbisik pelan.
"Ayahmu bukan koruptor."
Jemari Maya kaku di udara. Lembaran uang kertas nyaris tergelincir dari genggamannya. Perlahan, ia mendongak, menatap lurus ke mata Shaquena.
"Apa maksud Anda?" Suara Maya bergetar.
"Kasus manipulasi pajak tiga tahun lalu bukan salah ayahmu." Shaquena membalas tatapan itu tanpa ragu. "Tanda tangannya dipalsukan oleh dewan direksi."
Rahang Maya mengeras, jemarinya mengepal erat di sisi paha. "Siapa Anda?" desisnya tajam. "Orang suruhan Mahendra Group? Datang ke sini untuk mengancam saya?"
"Saya Shaquena Mahardika."
Maya mengernyit. Otak cerdasnya langsung menghubungkan nama itu. "Nyonya Mahendra," ucapnya dengan nada muak. "Istri pria brengsek yang menjebloskan ayah saya ke penjara."
"Mantan calon istri," ralat Shaquena tenang. "Pernikahan itu batal."
Maya melepas tawa hambar yang sinis, lalu mengempaskan uang kembalian ke meja kasir hingga berhamburan. "Saya tidak peduli status pernikahan Anda. Kalian semua sama saja. Menggilas hidup orang miskin sesuka hati, lalu datang berlagak suci."
Shaquena tidak terusik. Ia mengambil botol teh dinginnya, memutar tutupnya perlahan hingga hawa dingin menerpa wajahnya. Di hadapannya, Maya tampak begitu
mirip dengan mendiang Samuel, jiwa-jiwa keras kepala yang mencoba mendobrak tembok raksasa ketidakadilan hukum sebelum akhirnya hancur oleh kelicikan Sebastian.
"Aku ke sini bukan untuk mencari musuh, Maya."
"Lalu apa? Hiburan malam?"
"Sebuah aliansi."
Mata Maya menyipit penuh curiga. "Aliansi?"
"Sebastian sangat rapi menimbun kejahatannya," Shaquena menyesap teh dinginnya sedikit. "Ayahmu kepala akuntan yang jujur. Itu sebabnya dia dijadikan kambing hitam demi menyelamatkan Mahendra Group dari denda pajak triliunan."
Maya menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga memucat. Sudut matanya memerah. Kebenaran yang selama ini dia simpan rapat di balik lembar-lembar buku hukum tebalnya kini diucapkan begitu saja oleh orang asing. Sistem hukum yang dipelajarinya ternyata memang tidak pernah berpihak pada kantong yang kosong.
"Aku punya akses ke data internal Mahendra," sambung Shaquena. "Bukti asli pemalsuan dokumen itu bisa ada di tanganmu."
Hening menjalar. Dada Maya naik-turun dengan napas berat. Bukti itu... kunci
kebebasan ayahnya yang ia buru selama tiga tahun ini kini terbentang di depannya. Namun, ia mencengkeram jemarinya sendiri, lalu menggeleng keras.
"Saya tidak percaya pada niat baik Anda."
Shaquena meletakkan botol tehnya. "Kenapa?"
"Tidak ada makan siang gratis." Maya menunjuk Shaquena dengan ujung jarinya yang gemetar. "Orang-orang seperti Anda tidak akan memberikan apa pun tanpa menuntut timbal balik yang jauh lebih besar."
Ujung bibir Shaquena terangkat tipis. "Sangat jeli untuk calon pengacara."
"Saya hanya orang miskin yang paham realitas."
"Memang tidak gratis." Shaquena melangkah maju mendekati meja kasir. "Sebagai gantinya, bergabunglah denganku."
"Menjadi anjing peliharaan Anda?"
"Menjadi mata pedangku." Shaquena menatap lurus, mengunci manik mata Maya. "Aku butuh ahli hukum yang menyimpan kebencian sedalam milikmu terhadap Sebastian. Seseorang yang tidak akan mempan disuap dengan angka berapa pun."
Maya tertawa sumbang. Diambilnya kembali buku hukum pidana dari kolong meja, lalu didekapnya erat-erat di dada, seolah benda kusam itu satu-satunya pelindung yang tersisa.
"Bagi orang-orang kaya seperti Anda, keadilan cuma mainan strategi di meja
rapat!" Suara Maya bergetar hebat. "Tapi bagi kami, keadilan adalah sosok ayah
yang direnggut paksa dari meja makan keluarga!"
Kata-kata itu menghantam ulu hati Shaquena. Bayangan masa lalu mendadak
berkelebat, sel penjara yang dingin dan penantian sia-sia akan kepulangan putranya yang takkan pernah kembali.
"Aku mengerti rasa sakitmu," lirih Shaquena.
"Anda tidak tahu apa-apa!" bentak Maya. Setetes air mata lolos, membasahi kerah
seragam polonya.
Keheningan kembali merayap di sela deru statis lemari pendingin.
Maya menyeka pipinya kasar dengan punggung tangan, lalu menegakkan bahu. Enggan menunjukkan kelemahan di hadapan wanita yang masih ia anggap musuh.
"Saya mungkin miskin," ucap Maya dingin. "Tapi saya akan membebaskan ayah saya
dengan cara saya sendiri. Saya tidak butuh belas kasihan, apalagi bantuan kotor dari lingkaran kalian."
Shaquena menatap lurus ke dalam manik mata yang menyala itu. Gadis ini menolak jalan pintas yang mudah. Tulang punggungnya sekokoh baja.
"Dunia hukum tidak seindah teori di lembaran bukumu, Maya." Shaquena melayangkan peringatan terakhir. "Keberanian saja tidak mempan melawan uang yang bisa membeli hakim dan jaksa."
"Itu urusan saya."
"Sebastian akan memastikan ayahmu mati di dalam sel sebelum hukumannya selesai."
Kalimat itu telak membuat wajah Maya memucat. Ketakutan terburuknya baru saja diucapkan dengan begitu dingin.
Shaquena merogoh tasnya, meletakkan selembar kartu nama hitam elegan tanpa logo di samping botol teh melati. Hanya ada deretan angka keperakan di sana.
"Pikirkan baik-baik." Shaquena menatapnya lekat untuk terakhir kali. "Kemarahan tanpa kekuatan hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."