Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Bayu suka sama Amel
Bagi teman-teman di sekolah, Amel adalah rumah yang berjalan.
Ia bukan tipe orang yang mendominasi percakapan, melainkan sosok yang sabar mengangguk, memberikan respons yang tepat, dan selalu menyimpan rahasia dengan aman.
Itulah sebabnya banyak yang betah berlama-lama bercerita kepadanya.
Di antara sekian banyak teman yang sering curhat, ada satu nama yang hampir setiap hari mengisi hari-hari Amel: Bayu.
Bayu adalah teman sekelasnya. Cowok itu memiliki hobi fotografi dan selalu punya seribu satu cerita menarik untuk dibagikan.
Mulai dari kebiasaan konyol adiknya, rasa frustrasinya terhadap tugas Matematika yang rumit, hingga kucing liar yang sering ia beri makan di dekat halte bus.
"Mel, kamu tahu gak sih? Tadi pagi kucing itu nungguin aku lagi lho di deket tukang bubur. Pas aku kasih sosis, dia malah ngendus-endus sepatuku bukannya makan," cerita Bayu dengan mata berbinar di sela-sela jam istirahat.
"Hahaha...."
Amel tertawa renyah, menutup buku catatannya, dan menatap Bayu sepenuhnya.
"Serius, Yu? Mungkin dia mau ngajak kamu main kali. Atau sepatumu bau ikan asin?" goda Amel.
"Ih, enak aja! Ini sepatu baru dicuci ya," balas Bayu sambil tertawa, suaranya memenuhi sudut ruang kelas yang mulai sepi.
Percakapan semacam itu adalah rutinitas yang sangat lumrah bagi mereka berdua.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut menumbuhkan benih-benih cinta di hati Bayu.
Bayu merasa hanya Amel yang benar-benar memahami dunianya.
_______________
Setiap kali ia berhasil memotret pemandangan senja yang indah, Amel adalah orang pertama yang dikirimi fotonya.
Bayu juga sering membelikan Amel es teh manis favoritnya tanpa diminta saat cuaca sedang panas-panasnya.
Namun, di sinilah letak masalahnya. Karena Amel terkenal sebagai sosok yang penuh perhatian dan pendengar yang sangat baik kepada siapa saja, ia bersikap layaknya seorang teman yang suportif.
Amel membalas pesan Bayu dengan antusias, tertawa pada leluconnya, dan dengan sabar mendengarkan setiap keluh kesahnya.
Bagi Amel, Bayu adalah teman terdekat dan tempat bersandar yang paling aman.
Ketidakpekaan Amel terhadap perasaan Bayu berakar dari sifat alamiahnya.
Amel menganggap bahwa semua perhatian ekstra dari Bayu adalah bentuk persahabatan yang erat.
Lagipula, Bayu juga sering bercerita tentang cewek-cewek lain di sekolah atau di luar sekolah yang sedang dekat dengannya.
"Mel, menurutmu si Rara dari kelas sebelah itu asik gak sih orangnya?" tanya Bayu suatu sore saat mereka sedang piket kelas bersama, menyapu dedaunan kering di koridor.
Amel yang sedang memegang sapu langsung menghentikan aktivitasnya. Ia memandang Bayu dengan serius.
"Rara? Anaknya baik kok, lumayan aktif di OSIS juga. Kenapa emangnya, Yu? Jangan bilang kamu naksir dia?" Bayu salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lantai.
"Ah, enggak juga sih. Cuma nanya-nanya aja. Tapi kalau menurutmu dia cewek yang baik, mungkin aku bisa coba deketin dia."
Mendengar hal itu, Amel tersenyum tulus dan mengacungkan jempolnya.
"Wah, semoga berhasil ya! Nanti kalau butuh teman buat nyusun rencana PDKT, aku siap dengerin kok." Jawaban Amel tersebut seolah menjadi pisau bermata dua bagi Bayu.
Di satu sisi, ia bersyukur memiliki teman sebaik Amel yang selalu mendukungnya.
Di sisi lain, ia merasa kecewa dan cemburu karena Amel mendorongnya untuk mendekati cewek lain.
Bayu tidak menyadari bahwa perhatian tulus yang ia berikan selama ini tidak pernah sampai ke hati Amel sebagai sinyal cinta, melainkan hanya dianggap sebagai bentuk persahabatan yang manis.
_____________
Hari-hari terus bergulir. Bayu dan Amel masih sering menghabiskan waktu bersama di sekolah.
Bayu sering mengajari Amel materi pelajaran Fisika yang sulit, dan sebagai gantinya, Amel akan mentraktir Bayu di kantin.
Suasana ini membuat mereka terlihat seperti sepasang kekasih di mata teman-teman sekelas mereka.
Banyak teman yang sering menggoda mereka, tetapi Amel selalu menepisnya dengan santai.
"Ah, Bayu mah udah kayak kakakku sendiri. Dia cerewet banget, kalau gak didengerin bisa ngambek seharian," kata Amel sambil tertawa setiap kali ada teman yang meledek mereka.
Mendengar ucapan Amel tersebut, Bayu hanya bisa tersenyum kecut. Di dalam hatinya, ia menjerit frustrasi.
Ia merasa telah memberikan berbagai macam kode, mulai dari menjadi teman yang selalu ada, memberikan hadiah kecil, hingga tatapan mata yang berbeda.
Namun, label "pendengar yang baik" dan "teman dekat" yang disematkan Amel pada dirinya membuat Bayu seolah terjebak dalam zona pertemanan yang sangat dalam.
_________________
Suatu sore, saat mereka sedang berteduh dari hujan deras di depan perpustakaan, suasana menjadi lebih tenang dari biasanya.
Hawa dingin membuat mereka merapatkan jaket masing-masing.
"Mel, kamu gak capek dengerin ceritaku terus?" tanya Bayu tiba-tiba, memecah keheningan sambil menatap rintik hujan.
Pertanyaan itu terdengar sangat serius, tidak seperti biasanya. Amel menoleh, menatap Bayu dengan lembut.
"Capek? Kenapa harus capek? Aku malah seneng bisa dengerin cerita kamu, Yu. Gak semua orang mau terbuka dan berbagi hal-hal kecil yang mereka alami. Buat aku, itu artinya kamu percaya sama aku."
Bayu terdiam sejenak. Ia membuang napas panjang, mengumpulkan keberanian yang selama ini terkumpul di tenggorokannya.
Ia menoleh dan menatap mata Amel dalam-dalam.
"Iya, aku percaya banget sama kamu, Mel. Dan karena aku percaya, aku mau jujur. Tapi aku takut pertemanan kita malah jadi aneh setelah ini."
Amel mengerutkan keningnya, mulai merasakan firasat yang tidak biasa. Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat.
"Jujur? Jujur soal apa, Yu? Katakan saja, gak usah takut."
Bayu kembali menatap rintik hujan, mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya selama ini.
Ia sangat menyukai Amel, namun ia terlalu pengecut untuk mengambil risiko merusak kenyamanan yang sudah mereka bangun.
Ia takut kehilangan sosok pendengar setia yang ada di sampingnya.
"Jujur... kalau sebenarnya aku ngerasa nyaman bukan cuma sebagai teman," bisik Bayu, suaranya hampir tertelan oleh suara derasnya hujan. Amel tertegun.
Kalimat itu menggantung di udara, menghentikan detak jantungnya sejenak. Ia menatap Bayu dengan mata melebar, mencoba memproses makna dari ucapan sahabatnya itu.
Selama ini, ia selalu menganggap Bayu hanya sebagai teman, namun ucapan tersebut tiba-tiba mengubah cara pandangnya.
Ia teringat kembali semua perhatian yang diberikan Bayu, es teh manis, foto-foto senja, dan tatapan mata yang dalam.
"Yu, maksud kamu..." Amel bersuara, suaranya terdengar ragu.
kriiiiiiingg.....
Sebelum Bayu sempat menjawab atau memperjelas kalimatnya, bel tanda masuk berbunyi nyaring, memecah lamunan mereka berdua dan mengakhiri momen intim tersebut.
Hujan yang mulai reda memaksa mereka untuk segera kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran terakhir.
Bayu hanya tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan keraguan dan kelegaan sekaligus.
"Nanti kita lanjut ngobrol lagi ya, Mel," kata Bayu sambil bangkit dari duduknya.
Amel mengangguk pelan, masih terdiam mencerna situasi. Sepanjang sisa pelajaran, Amel tidak bisa fokus.
Pikirannya dipenuhi oleh ucapan Bayu. Kini, predikat pendengar yang baik seolah menguji dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus merespons bagaimana. Di satu sisi, ia takut kehilangan Bayu sebagai sahabatnya. Namun di sisi lain, benih-benih rasa yang selama ini tidak disadarinya perlahan mulai tumbuh, membuat perasaannya menjadi campur aduk.
Bersambung ~~~
Hallo ges!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa Follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~