Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Mantan Tunangan yang Tidak Diundang
"Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerah."
Kalimat Sekar masih menggantung di ruang tengah ketika Tan Ardian menatapnya tanpa berkedip. Darren bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Tiga detik.
Lima detik.
Sekar tetap menunduk membersihkan pecahan gelas, seolah baru saja mengatakan harga cabai di pasar, bukan menantang pria paling sulit di rumah ini.
Ardian akhirnya memutar kursi rodanya.
"Darren."
"Iya, Koko?"
"Kalau dia merusak barang, potong dari gajimu."
Wajah Darren langsung pucat. "Kok gajiku?"
"Kamu yang membawanya."
Setelah mengatakan itu, Ardian pergi menuju koridor tanpa menoleh lagi. Suara roda elektriknya halus, tetapi punggungnya dingin sampai membuat ruangan terasa lebih kosong setelah ia menghilang.
Darren menatap Sekar dengan mata hampir basah. "Mbak Sekar, tolong jangan rusak barang apa pun. Gajiku tidak sekuat mentalmu."
Sekar mengikat kantong sampah kecil berisi pecahan kaca. "Kalau dia yang merusak?"
"Itu... biasanya masuk biaya operasional penderitaan keluarga."
Sekar menahan senyum. Setidaknya, adik Tuan Muda itu masih punya fungsi: membuat rumah semahal ini tidak sepenuhnya terasa seperti museum tempat orang dimarahi.
Sisa pagi berjalan dengan cara yang aneh. Sekar diperkenalkan pada dapur yang ukurannya lebih besar dari ruang tamu rumahnya, kamar obat yang lebih rapi daripada klinik kecil, dan lift pribadi yang hanya bisa diakses dengan kartu. Darren menjelaskan semuanya sambil sesekali menoleh ke koridor, seperti takut Ardian muncul dari dinding.
"Koko paling tidak suka orang masuk kamar tanpa izin. Jangan pegang kaki sebelum jadwal. Jangan komentar soal kursi roda. Jangan tanya kecelakaan. Jangan bilang kasihan. Jangan..."
"Pak Darren," potong Sekar, "kalau semua tidak boleh, saya kerja apa?"
Darren terdiam.
"Berdoa?" jawabnya ragu.
Sekar menghela napas. Tiga hari, katanya. Sepertinya tiga hari itu akan terasa seperti magang di medan perang.
Menjelang sore, rumah yang sejak pagi dingin tiba-tiba menjadi lebih sibuk. Dua satpam di depan mengirim pesan lewat interkom. Darren yang sedang minum air hampir tersedak.
"Siapa?" tanya Sekar.
Darren melihat layar tablet, lalu wajahnya berubah tidak enak. "Hartono Felicia."
Nama itu membuat dua asisten rumah tangga yang sedang lewat saling pandang. Sekar menangkap perubahan kecil itu. Seperti ada nama yang tidak boleh disebut keras-keras di rumah ini.
"Siapa dia?"
Darren belum sempat menjawab.
Pintu utama sudah terbuka.
Seorang perempuan masuk tanpa menunggu dipersilakan. Gaun putih tulangnya jatuh rapi sampai lutut, tas kecil bermerek tergantung di pergelangan tangan, rambut panjangnya ditata lembut. Wajahnya cantik dengan cara yang mahal. Jenis cantik yang tahu kamera akan menyukainya dari sudut mana pun.
Di belakangnya, seorang sopir membawa kotak kecil dan satu folder dokumen.
"Darren," sapa perempuan itu. Senyumnya tipis. "Lama tidak bertemu."
Darren berdiri kaku. "Felicia, kamu tidak buat janji."
"Aku masih tunangan kakakmu. Perlu buat janji untuk masuk rumah calon suamiku sendiri?"
Sekar yang berdiri di dekat meja bunga langsung paham. Hartono Felicia. Tunangan Ardian.
Atau mungkin sebentar lagi bukan.
Suara roda elektrik terdengar dari koridor. Ardian muncul dengan wajah tanpa ekspresi. Selimut tipis masih menutup kakinya. Tidak ada kejutan di matanya saat melihat Felicia, seolah ia sudah menduga hari buruk punya jadwal sendiri.
"Untuk apa datang?" tanyanya.
Felicia tersenyum lebih lebar. "Menyelesaikan sesuatu."
Ia memberi isyarat pada sopir. Pria itu membuka folder, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di meja.
"Surat pembatalan pertunangan," kata Felicia lembut. "Aku sudah tanda tangan."
Ruang tengah langsung sunyi.
Darren melangkah maju. "Felicia, kalau mau bicara, bicara baik-baik. Jangan di sini."
"Kenapa?" Felicia menoleh pelan. "Takut pengasuh baru mendengar?"
Tatapannya akhirnya jatuh pada Sekar. Dari atas ke bawah. Dari sepatu murah, ransel yang belum sempat dibawa ke kamar, sampai rambut Sekar yang diikat asal. Senyumnya berubah sedikit.
"Oh. Ini nomor berapa?"
Sekar menatapnya. "Delapan puluh delapan."
"Semoga bertahan lebih lama dari yang kemarin."
"Amin," jawab Sekar datar.
Darren menahan napas. Ardian tidak bereaksi.
Felicia membuka kotak kecil dari sopir. Di dalamnya ada cincin pertunangan dengan batu yang berkilau dingin. Ia meletakkannya di meja, tepat di depan Ardian.
"Aku mengembalikan ini."
Ardian hanya melihat cincin itu sebentar. "Selesai?"
Senyum Felicia menipis. Rupanya ia tidak puas jika lukanya tidak terlihat.
"Belum."
Ia mengambil ponsel, menyambungkannya ke layar besar di ruang tengah. Darren langsung bergerak, tetapi Felicia lebih cepat menekan tombol putar.
Video itu menyala.
Dalam video, Ardian duduk di lantai kamar rumah sakit. Rambutnya lebih panjang, wajahnya pucat, dan kursi roda terbalik di sampingnya. Tangannya mencengkeram seprai, berusaha menarik tubuhnya naik. Kakinya tidak bergerak. Ada suara orang tertawa kecil di balik rekaman. Bukan tawa keras, tetapi cukup untuk membuat telinga panas.
"Jangan!" Darren membentak.
Sekar membeku.
Di layar, Ardian yang dulu masih berjuang menarik tubuhnya. Napasnya berat. Bahunya bergetar. Rekaman itu bukan sekadar memalukan. Itu seperti seseorang mengintip luka yang seharusnya ditutup, lalu membawanya ke ruang tamu untuk dijadikan tontonan.
Felicia mematikan video setelah beberapa detik, cukup lama untuk menyakiti, cukup singkat untuk berpura-pura tidak kejam.
"Aku tidak sanggup," katanya pelan. "Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa berdiri di hari pernikahannya sendiri."
Darren menatapnya dengan mata merah. "Kamu keterlaluan."
"Aku realistis." Felicia menoleh pada Ardian. "Keluargaku juga butuh kepastian. Aku masih muda, Ardian. Aku tidak mungkin menghabiskan hidupku menjadi perawat."
Sekar merasakan tangannya mengepal.
Pagi tadi, Ardian memang menyebalkan. Ia melempar gelas, mengusir orang, membuat rumah ini seperti tempat ujian kesabaran. Tapi melihat seseorang memakai luka orang lain sebagai alat tawar, rasanya berbeda.
Itu bukan keberanian. Itu kejam yang dibungkus gaun mahal.
Ardian sejak tadi diam. Wajahnya tidak berubah. Hanya jari di sandaran kursi roda yang menekan pelan, satu kali.
Tombol darurat merah menyala.
Tidak sampai lima detik, empat bodyguard berbaju hitam masuk dari pintu samping.
Felicia tertegun.
Ardian mengangkat wajah. Suaranya tenang, hampir malas.
"Antar Nona Hartono keluar."
"Ardian." Felicia tertawa kecil, tetapi nadanya mulai retak. "Kamu mengusirku?"
"Kamu sendiri yang mengembalikan cincin. Tamu tanpa undangan tidak perlu diantar terlalu sopan."
Dua bodyguard berdiri di kanan kiri Felicia. Sopirnya mundur ketakutan. Darren mengambil remote dan mematikan layar sepenuhnya, tangannya gemetar.
Felicia memungut tasnya dengan gerakan kaku. Harga dirinya jelas terluka, tetapi ia masih berusaha tersenyum.
Ketika melewati Sekar, ia berhenti sebentar.
"Jangan terlalu berani, pengasuh. Rumah ini tidak pernah baik pada perempuan biasa."
Sekar menatap lurus. "Kalau begitu, Nona harusnya paling tahu jalan keluarnya."
Wajah Felicia berubah.
Darren mengeluarkan suara kecil lagi, kali ini seperti antara kagum dan takut.
Bodyguard tidak memberi Felicia waktu membalas. Mereka mengantarnya sampai pintu utama. Hak sepatunya mengetuk lantai marmer, keras, cepat, makin jauh.
Di ambang pintu, Felicia berhenti. Ia menoleh pada Ardian. Senyumnya kembali, dingin dan tipis.
"Tan Ardian," katanya, "kamu pikir ini sudah selesai?"
Pintu tertutup setelahnya.
Ruang tengah kembali sunyi. Cincin pertunangan masih tergeletak di meja, berkilau sendirian seperti benda yang salah tempat.
Sekar menoleh pada Ardian.
Pria itu masih duduk tegak di kursi rodanya. Wajahnya tetap dingin. Namun, ujung jarinya menekan sandaran terlalu kuat sampai buku-bukunya memutih.
Untuk pertama kalinya, Sekar merasa kemarahan pria itu mungkin bukan hanya tembok.
Mungkin juga perban.