Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — “TEMAN-TEMANKU DATANG”
Seminggu berlalu sejak hari pernikahan. Aurel mulai terbiasa dengan ritme pelan kehidupan di Pesantren Al-Faruqi, meski ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah atau di teras samping membaca novel dan menyelesaikan draf akhir skripsinya.
Sabtu siang itu, gema suara mesin mobil yang asing di halaman rumah menghentikan jemari Aurel yang sedang mengetik di laptop.
Melalui jendela teras, Aurel melihat mobil Hatchback merah yang sangat ia kenal terparkir anggun di samping pohon mangga. Maya dan Dito melangkah keluar. Maya mengenakan celana kulot dan tunik panjang yang agak rapi, sementara Dito tampak santai seperti biasa—kaus polo abu-abu, jins hitam, dan kaca mata hitam yang digantungkan di kerah baju.
"Maya! Dito!" Aurel menutup laptopnya dan berlari kecil menyambut kedua sahabatnya di teras.
"Aureeeel!" Maya langsung menubruk Aurel dengan pelukan heboh. "Ya ampun, sahabatku yang sekarang udah jadi Bu Ustadz! Gimana kabarmu? Masih hidup kan di sini? Nggak dikurung di kamar sambil disuruh hafalan juz amma kan?"
Aurel tertawa renyah seraya melepaskan pelukan Maya. "Ngaco kamu. Aku baik-baik aja. Sini masuk!"
Dito tertawa pelan, melangkah mendekat seraya menatap sekeliling halaman rumah keluarga Faruqi dengan pandangan takjub. "Gokil sih, adem banget rumah kamu sekarang, Rel. Jauh beda sama rumah Pak Hamdan yang kayak museum."
"Dito, jaga mulutmu," tegur Maya seraya menepak lengan Dito pelan.
"Bercanda kali," Dito terkekeh. Pria itu menyeringai jahil, lalu tiba-tiba merangkul bahu Aurel secara spontan—kebiasaan lama mereka sejak awal masuk kuliah saat sedang merayakan sesuatu atau sekadar meledek. "Tapi serius, Rel, makin bercahaya aja mukamu. Apa karena efek tebaran doa dari para santri?"
"Apaan sih, Dit! Lepas!" Aurel menyiku perut Dito pelan sambil tertawa, memukul lengan sahabatnya itu tanpa ada maksud apa-apa.
Namun, tepat pada detik saat tangan Dito masih melingkar santai di bahu Aurel dan tawa Aurel masih tersisa di udara, suara langkah kaki beratap halus terdengar dari arah lorong samping rumah.
Muhammad Rasyid Al-Faruqi muncul dari balik pilar kayu teras.
Rasyid baru saja kembali dari komplek madrasah. Pria itu mengenakan baju koko putih bersih, sarung tenun berwarna hijau gelap, dan peci hitam polos. Di tangannya, ia memegang beberapa lembar kertas berkas pesantren.
Seketika, tawa di teras itu meredam.
Dito secara refleks menurunkan tangannya dari bahu Aurel. Suasana santai dan penuh canda di teras tersebut mendadak diliputi kecanggungan yang tipis namun nyata.
Aurel berdehem pelan, mengusap tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "Anu... Rasyid. Ini temen-temen kumpulanku di kampus. Yang ini Maya, yang kemarin dateng pas akad. Terus yang ini Dito."
Rasyid menghentikan langkahnya sekitar dua meter dari mereka. Pria itu tidak menyorotkan amarah. Matanya yang jernih dan teduh menatap Dito sejenak, lalu beralih menatap Aurel. Ekspresinya sangat tenang—terlalu tenang—tanpa ada sedikit pun riak emosi yang bocor di garis wajahnya.
"Assalamu’alaikum," sapa Rasyid dengan intonasi halus seperti biasa. Pria itu mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memberikan penghormatan tanpa bersalaman langsung.
"Wa’alaikumsalam, Ustadz," jawab Dito dan Maya hampir serentak. Dito yang biasanya sangat ceplas-ceplos mendadak menegakkan posisi berdirinya, tampak sedikit serba salah.
"Silakan masuk dan duduk di dalam," kata Rasyid ramah. "Saya minta tolong Salma untuk buatkan minuman hangat."
"Eh, nggak usah repot-repot, Mas... eh, Ustadz," sahut Maya agak gagap. "Kita cuma sebentar kok, mau ngantarin draf revisi bab empat punya Aurel sekalian nengokin."
"Tidak repot sama sekali. Anggap saja rumah sendiri," balas Rasyid singkat. Pria itu menatap Aurel pelan. "Saya ke dalam dulu, mau merapikan berkas."
"I-iya..." jawab Aurel kaku.
Rasyid mengangguk pelan kepada Maya dan Dito sebelum berlalu melangkah masuk melewati pintu depan.
Begitu Rasyid menghilang di balik pintu, Maya langsung menyikut pinggang Aurel seraya berbisik heboh. "Gilak! Suamimu wibawanya berasa bikin aku mau langsung taubat seketika, Rel! Tatapannya adem tapi kok berasa kayak lagi dipanggil dosen pembimbing ya?"
Dito mengusap leher belakangnya seraya meringis tipis. "Sumpah, Rel, tadi gue refleks meluk bahu lu... suamimu marah nggak ya? Mukanya datar banget."
Aurel menatap pintu depan yang sudah tertutup. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba berdesir di dadanya. Rasyid memang tidak membentak, tidak menegur, dan tetap bersikap sangat sopan pada teman-temannya. Namun, ketenangan ekstrem yang ditunjukkan Rasyid justru menyisakan tanda tanya besar di kepala Aurel.
"Nggak kok," kata Aurel pelan, lebih kepada menenangkan dirinya sendiri. "Rasyid nggak pernah marah untuk hal-hal kayak gitu."
Sore harinya, setelah hampir dua jam mengobrol dan menyelesaikan revisi skripsi bersama, Maya dan Dito pamit pulang. Aurel mengantar mereka sampai ke depan mobil sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumah.
Rumah terasa hening. Kiai Abdul dan Ibu Nur sedang menghadiri undangan pengajian di kecamatan sebelah, sementara Salma sedang ada kegiatan santri putri di madrasah.
Aurel menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua. Pintu kamar mereka agak terbuka sedikit.
Aurel mendorong pintu itu pelan.
Di dalam kamar, Rasyid sedang duduk di meja kerjanya di dekat jendela. Pria itu telah melepas pecinya, menyisakan rambut hitamnya yang tertata rapi. Ia sedang membolak-balik lembaran draf santri dengan pena hitam di tangan kanan.
Aurel melangkah masuk, menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang sudah ditutup kembali. Ia memperhatikan punggung tegap suaminya selama beberapa detik.
"Temen-temenku udah pulang," kata Aurel membuka suara.
"Iya," jawab Rasyid tanpa menoleh. Suaranya datar, jemarinya terus membubuhkan tanda centang di atas kertas. "Terima kasih sudah menemani mereka."
Aurel mengerutkan kening. Nada suara itu... meski tetap sopan dan jernih, terasa memiliki jarak tak kasat mata yang tidak ada tadi pagi saat mereka bercanda soal teh manis di meja makan.
Aurel berjalan mendekati meja kerja Rasyid, melipat tangannya di dada seraya menyandarkan pinggulnya pada tepi meja.
"Kamu kenapa?" tanya Aurel langsung tanpa membuang waktu.
Rasyid menghentikan gerakan penanya. Pria itu mendongak, menatap Aurel dengan mata cokelat gelapnya yang dalam.
"Kenapa bagaimana, Aurel?"
"Ya kamu," Aurel memiringkan kepalanya, meneliti raut wajah Rasyid. "Sejak Dito sama Maya dateng tadi, kamu jadi beda. Bicara seperlunya, nggak mau natap mataku, terus sekarang sok sibuk sama kertas-kertas itu."
Rasyid meletakkan penanya di atas meja. Pria itu menghela napas pelan—sebuah helaian napas yang sangat halus—lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Saya hanya tidak ingin mengganggu waktumu bersama teman-temanmu," ujar Rasyid tenang. "Bukannya itu salah satu syarat yang kamu ajukan? Saya tidak boleh terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan sosialmu."
Aurel mendengus pelan. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap mata Rasyid dari jarak dekat.
"Cemburu ya?" goda Aurel dengan senyum jahil di sudut bibirnya.
Rasyid tersentak sangat tipis—hampir tak terlihat jika Aurel tidak menatapnya erat-erat. Pria itu langsung membuang pandangannya ke arah jendela luar.
"Tidak," jawab Rasyid cepat.
"Bohong," bisik Aurel seraya menundukkan kepalanya sejajar dengan arah pandang Rasyid. "Mukamu bilang iya. Kamu kesel kan pas liat Dito ngerangkul bahuku di teras tadi?"
Rasyid mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban bijak untuk setiap pertanyaan itu mendadak mengalihkan jemarinya untuk merapikan tumpukan kertas di meja—sebuah gesture langka yang menandakan kecanggungan yang nyata.
Aurel semakin gemas melihat pertahanan pria yang dijuluki ustadz tenang itu mulai retak.
"Ngaku aja kali, Rasyid," goda Aurel lagi, suaranya renyah dan penuh canda. "Lagian Dito itu cuma temen biasa. Kita bertiga udah kayak saudara dari semester satu. Nggak ada rasa apa-apa."
Rasyid menghentikan tangannya di atas kertas. Pria itu menghela napas panjang, lalu memutar kursinya hingga benar-benar berhadapan lurus dengan Aurel.
Sorot matanya kini tidak lagi menghindar. Ada sebuah keteguhan yang pekat di dalam netra cokelat gelap itu, menyisakan kehangatan tersembunyi yang membuat tawa di bibir Aurel mendadak surut perlahan.
"Kalau saya bilang iya, kamu mau apa, Aurel?" tanya Rasyid dengan suara yang sangat rendah, dalam, dan tenang.
Aurel terpaku di tempatnya.
Jantungnya seolah melewatkan satu detakan kencang. Pertanyaan yang diajukan Rasyid dengan intonasi polos namun telanjang itu melayang di udara kamar, meruntuhkan seluruh niat Aurel untuk meledeknya lebih jauh.
"Kamu... apa?" bisik Aurel gagap, lidahnya mendadak terasa kelu.
Rasyid menatap mata cokelat terang milik Aurel tanpa berkedip sedikit pun.
"Saya ini suamimu, Aurel," kata Rasyid pelan, setiap kata yang diucapkannya terasa memiliki bobot yang nyata. "Meskipun pernikahan kita berawal dari keterpaksaan, melihat laki-laki lain memegang bahu istri saya di depan mata saya sendiri... tentu membuat dada saya terasa tidak nyaman."
Ruangan itu seketika menjadi sangat hening.
Aurel berdiri kaku di tepi meja, pipinya mendadak terasa membara hingga ke ujung telinga. Keberanian dan nada menyindir yang biasanya menjadi perisainya hancur berkeping-keping hanya oleh satu pengakuan jujur dari pria berpeci hitam di depannya ini.
Rasyid tidak memarahi, tidak membentak, juga tidak menghakimi. Pria itu hanya mengakui rasa cemburunya dengan kejujuran yang begitu telanjang dan bermartabat, membuat Aurel justru merasa bersalah sekaligus takjub secara bersamaan.
"Rasyid... aku..." Aurel kehilangan kata-kata.
Rasyid memegang penanya kembali, memutus kontak mata yang terlalu intens di antara mereka seraya tersenyum amat tipis.
"Saya tidak melarangmu berteman dengan Dito," tambah Rasyid halus, mengembalikan ketenangan suaranya. "Saya percaya padamu. Saya hanya minta... tolong hargai batasan itu saat ada saya di dekatmu. Bisakah?"
Aurel menelan ludah, menganggukkan kepalanya pelan tanpa bisa membalas dengan kalimat tajam seperti biasanya.
"B-bisa..." jawab Aurel kecil.
"Terima kasih," balas Rasyid singkat, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada draf santri di depannya seolah percakapan mendebarkan tadi tidak pernah terjadi.
Aurel berdiri kaku di samping meja selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah mundur dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya memegang dadanya sendiri yang masih berdegup kencang tak beraturan.
Ia menatap punggung tegap Rasyid dari belakang. Ustadz muda yang selama ini ia kira kaku dan pasrah itu... ternyata sanggup membuat seluruh pertahanan dirinya berantakan hanya dengan satu kalimat jujur.