NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Rasa malas yang teramat sangat menghampiri Nadya pagi ini. Padahal, satu jam lagi jadwal kelasnya akan dimulai. Pertemuannya dengan Arnold kemarin sore rupanya memantik kembali trauma masa lalu yang telah mati-matian coba ia hilangkan.

Ingatan itu menyisakan rasa jijik yang luar biasa, seolah jejak sentuhan paksa cowok itu masih menempel di kulitnya. Semalam, begitu tiba di rumah, Nadya bahkan harus membersihkan diri berkali-kali demi mengikis sisa kehadiran Arnold. Kini, selain rasa jijik, ketakutan baru mulai merayap, ia ngeri membayangkan jika harus berpapasan lagi dengan Arnold di koridor kampus dan dipaksa tunduk seperti dulu.

​Masih bergelung erat di dalam selimut, Nadya enggan membuka mata. Sampai akhirnya, derit halus pintu kamar yang terbuka memecah keheningan. Sosok wanita anggun yang tetap terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda melangkah masuk.

​"Nad, Sayang... bangun, Nak. Kamu tidak kuliah?"

​Pemilik suara lembut itu berjalan mendekati jendela, lalu menyibak tirai gorden. Sinar matahari pagi seketika menerobos masuk, menyinari buntelan selimut merah muda yang tampaknya sama sekali tidak terusik oleh cahaya yang mencoba merayap ke retinanya.

​Marini, sang ibunda, tersenyum maklum. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, tepat di samping putrinya yang masih meringkuk. Merasakan kehadiran sosok hangat yang sangat ia kenali, Nadya perlahan mengubah posisinya. Ia merangsek maju, memeluk pinggang Marini dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan nyaman sang mama.

​"Nad, tidak ke kampus?" tanya Marini mengulang pertanyaannya. Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Marini menghadapi sifat manja Nadya, bahkan setelah dua puluh tahun lamanya ia membesarkan anak tunggalnya itu.

​"Nadya masih mengantuk, Ma... lima menit lagi, ya?" gumam Nadya parau, kian menduselkan wajahnya ke perut sang mama seolah mencari perlindungan.

​"Tidak biasanya kamu malas seperti ini Nad. Biasanya pagi-pagi begini kamu sudah bersemangat olahraga," ucap Marini heran. Tangannya terangkat, menyentuh kening putih Nadya untuk mengecek suhu tubuh, khawatir jika putrinya sedang terserang demam.

​"Nadya tidak apa-apa, Ma. Hanya lelah saja, dan sedang malas sekali ke kampus." Nadya kembali mengeratkan pelukan, mati-matian menyembunyikan fakta kelam di balik alasan keengganannya hari ini.

​"Cerita sama Mama, kamu sedang ada masalah? Atau terjadi sesuatu di kampus?" desak Marini curiga. Naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi, perubahan sikap Nadya terasa terlalu mendadak.

​Mendengar desakan itu, Nadya akhirnya bangkit dan duduk menghadap mamanya. Wajah anggun di depannya kini sarat akan kekhawatiran. Jauh di lubuk hatinya, Nadya ingin sekali menumpahkan segalanya, berteriak bahwa Arnold sudah bebas dan kembali mengisap kedamaian hidupnya.

Namun, ia tahu konsekuensinya. Jika ia bercerita pada Marini, mamanya pasti akan melapor pada sang papa. Ujung-ujungnya, skenario buruk itu akan terulang, barisan bodyguard, pengawasan ketat 24 jam, dan hilangnya jam malam. Kebebasannya akan direnggut total.

​Oh, ya Tuhan... Nadya tidak ingin hal itu terjadi lagi, batunya dalam hati.

​Maka dari itu, ia memantapkan tekad untuk menghadapi ini sendiri. Kali ini, ia yakin bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus merepotkan orang tua.

​"Tidak ada apa-apa, Ma. Di kampus semua baik-baik saja, kok. Nadya hanya lelah saja Ma. Nad gak masuk kelas hari ini soalnya siang nanti Nadya mau ke markas militer," kilah Nadya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

​Alasan itu tidak sepenuhnya bohong. Gara-gara insiden dengan Arnold kemarin, rencananya untuk mencari sang pujaan hati menjadi berantakan. Jadi, ia memutuskan untuk menuntaskannya hari ini.

​"Markas militer? Ngapain kamu ke sana?" tanya Marini bertambah heran.

​"Nadya mau mencari Kak Rex, Ma. Sudah dua bulan Nadya kehilangan kabar dari dia."

​"Rex? Kenapa tiba-tiba mencarinya? Bukankah dia sudah naik pangkat menjadi kapten sekarang? Tentara sepangkat dia pasti sedang sibuk-sibuknya bertugas, Nak. Makanya dia jarang ada waktu untuk kalian bisa bertemu."

​"Iya, Nadya tahu. Tapi Nadya sudah coba datang ke rumahnya, dan saat ditelepon pun nomornya selalu tidak aktif. Nadya... rindu, Ma," jawab Nadya blak-blakan, tanpa ragu mengakui letupan perasaannya pada Rexsaka didepan sang Mama.

​Sudah bukan rahasia lagi bagi keluarga Sismoko bahwa putri tunggal sekaligus pewaris tunggal mereka begitu memuja Rexsaka. Sebagai anak semata wayang dari Andy Sismoko, yang juga merupakan anak tunggal di keluarganya, Nadya adalah kandidat utama yang kelak akan memegang tampuk kekuasaan gurita bisnis konglomerat tersebut.

​Kendati status mereka berada di puncak piramida sosial, Marini tidak pernah mempermasalahkan pelabuhan hati anaknya. Meskipun ia sendiri berasal dari keluarga terpandang, Marini membebaskan siapa pun yang akan menjadi pendamping Nadya kelak, asalkan putrinya bahagia. Toh, di matanya, Rexsaka adalah pemuda yang luar biasa sopan, cerdas, bertanggung jawab, dan memiliki dedikasi tinggi. Buktinya, di usianya yang masih tergolong muda, ia sudah berhasil menyandang pangkat kapten tentara.

​"Nad, kenapa tidak kamu tanyakan saja pada Paman Amar? dia pasti tahu persis di mana keberadaan anaknya sekarang," ucap sang mama lembut. Tangannya terangkat untuk merapikan beberapa helai rambut Nadya yang sempat menutupi sepasang manik mata cokelat muda yang jernih itu.

​Nadya tertegun. Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti kamar itu saat ia merutuki kelalaiannya sendiri. Kemarin, ia harus disadarkan oleh Riska untuk mencari informasi langsung ke markas militer.

Sekarang, ia kembali harus diingatkan oleh mamanya sendiri untuk bertanya pada Paman Amar, sosok yang sudah jelas memegang kunci keberadaan Rexsaka.

​Astaga, kenapa otakku bisa mendadak tumpul begini sih kalau sudah menyangkut urusan Kak Rex? batin Nadya, kesal pada dirinya sendiri.

​Namun, binar di matanya mendadak meredup lagi. Bahunya yang sempat menegak kembali merosot lesu. "Tapi, kalau harus menunggu Paman Amar terlalu lama, Ma. Masa Nadya harus menunggu sampai nanti malam?" celetuknya kecewa.

​Ia baru sadar bahwa Paman Amar adalah sopir pribadi sang papa. Itu artinya, pria paruh baya tersebut pasti akan berada di kantor seharian penuh dan baru akan kembali ke rumah saat larut malam bersama ayahnya.

​Melihat ekspresi cemberut putrinya, Marini justru menyunggingkan senyum misterius. "Paman Amar ada di bawah. Papamu hari ini memilih menyetir mobilnya sendiri ke kantor."

​Sontak, kalimat singkat sang mama membuat wajah Nadya langsung semringah. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dengan kecepatan kilat ia mendaratkan kecupan manis di pipi Marini. Bak anak kecil yang mendapat hadiah, ia langsung berdiri dan melompat girang di atas kasur empuknya, melangkah cepat melewati sang mama, lalu berlari terburu-buru keluar dari kamarnya yang luas.

Di area pelataran luar, Paman Amar, yang hari itu memang dibebaskan dari tugas mengantar sang majikan ke kantor, memilih untuk mengisi waktu dengan mencuci mobil operasional yang biasa ia kemudikannya. Pria paruh baya itu bekerja dengan santai, sesekali bersenandung kecil menikmati semilir angin pagi dan busa sabun yang memenuhi tangannya.

​Namun, kedamaian itu seketika pecah saat sebuah lengkingan suara nyaring menggema dari arah teras atas. Efek kejut yang luar biasa sukses membuat spons basah di tangan Paman Amar melayang entah ke mana.

​"Paman Amarrr!" teriak Nadya lantang.

​Gadis itu berlari riang menuruni undakan anak tangga teras dan langsung melesat menghampiri Paman Amar. Sementara itu, sang sopir hanya bisa mengembuskan napas panjang sembari menepuk-nepuk dadanya yang berdebar kencang.

​"Aduh, Nona Nadya... hampir saja jantung orang tua ini copot," keluh Paman Amar dengan raut jenaka, mencoba meredakan sisa rasa terkejutnya.

Gadis yang pagi itu masih mengenakan baju terusan lengan pendek selutut bermotif Hello Kitty itu hanya bisa menyengir lebar. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

​"Hehehe, maaf, Paman. Habisnya ini darurat banget!" ucap Nadya, sebelum mendadak mengubah ekspresinya menjadi serius. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan penuh semangat di depan dada.

​Paman Amar hanya bisa menggeleng tersenyum melihat tingkah ekspresif bin ajaib dari anak majikannya itu. "Darurat apa, Non? Nona Nadya mau bapak antar ke kampus sekarang?"

"Bukan paman, ini soal kak Rex" sahut Nadya singkat

Senyum geli amar melihat kelakuan Nadya beberapa detik lalu seketika menghilang ketika nama sang putra keluar dari mulut Nadya, berganti dengan raut cemas dan sungkan yang amat mendalam.

Paman Amar tahu betul bagaimana perasaan putri majikannya itu kepada sang putra. Bagaimanapun, meski ia menyayangi Nadya layaknya anak sendiri, ia tetaplah seorang pria yang tahu diri. Ia sadar betul di mana kakinya berpijak. Jarak sosial di antara keluarganya dan kemegahan dinasti Sismoko terlampau jauh, sebuah sekat tak kasatmata yang membuatnya selalu merasa bahwa Rexsaka tidak akan pernah sepadan untuk bersanding dengan pewaris tunggal konglomerat tersebut. Atas dasar itulah, ia selalu konsisten menyebut dirinya sendiri 'Bapak' saat berbicara dengan Nadya. Meskipun gadis itu tetap bersikeras memanggilnya 'Paman' dengan penuh keakraban, bagi Amar, panggilan formal itulah yang paling tepat untuk menjaga jarak yang aman di antara dunia mereka.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!