Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena Hukuman
Nara berjalan santai menuju kelasnya. Jujur saja, dia sama sekali tidak takut dengan cowok itu.
“Emang siapa dia? Ngancam gue segala,” gumam Nara kesal sambil terus berjalan masuk ke dalam kelas.
“GUYS! MOHON PERHATIANNYA SEBENTAR!” teriak Rora dari depan kelas.
“Berisik lo! Gue enggak mau,” balas Jefri dengan malas tanpa mengalihkan pandangannya.
“Dih, apaan sih lo? Lihat ke depan atau gue tendang lo kayak kemarin lagi!” ucap Rora galak.
Ancaman itu langsung membuat tubuh Jefri menegang. Dia buru-buru memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Rora dengan senyum yang dibuat selembut mungkin.
“Eh, enggak kok, Beb Roro. Sok atuh, ada apa ya, Sayang?” ucap Jefri dengan suara manis yang dibuat-buat.
“Najis! Enggak usah panggil gue begitu. Gue enek,” balas Rora dengan wajah jijik.
Sementara itu, Nara yang baru saja sampai langsung duduk di bangkunya. Dia meletakkan tas di atas meja, lalu menatap Rora yang masih berdiri di depan kelas.
“Ada apaan sih?” tanya Nara penasaran.
“Enggak tahu. Tiba-tiba aja pas aku sampai sini dia udah kayak begitu,” jawab Asha sambil mengangkat bahu.
Jawaban itu membuat Nara mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke depan.
“OKE, GUYS! GUE PUNYA BERITA EKSKLUSIF YANG SUPER DUPER WOW BANGET, LOH!” teriak Rora dengan semangat.
Orang-orang yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing langsung menoleh ke depan karena penasaran. Biasanya, berita apa pun yang dibawa Rora ke kelas selalu panas dan berhasil menjadi topik pembicaraan. Makanya, banyak yang suka menunggu berita terbaru dari cewek itu, meskipun terkadang isinya memang tidak terlalu penting.
Rora berjalan mendekati smartboard, lalu menyalakannya. Beberapa detik kemudian, tampilan sebuah sinetron muncul di layar.
“Lo semua pasti tahu, kan, sinetron ini?” tanya Rora sambil menunjuk layar.
Sebagian besar siswa langsung mengangguk.
“Ada apaan sih sebenarnya? Sinetron ini mah gue tahu. Emak gue di rumah suka emosi sendiri kalau lihat,” ujar Jefri.
“Nah, itu dia. Di episode ini ada bagian yang paling wow dan paling bagus,” ucap Rora dengan penuh percaya diri.
“Bagus apaan? Biasa aja, deh, alur filmnya,” sahut salah seorang siswa dari arah belakang.
“Eh, lo tenang dulu. Sini gue ceritain,” ucap Rora sambil mengangkat telunjuknya. “Jadi, kemarin pas gue pulang sekolah, tiba-tiba gue dimintai tolong sama salah satu kru film ini. Ya, gue mau dong. Nah, karena episodenya belum tayang, sedangkan kru itu udah ngirim video waktu gue muncul, makanya gue mau pamerin ke kalian. Biar kalian semua iri sama gue.”
Rora berhenti sebentar untuk melihat reaksi teman-temannya. Beberapa orang terlihat mulai penasaran, sementara Jefri malah memasang wajah tidak percaya.
“Udah, deh, enggak usah banyak komentar dulu. Lo semua lihat akting gue, nih!” lanjut Rora sebelum akhirnya memutar video tersebut.
Awalnya, video berjalan biasa-biasa saja. Semua orang menonton dengan cukup serius, menunggu kemunculan Rora yang sejak tadi dibanggakan olehnya. Sampai akhirnya, muncul adegan seorang perempuan sedang menampar menantunya.
Tepat di belakang kedua pemain utama itu, Rora terlihat berjalan melewati lokasi syuting.
Namun, bukan seluruh tubuhnya yang muncul di layar. Hanya setengah bagian kepalanya yang terlihat sekilas di pojok layar sebelum akhirnya menghilang lagi.
Sesaat kelas mendadak hening, seolah semuanya sedang mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Setelah itu, suara tawa langsung pecah memenuhi seluruh ruangan.
“APAAN, NJIR! KEPALA DOANG YANG NONGOL!” teriak Jefri sambil tertawa terbahak-bahak.
Beberapa siswa bahkan sampai memukul meja karena tidak kuat menahan tawa. Ada juga yang sengaja memutar ulang bagian tersebut hanya untuk memastikan bahwa yang muncul memang benar-benar Rora.
Sementara itu, Nara dan Asha hanya bisa menutup wajah karena malu melihat tingkah temannya. Padahal, sejak awal Rora sudah membanggakan perannya seolah-olah dia menjadi salah satu pemeran utama dalam sinetron tersebut.
Nyatanya, di dalam video itu Rora memang muncul, tetapi hanya sebagai orang yang lewat. Bagian yang paling lucu adalah kamera hanya menangkap setengah kepalanya saja. Wajahnya bahkan tidak terlihat dengan jelas karena kemunculannya begitu cepat.
Rora yang tadinya berdiri dengan penuh percaya diri kini hanya bisa terdiam. Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah.
“Berisik lo semua! Sekali lagi ketawain gue, gue gampar mulut lo satu-satu!” teriak Rora dengan kesal.
Sayangnya, ancaman itu sama sekali tidak digubris. Tawa teman-temannya malah semakin keras, terutama Jefri yang masih sibuk menirukan kemunculan setengah kepala Rora di dalam video.
Karena sudah tidak sanggup menahan malu, Rora langsung mematikan smartboard, lalu berjalan cepat keluar kelas sambil menghentakkan kakinya.
“Dih, ngambek,” gumam Jefri sambil masih terkekeh.
Upacara sebentar lagi akan dilaksanakan. Semua siswa dan siswi sudah berkumpul di lapangan, kecuali Nara. Bukan karena malas ikut upacara, masalahnya dia tidak membawa topi. Entah bagaimana, benda yang biasanya selalu ada di dalam tasnya itu justru tertinggal hari ini.
“Aduh, kok bisa-bisanya sih gue lupa bawa topi? Padahal biasanya ada terus di dalam tas,” gumam Nara sambil membongkar isi tasnya untuk kesekian kali.
Dia masih berharap topinya terselip di antara buku-buku, tetapi tetap saja tidak ditemukan. Nara mulai panik karena bel masuk untuk upacara sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.
Sementara itu, Alden dan beberapa guru BK seperti biasa sedang berkeliling sekolah untuk memastikan seluruh siswa sudah berada di lapangan. Untungnya, Alden ditugaskan memeriksa lantai tiga. Saat melewati salah satu kelas, matanya menangkap seorang siswi yang masih berada di dalam ruangan.
“Ehem,” deham Alden dari depan pintu.
Namun, suara itu tidak digubris oleh Nara yang masih sibuk mengacak-acak isi tasnya.
“Ngapain lo masih di kelas?” tanya Alden.
Nara langsung menoleh ke belakang. Matanya membesar saat melihat Alden berdiri di depan pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dia mulai gugup karena ketahuan masih berada di dalam kelas.
“Aduh... aduh, kepala gue. Aduh, sakit banget,” ucap Nara sambil memegang kepalanya dan berpura-pura kesakitan.
Alden hanya menatapnya datar. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa percaya.
“Enggak usah pura-pura. Ngapain lo masih di kelas?” tanyanya sekali lagi dengan nada tegas.
Nara mengerucutkan bibirnya karena aktingnya langsung ketahuan.
“Ini udah lima menit sejak bel bunyi, tapi lo masih aja di sini. Mana topi lo?” tanya Alden ketika menyadari kepala Nara tidak memakai topi upacara.
Namun, Nara tentu saja tidak semudah itu untuk menurut. Dia kembali mencari alasan sambil memegangi perutnya.
“Aduh, perut gue sakit deh, Al. Kayaknya gue mau haid,” rengeknya dengan wajah memelas.
“Enggak usah ngaco. Lo mau gue yang bawa ke lapangan atau Pak Djarot yang nyeret lo?” Alden memberikan pilihan dengan nada dingin.
Pak Djarot adalah guru BK yang paling galak di sekolah. Dia tidak pernah segan menghukum siswa bandel, bahkan hanya dengan mendengar namanya saja sudah cukup membuat banyak siswa langsung menurut. Alden memang tegas, tetapi Pak Djarot jauh lebih kejam daripada dirinya.
Mendengar nama itu, bulu kuduk Nara langsung merinding. Dia membayangkan dirinya diseret ke lapangan lalu dihukum di depan seluruh siswa.
“Iya, deh. Tolong selamatin gue. Topi gue hilang,” bujuk Nara sambil mendekati Alden.
Alden mengembuskan napas panjang, lalu melirik isi tas Nara yang berantakan di atas meja.
“Urusan lo. Ngapain juga lo teledor kayak begitu?” ucap Alden datar.
Nara langsung gelagapan. Dia tidak menyangka Alden sama sekali tidak berniat menolongnya. Padahal, menurutnya, status mereka seharusnya bisa sedikit berguna dalam keadaan genting seperti ini.
“Kita, kan, tunangan. Jadi, boleh lah ya lo lindungin gue. Gue, loh, yang bakal jadi istri lo nanti di masa depan,” bujuk Nara dengan suara lembut yang sengaja dibuat centil.
Alden menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Enggak ada. Status lo di sini sebagai siswi, sedangkan gue siswa yang menjabat sebagai ketua OSIS. Status itu yang berlaku di lingkungan sekolah. Selain itu, enggak ada. Paham lo?” tolak Alden dengan tegas.
Jawaban itu sukses membuat Nara semakin dongkol. Dia mengambil tasnya dengan kasar, lalu berjalan melewati Alden sambil memasang wajah kesal.
“Awas lo nanti,” ancam Nara pelan sebelum berjalan lebih dulu menuju area lift.
Alden hanya menghela napas, lalu mengikuti dari belakang. Bukannya ingin menemani, dia hanya takut gadis itu tiba-tiba kabur atau bersembunyi lagi. Setidaknya, Alden harus memastikan Nara sampai bertemu dengan guru BK dan benar-benar turun ke lapangan.
Setelah upacara selesai, para siswa yang atributnya tidak lengkap kembali dikumpulkan di lapangan. Sementara siswa lainnya sudah masuk ke kelas masing-masing, hanya ada lima orang yang masih berdiri di bawah teriknya matahari.
Nara berdiri dengan wajah kusut di antara keempat siswa lainnya. Di depan mereka, Alden berdiri tegak sambil membawa sebuah buku catatan. Seorang guru BK juga berdiri tidak jauh dari cowok itu untuk mengawasi jalannya hukuman.
“Oke, baik. Seperti yang saya lihat sekarang, ada lima siswa dan siswi yang atribut upacaranya tidak lengkap. Nama kalian juga sudah dicatat. Sekarang, tugas kalian akan saya bagi,” ucap Alden dengan tegas.
Dia melihat kelima siswa itu secara bergantian, lalu menunjuk tiga siswa yang berdiri di sebelah kanan.
“Kalian bertiga bersihkan lapangan basket. Nanti akan diantar dan diawasi langsung oleh guru BK,” lanjutnya.
Ketiga siswa itu hanya bisa mengangguk pasrah. Setelah itu, tatapan Alden beralih kepada Nara dan Niel yang berdiri bersebelahan.
“Dan kalian berdua,” ucap Alden sambil menunjuk mereka. “Naya dan Niel, gue minta kalian bersihin lapangan ini.”
Mata Nara langsung melotot lebar. Dia menatap Alden seolah tidak percaya dengan hukuman yang baru saja diberikan kepadanya.
“Apa?” teriak Nara spontan. “Duh, lo yang benar aja, deh. Gue enggak bisa bersih-bersih. Yang lain aja, kek. Suruh gue ke perpustakaan, ke ruang olahraga, atau ke mana gitu. Panas, tahu enggak?”
Alden malah menunjukkan senyum miring saat mendengar protes panjang Nara. Sepertinya dia memang sudah menduga gadis itu akan banyak mengeluh.
“Lo mau gue kasih satu hukuman aja atau sekalian dua?” tawar Alden dengan santai.
Nara langsung berdecak kesal. Dia mengepalkan tangannya sambil menahan keinginan untuk membalas ucapan cowok itu.
“Fuck!” gumamnya pelan. “Oke, gue bersihin nih lapangan.”
Ketiga siswa lainnya sudah lebih dulu diantar oleh guru BK menuju lapangan basket. Kini hanya tersisa Nara, Niel, dan Alden di lapangan utama. Alden sudah meminta salah seorang petugas kebersihan sekolah untuk mengambilkan dua buah sapu.
Sementara menunggu, Nara berdiri dengan suasana hati yang buruk. Bagaimana dia tidak kesal? Matahari semakin terik, perutnya lapar, dan sekarang dia malah harus membersihkan lapangan yang luas.
Niel yang berdiri di sebelahnya sesekali melirik ke arah Nara. Tatapannya membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
“Oi,” panggil Nara sambil menoleh tajam.
Niel ikut menoleh. “Apaan?”
“Ngapain lo lihatin gue kayak gitu?” tanya Nara dengan nada sensitif.
“Gue punya mata,” jawab Niel santai.
“Gue colok mata lo,” gumam Nara kesal.
Bukannya takut, Niel malah terkekeh pelan. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu kembali menatap gadis itu.
“Oh, ya. Soal balapan kemarin—”
Belum sempat Niel menyelesaikan ucapannya, Nara langsung memotong dengan cepat.
“Enggak usah ngomongin itu,” sambarnya.
Matanya sesekali melirik ke arah Alden yang berdiri didepan mereka. Sejak tadi, Alden memperhatikan Nara dan Niel secara bergantian. Tatapannya terlihat tenang, tetapi entah kenapa justru membuat Nara semakin gugup.
“Balapan semalam?” tanya Alden tiba-tiba.
Padahal, sebenarnya Alden sudah tahu tentang hal itu. Dia hanya berpura-pura tidak tahu untuk melihat bagaimana Nara akan menjelaskannya.
“Iya, semalam gue habis balapan sama dia,” jawab Niel lebih dulu. “Wih, keren banget, sumpah. Queen of Racing. Gue yang King of Racing aja sampai kalah.”
Niel menjelaskan dengan panjang lebar dan penuh semangat. Sementara itu, Nara hanya mengembuskan napas kesal.
“Sialan lo, Niel,” umpat Nara dalam hati.
Alden tetap diam tanpa berkutik. Tatapannya masih tertuju kepada mereka, terutama kepada Nara yang terlihat semakin gelisah.
“Gue sih egonya enggak kesentil, ya, gara-gara dikalahin. Gue cuma takjub aja lihat lo,” lanjut Niel dengan santai.
“Alah, enggak kesentil apaan?” dengus Nara. “Waktu pertama kali gue kalahin aja, lo langsung ngejar gue malam itu. Kemarin juga lo yang ngajak duel lagi.”
Niel menggaruk kepalanya sambil mencoba mengingat kejadian tersebut.
“Oh, yang gue kejar malam itu, ya? Sampai ke perpustakaan?” tanyanya.
“Iya,” jawab Nara singkat.
“Ada anggota gue yang lihat lo lari ke rak buku paling ujung. Tapi pas dia nyusul ke sana, eh, dia malah lihat ada orang lagi ciuman,” ucap Niel tanpa beban.
Mendengar ucapan itu, Nara dan Alden langsung menegang secara bersamaan. Nara merasa wajahnya mulai memanas karena malu, sedangkan Alden tiba-tiba merasa sulit bernapas.
Padahal, malam itu mereka sama sekali tidak berciuman. Hanya saja, posisi mereka saat bersembunyi memang terlalu dekat sehingga mudah disalahartikan oleh orang lain.
“Mungkin anggota gue salah lihat kali, ya,” lanjut Niel sambil mengangkat bahu. “Enggak mungkin juga, kan, lo ciuman di ujung rak buku?”
Nara berdeham kecil untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Dia berusaha memasang wajah biasa saja meskipun jantungnya sudah berdetak tidak karuan.
“Iya, salah lihat kali,” jawabnya singkat.
Alden tetap diam. Dia tidak membenarkan ataupun membantah perkataan Niel. Namun, tatapan cowok itu kepada Nara terlihat jauh lebih tajam daripada sebelumnya.
Tidak lama kemudian, petugas kebersihan sekolah datang sambil membawa dua buah sapu lidi.
“Terima kasih banyak, ya, Pak,” ucap Alden sopan.
Setelah petugas itu pergi, Alden memberikan masing-masing satu sapu kepada Nara dan Niel. Nara menerimanya dengan wajah terpaksa, sementara Niel hanya mengangkat bahu santai.
“Yang benar kalian nyelesaiin tugasnya. Gue awasin dari sini,” ucap Alden dengan tegas.
Nara dan Niel saling menatap sebentar sebelum akhirnya mulai menyapu lapangan. Mereka tidak punya pilihan lain karena Alden benar-benar berdiri di sana dan mengawasi setiap gerakan mereka.