Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Cemburu & Kedatangannya Yang Tak Terduga
Setelah diperiksa di ruang UKS, dipastikan Zara keracunan makanan — jadi terpaksa segera dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di sana, dokter menangani dan memberinya obat, baru setelah itu keadaan perlahan membaik.
Tak lama kemudian masuklah Sarah, Alina, Liora, juga Fernando, semuanya terlihat cemas dan penuh perhatian menunggu di luar ruangan. Beberapa saat kemudian, Sarah keluar bersama Liora, dan begitu sampai di ujung lorong yang agak sepi, tanpa peringatan sedikit pun Sarah langsung melayangkan tamparan keras tepat ke pipi Liora.
Liora terhuyung sedikit, tangannya langsung menekan pipi yang terasa panas dan perih, matanya membelalak kaget bercampur marah: “Kenapa kau memukulku?”
Sarah menatapnya tajam, tatapannya dingin dan penuh keyakinan, suaranya rendah tapi menusuk: “Cukup! Jangan kira aku buta atau bodoh, Liora. Kau pikir bisa menyembunyikan perbuatanmu itu dari ku?”
Sekilas terlintas jelas di ingatan Liora — saat tadi Liora pergi membeli minuman, wajahnya sudah gelap diliputi rasa cemburu yang membara sampai napasnya terasa berat. Saat berjalan kembali membawa botol-botol itu, di kepalanya muncul niat jahat yang tiba-tiba. Ia meletakkan minuman milik Zara sebentar di sudut meja, melirik ke kiri dan kanan berulang kali memastikan tak ada orang yang melihat, lalu diam-diam mengeluarkan botol kecil dari saku bajunya, menuangkan bubuk putih halus ke dalam botol itu sambil sudut bibirnya terangkat membentuk senyum licik yang tak terlihat siapa pun.
Mendengar tuduhan itu, raut wajah Liora langsung berubah pucat. Postur tubuhnya menegang, matanya buru-buru memalingkan pandangan ke arah lain seolah ingin menghindar, suaranya terdengar goyah dan ragu saat berusaha membela diri: “Aku… aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”
Sarah melangkah lebih dekat, menatap tepat ke matanya tanpa membiarkannya menghindar: “Berkali-kali aku sudah bilang padamu, perlakukan Zara dengan baik. Tapi apa yang kau lakukan? Malah menyakitinya dengan cara paling kotor dan kejam! Hanya karena hatimu dibakar cemburu buta, sampai-sampai berani melakukan hal menjijikkan seperti ini! Kalau kau memang menyukai Fernando, carilah cara yang layak dan berusaha dengan jujur — bukan dengan mencelakai orang tak bersalah!”
Liora terdiam membisu, tangannya mengepal lemah, perlahan rasa bersalah mulai merayap masuk ke hatinya. Ia sadar dirinya tadi buta oleh amarah dan rasa iri, sampai lupa batas dan menyakiti gadis yang tak pernah berbuat apa-apa padanya.
Suara Sarah kembali terdengar, kali ini lebih berat dan penuh ancaman tegas: “Dengar baik-baik ini. Jika sampai kau berani menyakiti Zara lagi, sekecil apa pun itu — ingatlah, akulah yang akan menghancurkan mu dengan tanganku sendiri.”
Setelah mengucapkannya, Sarah berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Liora yang masih berdiri terpaku, menahan rasa sakit di pipi sekaligus rasa bersalah yang makin membebani hatinya.
Di dalam ruang rawat rumah sakit, aku masih terbaring lemah, tubuhku terasa ringan sedikit demi sedikit. Nyeri yang tadi melilit hebat mulai perlahan mereda, meski tenaga belum sepenuhnya kembali. Di samping tempat tidur berdiri Fernando dan Alina, keduanya menatapku dengan raut cemas yang tak bisa disembunyikan.
Alina mendekatkan wajahnya pelan, suaranya lembut: “Zara… masih terasa sakitkah?”
Aku hanya menggelengkan kepala perlahan, lalu mengukir senyum tipis sekadar meyakinkan mereka bahwa aku mulai membaik. Tak lama kemudian pintu terbuka, Sarah masuk diikuti Liora. Tapi suasana terasa berbeda — terasa kaku dan aneh di antara mereka berdua. Apalagi Liora, matanya terus menunduk, bahunya sedikit merosot, tak berani sekali pun mengangkat wajah menatapku seolah ada beban berat yang menekan hatinya.
Setelah duduk sebentar, Sarah berkata lembut: “Zara, hari sudah mulai sore menjelang malam, kami pamit pulang dulu ya. Takut keluarga di rumah mulai khawatir jika terlalu lama di sini.” Alina mengangguk setuju, Liora hanya diam membisu tanpa suara.
Mereka melangkah mundur sedikit, tapi Fernando tetap berdiri teguh di tempatnya, tak berniat pergi sedikit pun — ingin menjagaku sampai keadaan benar-benar pulih. Aku mencoba menggerakkan tangan pelan, berusaha berbicara dengan suara masih lirih menyuruhnya pulang dan beristirahat juga.
Baru saja melangkah di lorong rumah sakit, Sarah tiba-tiba menyadari ponselnya tertinggal di meja samping tempat tidur Zara. Ia segera menghentikan langkah, menoleh pada Alina dan Liora: “Kalian pulang duluan saja, aku lupa bawa ponsel, sebentar saja aku ambil.”
Begitu ia mendekati pintu ruangan, langkahnya terhenti seketika. Tanpa sadar ia memundurkan diri sedikit, bersembunyi di balik tiang lorong, matanya mengintip penasaran.
Di sana berdiri seorang pria yang langsung menarik seluruh perhatiannya. Tingginya menjulang sekitar 192 cm, tubuhnya tegap dan berotot padat tapi tetap terlihat luwes, bahunya lebar kokoh — meski terbalut kemeja putih rapi, lekuk otot bahu dan lengannya tetap terlihat samar menandakan kekuatan yang tersembunyi.
Wajahnya nyaris sempurna: garis rahang tegas dan jelas, kulitnya putih bersih mengkilap halus saat terkena cahaya lampu. Alisnya tebal rapi berwarna coklat keemasan, membingkai sepasang mata biru pucat sebiru es yang jernih — tajam tapi menyimpan kedalaman yang membuat orang tak berani menatap lama. Hidungnya mancung lurus, bibirnya tipis berwarna merah muda alami, terlihat tenang namun menyimpan ketegasan yang tak perlu diucapkan. Rambut pirang keemasannya bergelombang halus, terlihat sedikit berantakan secara alami, justru menambah kesan santai tapi tetap berwibawa. Jas hitam mewah yang ia kenakan semakin memantulkan wibawa dinginnya, membuatnya terlihat begitu memukau sampai Sarah sempat terpaku, tak sadar terpesona melihat ketampanannya yang tak biasa.
Di belakangnya mengikuti sosok lain — Yamal, sekretarisnya. Rambut hitam pekatnya berkilau lembut, disisir rapi ke samping tapi tetap terasa alami. Tubuhnya juga tinggi dan kokoh, mengenakan jas serupa yang membuatnya tampak berkelas dan gagah. Wajahnya tegas, tatapannya dalam dan dingin seolah bisa membaca apa saja yang ada di benak orang lain. Yang paling mencolok: tato bermotif rumit berwarna gelap melingkar di sisi lehernya, memberikan kesan misterius dan berbahaya — seolah ada aura dunia gelap yang mengikutinya, bukan orang biasa sembarangan.
Sarah menahan napas pelan, mendengarkan dari balik tempat persembunyiannya. Yamal melangkah sedikit ke depan, membungkuk sopan lalu berbicara lirih namun jelas: “Tuan, Nyonya Zara ada di dalam ruangan itu.”
Adrian hanya mengangguk pelan, tanpa banyak bicara melangkah masuk sendiri ke dalam ruangan, sementara Yamal tetap berdiri tegap di luar, menjaga pintu seolah tak ada yang boleh lewat sembarangan.
Begitu pintu terbuka, mataku langsung membelalak kaget — tak kusangka yang datang adalah Adrian. Jantungku berdegup kencang, rasa cemas langsung menyelinap: di sini ada Fernando, aku takut sekali kalau nanti mereka salah paham dan menimbulkan masalah.
Saat pandangan Fernando bertemu dengan tatapan Adrian, suasana seketika membeku. Hening meliputi ruangan, terasa berat dan tidak nyaman seolah udara pun berhenti bergerak. Tapi Adrian melangkah tenang mendekat ke sisi tempat tidur, suaranya datar namun terdengar jelas saat bertanya: “Masih terasa sakit?”
Aku menjawab dengan suara sedikit terbata-bata, masih terasa takut: “Iya… sudah jauh lebih baik.”
Adrian hanya mengangguk seolah mengerti. Tanpa memberi tanda atau peringatan apa pun, dia langsung membungkuk, melingkarkan kedua lengannya dengan kokoh lalu mengangkat tubuhku perlahan tapi pasti. Begitu terangkat, mataku menatap tepat ke wajahnya — ekspresiku terbelalak penuh kaget, nyaris tak percaya bahwa dia yang dingin dan jauh itu justru melakukan hal seperti ini padaku.
Setelah memastikan gendongannya mantap, Adrian melemparkan pandangan dingin, tajam dan penuh wibawa ke arah Fernando seolah memberi batas tanpa perlu bicara.
Baru saat itu aku sadar, sempat lupa mengucapkan terima kasih. Dari dalam gendongan itu aku melirik ke belakang, menatap Fernando dan mengukir senyum tipis sambil berbisik pelan: “Terima kasih…”
Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan melangkah keluar ruangan, diikuti Yamal yang sudah menunggu di depan. Tak lama kemudian Fernando juga muncul dari dalam ruangan.
Di ujung lorong, Sarah yang masih bersembunyi tadi melihat semuanya dengan mata terbelalak bingung. Ia bergumam pelan penuh tanya: “Nyonya Zara…?” Dalam hatinya terus bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud kedatangan dan sikap pria itu barusan.